Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Ujian Terakhir


__ADS_3

****


Hari ini ujian terakhir yang dijalani Nayla. Ia baru sadar kalau dirinya benar-benar akan memulai hidup yang baru. Rasanya semua terjadi begitu cepat. Tentunya ia akan sangat merindukan suasana ini. Rasanya baru kemarin ia menginjakkan kaki disekolah ini. Tempat ia berharap pada masa depannya.


Sementara sebagian banyak murid lainnya langsung pergi meninggalkan lingkungan sekolah dengan penuh semangat untuk merayakan hari kelulusan.


Sekarang disinilah dirinya, didepan gerbang bersama sang sahabat, yakni Suci.


"Nay...."


Nayla menghentikan langkahnya sejenak untuk menghadap Suci.


"Resepsi gue diundang, kan?"


"Lo mau diundang?" Canda Nayla.


"Jadi lo gak niat buat ngundang gue? Jahat banget sih, lo!"


"Becanda Ci, tenang aja. Lo bakal gue undang kok." Lanjutnya tersenyum.


Suci lalu mendesah pelan. "Sedih, Nay." ucapnya. "Nggak nyangka akhirnya kita bakal ngambil jalan masing-masing."


Nayla tahu itu, kemudian dia mendekati Suci dan memeluk sahabatnya itu erat. "Gue juga sedih Ci, elo nanti baik-baik ya di surabaya. Jangan lupain gue. Kalau pulang kesini hubungi gue jangan lupa, Oke?"


"Iya nanti gue pasti hubungin elo, kok." Suci membalas pelukan Nayla erat. "Nay, gue sedih banget." Entahlah, tiba-tiba saja air mata Suci tumpah membasahi seragam tipis Nayla. "Salam ya, sama suami lo yang ganteng itu."


Nayla mengelus-elus punggung Suci pelan.


"Gue doain semoga lo berdua cepet dapat momongan yang cantik dan ganteng. Paling nggak perpaduan elo berdue deh mukanya."


Nayla tersenyum. "Makasih ya doanya." Ia kemudian melepas pelukan itu pelan.


"Lo siap-siap ya...."


"Apaan?" Nayla menjawab singkat.


"Siap-siap aja kalau satu angkatan bahkan satu sekolahan dan seluruh umat dinegeri ini...." Suci menjeda ucapan lebaynya.


"Apaan sih Ci...."


"Yang jelas elo udah siap mental kan, Nay?"


"Ih, kalau ngomong itu yang jelas." Sungut Nayla.


"Ya, lo siap-siap aja nerima kehebohan saat semua orang tau kalau ternyata lo sebenernya udah nikah diam-diam sama artis...."


Deg! Nayla merasa apa yang dikatakan Suci benar. Sebentar lagi orang-orang akan tahu perihal pernikahannya. Kenapa dia tiba-tiba jadi gugup begini, ya?


Tapi, dia menikahkan secara baik-baik. Bukan karena hal-hal yang buruk.


Nayla lalu menatap Suci kesal. "Lo jangan nakut-nakutin deh Ci, lagian kenapa kalau gue nikah diam-diam. Lo kok jadi sewot sih sekarang."

__ADS_1


Alamak, Suci jadi kalang kabut. Niatnya tadi kan, hanya becanda. Bukannya bermaksud untuk seperti membuat Nayla jadi tersinggung begini. Dia lalu menatap Nayla penuh keanehan, ini perempuan biasanya tidak pernah seemosi ini. Nayla yang ia tahu itu orangnya 'santuy'.


"Lo, nggak lagi datang bulan kan, Nay?"


"Siapa yang datang bulan?!"


"Lah, dia emosi lagi." Cicit Suci pelan.


Nayla mendengus dengan wajah memerah. Datang bulan? Apanya? Ini saja dia sudah hampir satu bulan tidak mendapatkan itu.


Seketika itu tiba-tiba, seseorang yang beberapa minggu ini menghindar dari mereka datang mendekat. Wajahnya terlihat menunjukkan rasa bersalah. Berkali-kali ia menunduk karena merasa tidak sanggup untuk menatap sosok yang ada dihadapannya itu.


"Nay...." Tia yang refleks menumpahkan genangan air matanya mendekat. "Gue...." Dia menelan ludah sejenak. "Maafin gue Nay, gue salah."


"Tiaaa...." Nayla langsung termangu saat Tia langsung mendekap tubuhnya erat.


"Nay, gue bener-bener ngerasa bersalah. Sebenernya udah lama gue mau minta maaf, tapi gue terlalu malu buat ketemu sama lo, Nay...." Tangis Tia semakin meraung tak terkendali.


Sebenarnya akhir-akhir ini Nayla sudah terlalu sering mendengar dan menyebut kata maaf. Entah sudah terhitung berapa kali jantungnya terasa berdenyut oleh kata-kata itu.


Dan, sekarang Tia. Nayla dapat merasakannya. Rasa bersalah Tia sangat besar. Itu pun mampu membuat hatinya bergetar. "Nggak apa-apa yak, gue juga ngerasa bersalah. Lo bener soal ucapan elo waktu itu. Gue nggak pekaan dan gue juga be...."


Tia langsung menyambar cepat. "Nggak Nay, lo nggak kayak gitu. Gue yang nggak memahami lo." Tia langsung melepas pelukan itu dengan cepat. "Maaf, gue jahat, seharusnya gue nggak ngomongin lo begitu waktu itu."


Nayla benar-benar hanya bisa terdiam saat itu. Tidak pernah ia sangkaTia akan mendatanginya seperti ini. Namun, tiba-tiba ia merasakan aroma yang mengguncang perutnya.


"Lo baik Nay, sahabat terbaik gue. Gue yang salah, gue cuma nggak bisa nerima keadaan gue dan malah ngebandingin itu sama elo."


"Nggak Nay, gue nggak pantes dimaafin. Gue banyak banget salahnya...."


Nayla lalu mendengus. "Emh...." Doronganya pada pelukan erat Tia.


Tia pun ingin memeluk kembali.


"Nggak usah deket-deket, badan lo bau keringat. Bikin gue mual. Lo nggak pakai deodoran ya?" Ucap Nayla sembari menutup hidungnya.


"Gue pakai deodoran kok Nay, masak sih bau keringat?" Tia lalu mencium kedua sisi tubuhnya. "Nih cium kalau lo nggak percaya." Tia mendekatkan tubuhnya.


"Nggak mau, gue mual."


Ha? Tia membelalak, suasana haru yang tadi ia rasakan langsung berubah oleh rasa penuh keheranan.


"Ci." Tia menatap Suci penuh tanda tanya.


Suci yang sebenarnya juga tidak merasa memiliki masalah dengan Tia lalu menoleh. "Ha?"


"Sejak kapan, nih anak mual-mual kayak gini?" Tanya Tia.


"Udah lama sih, sekitar satu minggu yang lalu dia juga gitu ke gue, dia terus-terusan ngerasa mual pas kecium aroma mulut gue."


"Mulut lo bau jigong kali." sambar Tia.

__ADS_1


"Enak aja, mulut gue wangi ya. Gue rajin sikat gigi setiap hari." Jelas Suci.


"Terus sekarang, dia masih mual?"


"Nggak sih, karena akhirnya gue bisa ngatasin, caranya gue makan permen karet tiap deket dia. Nih, lo liat. Gue lagi ngunyah permen karet, kan?" Suci membuka mulutnya dengan gumpalan kenyal yang ada didalamnya.


"Terus dia masih sering mual gak."


"Iya, sih terkadang. Disaat-saat tertentu."


Seketika Tia terperangah dan mendekati kembali Nayla yang masih menutup mulutnya dengan semangat. "Nay, jangan-jangan lo....."


"Nggak usah deket-deket...." Tolak Nayla cepat.


Lagi-lagi Tia mendapatkan penolakan itu kembali. Namun, sepertinyaaia tidak terlalu perduli oleh penolakan itu, arena sepertinya gadis itu tahu akan penyebabnya.


"Ci, sini deh." Tia mendekati Suci. Lalu ia berbisik pelan. "Jangan-jangan kita bakalan dapet ponakan."


Suci mengernyit. "Ponakan?"


"Iya, dari Nay."


Suci yang mendengar itu menatap Tia kaget penuh keterkejutan. "Serius? Ah, ngarang lo?"


Tia kemudian berbisik kembali. "Mual-mual itu yang gue tahu salah satu tanda kehamilan, bisa aja kan sekarang Nayla lagi isi, secara dia kan udah nikah. Nay, bener-bener mecahin rekor MURI Ci, dia bakalan punya anak, seangkatan pasti heboh nih, kalau kakeknya Reynand udah ngasih tau publik soal pernikahan mereka..."


Suci kemudian menepuk pundak Tia kencang.


"Sakit Ci, tega banget si lo."


"Lagian sih, congor lo gak bisa dijaga, elo kan baru baikan sama Nay."


"I-iya, gue salah ya, maaf deh...." Tia menunduk dengan suara merendah.


Sesaat kemudian bisik-bisik itu pecah ketika orang yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba izin pulang karena jemputan telah tiba.


"Ci, Tia, gue duluan ya."


Kecewa dan kecewa, karena kepastian tentang akan mendapatkan keponakan belum mereka peroleh.


*


*


*


*


Hehe, maaf ya baru up. Akhir-akhir ini semangat aku agak sedikit meredup, nih.


Terimaksih buat kalian yang selalu mendukung.

__ADS_1


Happy Reading!


__ADS_2