
****
Reynand menuruni tangga dengan cepat setelah keluar dari ruangan pribadi milik kakeknya melewati pecahan kaca jendela. Hanya memakai kaos dan celana pendek serta alas kaki sederhana ia keluar dari rumah itu setelah berhasil melompati atap rumah dan juga menuju balkon. Entahlah dia merasa jadi superhero sekarang. Beruntungnya ia menemukan tangga lipat yang masih bersender disisi balkon tersebut.
"Pak, jangan dimasukkin dulu mobilnya."
Pak Tio yang hendak mamasukkan mobil ke dalam garasi menghentikan kegiatannya. Laki-laki itu pun lalu keluar dari dalam mobil.
"Mau kemana mas hujan-hujan begini? Bukannya mas nggak dibolehin kakek keluar ya."
Duh, Pak Tio banyak tanya.
Tak menjawab, lalu Reynand menyambar kunci mobil dari tangan Pak Tio. Sebetulnya Reynand hampir tidak pernah menggunakan mobil tersebut, namun karena dia sedang terburu-buru dan mobil yang biasa ia pakai sudah masuk semua kedalam garasi. Maka Reynand pun tidak pikir panjang lagi.
Pak Tio mengernyit bingung memperhatikan mesin mobil yang kemudian hidup dan berlalu dengan sangat cepat. Ia terus menatap kepergian mobil itu penuh kebingungan.
Pak Tio pun ngedumel asal. "Gini nih, akibatnya kalau ditinggal istri. Jadi aneh!"
Berbalik hendak memasukkan mobil pribadi milik kakek, namun Pak Tio kembali putar arah. Menepuk jidatnya kuat, Pak Tio lupa memberi tahu sesuatu tentang mobil itu. Mobil yang sempat mogok saat ia akan menjemput Nayla pulang beberapa waktu yang lalu.
Reynand menempur derasnya hujan. Jantungnya merasakan deguban yang tiada menentu. Seharusnya dia tidak perlu ragu untuk melakukan ini, kan. Meninggalkan tugas berat yang diberikan kakeknya hanya untuk menemui sang istri tercinta.
Dasar, kalau diingat-ingat beberapa hari yang lalu Nayla memang terus mual-mual dan berperilaku aneh. Sial! Kenapa dia tidak menyadarinya. Seharusnya dia lebih peka menjadi seorang suami. Apalagi Nayla itu biasanya kurang paham terhadap hal-hal tersebut. Ditambah lagi istrinya sedang menghadapi ujian sekarang. Bisa-bisanya dia tidak ada disisinya saat sang istri sangat membutuhkan dia. Suami macam apa sih, kamu Reynand?
Dia tidak ingin Nayla menanggung itu sendirian. Nayla seperti itu karena ulahnya. Iya, Reynand sangat sadar diri. Dia tidak ingin jadi laki-laki yang mau enaknya saja. Dia yang berbuat maka dia juga yang harus bertanggung jawab.
Lalu ditengah terpaan hujan itu mesin mobil tiba-tiba macet. Reynand berkali-kali berusaha untuk menormalkan laju mobil itu. Namun berkali-kali usaha yang ia lakukan akhirnya pun gagal. Dan, mobil itu pun mogok dijalan yang begitu sepi. Ah sial! Kenapa Pak Tio tidak memberitahunya, kalau kondisi mobil ini tidak begitu baik.
Bagaimana ini? Rumah Nayla memang tidak terlalu jauh. Tapi, dengan jalan kaki dia tidak yakin akan cepat sampai. Ditambah lagi saat ini sedang hujan deras dan petir yang terus menyambar-nyambar. Sepertinya dia memang kualat karena telah pergi meninggalkan kakek tadi.
Ingin menelepon untuk meminta bantuan tapi tidak bisa dilakukan karena ponsel miliknya tertinggal dirumah. Ponsel yang tidak sempat ia sentuh karena dirinya ditahan oleh kakek didalam ruangan bersama berkas-berkas menumpuk selama ini.
Tidak ingin berdiam diri, maka Reynand pun langsung keluar. Ia mencoba untuk memeriksa kerusakan yang terjadi. Keluar dia dari mobil dan air yang sedang tumpah kebumi itu langsung menimpanya. Deras mengguyur tubuhnya, hingga pakaiannya pun basah.
Sial! Sial! Reynand benar-benar dongkol saat ini.
"Arrgh, sialan lo mobil." Reynand menendang ban mobil itu dengan kuat. "Emang nggak bisa ya, mogoknya nanti aja."
__ADS_1
Maka karena saking tidak sabarnya, tanpa pikir panjang hujan lebat itu pun ia terobos dengan berlari sekencang mungkin. Yang ia ingin saat ini adalah sampai ke tempat tujuan dengan segera.
~
"Bentar ya kak, aku ambilin air putihnya lagi." Ujar Romeo sesaat setelah memijat tengkuk kakaknya.
"Sekalian tissue ya, tissue punya kakak habis, nih." Nayla mengambil sisa tissue terakhirnya untuk mengelap pelipisnya yang berkeringat. Ia lalu mendongak saat darah dihidungnya yang disumbat tissue lembut itu terasa sedikit mengalir.
"Oke!" Sahut Romoe kemudian berlalu.
Nayla menyenderkan kepalanya sejenak usai mengeluarkan rasa aneh yang terus mengganjal beberapa hari ini. Ini sudah hari ketiga ia tidak tidak bertemu Reynand. Janji untuk menjemput pun bahka tida ditepati. Padahal waktu itu Reynand berkata bahwa dirinya akan dijemput satu malam setelah menginap dirumah Mami.
Bohong!!
Sekarang mana buktinya. Bahkan Reynand pun tidak mengiriminya pesan atau menelepon sama sekali.
Entahlah.... sesungguhnya saat ini dia hanya benar-benar rindu sosok itu. Ia hanya ingin dipeluk dan dimanja seperti biasanya. Nayla sangat rindu Reynand yang selalu memperlakukannya dengan lembut.
Lagi, ia kembali memuntahkan cairan ditubuhnya kedalam sebuah ember yang dilapisi kantong plastik. Rasanya benar-benar sangat menyiksa. Mulutnya saat ini benar-benar terasa pahit akibat terlalu banyak cairan yang ia keluarkan dari dalam perutnya.
Padahal beberapa hari ini bahkan tidak ada nafsu makan. Untungnya Mami selalu memasakan makanan tertentu hingga perutnya bisa terisi walau sedikit.
Ia bisa tiba-tiba menangis tanpa sebab dan juga terkadang uring-uringan. Dan, Remeo yang melihat itu hanya bisa menghiburnya sebisa mungkin. Romeo juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan sang kakak.
Lama, Romeo benar-benar lama. Nayla butuh teman saat ini. Dan, hanya adiknya itulah yang bisa menemani dirinya beberapa hari ini sementara mami masih bekerja sampai malam hari.
Dengan masih memegangi tissue tersebut untuk mengelap wajahnya, Nayla berusaha keluar dari kamar dengan kepala yang juga terasa pusing itu. Segala macam rasa ia rasakan saat ini.
"Dek...."
"Romeo...."
Nayla menuju dapur. Namun, sosok yang ia cari rupanya tidak ditemukan. Berjalan menuju ruang keluarga pun sama.
Tiba-tiba matanya tertuju pada lantai rumah yang basah disepanjang jalan menuju kamar Romeo.
Nayla berdecak sebal, apa sih yang Romeo lakukan sampai-sampai ada tetesan air seperti ini didalam rumah.
__ADS_1
"Rumah udah bersih begini malah dikotorin." Setelah ngedumel seperti itu lalu ia pun kembali menuju dapur untuk mengambil pengepel lantai.
Beberapa saat kemudian tangan Nayla pun mengayun untuk membersihkan lantai yang basah oleh tetesan air tersebut.
Lalu ia berteriak kesal. "Romeo, emang gak bisa ya, rumah nggak dikotorin begini. Kamu sengaja ya bikin kakak kesel. Udah tahu orang lagi nggak enak badan malah dibuat sebel." Begitulah Nayla terus ngedumel oleh hal tersebut. Jadi beberapa hari ini dia menang sering merasa gusar oleh hal-hal kecil semacam ini.
"Emang ya, kalian semua itu sengaja nyiksa kakak. Nggak Mami nggak kamu Romeo, terus si pembohong itu juga. Senang kan lihat kakak begini." Entahlah semua orang jadi dia salahkan.
Ia terus mendorong alat pel tersebut hingga menuju kamar Romeo.
"Kamu tuh kayak anak kecil tau nggak Romeo. Udah tau kakaknya lagi sakit tapi kamu malah bikin ulah." Nayla terus berbicara seorang diri entah Romeo mendengar atau tidak dirinya tidak tahu. Yang jelas ia merasa kesal oleh tingkah adiknya itu saat ini.
"Pembohong! Pembohong! Katanya mau jemput." Terisak, ya dan akhirnya dia pun menangis. Nayla tidak bisa menahan diri lagi atas kegundahan yang ia rasa. Yang jelas saat ini ia benar-benar merasa ingin sosok itu ada disisinya.
Maka ditengah tangisan didepan kamar Romeo tersebut, ia lalu terduduk dan merasakan mual kembali.
"Kak...." Begitulah Romeo memanggil sesaat setelah keluar dari kamarnya.
"Apa??!! Kamu jangan mancing-mancing emosi deh."
"Kak itu ada...." Romeo terlihat ragu-ragu.
"Apa ha?! Udah tau orang lagi sakit kamu malah mainin air dan ngotorin rumah.... kamu nggak kasihan sama kakak.... kamu itu jahat sama kayak yang lain. Kenapa sih, semuanya senang lihat kakak menderita. Kenapa sih, Romeo...." Lalu terjeda oleh isak tangis. "Beberapa bulan yang lalu kakak dijodohin kemudian dipaksa nikah, terus sekarang malah disuruh pisah. Kakak juga nggak bisa ngelawan, karena yang minta orang tua. Terus.... waktu itu...." Gadis itu kemudian meraung sejadi-jadinya. "Dia janji mau jemput kakak. Tapi, sampai sekarang mana buktinya. Kayaknya orang-orang emang sengaja bikin kakak sengsara." Setelah meracau Nayla tertunduk, emosinya benar-benar tidak stabil. Ia hanya ingin menangis sekarang, menumpahkan rasa marah dan kekecewaannya yang begitu besar.
Akan tetapi, dia tidak menyadari bahwa ada sosok hangat yang menatapnya lembut perlahan mendekat untuk meraihnya pelan.
*
*
*
*
Hai Readers!
Jadi, aku nggak bisa bikin ceritanya langsung lompat-lompat gitu. Kok cerita lompat sih, haha. Intinya alur cerita aku mungkin memang terasa lambat, karena aku itu memang menjelaskan sesuatu secara detail ditiap cerita, tidak langsung menuju kebagian intinya.
__ADS_1
Maafkan kalau ada kekurangan.
Happy Reading!