Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Tanpa Bertanya


__ADS_3

****


Sudah seminggu Nayla tinggal di apartemen suaminya itu. Tidak banyak hal yang terjadi. Nayla yang harus berangkat sekolah pagi dan pulang sore dimana Reynand juga bangun ketika Nyala sudah tidak ada diapartemen dan pulang ketika sudah tengah malam bahkan subuh, mengharuskan mereka tidak banyak bertemu dan berbicara.


Ia tau ini sulit. Jujur saja pernikahan ini benar-benar membingungkan baginya. Reynand, laki-laki itu terlalu sibuk. Sedangkan dirinya adalah orang yang sulit membuka diri pada orang baru. Beberapa kali Ia berpikir untuk menyapa bahkan mengobrol dari balik kamarnya saat Ia tau Reynand pulang pada tengah malam. Namun hanya ketakutan yang Ia rasakan dan itu bercampur dengan perasaan tidak enak yang juga Ia simpan.


Hidup ditempat orang dengan hubungan yang tidak bisa dibilang dekat. Ia benar-benar berpikir untuk dirinya kedepan harus bagaimana.


Sore itu Mama Reynand datang ke apartemen. Dia membawa banyak belanjaan. Empat kantong penuh. Bahan makanan, sabun dan kebutuhan lainnya.


“Ini kamu yang belanja.” Mama Adel membuka isi kulkas dengan bergantian menatap Nayla.


“Iya ma.” Nayla berdiri dibelakang Mama Adel.


Setelah selesai memeriksa kulkas, kemudian memutar tubuhnya, Mama Adel menatap Nayla dan tersenyum, Ia lalu mendekati gadis itu.


“Tuh kan, Mama udah yakin selama ini. Kamu pasti bisa merawat Reynand.” Mengelus bahu Nayla pelan.


Nayla tersenyum menanggapi. Sementara itu Mama Adel memandangi gadis itu penuh kagum, untuknya Nayla bukan gadis yang neko-neko.


“Padahal Mama udah belanja banyak, takut kalian nggak ada apa-apa untuk persediaan. Ya udah belanjaan Mama kamu simpen aja. Untuk persediaan, kalian berdua untuk sementara ini nggak usah belanja.”


"Iya Ma, terimakasih banyak." Nayla tersenyum lagi. Ia senang mama benar-benar memperlihatkan keramahan padanya.


“Mama mau minum apa?” tawarnya kepada Mama Adel.


“Nggak usah biar nanti Mama bikin sendiri, kamu pasti capek kan pulang dari sekolah.”


“Kalau gitu Nayla mau beresin belanjaan yang Mama bawa.” Gadis itu masih mencoba mencari kesibukan.


“Nanti aja. Mama mau ngobrol dulu sama kamu.” Mama memegang pipi Nayla, jari jempolnya mengelus halus. Nayla tersenyum Ia sedikit malu.


Mama kemudian duduk dikursi meja makan, yang kemudian diikuti oleh Nayla. Mereka pun duduk berhadapan.

__ADS_1


“Kamu benar-benar anak yang mandiri. Kamu bisa masak, seperti yang Mami kamu bilang.” Mama memandangi makanan yang baru dibukanya dari tudung saji.


Senyum gadis itu kembali mengembang, ini sudah pujian kesekian yang diutarakan Mama padanya.


“Kamu pasti kesusahannya.”


Nayla mengangkat kepalanya, mencoba mengerti maksud dari omongan Mama.


“Maafin Kakek ya. Mama tau kalian berdua sebenarnya belum siap.” Mama Adel menghela nafas. Reynand dan Nayla, keduanya masih sangat muda untuk menikah sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, seperti yang kakek bilang ini demi kebaikan bersama.


Mama Adel kembali mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Nayla pelan. “Nayla Mama senang kamu menikah dengan Reynand. Walaupun ini terlalu cepat. Apalagi kamu kamu masih sekolah.” Mama terdiam sejenak, Ia mengangkat tangannya membelai rambut ikal Nayla. “Kamu tau kan ceritanya. Dulu Kakek kamu sama kakeknya Reynand itu sahabat yang sangat dekat.”


Nayla tidak lagi menjawab, karena sejujurnya menikah dengan Reynand masih belum bisa ia terima.


Beberapa saat kemudian, ia hanya memperhatikan. Mendengarkan apapun yang diucapkan Mama. Tentang usaha Mama yang berusaha mengambil hati Reynand kembali. Hubungan mereka renggang akibat perceraiannya dengan sang suami. Kini Mama mulai mengakrabkan diri lagi dengan Reynand. Setelah sekian lama Ia baru memberanikan diri untuk mendekati Reynand.


Gadis itu lebih banyak diam menanggapi dengan senyuman. Sepertinya Ia tahu Mama hanya butuh didengarkan.


"Kamu jaga Reynand ya. Nanti malam Mama akan berangkat kembali keluar negeri bersama Deddy Joshua." Mama membelai lembut kepala Nayla. Wajahnya terlihat sedih.


****


Malam harinya, sekitar pukul sembilan. Agaknya Reynand pulang cepat malam itu. Mereka berdua baru saja menyelesaikan makan malam berdua.


“Lo belanja lagi hari ini?” tanya Reynad yang membuka isi kulkas.


“Nggak.”


“Terus kok ini.” Reynand memperhatikan isi kulkas yang semakin penuh.


“Mama yang beliin. Tadi Mama kesini.”


Reynand mangut. Raut wajahnya langsung berubah. "Tadi mama ngomong apa aja?"

__ADS_1


"Mama titip salam. Malam ini Mama dan Deddy akan berangkat kembali keluar negeri."


Reynand terdiam mendengar perkataan itu.. Ia merasa tidak ingin membahas hal tersebut. Hubungan antara Mama Adel dan suaminya, ia tidak ingin mendengar hal itu.


Tapi sepertinya Nayla dapat menangkap perubahan raut wajah Reynand. Rupanya suaminya itu belum bisa melupakan masa lalu. Sepertinya ia masih merasakan rasa sakit akibat ditinggalkan Mamanya yang lebih memilih untuk ikut sang suami tinggal diluar negeri.


Beberapa saat kemudian, Reynand yang tengah melangkah menuju dapur untuk mengambil air. Berpapasan dengan Nayla yang tengah membawa keranjang pakaian kotor.


“Habis ngapain?" tanyanya dengan segelas air minum ditangan.


“Habis cuci baju dimesin cuci. Abang ada pakaian kotor? mau sekalian aku cuciin?”


"Oh, ada." Reynand mengangguk, ia kemudian berjalan cepat dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Sementara itu Nayla menunggu dibelakang. Ia menggigit bibirnya. Tidaknya menyangka basa-basinya ditanggapi serius oleh Reynand.


Ya ampun, padahal tadinya dia cuma berbasa-basi saja.


Kira-kira banyak nggak ya?


Tak berapa lama Reynand pun keluar dari kamar. Ia hanya membawa satu stel jaket.


Tangan Nayla menerima jaket tersebut dengan heran. Tapi rasanya Ia tidak perlu terlalu penasaran tentang kenapa laki-laki itu hanya memberikan satu pakaian kotor padanya. Tanpa bertanya Ia akhirnya berlalu kembali ketempat mesin cuci.


Reynand memejamkan matanya. kenapa Ia terlihat sangat bodoh hanya menyerahkan satu stel jaket pada Nayla. Entah apa nanti yang akan dipikirkan gadis itu terhadapnya. Keadaan ini benar-benar membuat Ia bingung. Harus bagaimana dia mengahadapi gadis ini untuk seterusnya? Ternyata menikah dengan gadis belia tidak semuda yang ia pikirkan.





__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2