
****
Pagi hari itu, Nayla merasa energinya mulai terkumpul kembali. Rupanya selama ini Ia tidak sadar kalau tubuhnya kelelahan dan kurang tidur serta juga dirinya terlalu banyak pikiran. Ditambah lagi dengan musim hujan yang ada sekarang. Karena itulah kemarin pertahanan tubuhnya tumbang.
Perlahan Nayla mulai membuka matanya. Pandangan matanya masih buram, tapi Ia merasa tengah berada dipelukan seseorang. Samar-samar matanya mulai mengenali sosok itu. Tak ada rasa tekejut dalam dirinya. Ia tahu laki-laki itu semalam menenangkannya saat Ia menangis. Hanya saja dirinya tidak menyangka kalau sosok yang membuatnya merasa nyaman semalam masih mendekapnya. Entah kenapa perlahan tangannya mulai menyusup ketubuh Reynand, Ia ingin memeluknya. Merasakan kembali perasaan nyaman yang laki-laki itu berikan kepadanya semalam.
Nayla dapat mendengar detak jantung itu. Suaranya sangat menenangkan. Ia terus merasakan hangat tubuh Reynand yang ikut mengalir pada dirinya.
Namun tiba-tiba Ia terkesiap. Ia tersadar dengan apa yang Ia lakukan. Ia pun mulai melepaskan pelukannya.
Deg! Deg!
Ia mulai mengutuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya Ia melakukan hal tersebut dalam keadaan sakit.
“Ya ampun Nayla kok Lo bisa sih ngelakuin hal mesum kayak tadi.”
Tak berapa lama Nayla mulai memperhatikan Reynand dari ujang rambut sampai kaki dengan lirikan matanya. Laki-laki itu tidak memakai selimut seperti dirinya. Nayla merasa tidak tega. Perlahan dalam keadaan masih terbaring, Ia melepaskan selimut miliknya untuk menutupi tubuh Reynand. Kepalanya sedikit pusing ketika Ia berusaha bangkit untuk menutupi kaki Reynand yang setengah telanjang itu.
Diperhatikannya wajah Reynand dengan seksama. Tidurnya sangat nyenyak. Pasti Ia kelelahan karena semalaman mengurus dirinya. Diam-diam Nayla tersenyum, Ia tidak menyangka semalam Ia membiarkan Reynand untuk memeluknya. Orang yang sedang bersamanya itu telah membuat dirinya tenang dan nyaman semalaman. Ia merasa seperti memiliki sosok pelindung, sosok yang membuatnya merasa aman dan tentram.
Beberapa saat kemudian Nayla berniat untuk kekamar mandi. Rasanya Ia ingin buang air kecil serta sekaligus membasuh wajah dan menyikat gigi. Ia sedikit meringis saat menggerakkan kakinya, rupanya Ia lupa kalau kemarin lutunya cedera akibat terjatuh.
Dengan hati-hati dirinya mulai turun dari ranjang takut mengganggu Reynand yang sedang tertidur. Ia tahu suaminya itu pasti sangat kelelahan.
Tak berapa lama Nayla akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia sudah membasuh wajah dan bagian tubuh lainnya tadi. Tiba-tiba kepalanya mulai terasa pusing tubuhnya sedikit bergetar dan perutnya berbunyi. Sepertinya Ia lapar. Nayla pun mendudukan dirinya dikursi sofa kamarnya karena Ia tidak kuat lama-lama berdiri.
Drrt.. drrt…
Nayla melirik kesampingya. Rupanya panggilan masuk dari ponsel Reynand.
“AIRIN!”
__ADS_1
Dengan segera Nayla menggeser layar ponsel itu.
“Hallo Rey, nanti siang jangan lupa ya. Hari ini ada jadwal variety show buat promosiin film kita.”
“Orangnya lagi tidur.”
“Tidur? Terus kamu siapa? Kenapa berani-beraninya mengangkat telpon dari hp Reynand.” Suara diseberang terdengar emosi.
Dengan segera Nayla memutus panggilan tersebut. Mengabaikan wanita yang sedang dirundung emosi itu.
“Kamu siapa? Lo bakal nyesel kalau tau gue siapa?”
Kepala Nayla kembali terasa pusing. Ingin sekali Ia kedapur untuk membuat susu hangat dan mengambil sepotong roti. Ia butuh asupan tenaga. Ia ingat semalam bahkan tidak menghabiskan susu dan roti yang dibawakan Reynand untuknya. Tubuhnya benar-benar lemah. Akhirnya Ia pun lebih memilih untuk membaringkan diri diatas sofa.
Hari ini Ia tidak sekolah. Ia berharap Suci akan mengizinkannya. Mengingat Suci, sahabatnya itu sudah tau kalau Ia sudah menikah dengan Reynand. Ia benar-benar berharap Suci dapat menjaga rahasia. Sebelumnya Ia sangat takut kalau ada orang yang mengatahui kalau Ia sudah menikah. Tapi melihat Reynand yang menjelaskan semuanya kemarin malam kepada Suci Ia merasa sedikit tenang.
Nayla memiringkan tubuhnya menatap Reynand yang sedang teridur dengan pulas. Entah kenapa tiba-tiba ada perasaan hangat yang mengalir dalam dirinya. Mengingat betapa Reynand dapat memberikan pemahaman kepada Suci tentang status mereka yang sudah menikah, mengingat Reynand yang begitu mengkhawatirkannya semalam, mengingat Reynand yang mampu menenangkan dirinya disaat Ia menangis. Padahal dulu sebelum menikah Ia sangat takut bahkan menganggap berduaan didalam kamar saja sungguh menggelikan. Namun semalam, bahkan lelaki itu telah memeluknya dengan erat. Diam-diam Nayla menyunggingkan senyumnya, entah mengapa Ia merasa perasaan hangat mengalir dalam dirinya.
Tak berapa lama, Reynand terlihat mulai bergerak sepertinya Ia akan bangun. Mendadak Nayla berdebar-debar. Sial, kenapa dirinya jadi gugup begini. Padahal tadi saat Ia menyadari Reynand ada disampingnya dirinya biasa saja. Benar saja Reynand menoleh tiba-tiba kearahnya. Laki-laki itu terbangun. Sepertinya Ia kaget saat melihat Nayla tengah terbaring disofa dengan menghadap kearahnya. Spontan Reynand terduduk kemudian menatap Nayla yang tengah mematung ditempatnya.
“Kamu kenapa tidur disofa?” wajah Reynand terlihat cemas. Ia mulai menduga-duga kalau dirinya melakukan sesuatu yang aneh semalam sehingga menyebabkan Nayla pindah tidur disofa.
Perlahan Nayla mendudukan tubuhnya kembali.
“Maaf kamu pasti terganggu.” Reynand menunjukkan rasa bersalahnya.
Nayla menggelengkan kepala.
“Nggak. Abang nggak ganggu kok. Aku baru bangun .” Menjawab dengan polosnya.
Raut wajah cemas Reynand berubah. Ia memandangi Nayla menelisik kebingungan. Padahal tadi Ia mengira Nayla akan mendiamkan atau memarahinya karena gadis itu terbangun dengan keadaan Ia tidur disampingnya. Ia menatap mata sayu gadis polos dihadapannya itu. Dilihat dari matanya tidak ada rasa takut atau kebencian, atau perasan jijik mungkin. Sesuatu yang benar-benar tidak Ia sangka. Atau karena Ia sakit makanya gadis itu berekspresi tidak berdaya, padahal mungkin sebenarnya Ia marah.
__ADS_1
Reynand pun turun dari ranjang, kemudian Ia mendekati Nayla. Memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama. Mencari-cari maksud dari ekspresi yang terlihat biasa-biasa itu.
Sementara itu Nayla menatap Reynand dengan pandangan yang berbeda. Entah mengapa sikap bingung Reynand terlihat menggemaskan dimatanya.
Beberapa saat Nayla dapat merasakan tangan Reynand menyentuh keningnya. Laki-laki itu rupanya tengah memeriksa suhu tubuhnya.
“Suhu badan kamu sudah mulai turun.” Dengan hati-hati Reynand melepaskan tangannya dari kening Nayla.
“Jam berapa sekarang? Kamu belum minum obat.” Reynand meraih ponselnya yang terletak dikursi sofa. Jam 7 pagi.
“Saya akan membuatkan susu dan memesankan kamu makanan.” Reynand melangkah hendak keluar dari kamar Nayla.
Nayla berusah memanggil Reynand dengan suara hatinya. Memandangi punggung itu dengan hati berdebar-debar.
“Terimakasih.”
“Terimakasih, semalam udah bikin aku merasa lebih baik.” Nayla tersenyum penuh ketulusan.
Saat itu didalam kamar Reynand.
Deg! Deg! Deg!
“Tuh anak kenapa ya? Atau gue yang terlalu anggap sikapnya berlebihan. Gue kira dia bakal marah karena gue udah berani meluk-meluk dia semalam.”
*
*
*
*
__ADS_1
*
*