
****
"Gimana keadaannya?" Tanya Nayla yang kala itu tengah mendudukan diri disisi ranjang. Tadinya dia ingin duduk dikursi saja. Namun, apa daya jika sang suami meminta dirinya untuk lebih mendekat.
"Udah mendingan?"
"Masih nyeri Nay, apalagi yang dibagian jahitannya." Ucap Reynand pelan pada sosok yang menatapnya dekat penuh kelembutan itu.
Lalu mereka saling bertatapan, sementara Nayla yang duduk dengan kaki menjuntai dilantai menurunkan wajahnya untuk menatap wajah Reynand dengan seksama. Tangan mulus perempuan itu terus mengelus pipi Reynand sedari tadi.
"Gimana tadi ujiannya tadi, lancar?" Tanya Reynand dengan tangan yang tersambung selang infus itu menyentuh telapak tangan Nayla yang mengusap wajahnya.
"Hem...." Nayla mengangguk pelan. Ujiannya berjalan lancar walau ia sempat tidak fokus tadi. Biar bagaiman pun ia selalu terpikirkan keadaan Reynand dikepalanya.
"Kamu, masih mual nggak?"
"Nggak, paling cuma pagi-pagi."
"Besok, kita periksa sama mbak Beta, oke?"
Nayla lagi-lagi mengangguk pelan. Ia sangat ingat kala tadi pagi saat perilaku Reynand yang tiba-tiba mencium perutnya menimbulkan kehebohan besar diantara orang yang ada disana, terkhusus Mama Adel yang begitu heboh. Jadilah akhirnya semua keluarga sepakat untuk memeriksakan dirinya kepada Beta besok setelah ujiannya berakhir.
"Nggak apa-apa kan, kalau besok diperiksa?"
"Hem...."
"Nay...." Reynand menghela nafas sejenak sementara wanitanya masih diposisi yang sama. "Kamu duduknya pindah sebelah sini...." pinta Reynand untuk menghindari jahitannya yang masih baru.
Akhirnya setelah Nayla pindah kesisi lain duduknya mereka pun kembali merapatkan diri satu sama lain.
"Berarti kalau hasilnya positif, kamu akan jadi Ibu muda." ucap Reynand tersenyum.
Reynand meringis saat tiba-tiba Nayla mencubit lengannya. "Sakit Nay, kamu tuh bener-bener tega ya. Lagian bener kan kamu akan jadi ibu muda kalau ternyata anak kita benar-benar ada didalam sini." Reynand kemudian mengelus perut Nayla pelan-pelan.
"Kamu juga bakal jadi Ayah...."
"Nggak ada tambahan 'muda' nya?" Tanya Reynand masih sambil mengelus perut itu pelan.
"Emang kamu masih muda?" Tanya Nayla.
"Ya iya dong, ayah muda." ucap Reynand heboh.
"Tapi ayah lebih tua dari aku...."
"Cuma beberapa tahun Nay. Lagian aku juga masih cocok jadi anak SMA...."
"Iya, tapi tetep lebih tua kan, dari aku." sahut Nayla tak mau kalah sengaja membuat Reynand kesal. "Ayah kan udah tua nih, jangan bikin khawatir lagi ya...."
Astaga istri sendiri mengatainya tua. Reynand lalu beranjak tidak perduli rasa sakit yang ia rasa. Sedikit meringis namun ia mencoba menahan itu.
"Kok kamu makin hari, makin nggemesian ya." ucapnya menyeringai.
Nayla gelagapan oleh sosok yang tiba-tiba sudah berada diatasnya itu. "Mau ngapain?" Nayla lalu menatap selang infus yang mulai tertarik oleh tangan disebelahnya itu. "Aduh, abang tuh hati-hati kenapa." Nayla dengan cepat beranjak lalu mendorong Reynand untuk berbaring kembali. "Aku hampir jantungan." Nayla mengecek beberapa bagian tubuh Reynand yang ia khawatirkan.
Reynand yang melihat tersebut malah terkekeh geli. "Kelihatan banget ya cintanya sama aku."
"Jangan becanda deh, kalau lukanya berdarah lagi gimana?" Nayla membenahi arah selang infus tersebut. Yang benar saja, lagi sakit begini masih bisa-bisanya bercanda.
"Jangan galak-galak dong sayang, aku tuh cuma masih terlalu kangen sama kamu. Kamu nggak tau kan, kangennya itu sudah menggunung dan bertumpuk melebihi tumpukkan berkas-berkas diruangan kakek."
Nayla mendengus. "Iya, kangen sih kangen. Tapi jangan sampai nyakitin diri sendiri kayak gini."
"Sakit gini nggak ada apa-apanya dibanding sama aku masih dikurung kakek trus nggak bisa ketemu kamu. Aku rela melakukan apapun demi kamu sayang." Reynand semakin menjadi dengan kebanyolannya.
__ADS_1
Entahlah Nayla merasa semakin hari mulut Reynand semakin pintar berkata manis. Terkadang Nayla pun tidak habis pikir dengan sikap Reynand yang seperti ini, sepertinya Reynand memang sengaja memancing reaksinya.
Melihat raut wajah sebal Nayla lagi-lagi Reynand terkekeh. "Mukanya jangan gitu dong, kamu nggak ingat raut wajah kamu yang nunjukkin seberapa takutnya kamu ditinggal pergi sama aku tadi malam." Reynand menaik turunkan alisnya dengan tersenyum jenaka. "Aku tahu kok, didalam hati kamu, kamu sangat suka aku ngomong gini. Tenang aja aku nggak akan pernah kehabisan kata untuk bikin hati kamu berbunga-bunga."
Nayla cuma bisa geleng-geleng kepala. Reynand melompat malam itu kepalanya tidak ikut terbentur, kan? Rasa-rasanya ia harus menyarankan kakek untuk ikut memeriksakan isi kepala suaminya ini.
"Dari pada abang bicara aneh-anenh kayak gini, mending aku buatin susu deh, biar cepet tidur." Ujar Nayla sembari beranjak setelah membenahi posisi tidur Reynand.
"Jangan lama-lama ya, takutnya nanti aku keburu kangen. Aku nggak tahan Nay jika harus terus-terusan menahan kerinduan didalam hatiku ini."
Ya tuhan, Nayla hanya bisa memijat jidatnya. Sedang sakit saja tingkahnya begini, apalagi nanti kalau sudah sembuh, Nayla yakin sikap Reynand akan lebih aneh lagi.
"Iya, diem ya jangan kemana-mana. Aku mau bikinin susu dulu diruang dapur." Nayla kemudian beranjak.
"Tergantung kamu lama atau nggak ninggalinnya."
Maka tanpa perlu menjawab ucapan itu lagi Nayla pun langsung menuju keruangan dapur, ia rasa meladeni Reynand terus berbicara tidak akan pernah selesai-selesai.
Menyendok susu bubuk dari lemari kecil yang ada diruangan tersebut, ia kemudian menyeduhnya dengan air panas.
Namun belum selesai ia mengaduk cairan putih itu tiba-tiba pelukan lembut dari belakang yang menyentuh perut, tiba-tiba mengagetkannya.
"Sayang...."
Nayla menoleh saat bisikan lembut itu menerpa telinganya, menoleh pada wajah yang super dekat itu. Sebuah kecupan sektika mendarat dikeningnya pelan. Tidak hanya sekali namun berkali-kali yang pada akhirnya membuat Nayla hanya bisa memejamkan mata menerima itu.
Astaga, orang ini benar-benar keras kepala. Bukannya dia tidak suka diperlakukan seperti ini, tapi lihat dulu keadaan. Nayla benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Reynand saat ini.
Meletakkan susu tersebut ke atas meja dapur, memutar tubuhnya kemudian ia pun melototi sosok itu.
"Balik nggak, ke tempat tidur sekarang!" perintahnya.
Reynand menggeleng, kemudian ia mejatuhkan dagunya pelan dibahu Nayla. "Nggak mau...." ujarnya manja.
"Abang butuh istirahat, jangan begini dong. Nanti kalau luka jahitannya nggak sembuh-sembuh gimana?"
"Mending besok aku nggak usah kesini deh, kalau bandel." Ucap Nayla pura-pura mengancam.
Reynand kemudian mengangkat kepalanya untuk melihat wajah galak Nayla lalu kemudian tersenyum. "Yakin? Nanti kalau kamu rindu gimana, hem?"
"Nggak kok." kilah Nayla. "Siapa juga yang bakalan rindu sama suami nggak nurut."
"Bener?" Reynand semakin menyeringai.
"Iya! Katanya mau jadi ayah, tapi kalau tingkahnya begini bagaimana. Nanti siapa yang jagain adek yang diperut kalau ayahnya nggak mau jaga kesehatan."
"Jangan gitu dong sayang...." Kini Reynand kembali menyusupkan wajah diceruk dileher wanitanya "Ucapan kamu kok, kedengerannya lebih jahat daripada hukuman kurungan dari kakek."
"Udah berapa hari kita nggak ketemu, kamu nggak tau kan rasa rindu yang aku pendam selama itu."
Beuh! Nayla benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Dengan cepat ia pun akhrinya melepas pelukan itu, menarik Reynand untuk kembali ketempat tidur dan membuat laki-laki itu terbaring disana.
Setelah kembali menggantung kantung infus ketempat semula Nayla mengehela nafas dalam-dalam, ternyata dia juga tidak memiliki suami yang super lebay akan tetapi juga sangat ajaib. Benar-benar tingkah yang ajaib untuk sosok yang tengah memiliki luka parah ditubuh dan masih sempat-sempatnya untuk bergerak kesana kemari.
"Diam disini." pintanya pada sang suami. Ia pun kembali lagi kedapur untuk mengambil susu yang belum siap tadi.
"Jangan aneh-aneh lagi." Ucap Nayla yang kemudian duduk dengan segelas susu ditangannya sekembalinya ia dari dapur. "Kalau lagi sakit itu istirahat." omelannya terus berlanjut. "Ini nggak, mana ada orang lagi sakit tingkahnya kayak abang."
"Abang begini karena kamu loh, Nay." Jawab Reynand santai.
Nayla masih manyun. Ternyata mengurus bayi besar itu sesulit ini ya, menguras tenaga dan membuatnya berkeringat.
__ADS_1
"Nih minum susunya." Nayla yang tengah duduk dikursi menyodorkan susu itu pada sang suami.
"Jangan begini sayang, suapin pakai sendok."
Terdiam dan menuruti apa yang Reynand mau, lalu Nayla mulai menyendok susu tersebut.
"Ditiup dulu sayang." ujar Reynand sebelum Nayla benar-benar menyodorkan minuman itu padanya.
"Makin cinta deh, kalau perhatiannya kayak gini." ujar Reynand setelah suapan itu masuk kedalam mulutnya.
"Jangan banyak omong deh, minum yang bener. Terus habis ini tidur."
"Nggak bisa Nay, kamu nggak akan pernah bisa membuat aku berhenti untuk memuji kamu. Kata-kata manis ini cuma aku persembahkan untuk kamu seorang sayang."
Jika biasanya jantung Nayla serasa akan meledak mendengar gombalan itu, namun sekarang dia merasa geli. Terserahlah Nayla tidak perduli lagi Reynand mau berkata apa. Yang jelas dia akan terus kalah omongan dari Reynand.
Melotot saat sosok itu menatapnya dengan gelak yang tertahan Nayla lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng kepala.
Tapi, kalau dipikir-pikir gemas juga dia melihat tingkah suaminya yang seperti ini. Lucu! Bukannya sikap Reynand yang seperti ini salah satu yang membuatnya rindu beberapa hari ini.
Dan, saat Reynand hendak berucap kembali dengan kebanyolannya, maka secepat itu pula Nayla memajukan kepalanya untuk menutup mulut itu sekilas dengan bibirnya.
Reynand termangu dan mematung.
"Udah, ngomongnya...." ujar Nayla.
"Kurang Nay...." sahut Reynand pelan.
Nayla sangat paham maksud ucapan itu. Maka dengan cepat ia mengunci mulut itu kembali hingga menimbulkan decapan yang keras.
"Udah, kan? Sekarang diem dan habisin susunya, jangan banyak omong lagi, nanti kalau sakitnya nggak sembuh-sembuh siapa coba yang disalahin? Semuanya tau kalau sekarang abang lagi sama aku. Bisa-bisa nanti mereka bilang aku nggak becus ngurus suami...."
Maka sebelum Nayla benar-benar menyelesaikan ucapan itu, Reynand dengan cepat menarik tengkuk istrinya. Meraih gelas yang isinya yang hampir tumpah itu lalu meletakkannya keatas nakas disamping tempat tidurnya.
Deg! Deg! Jantung keduanya berdegub dengan sangat kencang saat itu.
Reynand lalu menunjuk bibirnya. "Tenang aja, yang sakit bukan disini kok, Nay." Ucapan itu seolah memperjelas bahwa dirinya menyatakan sah-sah saja jika mereka ingin melakukan itu. Laki-laki itu lalu menurunkan kantung infusnya perlahan.
Maka dengan binar yang tidak bisa dijelaskan Reynand langsung memiringkan kepalanya dan meraih benda ranum lembut itu secara perlahan. Menggigitnya pelan, beberapa saat kemudian ia pun memulainya.
Nayla pun ikut dalam permainan itu, mengalungkan tangannya dileher Reynand. Menyambut ciuman suaminya dengan mesra. Seolah lupa dengan segala hal yang ada. Semuanya sangat memabukkan, saat Reynand membelainya didalam sana, saat Reynand menarik tubuhnya untuk mendekat Nayla hanya bisa mengikuti Nalurinya. Sangat indah, setelah berhasil membuat ia berpindah duduk disisi ranjang secara perlahan Nayla mulai terbaring disana.
Ia membiarkan Reynand berada diatasnya. Dengan hati-hati Nayla pun ikut membantu Reynand untuk memegang kantung infusnya untuk memperlancar kegiatan mereka. Kenyataannya bagaimana pun keadaan Reynand saat ini, laki-laki yang tadinya terlihat lemah itu tetaplah yang selalu mendominasi kegiatan mereka.
Membuat pagutan mereka semakin dalam diantara hasrat yang ada disana.
Membuka matanya setelah ciuman itu terlepas dengan nafas yang masih memburu Reynand lalu berucap. "Kamu tau, kamu itu udah jadi candu buat aku sayang...."
Akhirnya kegiatan konyol Reynand hanya sampai disitu, setelahnya ia benar-benar tertidur. Nayla merasa lega, entah karena obat yang Reynand minum sudah bereaksi atau karena obat yang didapat sebelum ini, kalau benar begitu obat untuk membuat tidur Reynand ternyata memang berbeda.
Masih berbaring sembari terus mengusap-usap kepala Reynand pelan. Sepertinya Nayla juga butuh untuk tidur sekarang.
Maka beberapa saat kemudian keduanya pun akhirnya tertidur dengan sangat pulas dalam mimpi yang indah.
*
*
*
*
__ADS_1
Hai, terimakasih buat yang masih setia menunggu dan menanti serta selalu mendukung cerita ini.
Happy Reading!