
****
Reynand menghentikan langkah kakinya saat Mama Adel memanggil. Ia pun berbalik menatap ibu kandungnya itu.
Terlihat disana mama Adel memperlihatkan sorot mata dan raut wajah serius. Sepertinya Reynand tidak perlu menebak apa permasalahannya. Menurunkan satu langkah kakinya, Reynand pun berdiri dihadapan Mama, seperti siap menerima apapun yang akan dipertanyakann oleh wanita pertama dalam kehidupannya itu.
"Mama tadi lihat Nayla buru-buru masuk kamar, matanya sembab, apa kalian ada masalah?" Mama bersidekap sembari menghela nafas ringan.
"Nggak kita tadi cuma...."
"Cuma apa Reynand?! Kamu membuat masalah lagi, hah?! Apa ini ada hubungannya dengan perempuan yang itu." Lihat, Mama saja malas intuk menyebut nama perempuam yang dimaksud.
"Ma, tolonglah ini urusan aku dan Nayla. Mama ngga perlu ikut...."
Mama Adel langsung menyambar. "Ini juga urusan Mama." Tegasnya sembari menunjuk cepat kebawah.
"Ma, kenapa kalian sangat suka mencampuri urusan kami, Nayla itu istri aku dan...."
"Mama berhak mencampuri urusan kalian...."
Reynand menggeram. Kenapa kata-kata itu terdengar egois. Mencampuran urusan mereka? Jelas-jelas ini adalah rumah tangga dia dan Nayla.
"Kamu tau Reynand, bukan hal mudah untuk membuat kalian berdua bisa seperti ini, membuat Nayla menjadi menantu Mama dan juga akhirnya menjadi cucu kakek."
Reynand tahu itu, tidak perlu Mama harus menjelaskan. Ia sangat paham bagaimana awal terjadinya perjodohan dirinya dan Nayla.
Mama Adel mengusap wajahnya. "Ibu mana yang rela memberikan anaknya di usia semuda itu untuk menjadi istri orang Reynand."
Deg, jantung Reynand berdenyut. Memejamkan mata dalam-dalam lalu mengehembuskan nafas perlahan. Ia paham, sangat-sangat paham semuanya.
"Kamu tahu betapa sulitnya kakek membujuk Mami Miska pada saat itu? Hah?" Mengintip wajah Reynand sejenak sembari kedua tangannya terbuka lebar. "Membujuk agar kalian menikah secepatnya. Kamu tau jaminannya apa agar Mami Miska setuju saat itu? Kebahagiaan, Mami Miska berharap agar kamu bisa membahagiakan putrinya."
Ya tuhan, Reynand mendesah. Mana ia tahu yang seperti itu. Saat itu dia hanya ikut datang melamar dan kemudian menikah.
Tapi, mendengar mama Adel berbicara begitu kenapa dia jadi mencelos begini ya? Ucapan Mama barusan berhasil menyentak hatinya.
"Ma, aku akan membahagiankan Nayla. Percaya sama aku, jadi tolong biarkan aku belajar sendiri. Aku tau semuanya awal dari pernikahan kami. Perjanjian yang kakek dan Mami Miska buat, semuanya." Perjanjian yang akan memisahkan mereka jika ia menyakiti putri mertuanya. Perjanjian yang sungguh aneh. Untuk apa mereka dinikahkan kalau nantinya akan dipisahkan.
"Kalau kamu tahu kenapa kamu tidak menjaga itu."
"Aku menjaga Ma, akan sangat menjaga." Ucap Reynand meyakinkan. Kemudian ragu-ragu ia terus menatap kearah kamar mereka sedari tadi.
"Aku mau kembali kekamar." Ucapnya buru-buru seperti dikejar waktu.
"Rey tunggu!"
Reynand menoleh, apa lagi?
"Mama minta kamu turuti apa kata kakek kamu. Kakek sudah tua, dia sebentar lagi akan pensiun. Jad Mama ingin agar...."
"Iya Ma...." Sambarnya cepat. Bukan apa-apa ia sudah sangat puas mendengar nasehat yang sama dari kakek tadi.
"Buat keputusan secepatnya."
Reynand terlihat ragu. "Nanti aku pikirian." Ujarnya kemudian berlalu meninggalkan sang Mama.
Ditinggal seperti itu Mama mendengus kesal, apa sih yang dikejar?
~
Memasuki pintu kamar saat Nayla tengah duduk membelakangi diatas ranjang, Reynand pun langsung menghampiri.
__ADS_1
Mungkin sadar Reynand memasuki kamar Nayla pun berbalik saat suaminya itu mendekat dan langsung memeluk erat.
"Tadi kamu diapain aja sama Airin?"
"Dijambak...." Jawabnya spontan, matanya menatap tajam kesembarang arah karena masih kesal atas perlakuan Airin tadi
"Dijambak?" Reynand langsung membelalak. Ia melepas pelukan itu untuk menatap wajah Nayla yang penuh dendam. "Terus diapain lagi?"
"Di dorong."
"Didorong juga? Kuat?"
"Hem, jangan deket-deket dia, jauhi, aku benci perempuan itu."
Aish, andai saja Reynand melihat kejadian tadi mungkin saja dia akan memberikan pelajaran lebih kepada wanita sialan itu. Hah, lihat saja nanti Reynand pasti akan memberinya balasan.
"Emang sakit banget ya dijambak?"
Melihat Nayla yang langsung melotot Reynand mendadak bungkam. Pertanyaan bodoh.
"Mau coba?"
Reynand menatap dengan nanar. "Kalau itu bikin hati kamu lega."
"Ya udah aku mau jambak." Sahut Nayla mantap.
Reynand lalu naik keatas ranjang dan duduk berhadapan dengan Nayla diatas kasur. "Lakuin seperti yang kamu mau." Ia menundukkan kepalanya. Memejamkan mata ersiap-siap untuk merasakan jambakan sang istri.
Sedetik dua detik....
Lama, namun ia merasa rambutnya belum juga merasa ditarik. Lalu Reynand pun mengangkat kepalanya.
"Em...."
Terpaku, mereka berdua sama-sama termangu dan saling pandang.
Seaat kemudian Reynand menarik tubuh Nayla sehingga gadis itu duduk dengan paha yang terbuka lebar dipangkuannya. Mereka terus saling menatap satu sama lain.
"Jangan ada skandal lagi sama dia." Dia yang Nayla maksudkan adalah Airin. Wanita sialan bin ular.
Reynand dapat merasakan rasa sakit hati gadisnya dibalik ucapan itu. "Nggak akan." ucapnya yakin.
"Kalau Airin buat ulah lagi gimana?"
"Jangan sampai...." Sahut Reynand lirih.
"Kalau terjadi?" Nayla merasa cemas.
Reynand menggeleng kemudian mengecup bibir itu pelan. "Jangan sampai terjadi Nay." Reynand tidak yakin sebenarnya, mengingat bagaimana sikap Airin selama ini. "Dan aku nggak akan biarin itu terjadi." Kini kecupan itu menuruni leher mulus Nayla membuat gadis itu terpejam dan mengigit bibir kuat menahan hawa birahi yang mulai terpenjar.
Nayla kemudian mendorong bahu Reynand sejenak untuk memberi jarak. "Tapi dia nekat. Aku takut nantinya dia akan menghancurkan hub...."
Nayla tidak dapat menahan lenguhannya disaat tangan Reynand mulai menyusup kedalam baju menyusuri perutnya.
"Emhh...." Suaranya tertahan saat kemudian Reynand memainkan buah dadanya yang masih terbungkus kain.
"Sayang...." Nayla melenguh sembari menyusuri kepala Reynand sehingga jari-jarinya menyusup diantara rambut suaminya itu.
"Emhh.... Aku belum selesai ngomong." Ucapnya kembali mendorong bahu Reynand kuat, nafasnya pun terengah-engah tidak teratur.
Lalu mata Reynand yang mulai berkabut menatap protes. Mereka kembali saling menatap beberapa saat. Melihat kondisi Nayla tidak jauh berbeda dengan dirinya, maka ia pun kembali menyerbu bibir ranum yang sudah menjadi candu itu.
__ADS_1
Nayla akhirnya pasrah oleh perlakuan itu. Ia membiarkan Reynand menyusupkan lidahnya dalam-dalam. Hingga akhirnya mereka pun saling membelai, mengulum dan memilin didalam sana.
Kepala Reynand terasa tertekan oleh jari-jari lentik istrinya saat dia kembali menggoda diatas bukit indah itu dengan mulutnya.
Hingga beberapa saat kemudian mereka semakin meggelora. Keduanya masih meresapi sentuhan dan belaian masing-masing dengan lembut. Bersiap merajut cinta dengan begitu mendamba.
Reynand melepaskan baju Nayla yang sudah terbaring satu persatu secara perlahan, sembari mengecupi area terbuka tubuh wanitanya. Sesekali ia mengecup bibir manis itu sekaligus tangan satunya lagi memijat dibagian paha mulus sang pujaan hati.
Nayla semakin memuncak saat tangan Reynand menjamah titik paling sesitifnya. Menggerakkan jarinya dengan ritme yang berirama. Tubuhnya menggeliat dan menekuk. Kemudian mengejang hebat saat mencapai puncak.
Beberapa saat kemudian Reynand pun telah siap memposisikan dirinya. Sebelum benar-benar memulai ia kembali mengecup kening sang istri yang sudah berkeringat itu dengan lembut. Mengelus kepalanya dengan sayang sembari menatap dengan binar yang tidak dapat dijelaskan.
Setelah mereka benar-benar siap, Reynand pun mulai mendorong dan menekan dengan pelan serta penuh kelembutan. Matanya terpejam nikmat saat dia mulai memasuki istrinya. Menjeda sejenak ia tatap Nayla dibawah sana.
Reynand menyusupkan jari-jari mereka hingga saling menggenggam erat. Akhirnya dia pun mulai bergerak perlahan diatas sana.
Nayla mengangkat kakinya untuk mengapit tubuh Reynand yang tengah bergerak berirama. Sesekali ia mengigit bibir menahan geraman yang terus keluar tak tertahankan.
Ia mengalungkan tanganya dileher suaminya dengan mesra. Sembari terus menikmati dorongan yang terus menelesak didalam tubuhnya.
Mereka semakin memburu dan beradu. Keringat bercucuran seiring suara sahutan yang terdengar merdu.
Setelah beberapa kali mereka mencapai puncak, keduanya pun mengerang dengan tubuh yang menegang hebat. Mereka tersengal dengan nafas memburu saling bersahut-sahutan.
Reynand menjatuhkan tubuhnya menimpa Nayla, membuat gadisnya itu meringis. Sehingga perempuan itu dapat mendengar jelas nafas hangat Reynand memburu menerpa ditelinga bersahut-sahutan dengannya.
Lama berada diposisi itu berlomba-lomba meraup udara hingga beberapa saat kemudian keadaan mereka kembali normal.
"Berat...." Dorongnya pada tubuh sang suami.
Reynand mengangkat kepalanya terkekeh. Ia kemudian berguling kesamping sang istri setelah mendepat cubitan keras dipinggangnya.
"Sakit, Nay."
"Emang kamu pikir aku nggak sakit." Maksudnya sakit ditindih oleh tubuh berat itu.
Lalu Reynand pun khawatir. "Emang tadi sakit ya? Perasaan tadi kamu kelihatan enak-enak aja dibawah."
Bugh! "Aw...." Reynand meringis oleh kepalan tangan mungil yang mengarah keras dilengannya.
"Ngeselin...."
"Ngeselin tapi suka, kan?" Reynand kemudian memeluk tubuh itu erat. Mengecupi puncaknya lembut.
Tentunya selalu ada kata cinta dan sayang disetiap selesainya kegiatan panas mereka. Reynand selalu melakukan itu dan Nayla menyukainya. Menyukai setiap bentuk perlakuan yang Reyannd berikan.
Tak berapa lama akhirnya tubuh yang saling berpelukan itu tertidur dalam mimpi yang indah.
*
*
*
*
Selamat malam mingguan wahai readers.
Happy Reading!
Semoga kalian menikmati.
__ADS_1