
****
Pagi hari itu Nayla sangat beruntung karena akhirnya ia bisa bangun pagi dan mendapati Reynand masih berada didalam kamar mandi tidak seperti kemarin dimana saat itu dirinya sudah ditinggal pergi bekerja. Maksudnya dia masih sempat bertemu dengan suami tercintanya itu pagi ini. Duh, suami tercinta.
Dia tidak menyangka setelah pernikahan mereka akhirnya diketahuai oleh publik rasa semangatnya menjadi seorang istri malah semakin bertambah.
Perempuan itu lalu perlahan beranjak turun dari ranjang setelah selesai membereskan tempat tidur mereka dengan rapi. Membuka lemari pakaian Nayla lalu memilihkan pakaian untuk Reynand kenakan hari ini.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.
"Udah bangun?" Reynand yang baru keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada itu lalu mendekati istrinya.
Nayla mengangguk. "Ini baju kamu udah aku siapin." ia meletakkan baju beserta celana disisi ranjang.
"Terima kasih, ya." Reynand tersenyum sembari memberikan kecupan dikening pagi hari itu.
Sementara Nayla menuju kamar mandi, Reynand pun mulai mengenakan pakaiannya. Hari ini lagi-lagi dirinya akan disibukkan dengan pekerjaan. Untuk seorang pemula seperti dirinya menjadi pemimpin perusahaan besar memang tidaklah mudah.
Terkadang ia pun masih kesulitan untuk menangani jika ada permasalahan. Tapi, untungnya selama lebih dari satu bulan ini ia dibantu oleh sekretaris yang dulu menemani kakek. Namun, kemarin sekretaris yang sudah lama bersama kakek tersebut meminta izin untuk pensiun minggu ini. Jadilah hari ini Reynand akan ada perekrutan sekretaris baru untuk mengganti sekretaris yang lama.
Bahkan Reynand sebenarnya berencana untuk memikiki asisten pribadi layaknya yang dimiliki kakek dahulu. Jadi kemana pun dia pergi akan ada seseorang yang mengurus segala keperluannya.
Beberapa saat kemudian Reynand mendengar suara Nayla muntah berkali-kali didalam kamar mandi. Reynand yang belum sempurna memakai celananya segera menghampiri.
"Nay.... kamu muntah." Reynand mendekat dan segera memijat tengkuk istrinya. Sembari Reynand memijat tengkuknya perempuan itu lalu menunduk untuk menumpahkan isi perutnya di wastafel kamar mandi.
Hal yang selalu ia lihat beberapa minggu terakhir. Sebenarnya Reynand merasa kasihan melihat keadaan Nayla seperti ini. Akan tetapi mau bagaimana lagi, menurut yang ia dengar dari Beta hal seperti ini wajar dialami oleh seorang ibu hamil.
Selesai memuntahkan isi perutnya Nayla lalu berbalik. Ia sampai terengah-engah karena itu, wajahnya pun sampai berkeringat.
"Pusing?" Tanya Reynand saat Nayla tengah memegangi kepalanya.
Nayla mengangguk.
"Kamu mau apa?"
"Pijitin, kepala aku pusing?" lirihnya pelan.
"Kepalanya yang di dipijit?"
"He-em."
Reynand pun menuruti itu, untung cuma minta pijitin kepala. Kalau ia dengar dari beberapa karyawan dikantor biasanya istri yang sedang hamil itu ermintaanya macam-macam dan lebih parah dari ini. Mengecup kening istrinya berkali-kali. "Sabar ya, nanti siang hilangkan mualnya?" Menurut yang disampaikan Beta lagi, dirinya harus memberikan dukungan dan perhatian penuh pada istrinya saat masa kehamilan ini agar tidak jadi mudah stres dan depresi.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba entah kenapa Reynand ikut merasakan dirinya bergejolak.
Mual! Lagi-lagi ia ketularan.
"Nay...." Reynand menutup mulutnya.
"Kenapa?" Tanya wajah yang masih lemas itu.
"Aku juga ngerasa mual."
Nayla yang melihat hal itu terkekeh. "Biar adil, jadi abang tau kan, rasanya jadi aku." tetawa.
"Kesenengan banget sih, Nay."
"Biarin, jadi aku gak ngerasain sendirian." Lagi-lagi Nayla tertawa geli melihat suaminya yang ikut-ikutan mual seperti dirinya. Rasa pusing yang ia rasa pun mendadak hilang.
Benar-benar, Reynand tidak habis pikir. Bisa-bisanya ia ketularan mengalami morning sicknees seperti Nayla. Dia jadi penasaran ada tidak pasangan lain yang mual seperti mereka berdua secara bersamaan begini?
****
Lalu setelah adegan mual bersama itu selesai. Beberapa saat kemudian....
"Sini aku bantu pasangin dasi." Nayla mendekati Reynand yang tengah bercermin sembari merapikan pakaiannya.
"Semuanya udah beres, sekitar dua bulan lagi aku mulai kuliah."
"Kamu beneran nggak mau nunda dulu tahun depan?”
Nayla menggeleng. "Buat apa ditunda-tunda, lagian aku yakin masih kuat untuk ngejalani kuliah walaupun lagi hamil."
Reynand kemudian mengehela nafas. "Aku cuma nggak mau kamu terlalu capek, Nay."
Nayla kemudian tersenyum sembari menepuk-nepuk bahu Reynand dan mengelusnya setelah memasangkan dasi. "Aku yakin, aku masih kuat. Diluar sana malah ada yang lebih parah dari aku, wanita hamil bahkan banyak yang kerja seharian karena tuntutan.” Jelasnya pelan.
Reynand mengintip wajah istrinya. "Kamu sekarang tambah bijak ya.” Kalau Reynand perhatikan Nayla mulai agak berubah. Perempuan yang berstatus istrinya itu kini lebih luwes dalam menanggapi hal apa pun. “Mentang-mentang udah mau jadi ibu, kamu ngomongnya beneran udah kayak ibuk-ibuk ya.” ia kemudian terkekeh.
Nayla lagi-lagi tersenyum menanggapi. Sebenarnya dia tidak merasa seperti itu. Hanya saja beberapa kejadian yang telah ia lalu dalam hidupnya selama ini membuat ia sekarang tidak terlalu takut akan hal seperti itu. Maksudnya adalah, dia sekarang sudah menjadi seorang istri bahkan sedang mengandung, menjalani kuliah dengan statusnya sekarang tidak sama sekali tidak membuat dia merasa terbebani. Justru ia malah merasa tertantang akan hal tersebut.
Sesaat kemudian, Nayla mengantar Reynand menuju mobil. Rutinitas yang sudah ia lakukan selama beberapa hari ini. Berbeda dengan dia masih sekolah dulu, dimana saat itu Reynand yang lebih sering mengantarnya sampai kesekolah.
Reynand membungkuk dan mencium perut istrinya lama dan berkali-kali. "Ayah pergi dulu ya Reyana."
Nayla lalu menautkan kedua alisnya. "Memang yakin anak kita nanti perempuan, kalau laki-laki gimana. Nggak mungkin kan, kita namain dia Reyana juga.”
__ADS_1
Reynand tersenyum. "Kalau anak kita nanti laki-laki, aku juga udah siapin nama kok, Nay."
"Oh, iya? Siapa?”
Cup! Reynand mengecup kening istrinya. "Rahasia, biar kamu penasaran." Saat Reynand hendak mendarakan ciuman dibibir, Nayla mendorong suaminya itu dengan cepat.
"Ih, ada pak Tio." ujarnya cemas.
Reynand lalu menoleh kearah pak Tio yang sedang menyirami tanaman. "Pak Tio nggak bakalan lihat."
"Kamu tuh emang nggak tahu tempat banget, ya.” Alis Nayla turun kebawah. “Malu tau....”
Reynand kemudian terkekeh. "Biarin...." Setelah itu Reynand mendaratkan ciuman dibibir istrinya dengan cepat. "Aku berangkat ya.” Menoleh kesamping. “Pak Tio nggak lihat kok.” Bisiknya pelan.
Nayla yang masih tersipu mengangguk. "Iya, hati-hati...."
Dan, disaat mobil mulai sudah keluar dari pagar rumah Nayla kemudian berbalik hendak masuk kedalam. "Ayah udah pergi kerja." Nayla mengelus-elus perutnya pelan.
Namun, seketika ia tercekat oleh Mama Adel yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Nay, Reynand lupa bawa bekal makan siangnya." Mengangkat kotak bekal yang telah Nayla siapkan.
"Ya, gimana...." Reynand sudah berangkat. Perasaan kotak bekal itu tadi sudah ia berikan kepada Reynand. Apa jangan-jangan kelupaan?
"Kamu susulin gih, nanti siang...." Saran Mama.
"Em?"
"Kamu aja yang nganter makan buat suami kamu. Nanti minta antar sama pak Tio, ya." Jelas Mama tersenyum sumringah.
*
*
*
*
Yang mau follow author silahkan, gengs!
Happy Reading!
__ADS_1
Kalau kalian berkenan silahkan mampir di novel terbaru aku yang berjudul "Alfiya".