
****
Siang hari itu sekitar pukul 01:00. Distasiun 4 TV SxS. Reynand bergegas masuk kedalam Gedung. Ia melirik jam tangannya kembali. Rupanya belum terlambat. Sementara itu Dion mengikuti disampingnya.
“Gimana si Nayla, dia udah mendingan?” Dion bertanya seraya mereka berdua berjalan memasuki ruang tunggu yang memang khusus disediakan untuknya.
“Lumayan. Semalam gue sempat khawatir.” Reynand mendudukan dirinya didepan meja rias.
“Setelah kejadian ini Lo nggak ada niatan untuk punya ART buat nemenin dia gitu.”
“Entahlah gue sebenarnya bingung. Gue pernah ngomongin soal ini ke Nayla, tapi Nayla juga nggak setuju.”
“Kayaknya Lo berdua punya sifat yang mirip deh. Merasa paling bisa melakukan semuanya.” pungkas Dion.
Reynand tersenyum, sepertinya memang begitu. Sejak Ia memperhatikan Nayla Ia mulai merasa kalau gadis itu sedikit mirip dengannya.
“Tapi sekarang Lo nggak ngelakuin semuanya sendiri.”
Reynan menunggu kelanjutan perkataan Dion.
“Kan udah ada si Nayla. Bentar lagi tidur juga nggak bakal sendiri lagi.”
Reynand langsung melotot kepada Dion. Matanya mengisyratkan takut kalau stylish yang sedang mendandaninya nanti mendengar.
“Santai aja. Mbak-nya juga nggak denger kok. Iya kan mbak.” Dion terlihat cengengesan. Mbak-mbak stylish hanya tersenyum menanggapi.
Sementara itu Reynand masih melotot, yang disambut tawa keras oleh Dion.
Tak berapa lama Reynand merasa secara tiba-tiba ada seseorang merangkul lehernya dari belakang. Tangan seorang wanita. Hidungnya dapat mencium aroma parfum yang begitu semerbak. Sepertinya Ia mengenal wangi parfum ini.
“Rey, Kok nggak telpon aku kalau udah dateng.” Suara tersebut terdengar sangat manja ditelinganya.
Ia bun menoleh kebelakang dan benar saja, Ia sudah menebak kalau itu adalah Airin.
Perlahan Reynand mencoba melepaskan tangan Airin dari rangkulannya.
“Nih cewek! main peluk aja Lo!” Dion terlihat tidak suka dengan Airin. Ia merasa Airin akan menjadi pelakor diantar Reynand dan Nayla. Dion bergidik jangan sampai kejadian seperti itu terjadi. Ia sangat tidak setuju jika Airin menhancurkan hubungan Reynand dan Nayla. Gadis sombong seperti Airin sangat tidak pantas bersanding dengan Reynand.
“Apaan sih Lo.” Ketus Airin kepada Dion seraya melototkan mata besarnya.
Dion tidak mau kalah Ia balik melempar tatapan tajam kepada cewek itu. namun Airin tidak menanggapi, Ia kembali fokus terhadap Reynand.
__ADS_1
“Kamu tuh ya nyebelin.” Wajah Airin terlihat cemberut berlebihan. Ia pun menyuruh Dion menyingkir dari duduknya agar Ia bisa duduk disebelah Reynand. Dengan raut wajah terpaksa akhirnya Dion pun terpaksa pindah tempat duduk.
“Dasar mak lampir Lo!" Dion terlihat meledek Airin dari tempat duduknya.
Sementara itu Reynand diam tak menghiraukan.
“Rey kok aku dicuekin sih. Pasti gara-gara cewek yang angkat telpon aku tadi kan. Iya kan. Itu siapa. Pacar kamu? Kamu diam-diam punya pacar ya? Terus dia kamu suruh tidur diapartemen kamu gitu.” Perkataan Airin terhenti, Reynand seketika langsung membungkam mulut Airin dengan tangannya. Takut kalau ada yang mendengar.
“Mulut Lo bisa dijaga nggak. Hati-hati sama omongan Lo.” Bisik Reynand ditelinga Airin.
Airin terdiam. Ia merasa bersalah karena telah menuding Reynand. Tapi rasa penasarannya tidak hilang begitu saja. Ia masih menerka-nerka siapa wanita yang mengangkat telponnya tadi pagi.
Melihat hal tersebut Dion segera mendekati Reynand.
“Rey nih cewek bahaya. Mulutnya ember. Kok bisa dia tau kalau diapartemen Lo ada cewek?” Dion berbisik ditelinga Reynand.
“Apaan sih nggak usah ikut campur.” Airin mendorong Dion yang sedang berbisik kepada reynand.
“Heh! Lo kenapa sih sewot banget.” Bentak Dion. Gadis itu benar-benar sudah membuatnya kesal.
“Jaga sopan santun Lo ya! Lo nggak seharusnya ngomong gitu ke gue. Gue ini artis terkenal, artis papan atas.” Airin berbicara dengan sombongnya.
“Apa Lo bilang?!” Airin terlihat akan menjambak dan memukul Dion dengan tas bermerk-nya. Namun tidak kena, karena laki-laki itu segera menjauh.
Reynand yang melihat lebih memilih diam. Ia membiarkan kedua orang yang tengah mengusik ketenanganya itu untuk melanjutkan pertengkaran mulut mereka. Ia tidak peduli.
Saat itu diapartemen.
Nayla tengah terduduk lesu diatas kasur, pikirannya jauh menerawang. Tubuhnya masih terasa lemah ditambah lagi dengan sakit perut yang Ia rasakan saat datang bulan. Namun tentu saja walau begitu entah kenapa Ia merasa bosan. Dia benar-benar tidak suka seharian tidak ada aktivitas. Padahal tadi saat sebelum Reynand pergi Ia tidak merasa seperti itu.
Akhirnya tak berapa lama Nayla pun memilih untuk keluar kamar. Ia pun duduk disofa ruang tengah. Tak berapa lama Ia menghidupkan TV menggunakan remot. Sebenarnya Ia sangat jarang menonton TV, tapi Ia penasaran sedang ada berita apa saat ini.
Beberapa kali mengubah siaran TV Ia merasa tidak ada yang menarik.
“Apaan belom ketabrak aja udah pingsan. Gajelas banget.” Rupanya walaupun sakit masih sempat-sempatnya nyinyir. Merasa tidak tertarik dengan acara TV tersebut Nayla segera mengubah siarannya kembali. Tiba-tiba Ia tertarik dengan sebuah acara Talk Show yang saat itu tengah tayang live TV. Biasanya acara seperti itu akan Ia lewatkan. Namun ada sesuatu yang membuatnya sangat tertarik saat itu.
Host : Kembali lagi di acara Ghibah No Secret!
(jeng! Jeng! Jeng! Bunyi music dan sorak sorai penonton)
Host :Iya Reynand dan Airin, jadi gimana? apa kalian ada tumbuh benih-benih cinta saat sedang memerankan film ini? Apa itu? Cinlok, iya cinta lokasi. (Sang host terlihat senyum menggoda kedua pemeran utama. Sementara teriakan penonton terdengar bergemuruh)
__ADS_1
Reynand : Hubungan kami biasa aja. Hanya menjalin hubungan sebagai teman. (Menjawab santai seolah tidak terpancing dengan pertanyaan sang Host)
Host : Masak? Kok kalau dilihat dari wajahnya Airin terlihat beda ya. Semacam merona-merona gitu heheh. (Sorak-sorak penonton kembali bergemuruh sementara si Airin semakin merona-rona jijay)
Host : Apalagi Reynand ini kan ganteng, berbakat.
(Lontaran pujian tersebut membuat histeris para penonton studio khususnya penonton wanita. Reynand mencoba tersenyum, Sebenarnya Ia agak malu mendengar pujian akan dirinya apalagi jika pujian itu terlau berlebihan.)
Host : Tuh kan saya saja meleleh melihat senyumnya.
(Reynand kembali tersenyum, sementara sorak sorai semakin gemuruh.)
Host : Oke. Oke. Diem dulu penonton. Ehem…. Jadi kalau dari si Airin sendiri, menurut kamu Reynand gimana orangnya? (Sang Host mulai memancing kembali. Ia memasang senyum menyelidik)
Airin : Menurut aku dia itu em ya…. Ganteng, terus pekerja keras… bla….bla
(Intinya si Airin membangga-banggakan Reynand dengan pandangan matanya pun tidak terlepas dari wajah tampan Reynand sedari tadi. Sangat terlihat kalau Ia menyukai cowok itu. Tanganya pun sedari tadi terlihat menggelayuti Reynand yang mulai risih dengan sikapnya)
Blam! Nayla segera mematikan TV.
“Apaan jadi host kompor banget. Tuh cewek lagi keganjenan.Udah dibilang cuma dianggap temen masih aja kecentilan.” Nayla mendengus kesal.
“Si Abang juga mau-mau aja dipegang-pegang tuh cewek. Udah tau tuh cewek gatel.” Nayla mengehembuskan nafas kasar. Dirinya jadi tidak ingin lagi melihat tayangan tersebut. Ia bingung sendiri kenapa Ia jadi sangat emosi. Apa jangan-jangan Ia sedang cemburu atau karena sekarang Ia sedang datang bulan sehingga gampang tersulut amarah.
Hatinya masih panas melihat tayangan tadi. Sepertinya hatinya yang dulu tentram kini mulai terusik oleh sosok lelaki pujaan kaum hawa itu. Mulai timbul perasan tidak rela jika Reynand dijangkau oleh wanita lain. Perasaannya tak menentu dan bimbang. Ia tahu mereka dijodohkan tapi bagaimana pun Reynand itu kan suaminya. Dia lebih berhak atas Reynand daripada wanita kecentilan di TV itu.
Nayla benar-benar bergelut dalam pikirannya. Bahkan gadis itu pun lupa kalau sebelum ini Ia sampai stres karena memikirkan Ia akan dijodohkan dengan Reynand.
Akhirnya setelah sekian lama bergelut dengan pikiran dan perasaannya, Nayla pun tertidur diatas sofa. Sepertinya obat tidur pemberian dokter semalam yang Ia minum siang ini sudah mulai beraksi.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1