
Katakanlah Nayla menolak saat Reynand bersikeras untuk mengajaknya mandi bersama. Penolakannya bukan tanpa alasan, ia yakin kalau menyetujui itu, dia bukannya mandi tapi malah akan menghabiskan waktunya untuk menutup mata dengan perasaan penuh ketegangan. Atau Reynand akan mengajaknya untuk mengulangnya lagi.
Tapi, kata Mama Adel kan harus dijeda dulu. Duh, Nayla mikir apa, sih?
Haha, tapi Nayla belum seberani itu ya, Reynand. Jangankan untuk mandi bersama, beradu pandang dengan laki-laki itu saja dia belum sanggup. Ingatkanlah kilasan semalam. Wajahnya selalu bersemu setiap mengingat itu.
Gerakan tangan Nayla serasa kaku saat ia tengah menyisir rambutnya. Bukan tanpa alasan, karena sedari tadi ia dapat melihat Reynand yang tengah duduk disisi ranjang terus memandanginya dari pantulan cermin. Huh! Gemetar-gemetar ia mencoba mengambil hydryer untuk mengeringkan rambutnya. Karena saking gugupnya benda itu hampir saja terjatuh kalau saja Reynand tidak segera menangkapnya saat tiba-tiba laki-laki itu berdiri tepat disampingnya.
"Nggak usah dikeringin."
Ha? Iya? Nayla menoleh kaku.
deg!
deg!
"Suka aja lihat rambut kamu basah gitu." Ucapnya tersenyum.
Reynand tiba-tiba berjongkok, menahan beban tubuhnya dengan satu lutut sementara kakinya yang satu lagi ia pijakkan kelantai. Terang saja posisi seperti itu membuat ia bisa mensejajarkan dirinya dengan gadis cantik yang tengah duduk dikursi meja rias itu, lalu sedikit mendongak untuk menatapnya.
Meraih kedua tangan Nayla dan menggenggamnya erat, ia berusaha menghadapkan gadis itu kearahnya. Membuat tatapan mereka bertemu. Reynand, ia memandangnya dengan sejuta perasaan yang ada.
Gadis itu sebenarnya ingin berpaling saat itu juga, akan tetapi kala menatap binar mata yang Reynand tunjukkan untuknya, ia tertegun. Senyum diwajahnya tiba-tiba mengembang saat ia melihat senyum laki-laki itu juga mengembang saat menatapnya. Beradu pandang lama, sesekali gadis itu berpaling kemudian memutar kepalanya lagi lalu tersenyum malu-malu (tapi mau), dan begitu seterusnya. Duh, Apaan sih.
Bukan apa-apa, Nayla merasa terserah jika ada yang menganggapnya berlebihan. Ia juga tidak mengerti, dengan debaran jantungnya selalu tidak bisa dikondisikan. Dengan sikap malu-malunya tiada henti seperti ini.Dengan semua perasaanya yang ia rasakan. Harus dikatakan berulang-ulang, lagi-lagi Nayla bisa apa? Semuanya terjadi begitu saja.
Ia melirik Reynand sekali lagi sebelum akhirnya memalingkan wajah. Astaga! Laki-laki ini. Benar-benar membuatnya serasa gila dimabuk asmara.
Rey-naand, ya ampun. Dia itu, kenapa sih, dia selalu membuat Nayla jadi begini. Entahlah, kadang-kadang cinta memang tak ada logika. Tak ada yang bisa menjelaskan tentang kenapa, mengapa, dan apa sebabnya cinta itu bisa membuat seseorang jadi seperti ini.
Ada pepatah mengatakan cinta hadir begitu saja tanpa diundang. Oh, ya? Benarkah? Tapi, apa ini terjadi karena mereka selalu bersama? Apa iya?
Entahlah, ia sangat sulit mengartikannya.
Cup! Sebuah kecupan dibibir yang membuat Nayla tersipu.
"Makan yuk?" Ajak Reynand akhirnya.
Gadis itu pun mengangguk setuju.
Berpapasan dengan Mama Adel saat didasar tangga, membuat Nayla segera menundukkan kepalanya. la masih tidak menyangka Mama tahu apa yang terjadi pada mereka semalam.
Ia ingin bersikap biasa saja. Tapi, mau bagaimana lagi ini adalah yang pertama. Segala hal mengenai itu tentu saja membuatnya malu.
Mama Adel menyambut mereka dengan senyuman. Sorot matanya pun turun kebawah, ya tuhan, mereka pegangan tangan.
Bets! Sadar akan tingkah laku mereka berdua. Nayla segera menarik tangannya dari genggaman Reynand, membuat Mama Adel langsung tersenyum penuh arti. Duh, anak muda.
__ADS_1
"Akhirnya, kalian turun juga. Kalian berdua mau makan?" sapa Mama Adel, menatap keduanya bergantian.
Kedua pasutri itu mengangguk.
Akhirnya turun juga? Ini Mama menyindir mereka, begitu?
Lalu Mama menatap Nayla dengan seksama. Gadis itu ternyata masih malu untuk menatapnya.
"Nay...."
"I-iya, Ma." Sahutnya gugup.
Menunggu lama apa yang akan dikatakan Mama selanjutnya, Nayla pun mengangkat kepalanya berusaha bersitatap dengan Mama.
"Kamu, baik-baik aja, kan?" Mata Mama menelisik.
"Iya Ma...." Mengiyakan, walau iya tidak tahu 'baik-baik saja' yang bagaimana maksud Mama.
Lantas Mama tersenyum penuh arti. "Ya, udah, Mama pergi dulu ya. Kalian silahkan nikmatin waktu berdua."
Lagi-lagi mereka berdua hanya mengangguk.
Namun sebelum itu, Mama kembali berbisik ditelinga Nayla. "Sekarang rasanya memang sakit, nanti lama-lama kamu juga bakal ketagihan."
Blush! Wajah gadis itu lalu memerah padam membuat Mama jadi tersenyum geli.
Duh, Mama Adel tuh, memang sengaja, ya.
~
Saat itu mereka berdua telah duduk dikursi meja makan. Tak ingin berjauh-jauhan Reynand menarik kursi agar mereka berdua bisa duduk berdekatan. Rasanya ia tidak ingin jauh-jauh dari Nayla saat ini.
"Mama tadi bisikin kamu apa?"
Pertanyaan Reynand yang akhirnya membuat Nayla mendadak salah tingkah. Pertanyaan yang tidak perlu ia jawab sepertinya.
"Oh, itu..... bukan apa-apa." Lalu kemudian beranjak hendak menyendok nasi.
"Biar abang yang ambilin, kamu duduk aja." Menyambar piring dari tangan Nayla, meletakkannya kembali keatas meja, setelah itu kemudian menyentuh kedua bahu gadis itu pelan menyuruhnya untuk duduk kembali.
Walau agak heran Nayla pun nurut saja, selanjutnya ia hanya memperhatikan Reynand yang mulai sigap mengambilkan makanan untuknya.
"Makannya, sepiring berdua ya?" Tanyanya, setelah itu tersenyum saat gadis itu mengangguk sekaligus takjub akan sikapnya.
"Biar abang yang suapin."
Lagi-lagi Nayla tertegun semakin takjub. Duh, manis banget, sih. Bikin hati meleleh saja. Mentang-mentang semalam habis dapat maunya.
__ADS_1
Jadi penasaran, apa semua lelaki bersikap manis begini habis melakukan itu? Maksudnya bukan berarti Reynand tidak pernah bersikap manis, tapi sekarang sikap manisnya itu sudah berlimpah, loh. Lama-lama dia bisa diabetes kalau begini. Eh, tapi Nayla suka kok, diperlakukan seperti ini.
"Kenapa?" Reynand sadar rupanya sedari tadi dia diperhatikan.
"Nggak apa-apa." Langsung memalingkan wajah.
Reynand pun tersenyum geli. Gadis ini, sikap malu-malunya kok tidak hilang-hilang juga, sih. Reynand kan, jadi semakin gemas. Jadi nggak sabar ingin mengulang yang semalam.
Lalu setelah memenuhi piring mereka dengan makanan. Ia kembali duduk, lebih tepatnya ia duduk menghadap Nayla, bukan kearah meja. Dan juga mereka pun menjadi sangat dekat hampir menempel seperti perangko dan kertas.
"Kenapa." Tanya Reynand saat Nayla melongo menatapnya.
Gadis itu menggeleng dengan mata yang masih membulat takjub. Bukan apa-apa, ini jarak mereka sangat dekat, loh. Takut saja nanti ada yang melihat mereka yang sedang merasa seolah dunia ini hanya milik berdua.
Kemudian setelah itu, dengan pelan Reynand pun mulai memberikan suapan kepada Nayla. Membuka mulutnya pelan, Nayla pun langsung menerima suapan itu.
"Enak?" Tanyanya, saat gadis itu menerima suapannya, kemudian tersenyum kembali saat gadis itu mengangguk.
"Aaaa, lagi." Ujar Reynad disuapan keduanya.
"Nanti duwu madih penuh." Nayla cemberut, ngedumel dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.
Reynand terkekeh, Nayla jadi terlihat lucu berbicara dengan mulut penuh begitu. Duh, gemas deh. Jadi, semakin ingin mengulang yang semalam, kan. Haha, dasar! Sabar Rey, sabar.
Akhirnya mereka pun makan sambil suap-suapan. Saling pandang dan tersenyum, sesekali Nayla kembali tertunduk malu karena masih mengingat kilasan semalam.
Dia jadi penasaran, Reynand merasakannya juga tidak sih, semua perasaan yang ia rasakan sekarang?
*
*
*
*
Aku mungkin membuat kisah ini sesantai mungkin. Membuat kisah romantis dicerita ini menurut versi aku sendiri. Tidak seperti novel-novel lain.
Jadi, kalau kalian merasa Nayla dan Reynand pasutri yang aneh, udahlah, ya. Selera orang memang beda-beda.
Maaf ya kalau sedikit. Aku nulis novel ini tergantung idenya lagi banyak atau nggak. Jadi, kalau idenya lagi buntu, aku milih untuk nggak up dulu. Dari pada nanti ceritanya nggak nyambung terus feel nya nggak dapet.
Jadi, kalian doain semoga imajinasi aku lancar terus idenya banyak.
Tapi, terima kasih banyak, untuk yang udah nungguin. Jangan lupa berikan pendapatnya dikolom komentar. Sekalian semangatin author gitu.
Like, votenya jangan lupa.
__ADS_1
Happy Readingđź’“