Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Berusaha Mengakrabkan Diri


__ADS_3

****


Sudah hampir tengah malam. Kala itu Reynand tengah duduk bersandar dikasur dengan kaki selonjor dan memangku laptop dipahanya. Ia sedang membaca dan memahami file novel online yang dikirimkan kepadanya untuk kebutuhan film baru yang akan segera Ia bintangi.


Sedikit pujian Ia berikan kepada penulis novel tersebut. Kata-kata yang indah, sangat tertata rapi dan mudah dimengerti. Pantas saja novelnya laris dan banyak yang membaca. Ceritanya benar-benar terasa nyata.


Kepalanya sudah terasa berat dan beberapa kali Ia menguap. Sudah berapa lama Ia melakukan ini. Secara spontan beberapa kali Ia menggerakkan lehernya yang terasa pegal. Ia melirik kearah ruang perpustakaannya. Gadis itu, Nayla masih belum terlihat keluar.


Reynand beranjak dan meletakkan laptopnya keatas meja. Ia sedikit penasaran dengan apa yang terjadi didalam sana. Perlahan Ia berjalan menuju ruang perpustakaan. Saat tiba dipintu Ia menghentikan langkahnya. Senyumnya sedikit mengembang saat melihat Nayla dengan santainya sedang membaca buku dikursi sofa. Tanpa sadar Ia menyenderkan tubuhnya disisi pintu.


Dari tiga buku yang terletak diatas meja. Ia dapat melihat buku-buku yang cukup tebal itu telah dibaca habis. Reynand kagum, rupanya kecepatannya membaca Nayla lumayan juga. Ia merasa gadis itu mempunyai kemiripan yang serupa dengannya. Sama-sama bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama buku.


Nayla menguap. Sepertinya Ia mulai mengantuk. Beberapa kali Ia berpindah posisi duduk. Tak berapa lama diletakkannya buku yang belum selesai Ia baca keatas meja dihadapannya. Badannya terasa pegal dan Ia pun mulai merenggangkannya. Ia mulai memutar badannya kekiri sampai menimbulkan suara dan selanjutnya kekanan. Namun, tiba-tiba Ia kaget. Dilihatnya Reynand sedang berdiri bersandar didekat pintu.


Nayla menundukkan wajahnya. Sudah berapa lama Reynand berdiri disana dan sudah jam berapa sekarang. Nayla celingak-celinguk menatap dinding.


“Lihat apa?” Reynand berjalan mendekat dan duduk disamping Nayla. Membuat gadis itu menatapnya dengan kebingungan. Indra penciuman Nayla dapat merasakan wangi yang sangat lembut dari pria yang duduk disampinya itu. Apa dia baru saja menyemprotkan parfum ditubuhnya atau memang ini wangi dari pengharum pakainnya.


Mata Reynand melebar. Ia memperhatikan Nayla. Raut wajahnya menampakkan rasa ingin tahu.


Melihat hal tersebut Nayla terkekeh dengan rasa canggungnya. Kenapa orang ini terlihat begitu santai. Sedangkan dirinya sudah kikuk berdebar-debar tidak karuan. Dia lupa ternyata, orang semacam Reynand pasti tidak akan pernah ragu dan canggung duduk diantara banyak wanita. Secara dia adalah artis papan atas dengan pergaulan yang luas. Ia berpikir pasti banyak wanita yang berada didekat Reynand selama ini.


“Kenapa nggak mau dilanjutin bacanya?”


Nayla menggeleng dengan cepat. Ia pun beranjak dari duduknya.


“Aku mau tidur. Takut besok terlambat kesekolah.” Nayla berucap sangat sopan.


“Bukunya belum selesai kamu baca. Bawa aja kalau kamu mau.”


“Emang boleh?”

__ADS_1


Reynand tersenyum mengangguk. Ya tuhan kenapa semakin lama senyum laki-laki itu membuat Nayla semakin berdebar.


“Nih.” Reyand menyerahkan buku yang tadi diletakkan nayla diatas meja.


Nayla meraih buku itu. Ia kemudian berlalu meninggalkan Reynand. Ia bisa pingsan kalau terus berlama-lama dengan laki-laki yang memiliki senyuman indah itu.


Namun belum lama keluar Nayla kembali lagi. Membuat Reynand merasa bingung melihatnya.


“Kenapa balik lagi?” Reynand yang tadinya menaikkan kakinya keatas meja. Segera mengubah posisi duduk, menurunkan kakinya tiba-tiba.


“Mau ngembaliin ketempat semula.” Nayla mengambil ketiga buku yang sudah Ia baca. Kemudian menyusunnya lagi ketempat semula. Sesuai tempat dimana Ia mengambilnya tadi.


Setelah selesai dengan tergesa-gesa dan malu Ia berlalu melewati Reynand.


“Nayla.”


Nayla menghentikan langkahnya. Ia menoleh, dilihatnya Reynand berdiri dan mendekat kearahnya.


Gadis itu masih terdiam, tidak ada respon darinya terhadap tawaran Reynand.


“Sebenarnya saya nggak pernah mempekerjakan orang asing untuk membantu saya diapartemen ini. Jujur saya sebenarnya tipe orang yang kurang nyaman terhadap kehadiran orang lain diapartemen saya.”


Nayla terdiam. Gadis itu jadi berpikir kalau Ia sudah mengganggu Reynand ditempat ini. Ia jadi memposisikan dirinya menjadi sebagai orang asing yang dimaksud.


“Maksud saya, bukan itu. Saya nggak keberatan soal kamu.” Rupanya Reynand sadar kalau dirinya barusan salah bicara.


“Jadi bagaimana menurut kamu. Saya bertanya begini takutnya kamu juga nggak nyaman dengan adanya ART.”


“Nggak usah. Itu nggak perlu.”


“Ha?”

__ADS_1


“Aku bisa ngelakuin semuanya tanpa ART. Lagi pula dulu waktu masih dirumah juga udah biasa ngerjain pekerjaan rumah tanpa ART.” Nayla terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara kembali.


“Lagian Abang juga udah manggil cleaning service untuk membersihkan apartemen.” Tentu saja Nayla juga tau kalau Reynand memilih mencuci barang-barang miliknya ketempat Laundry.


“Ambil ini.” Reynand menyerahkan sebuah kartu debit kepada Nayla.


“Saya belum sempat ngasih kamu kartu ini sebelumnya. Didalamnya ada uang yang bisa dipakai untuk belanja.”


Nayla mematung memandangi kartu tersebut. Sebenarnya Kakek sudah memberikan Ia kartu pada malam sebelum mereka menikah.


“Tapi….”


“Tolong jangan ditolak.”


Akhirnya dengan terpaksa Nayla mengambil kartu tersebut dari tangan Reynand. Ia merasa tidak enak untuk menolak.


“Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali kekamar.”


Reynand mengiringi langkah nayla dengan tatapannya sampai Nayla keluar dari perpustakaannya. Ia merasa gadis itu masih terlihat canggung didekatnya. Padahal Ia sudah beberapa kali berusaha untuk mengakrabkan diri.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2