
****
Nayla yang sedang memasangkan dasi berwarna cokelat gelap di kerah baju Reynand hanya bisa terdiam saat laki-laki dihadapannya itu mengatakan jika dirinya tidak bisa mengantar sang istri untuk pergi memeriksakan kandungn sekaligus untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka pada siang nanti sepulang ia kuliah.
Wanita itu rupanya kecewa padahal ia sudah sangat antusias mengajak Reynand karena pada akhirnya keinginan mereka untuk mengetahui jenis kelamin sang anak yang masih didalam perut akhirnya terwujud. Tapi mau bagaimana lagi, kesibukkan Reynand membuatnya memupuskan keinginan itu.
Sebenarnya tidak apa-apa sih jika dia hanya ditemani oleh Mama Adel. Namun, entah kenapa rasanya berbeda jika Reynand yang pergi sendiri untuk menemaninya. Menemani ia untuk memeriksakan anak mereka didalam kandungannya.
Reynanf menghela nafas. "Maaf ya, nanti aku ada rapat direksi. Kemungkinan nanti malam juga lembur."
Nayla hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata-kata karena sebenarnya saat ini ia benar-benar merasa kecewa.
"Mungkin lain aku bisa temani kamu."
Perempuan itu lantas berusaha tersenyum. "Iya gak apa-apa...." sungutnya cemberut. "Aku ngerti kamu banyak kerjaan. Tapi, bukan apa-apa ini udah dua kali kamu gak bisa nemenin aku check up. Padahal aku benar-benar berharap kalau hari ini...." Nayla menghela nafas panjang. "Emang gak bisa diundur ya?" ujarnya kemudian merajuk.
"Gak bisa Nay, hari ini tuh jadwal aku benar-benar padat.... kamu sih baru bilang sekarang dan gak ngasih tau jauh-jauh hari." ujar Reynand santai.
"Ya, gimana aku mau ngomong kalau kamu sibuk terus, semalam aja aku dibentak, iya kan." Nayla lantas melangkah cepat dan mendudukan diri disisi ranjang.
"Tuh kan, kamu mulai lagi. Udah ah, gak usah manja...."
Mendengar ucapan Reynand tersebut Nayla pun mendadak memanas. "Manja, aku cuma minta ditemenin periksa kandungan kamu bilang manja. Ya ampun, ini anak siapa sih sebenarnya?!" lantas saja wajahnya pun merah padam. "Kayaknya kamu memang belum siap untuk jadi seorang ayah...." dengusnya.
Reynand tidak menjawab perkataan itu. Ia malah sibuk memperhatikan penampilannya didepan cermin.
Melihat sikap tidak perduli suaminya perempuan itu semakin merasa panas. "Benar-benar bikin kesal!" Nayla pun beranjak dan bergegas membuka pintu kamar.
Dan, saat itu di ruang makan Nayla tidak bisa menyembunyikan wajah murungnya. Ia juga tidak mengerti kenapa dirinya bisa sekecewa ini saat Reynand mengatakan kalau suaminya itu tidak bisa menemaninya untuk check up kandungan.
"Nanti biar mama yang temani kamu." ujar Mama Adel sembari menyentuh lengan Nayla pelan.
"Iya Ma...." sahut Nayla.
Beberapa saat kemudian setelah selesai makan. "Ma aku berangkat ya, kek aku berangkat...." izin Nayla.
Reynand pun ikut beranjak. "Biar aku yang antar...."
"Gak usah! Kamu kan sibuk.... urusin aja pekerjaan kamu." setelah melontarkan omelan tersebut Nayla pun berlalu.
"Kenapa sih Reynand?" tanya Mama Adel. "Kalian ada masalah...."
__ADS_1
"Kok kamu diam saja, kejar istri kamu...." ucap kakek.
"Biarin kek...." sahut Reynand.
"Loh, kamu ini gimana sih?! Dia itu lagi ngambek." sambar Mama Adel.
"Reynand!" Suara kakek meninggi. "Kamu benar-benar keterlaluan!"
Lagi-lagi Reynand hanya terdiam tidak menggubris dengan wajah datar.
****
Nayla terus melamun sedari pagi tadi. Perkataan Reynand saat itu benar-benar membuat moodnya buruk. Bisa-bisanya Reynand melontarkan kata-kata itu padanya, benar-benar membuat dirinya merasa tidak dihargai sebagai seorang istri seketika.
Manja?
Dia baru tahu kalau minta ditemani check up dengan suami disebut dengan manja. Tapi, apa salahnya. Reynand itu kan suaminya sendiri, jadi wajar kan dia bersikap begitu. Dia bersikap begitu juga karena anak mereka bukan?
Ia pun memejamkan mata dalam-dalam, berpikir dan merenung sembari mengelus-elus perutnya yang buncit.
Padahal baru tadi pagi mereka mengobrol dengan candaan. Akan tetapi setelah ia membahas tentan pemeriksaan kandungan lagi-lagi sikap Reynand berubah.
Atau jangan-jangan benar kalau suaminya itu memang belum siap memiliki anak? Nayla mendongak, semoga saja apa yang ia pikirkan salah.
Pesan dari Mama Adel. Dan dengan cepat dia pun membaca pesan tersebut dengan segera.
"Nay, hari ini Mama gak bisa nemenin kamu check up dengan Beta. Maaf ya, soalnya Mama ada acara dirumah temen. Nanti pak Tio yang akan jemput kamu. Lain kali aja ya kita melakukan pemeriksaan kandungan kamu."
Maka bertambahlah hatinya merasa ditekan membaca deret huruf itu. Kenapa Mama baru mengatakannya sekarang? Maksudnya kenapa harus mendadak begini?
Perempuan itu lalu menunduk memegangi kepalanya pusing. Lagi-lagi ia merasa kecewa.
"Nay, kenapa mukanya ditekuk gitu?" Tanya Tia yang baru saja menghampiri duduk disampingnya dibangku taman.
Nayla menggeleng pelan dan mendesah berat.
"Lo jadi periksa kandungan setelah ini."
"Maunya sih gitu...." Jawabnya.
"Kok gitu?" timpal Tia.
__ADS_1
Nayla menanggapi dengan senyum seadanya, yang telah dibuat kecewa dua kali itu lantas hanya bisa menarik sudut bibirnya kaku.
Nayla kemudian menoleh kearah Tia dengan tatapan penuh harap. "Yak, gue mau periksa hari ini. Tapi, lo yang temenin. Mau ya?" pinta Nayla dengan penuh harap.
Lantas Tia pun menantap sahabatnya itu dengan heran. "Nay? Kok gue yang temenin, bukanya lo mau pergi sama Mama mertua ya?"
"Plis, gue mohon."
Tia yang kemudian seperti menerka sesuatu tiba-tiba mengangguk heran. "I-iya, nanti gue temenin."
"Makasih...."
Selang beberapa saat kemudian, Riko pun hadir diantara mereka. Laki-laki dengan tubuh tegap berjalan mendekat hingga membuat kedua wanita tersebut mendongak tinggi untuk menatapnya.
"Hai, belom pulang kalian berdua?" tanya Riko dengan raut jenaka.
"Eh, Rik!" Seru Tia. "Lo ada kerjaan gak setelah ini." tanya Tia.
Riko pun menggeleng pelan. "Nggak ada sih. Kenapa?"
"Kita temenin Nayla yuk. Periksa kandungan." bisiknya kemudian.
Mendengar hal tersebut Nayla lantas menyenggol lengan Tia pelan. "Apa-apaan sih lo, gak usah ajak Riko." Namun seketika perhatian Nayla teralihkan oleh sosok yang tiba-tiba berjongkok dihadapannya.
"Nay...." Riko menatap dalam pehuh rasa khawatir sosok perempuan dihadapannya. "Lo ada masalah sama suami lo? Cerita ada apa? Lo ngerasa kesulitan dirumah?"
Nayla yang diberi rentetan pertanyaan tersebut mengerjap kaku.
Riko pun sadar akan pertanyaannya yang terlalu berlebihan. "Maaf, gue gak bermaksud...."
Belum sempat Riko menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Tia menepuk bahu Nayla pelan. "Nay, nay...." ucap Tia heboh.
"Kenapa?" Sahut Nayla sembari mengikuti arah pandang Tia.
Deg!!!!
*
*
*
__ADS_1
*
Happy Reading!