Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Haruskah


__ADS_3

****


Saat itu dikelas.


Tok! Tok! Nayla memainkan pena sedang dia pegang dengan mengetuk-ngetukannya diatas meja. Beda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini dia ingin cepat-cepat pulang. Entah kenapa rasanya dia benar-benar tidak ada gairah untuk melakukan apa-apa.


“Woi Nay, lo kenapa macam nggak ada gairah hidup?” Tia menggebrak meja membuat Nayla kaget seketika.


“Astaga lo tu ya, untung gue nggak langsung lewat.” Nayla memegang jantungnya yang ia rasa hampir copot.


“Lo tu kebiasaan.” Suci menyenggol lengan Tia.


“Sorry.” Tia tertawa lebar. Dia memang suka bercanda berlebihan.


“lo kenapa bengong lagi, bengong lagi. Udah jadi istri seorang Reynand anugrah tapi masih aja macam orang nggak bersyukur.” Ucap Tia berbisik.


“Apaan si lo nggak jelas.” Nayla mengernyit.


“Lagian si, merengut aja muka lo.” sahut Tia yang langsung mendudukan dirinya disamping Nayla.


“Nay.” Tia kembali menyenggol lengan Nayla.


“Apaan si ya.” Ujarnya malas.


Melihat Nayla yang sensi membuat Tia terkekeh. Sahabat yang satu ini memang susah sekali dimengert.


“Em, Nay. Ngomong-ngomong lo kan tiap hari tu ketemu suami lo.” Tia memulai rasa penasarannya.


“Ya, iya tiap hari. Mereka kan satu rumah.” Sungut Suci.


“Bentar dulu gue belom selesai ngomong.” Timpal Tia.


Nayla mendengarkan dengan rasa malas.


“Tiap hari ketemu suami lo, ada rasa deg-degan nggak. Secara laki lo kan perfect banget!?” Tia mulai memancing.


Seketika mereka bertiga hening seketika. Kedua sahabat Nayla rupanya terlihat begitu penasaran, mereka menunggu jawaban dengan penuh harap.


Deg-degan? Deg-degan seperti apa yang mereka maksud.


“Maksud lo?” tanya Nayla akhirnya dengan menampakkan wajah tidak mengerti. Sorot mata datar dan raut wajah lesu itu tetap dia perlihatkan kepada kedua sahabatnya.


Tia dan Suci saling pandang. Menanyai Nayla sekarang ternyata tidak seseru yang mereka harapkan. Mereka sangat tahu Nayla adalah orang yang sangat pemikir. Dugaan mereka sekarang pasti benar, Nayla sedang bergulat didalam pikirannya. Terkadang perlu usaha keras untuk mengembalikan mood-nya dikala suasana hatinya sedang buruk.


“Maksud gue, apa nggak berdebar-debar setiap kali lo deket-deket suami lo? ngerasa hawa-hawa panas gitu.” Rupanya Tia tidak perduli keadaan suasana hati orang. Dia masih penasaran dengan kehidupan asmara sahabatnya itu.


Nayla antara ingin tertawa atau menangis atau tertawa mendengar kalimat pertanyaan Tia. Bukan lagi, rasanya dia ingin memeriksakan jantungnya kedokter setiap hari. Jantungnya selalu berpacu cepat kala berada disi-sisi laki-laki itu. Dia takut sewaktu-waktu jantungnya tiba-tiba meledak bagaikan bom waktu.

__ADS_1


“Nay, kok bengong.” Tia berbisik dengan mulut membentuk huruf ‘O’ diakhir ucapannya.


“Jantung lo kenapa Nay?” Suci menyentuh tangan Nayla yang sedang merasai detak jantungnya.


Nayla mendadak salah tingkah. Dia pun langsung menjauhkan tangan dari dadanya. Sahabatnya ini terlalu memperhatikan gerak-geriknya.


“Eh, Nay lo beli ukuran lebih gede ya.” Tanya polos suci memperhatika bagian dada Nayla.


“M-maksud lo.” Sahut Nayla tidak mengerti, mentilangkan tangan diatas dadanya.


“Ya, heran aja. Punya lo kok lebih gedean ya. Apa gue yang salah lihat atau berat badan lo memang namabah?” Timpal suci lagi.


“Ya, iyalah punya dia gede.” Sahut Tia. “Kan ada yang ngegedein.” Tambahnya lagi dengan menaik turunkan alisnya kearah Nayla.


Ha? Nayla mengernyit tidak mengerti.


“Ada yang ngegedein?” Sahut suci polos sembari menatap Nayla penuh tanya.


Apa-apaan? Nayla menatap jengah, kedua sahabatnya ini sedang membahas apa si?


“Iya, digedein sama….” Tia menjeda ucapannya sejenak. Sengaja membuat keduanya penasaran. “Ya, sama suaminya lah. Sama siapa lagi.” Tia mengakhiri ucapannya dengan tertawa lebar dan itu menimbulkan sulut emosi yang besar pada Nayla. Beruntung para murid dikelas itu sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak terlalu mendengar pembicaraan mereka.


Huh! Nayla mendengus kasar. Matanya yang menyorot tajam tidak membuat gelak tawa Tia terhenti. Tidak dirumah, tidak disekolah dia selalu menemukan orang-orang mesum. Tapi, apa iya dadanya membesar gara-gara ‘itu’?. hiii! Kalau iya dia tidak akan membiarkan laki-laki itu menyentuhnya lagi. Memalukan!


Eh?


Tiba-tiba gelak tawa itu terhenti, dengan kedatangan sosok jangkung dihadapan mereka.


“Eh, si cecunguk.” Ucap Suci setelah berbalik.


“Lama juga kita nggak ketemu lo.” Tia memperhatikan tampilannya dari atas sampai bawah.


“Gue, bisa ngomong sama Nayla.”


~


Saat itu dilorong kelas yang jarang dilalui oleh para murid. Nayla menatap Riko dengan penuh kebingungan. Setelah lama tidak bertegur sapa akhirnya sahabatnya itu mengajaknya bicara.


Tapi, ini tidak seperti Riko yang biasanya.


“Lo, mau ngomong apa?” Tanya Nayla akhirnya setelah keheningan yang terjadi.


Riko bergeming.


"Rik, lama banget sih rik!" ujar Nayla tidak sabaran.


“Rik, kenapa lo….”

__ADS_1


“Maafin Gue….”


"Soal?" tanya Nayla.


Nayla dapat mendengar tarikan nafas yang memberat dari laki-laki itu. apa-apaan ini, benar-benar tidak seperti Riko yang biasanya. Ah, kenapa mereka jadi seperti ini? ini benar-benar sangat aneh.


“Nay, kapan lo ada waktu?”


Ha?


“Maksud lo?”


“Ada yang mau gue bicarain sama lo. ini tentang hubungan kita.”


Nayla mengernyit. "Kita sahabat Rik."


“Nay...." Dia sedikit pun tidak menganggap Nayla seperti itu.


Dan, eketika itu juga pandangan mereka beradu. Apa ini?


Deg! Riko memandangnya dengan tatapan yang berbeda. Tatapan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


“Gue….” Seketika itu ucapan riko terputus tatkala terdengar dering dari ponsel Nayla.


Nama yang tertera diponsel tersebut rupanya lebih menarik bagi gadis itu.


“Bentar ya Rik, gue mau angkat telepon dulu.” Meninggalkan Riko masih yang masih menatapnya dengan tatapan yang tidak dia mengerti. Tatapan penuh harap yang melihat kepergiannya dengan kecewa.


~


“Nay, kamu salah paham. Biar nanti dirumah abang jelasin sama kamu.”


Nayla memandangi pesan tersebut dengan perasan tidak menentu. Ia terus menolak penjelasan Reynand saat laki-laki itu berusaha menjelaskannnya berkali-kali melalui sambungan telepon.


Wanita semalam bukan siapa-siapa katanya? Apa itu bisa dipercaya?


Apa ini? sudahlah.


Tapi apa ini? Jantungnya berdebar-debar lagi. Hanya menerima panggilan telepon dan pesan dari laki-laki itu saja dia bisa seperti ini. benar-benar gila!


*


*


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2