Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
I You too


__ADS_3

****


Esok harinya, dikala sinar matahari mulai memancar menyentuh sebagian sisi bumi. Sepasang anak manusia yang masih terkurung dibawah selimut itu mulai tersadar. Gelenyar-gelenyar sisa-sisa semalam masih sangat terasa. Apalagi, ketika mereka merasakan sentuhan kulit satu sama lain dibawah selimut yang sama. Kilasan itu semakin terbayang.


Nayla mengenggam sprei dengan erat. Menyembunyikan wajahnya diantara sisi selimut. Ia sedikit memundurkan tubuhnya perlahan dari dekapan Reynand. Rasa malu yang membumbung tinggi itu belum bisa ia hilangkan. Ingatan-ingatan saat-saat mereka tengah berlayar menuju nirwana terus terbayang dikepalanya.


Rasanya ia tak percaya mereka telah melakukannya. Melakukan ritual yang akan terus terukir dalam sejarah hidupnya.


Namun, genggaman pada sprei itu perlahan terlepas, tatkala Reynand kembali menariknya erat kedalam pelukan hangat. Pergerakannya seketika lumpuh saat itu juga. Jantungnya terus berdebar-debar tiada terkira.


Nayla bisa apa? Tangannya meringkuk didepan dada dan mengepal erat, ia memejamkan mata dan hanya bisa menyembunyikan wajahnya dalam-dalam didada bidang itu. Menyembunyikan rasa malu yang tak berkesudahan, tak terhingga dan tiada terkira.


Ia semakin terpejam seiring Reynand yang terus mengecup puncak kepalanya. Perasaannya semakin campur aduk tiada menentu. Rasanya dia akan meledak saat itu juga. Perasaan ini.... perasaan yang terus tumbuh setiap harinya. Lagi-lagi, Nayla bisa apa? Perasaan itu datang tanpa dia duga dan juga tidak bisa ia cegah. Semuanya terjadi begitu saja.


Sesuatu yang terjadi itu.... Jadi, ini yang namanya cinta!?


Lain halnya dengan Reynand, ia terus merasakan dirinya seolah mendengar melodi yang indah. Seakan tengah memiliki separuh dunia. Ia terus merasakan debaran yang tiada terkira. Dia tidak menyangka akhirnya telah memiliki Nayla seutuhnya. Rasa bahagia nan berbunga-bunga disepanjang pagi hari yang indah tersebar di relung hatinya, mengisi hingga bagian yang paling terdalam. Kebahagian ini belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Ia tahu Nayla merasa kaku didalam dekapanya. Terus ia tatap mata yang memaksa terpejam itu dalam-dalam. Memotret pemandangan indah itu dengan mata yang akan terus tertanam didalam ingatannya.


Ia menikmatinya.


Rona malu itu, pipi putihnya yang memerah, rasa gugupnya, debaran jantung yang tiada menentu berirama, semuanya. Semua yang ada pada diri gadis itu pagi ini. Reynand dapat merasakannya, seolah hal itu juga mengalir pada dirinya.


"Nay...." Bisiknya merdu.


"Em...."


"I love you...." Bisiknya pelan diiringi dengan nafas yang menerpa ditelinga Nayla.


Mendengar itu Nayla semakin mengeratkan kepalan tangannya. Ya, tuhaaan, ia rasa jantungnya akan segera meledak saat itu juga.


Lalu Reynand berbisik kembali "I love you...."


Huh, dengan mengatur deru nafas yang tiada menentu. Tanpa sadar ia pun membalas dengan suara yang hampir tak terdengar.


"I Love you too...." Balasnya pelan seperti sepoi angin.


"Apa?" Tanya Reynand lembut, pura-pura tidak mendengar.


"I Love you too...." Suaranya semakin mengecil karena malu.


"Ha? Ulangi, Abang gak denger...." Sengaja menggoda.


Ish, seketika kepala gadis itu terangkat, dia menatap dengan sorot mata kesal. Membuat senyum indah Reynand mengembang dan seketika itu juga debaran itu pun datang lagi.


Deg!


Deg!

__ADS_1


Aaaa.... Nayla belum bisa melihat wajah itu.


Disaat mereka tengah menikmati suasana penuh romantis itu, sebuah ketukan dari luar pintu tiba-tiba membuyarkannya.


"Reynand! Nayla!"


Suara Mama Adel!


"Ini udah jam berapa, bangun!"


Astaga mereka langsung terkesiap. Saling bersitatap kaget. Hari ini, Nayla sekolah. Inilah dia kalau lagi dimabuk asmara. Mereka jadi lupa diri.


"Rey! Nay!" Mama Adel lembali berseru.


Reynand buru-buru turun dari ranjang, menggapai handuk dan melilitkan dipinggannya. Sementara itu Nayla langsung menyembunyikan dirinya kembali didalam selimut.


Cklek!


Reynand membuka separuh pintu.


Mama Adel mengernyit, memandangi penampilan Reynand dari atas sampai bawah.


"Kamu? Baru mau mandi?"


"Ha? I-iya...." Jawab Reynand gugup. Mandi dalam kenikmatan. Astaga! Ada apa dengan isi kepalanya.


"Duh, apaan sih, Rey." Mama merasa kesal karena dihalangi.


"Pak Tio udah nungguin juga, tuh. Nayla udah mandi belum? nanti telat."


Reynand tampak gugup, bagaimana ini? Ia rasa tidak mungkin Nayla berangkat sekolah setelah apa yang ia lakukan pada gadis itu semalam. Tidak mungkin juga kan dia menjawab dengan jujur kalau semalam mereka baru melakukan....


Bugh!


"Aw...."


Mama dan Reynand sontak menoleh. Dengan cepat Mama Adel melangkah dan mendorong pintu yang setengah terbuka itu.


Dilihatnya Nayla terduduk meringis dilantai. Sepertinya hendak kekamar mandi. Bergegas Reynand dan Mama mendekat.


"Kamu kenap...." Mama Adel tiba-tiba termangu saat melihat tubuh Nayla yang dibalutnya pakai selimut dengan banyak tanda merah disana, dan juga, lihat itu, pakaian mereka berserakan semua dilantai.


Mama Adel terkesiap tanpa bersuara. Menatap Reynand dan Nayla bergantian. Nayla, gadis itu terus menunduk tanpa menatapnya. Ia dapat melihat rona malu disana.


"Ma, Mama mendingan keluar deh." Ucap Reynand seraya membantu Nayla berdiri dan mendudukkannya disisi ranjang.


Bukannya keluar Mama Adel malah semakin terperangah. Astaga! Apa mereka baru saja....


"Ma!" Tegas Reynand akhirnya.

__ADS_1


Ups, baiklah Mama Adel sepertinya mengerti apa yang terjadi. Bola mata Mama Adel seolah diinstruksikan untuk mencari tahu. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sprei ranjang.


Bercak darah!


Tunggu!


Apa ini yang pertama? Mama lagi-lagi menatap bercak itu dengan seksama. Apa mungkin? Kalau dilihat-lihat sepertinya memang, iya.


Mama menatap Nayla kembali, dilihatnya gadis itu sesekali meringis seperti menahan sakit dibagian 'sana'nya. Jadi, ini benar-benar yang pertama.


Wah! Akhirnya! Rasanya Mama ingin memberikan selamat kepada putranya itu. Ah, terharunya, rasa-rasanya ia akan segera menggendong cucu, nih (Mama Adel lebay deh).


"Mama ngelihatin apa, sih. Keluar dong!" Tegas Reynand lagi. Huh! Lihat tuh, Nayla, sudah seperti padi yang sedang menguning saja, semakin merunduk.


Mama Adel tersadar. Ia mengerjap-ngerjap sebelum akhirnya mengatakan sesuatu.


"Em, ya udah. Nayla izin sekolah dulu hari ini. Mama tau kok, rasanya pasti sakit, kan?"


Jleb! Tepat sasaran. Seperti tertangkap basah Nayla semakin tertunduk malu. Ia merapatkan giginya kuat-kuat dan terpejam. Aaaa.... Mama, kok bisa tahu, sih. Memang kelihatan sekali ya, kalau mereka baru saja....


"Udah, deh Ma. Keluar cepetan!" Paksa Reynand akhirnya. Lagi pula Mama kenapa sih, sangat kepo dengan mereka. Seperti tidak pernah merasakannya saja.


Mama tersenyum penuh arti sebelum akhirnya dengan santai ia melontarkan kalimat berisikan nasehat, yang mana kalimat nasehat tersebut kembali membuat Nayla semakin tertunduk.


"Tapi, jangan diulangi dulu ya Rey, dijeda dulu sekitar dua hari, Mama yakin masih sakit itu, tu. Kasihan nantinya Nayla."


"Ma!"


Astaga! Reynand sudah tidak habis pikir.


Dan, blam! Pintu kamar pun tertutup kembali setelah Mama buru-buru keluar dari kamar sehabis melontarkan kata-kata jahilnya pada anak dan menantunya itu.


Ya tuhan, Nayla ingin sekali rasanya berpindah kesisi lain bumi ini. Rasanya ia ingin menghilang saja sekarang.


Mama Adel, sih. Dia jadi bertambah malu, kan.


*


*


*


*


*


*


Happy Readingđź’“

__ADS_1


__ADS_2