
****
Waktu untuk mereka berdua, itulah yang dipinta Reynand tadi sebelum kakek membawanya kerumah sakit. Walau bagaimana pun ia masih takut untuk meninggalkan Nayla saat ini. Ingatan Nayla yang menangis tadi malam saat perempuan itu ketakutan akan ia tinggal pergi, kembali terbayang-bayang dibenaknya.
Nayla mengusap wajah pucat itu pelan-pelan dengan jarinya. Sebenarnya hatinya saat ini sedang meringis. Namun, sekarang ia yang harus berusaha untuk kuat. Ia tidak boleh egois dengan terus menumpahkan air mata didepan Reynand. Sudah cukup Reynand merasakan luka akibat dirinya.
"Kakek mau aku dirawat dirumah sakit. Nggak lama, paling cuma sebentar."
Nayla yang tengah berusaha tersenyum mengangguk. Tangannya terangkat untuk mengusap kepala itu pelan-pelan.
Lalu Reynand kembali menatap wajah itu khawatir. "Nggak apa-apa, kan?" Kini tangan Reynand terangkat untuk membuat tubuh mereka semakin rapat. Ia menjatuhkan kepalanya yang terasa berat dipundak Nayla. Nyaman, sudah lama ia tidak seperti ini.
Nayla kemudian mendesah pelan namun senyuman masih tersungging dibibirnya. "Nggak apa-apa." Kemudian ia menatap wajah itu dengan seksama dengan menahan perasaan sesak di dada. "Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi begini." Kini ia membalas pelukan ditubuh itu dengan hati-hati, penuh kelembutan dan perasaan kasih sayang.
Lalu Reynand berbisik pelan. "Nggak Nay semua ini karena...."
Nayla lalu langsung menyambar ucapan itu. "Nanti dirumah sakit nurut sama dokter. Biar cepat sembuh. Em?" Telapak tangannya kembali mengusap wajah yang sedikit menjadi tirus sejak terkahir mereka bertemu waktu itu. Nayla tidak terlalu memperhatikan itu semalam, namun pagi ini wajah itu terlihat jelas. Semakin tirus dan juga pucat.
"Tapi kamu nggak apa-apa kan, kalau aku nginep dirumah sakit?" Reynand semakin menyusupkan wajahnya diceruk leher itu.
Nayla lagi-lagi senyum sumringah. "Kan, nanti aku bisa kesana. Aku akan rawat kamu juga nantinya, mana mau aku kalah sama perawat-perawat yang ada dirumah sakit." ucap Nayla sedikit bercanda. Bagaimana pun ia harus terlihat baik-baik saja didepan Reynand saat ini. Terlihat baik-baik saja namun lihatlah nafas itu terus memberat sedari tadi.
Nayla mendongak sejenak untuk membuang rasa tersengalnya, ia benar-benar masih tidak percaya akan cara yang ditempuh Reynand untuk menemuinya semalam. Ia sangat bersyukur saat Reynand tiba-tiab hadir. Namun, tat kala ia mendengar kabar mengejutkan pagi ini sedari tadi tubuhnya tidak henti-hentinya gemetar.
"Terima kasih ya, sudah menjadi istri yang baik...."
Nayla lalu menyimak ucapan itu penuh haru. Ia memejamkan mata sejenak.
"Aku tahu kamu masih sakit hati soal Airin...." Menurut Reynand segala keluh kesah Nayla semalam sudah membuktikan semua itu. "Aku akan benar-benar memberikan dia pelajaran setelah ini...." ucap Reynad dengan penuh sesal.
Nayla kemudian menggeleng. Bukan pembahasan itu yang lebih penting baginya saat ini. Lagi pula pada dasarnya ia bukanlah wanita yang seperti itu. Sebetulnya dia tidak suka membuat masalah semakin rumit dan panjang.
__ADS_1
"Nggak apa-apa aku udah ikhlasin...." Sahutnya lagi.
"Tapi aku yakin kamu masih sakit hati."
Langsung terdiamnya Nayla sudah cukup memberikan jawaban untuk Reynand. Ia mengangkat kepalanya lalu memperhatikan wajah itu. Biar bagaimana pun perubahan raut wajah istrinya memang sangat mudah sekali ditebak.
Hening sesaat mengambil alih.
Nayla berujar kembali setelah itu. "Tapi, yang penting itu kamu harus sembuh. Aku lagi nggak mikirin itu sekarang." Ia menarik nafas sejenak. "Maaf ya aku egois semalam." Nayla kemudian mengelus pinggang yang terluka itu pelan.
Reynand kemudian meringis. "Sakit Nay...." Lirihnya pelan.
Nayla melepas tangannya dari pinggang Reynand. "Kok semalam bisa nahan?" Suaranya semakin gemetar saat itu.
"Semalam aku mana bisa ngeluh." Reynand sangat ingat suasana Nayla saat itu. Bagaimana ia bisa berkelus kesah jika orang yang dihadapannya itu saja lebih butuh untuk ia perhatikan.
"Iya, tapi harusnya kan ngomong sama aku. Sengaja ya bikin aku merasa bersalah." Gadis itu terus memprotes.
"Nggak sayang...."
Dan, semburan itu lalu menyadarkan Reynand. "Nay, aku nggak bermaksud untuk membuat kamu seperti ini. Aku benar-benar hanya ingin menemui kamu saat itu. Perasaan aku nggak enak Nay. Dan, hanya dengan begitu aku bisa keluar dari rumah dan terhindar dari kakek."
Biar bagaimana pun perasaan Nayla sangat sensitif beberapa hari ini. Ia terus menggigit bibirnya kuat-kuat sedari tadi untuk menahan hawa kepedihan yang sepertinya akan tumpah itu.
Ia lalu menarik tangan Reynand pelan untuk menyentuh perutnya. Reynand termangu, namun kemudian perlahan ia pun mengangkat kepalanya oleh perlakuan itu. Sorot penuh tanda tanya lalu ia berikan pada Nayla.
Dengan penuh gemetar perempuan itu lalu berucap pelan antara yakin atau tidak. "Beberapa hari ini aku selalu ngerasa aneh." Lalu ia berpaling sejenak, entah kenapa perasaan haru tiba-tiba menyeruak begitu saja. "Tubuh aku aneh, perasaan aku aneh, dan perlakuan Mami juga aneh. Seolah Mami lebih tau segalanya tentang aku." Ia lalu meneguk ludahnya sejenak. "Terus aku jadi berpikir, bagaimana kalau...." entah kenapa Nayla semakin gugup saat itu. Masih ada keraguan untuk mengungkaplan apa yang jadi perkiraanya.
Reynand semakin terperangah menatap wajah itu. dengan penuh dugaan yang sama. "Nay kamu?"
Deg! Deg! Jantung keduanya seketika itu juga langsung berdegub dengan sangat kencang.
__ADS_1
Ya tuhan, Reynand benar-benar tidak bisa berkata-kata saat ini. Nayla pun bahkan mengira susuatu yang sama dengan dirinya. Seketika itu juga sesuatu mengalir kedalam relung hatinya. Sesuatu yang tidak pernah ia rasa sebelumnya.
Sadar oleh perilakunya Nayla kemudian menjauhkan telapak tangan Reynand dari perutnya seketika. Ada rasa malu dan juga canggung yang ia rasakan pada saat itu. Malu seolah ia sok tahu dengan keadaannya sekarang. Canggung karena tentu saja kalau dugaannya itu benar, berarti mereka berdua akan segera menyandang status baru.
Lalu Mami yang tiba-tiba datang langsung memecah suasana. Wanita yang sudah rapi itu berdehem sejenak. "Mami bukannya ingin mengganggu waktu kalian." ucap dengan penuh hati-hati. Dia sangat mengerti suasana dihadapannya itu. "Tapi Nayla, kamu harus siap-siap sayang. Hem?" Mami menjeda ucapannya sejenak, seolah itu sangat berat untuk ia katakan. Mengingat keduanya baru saja bertemu semalam dan terlihat seperti belum juga merasa puas saat ini. "Dan, Reynand kamu harus ikut kakek kerumah sakit, bukan? Biar bagaimana pun kamu harus dirawat." sambung Mami memberi pengertian.
Saat itu dihalaman rumah tempat mobil terparkir.
Nayla tidak mengerti akan dirinya yang terus merasa resah sedari tadi. Padahal ia sudah meyakinkan dirinya untuk memasang wajah ceria didepan Reynand. Tiba-tiba hatinya tidak ingin melepas sosok itu, seolah akan pergi jauh.
Melihat wajah memerah yang sudah hampir menangis itu Reynand yang dibopong pak Tio saat hendak memasuki mobil kembali berbalik. Dia benar-benar tidak tega meninggalkan Nayla seperti ini.
"Bentar pak." ujarnya melepas pegangan pak Tio dan berjalan tertatih menahan sakit ditubuhnya.
"Ya ampun Nay, nanti juga ketemu lagi." Mami Miska mengelus bahu gemetar putrinya. Mami sangat tahu putrinya sedang menahan sesuatu saat itu.
Nayla mengangguk, tapi mau bagaimana lagi. Entah kenapa ia benar-benar tidak ingin ditinggal saat ini. Rasanya kalau bisa mereka terus menempel dimana pun berada.
Mengira Reynand akan memeluk istrinya, namun pemandangan tidak terduga mampu membuat semua yang ada disitu tercengang.
Reynand seketika itu menunduk perlahan lalu mencium perut itu dengan lembut. Ia juga seperti sedang berkomunikasi disana.
Setelah melakukan hal tidak terduga itu ia lalu tersenyum dan beranjak. Tangan satunya mengusap pipi Nayla pelan. "Nggak usah sedih.... aku udah minta izin kok sama dia." usapnya pada perut itu dengan tangan satunya lagi.
Dan, saat itu juga semua yang memperhatikan hal tersebut spontan saling bersitatap.
*
*
*
__ADS_1
*
Happy Reading!