Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Jangan Pergi


__ADS_3

****


Saat itu dirumah Suci. Sudah pukul sepuluh malam. Nayla masih terbaring lemah diatas kasur. Sementara itu Suci merasa bingung. Diliriknya beberapa kali ponsel Nayla. Sedari tadi tidak ada yang menelpon sahabatnya itu, kecuali panggilan dari Riko yang selalu Ia cancel karena menurutnya tidak penting.


Sedari tadi Nayla juga tidak mau Ia suapi makan. Bahkan suhu tubuh sahabatnya itu semakin panas. Suci mulai bingung. Ia tahu Mami-nya Nayla masih bekerja di jam ini. Dia jadi ragu harus menelpon Mami-nya Nayla sekarang atau menunggu menelpon dijam pulang kerja.


Drrrrt.…drrrrt….


Panggilan masuk dari ponsel Nayla. Nomor yang tidak dikenal.


Dengan ragu-ragu Suci mengangkat panggilannya.


“Tapi kamu siapa? Saya teman sekelasnya.”


“Sekarang tolong beritahu alamat rumah kamu saya akan menjemputnya pulang.”


“Nggak! Bisa aja kan anda nipu.”


“Saya suaminya.” Tanpa sadar Reynand kecelposan.


“Aduh jangan becandan deh. Teman saya itu masih SMA dia belum nikah.”


“Tolong biarkan saya bicara dulu denganya.”


“Nggak!” Suci masih bersikeras.


“Berikan hpnya kepada Nayla. Biarkan saya bicara dulu sama dia.” Reynand terdengar memohon saat itu.


Akhirnya daripada takut salah lebih baik Suci memberikan ponsel tersebut kepada Nayla. Walaupun dirinya masih mengganggap bahwa panggilan tersebut adalah panggilan orang jahil tidak ada kerjaan.


“Nay.” Suci mencoba membangunkan Nayla.


Nayla terbangun, namun masih setengah sadar.


“Bangun ada yang nelpon. Dia ngaku-ngaku suami kamu. Kayaknya orang stress deh.”


“Suami?”


Nayla menoleh seketika seolah lupa kalau Ia sedang sakit. Segera Ia raih ponselnya dari tangan Suci.


“Halo.” Suara Nayla terdengar lemah dan sengau.


“Kamu dimana?”


“Ini siapa?”


“Ini saya."


"Iya Siapa?"


"Suami kamu.”


“Abang!?"


“Iya, Kamu dimana sekarang?”


“Lagi dirumah temen.”


“Katanya kamu sakit.”


“Nggak tau badan aku panas.”


“Saya jemput kamu sekarang. Kirim alamatnya.”


“Iya.”


Panggilan pun terputus.


“Nay.” Suci mendekati Nayla dengan perasaan tidak percaya.


“Suami? Kamu udah nikah?” Suci benar-benar merasa dibercandai oleh sahabatnya yang sedang sakit itu.


Namun Nayla tidak berbicara apa-apa terhadap Suci sampai Reynand pun datang menjemputnya.


Suci benar-benar tidak percaya dengan laki-laki yang ada dihadapannya itu. Tubuhnya benar-benar terpaku. Reynand Anugrah, aktor paling terkenal saat ini. Adalah suami dari sahabatnya. Ia rasanya ingin pingsan ditempat saat itu.


“Si-silahkan masuk.” Suci terlihat sangat gugup.

__ADS_1


Reynand mengikuti Suci masuk kedalam kamarnya.


“Kamu sakit?” Reynand dengan hati-hati mencoba memegang kening Nayla. Merasai suhu tubuhnya. Suhu tubuhnya benar-beanr panas, wajahnya sayu dan tubuhnya lemah.


“Ya udah kita kedokter?”


Nayla menggeleng.


“Badan kamu panas banget.”


“Nggak, aku mau pulang aja.”


“Kamu harus kedokter Nayla.” Reynand terus membujuk.


Nayla tidak menjawab, Ia malah melirik Suci yang berdiri seperti tidak bernyawa.


“Ci.” Nayla berusaha memanggil Suci.


Suci masih terpaku ditempat. Matanya tak lepas memandang sosok mempesona yang sedang ada didepannya itu.


Melihat hal tersebut Reynand paham sepertinya sebelum membawa Nayla pulang Ia harus membereskan sesuatu.


Karena Nayla bersikeras tidak mau dibawa kerumah sakit. Akhirnya Reynand memutuskan membawa Nayla pulang keapartemen dan memanggil memutuskan memanggil dokter pribadi.


“Kenapa.”


“Kaki aku sakit.”


“Gara-gara jatuh?”


Nayla menganggukkan kepalanya. Reynand ingat tadi pagi Nayla memang terjatuh cukup keras. Ia jadi merasa bersalah. Jangan-jangan Nayla sakit karena Ia terjatuh tadi pagi. Dengan segera Ia pun menggendong Nayla keluar dari kamar Suci.


Reynand dan Nayla pun akhirnya sampai diapartemen. Dengan segera Reynand membaringkan Nayla keatas kasur. Tak berapa lama seorang dokter datang keapartemen mereka.


“Kamu nggak kelihatan sakit.” Dokter tersebut terlihat memperhatikan Reynand.


“Bukan aku Om yang sakit.”


“Terus siapa? Bukannya kamu tinggal sendiri disini?”


Reynand tidak menjawab. Ia malah langsung menuju kekamar Nayla yang membuat dokter tersebut spontan mengikutinya.


“Aduh Om bisa nggak biasa aja reaksinya.”


“Biasa aja gimana? Kamu mulai berani bawa wanita diam-diam keapartemen kamu. Mentang-mentang banyak wanita yang tergila-gila sama kamu. Masih kecil lagi kayanya”


“Dia ini istri aku Om. Yang dijodohkan sama Kakek.”


“Kok Om nggak tau?"


“Kan emang nikahnya diam-diam. Om nanti aja aku cerita. Sekarang periksa dulu Nayla.”


Dokter tersebut akhirnya mendekati Nayla. Gadis itu benar-benar terlihat lemah.


“Jadi nama kamu Nayla.” Dokter mulai memeriksa keadaan Nayla.


Nayla menganggukkan kepalanya.


“Kamu masih sekolah.”


Nayla mengagguk lagi.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, sang dokter keluar dari kamar Nayla menemui Reynand yang sedang duduk menunggu disofa.


“Dia demam tinggi. Kelelahan, bisa jadi karena aktivitas yang padat disekolah, ditambah lagi karena perubahan cuaca saat ini. Dan sepertinya juga Ia banyak pikiran, mungkin ini berhubungan dengan pernikahan kalian.”


Reynand terlihat mendengarkan dengan seksama.


“Kamu harus perhatikan dia mulai sekarang. Sering-seringlah ajak dia ngobrol. Anak seusianya masih butuh orang yang memperhatikan. Apalagi Dia pindah ke tempat ini secara mendadak. Dia itu sekarang tidak tinggal dirumahnya lagi, jadi kamulah yang menggantikan orang tuanya.”


“Iya saya tahu Om.”


“Sepertinya kalian belum dekat.” Dokter Ridwan melirik kamar Reynand yang terbuka. Seperti Ia mengetahui kalau keponakannya itu tidak tidur sekamar dengan istrinya.


Reynand terdiam.


“Om tau kamu sibuk. Tapi kalau kamu mau lebih dekat, Om bisa kasih tips.” Dokter Ridwan tersenyum.

__ADS_1


“Maksud Om?”


“Maksud Om dia itu kan istri kamu. Sah. Memang kamu nggak pengen melakukan hal layaknya suami istri pada umumnya?”


Reynand ternganga.


“Om paham kalian dijodohkan. Dulu Om juga dijodohkan seperti kalian berdua oleh kakek kamu.” Dokter bersuara berat itu berusaha menggoda.


“Om ngomong apa sih? Dari tadi muter-muter.”


“Reynand Om tahu kalian berdua sama-sama masih muda. Sebenarnya ada banyak cara yang aman jika kalian tidur terpisah karena belum siap memiliki anak.”


“Om plis sebenarnya Om mau ngomong apa?” Reynand sudah mulai emosi dengan godaan yang dilontarkan oleh Dr. ridwan.


"Kita pisah kamar bukan karena belum si...." Reynand berhenti berbicara ketika dokter itu menariknya, kemudian membisikkan sesuatu ditelinga Reynand.


Setelah Dr. Ridwan pulang, Reynand masuk kedalam kamarnya. Sedari tadi jantungnya tidak berhenti berdebar-debar setelah mendengar apa yang dibisikkan oleh anak angkat Kakeknya itu. Sepertinya Ia perlu menenangkan diri saat ini. Dia tidak habis pikir dengan perkataan Om-nya tadi. Pikirannya mulai tidak jernih padahal saat itu dia juga sedang lelah.


Tiba-tiba Ia teringat Nayla. Rupanya Ia terlalu memikirkan perkataan Dr. Ridwan sampai-sampai Ia lupa kalau harus memberikan obat kepada Nayla. Ia menuju kedapur mengambil roti dan membuat segelas susu.


“Nay.” Dengan hati-hati Reynand masuk kedalam kamar Nayla takut gadis itu terkejut.


Nayla menoleh terlihat dia sedang duduk dikasur. Dia sepertinya habis mencuci wajah dan telah mengganti bajunya. Wajahnya masih terlihat sayu.


“Kamu makan dulu habis itu minum obat.”


Nayla menganggukkan kepalanya pelan. Sementara itu Reynand duduk disampingnya sambil memegang piring yang berisi roti.


“Mau minum dulu?”


Nayla mengangguk lagi.


Dengan segera Reynand mengambil gelas susu yang Ia letakkan dimeja tadi. Setelahnya secara perlahan-lahan Ia mulai menyuapi Nayla. Gadis itu terlihat tidak nafsu untuk makan.


“Ayo makan lagi.”


“Lidah aku pahit.”


“Dua suapan lagi.” Reynand menyodorkan sendoknya. Setelah beberapa kali dipaksa akhrinya Nayla pun nurut walau hanya dua sendok.


Setelah makan dan minum obat Nayla kembali berbaring dikasur. Sementara Reynand menyelimuti tubuhnya Ia mencoba memejamkan mata. Dirinya benar-benar butuh istirahat.


Tak berapa lama Reynand pun ikut terlelap disofa. Sepertinya Ia juga benar-benar sangat lelah setelah hal yang Ia lalui hari ini.


Saat itu sekitar jam 02 malam, Reynand tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia merasa seperti mendengar suara tangis. Segera Ia beranjak dan menghidupkan lampu kamar. Dilihatnya Nayla menangis dengan mata terpejam.


“Papi….hiks hiks."


Sepertinya gadis itu memimpikan Ayahnya. Reynand mendekat, perlahan Ia mendudukan tubuhnya dipinggir kasur. Gadis itu masih menangis pilu dalam tidurnya. Reynand bingung harus berbuat apa untuk menenangkan Nayla.


Akhirnya perlahan Ia membaringkan tubuhnya disamping Nayla dengan kaki masih menggantung menyentuh lantai.


“Nay.” Reynand mulai memeluk Nayla dan mengelus-elus kepalanya mencoba menenangkan.


“Papi….hiks... hiks...."


“Udah jangan nangis.” Masih berusaha menenangkan. Ia mulai menyusupkan tanganya kebawah leher Nayla, membawa kepala itu menyentuh dadanya.


“Jangan pergi hiks... hiks....” Tanpa diduga Nayla melingkarkan tangannya ketubuh Reynand. Sontak saja perilaku tersebut membuat Reynand kaget. Namun tak lama Ia juga memeluk Nayla dengan erat.


“Aku nggak akan pergi.” Tanpa sadar Ia mencium kepala Nayla. Entah kenapa Ia merasa gadis itu sepertinya sangat merindukan sosok Ayahnya. Tentu saja Ia tahu rasanya. Rasa sakit ditinggalkan oleh orang yang sangat disayangi.


Reynand semakin membawa Nayla erat kedalam pelukan. Entah kenapa timbul perasan ingin melindungi dalam dirinya.


Sampai akhirnya suara tangis nayla pun perlahan terhenti dan Ia kembali tertidur didalam pelukan Reynand.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2