Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Menunda?


__ADS_3

****


Saat itu dimeja makan, semuanya telah duduk menunggu untuk makan malam bersama. Suara tawa Mama Adel terdengar mendominasi suasana.


Nayla hanya duduk diam mendengarkan orang-orang berbicara, mendengarkan suara berisik Rome yang sedang bermain game didekatnya. Dia memang seperti itu, lebih suka menjadi pendengar dan bicara seperlunya saja jika diperlukan.


“Eh iya nanti si Beta datang loh, Mis. Anaknya Mas Ridwan. Mbaknya si Aldi.”


Ah, iya Nayla memang tidak banyak tahu tentang keluarga kakek. Terang saja pembicaarn ini memang tidak akan terlalu nyambung untknya saat ini. jadi si Aldi yang tadi punya kakak perempuan.


“Tanteeee….”


Pandangan Nayla beralih pada sosok cantik yang melangkah dengan suara hells yang sangat terdengar jelas itu.


“Tante, aku kangen.” Wanita cantik itu semakin cepat melangkah dan langsung memeluk Mama Adel dengan erat.


“Beta! Baru juga kamu diomongin. Panjang umur kamu.” Mama Adel melonggarkan pelukan eratnya. “Kok kamu kurusan sih?”


“Masak sih, tan.” Sahutnya mengernyit.


“Tapi tetap cantik, kok.” Sahut Mama Adel lagi.


Setelah itu Beta melirik semua orang yang ada disana satu persatu.


“Hai, tante.” Beta menghampiri Mami Miska kemudian juga memeluknya erat.


“Hai, tante dengar kamu dokter kandungan ya.” Ucap Mami Miska setelah pelukan mereka terlepas.


“Iya, tante mau konsultasi?” candanya, yang disambut tawa oleh Mami miska.


“Hus kamu itu ya. Ada-ada saja.” Mama Adel menanggapi.

__ADS_1


“Bercanda tante.” Sahut Beta.


Seketika Nayla tersenyum ramah, saat dokter cantik beralih menatap lurus kearahnya.


“Ini pasti Nayla, kan?” tanyanya sumringah, lantas langsung memeluk Nayla erat.


Perlahan Nayla juga membalas pelukan itu.


“Ih, cantek banget ya.” Beta menatapa Nayla seksama setelah melepas pelukannya. “Kamu cantik banget loh.” Ia terus memberikan pujian tanpa jeda, membuat Nayla tidak bisa membalas ucapannya “Pantesan Reynand mau dijodohin sama kamu. Kakek nggak salah pilih rupanya.”


Nayla tersenyum. Duh, gadis dihadapannya ini bicaranya sangat terang-terangan tanpa sangat berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang lebih banyak diam.


“Tadinya mbak pikir Reynand itu bakalan milih jadi perjaka tua loh, eh tau-taunya dia malah nikah duluan dari mbak.” Ucapnya lagi, mampu membuat Nayla menahan tawa.


Entah kenapa Nayla merasa si mbak Beta ini, orangnya agak kocak. Ini benar tidak sih, dia dokter kandungan. Eh, tunggu! Memangnya seorang dokter harus selalu bersifat serius.


“Siapa yang milih jadi perjaka tua.” Reynand tiba-tiba hadir diantara mereka.


“Oh itu, si Aldi.” Ucapnya asal menunjuk sang adik yang rupanya hadir disana berbarengan dengan Reynand.


“Rey, nggak kangen sama mbak?” Beta menghampiri Reynand dan memberi pelukan erat.


Nayla lagi-lagi tersenyum. Gadis dokter itu sangat mendominasi suasana saat itu. diah bahkan tidak segan memeluk semua orang yang ada disana. Sifatnya sangat berbanding terbalik dnegan dirinya. Duh, kenapa dia jadi membandingkan diri dengan orang lain begini si?


Pada akhirnya malam itu pun mereka melakukan makan malam bersama. Semua orang berbicara dengan penuh keakraban, hanya dia yang lebih banyak diam saat itu. sesekali dia tersenyum menanggapi obrolan. Menjawab seperlunya ketika ditanya.


“Eh, Nay kalau kamu mau tanya soal kehamilan, mumpung mbak Beta ada disini.”


Kepala Nayla seketika terangkat oleh ucapan Mami barusan, begitu pun juga dengan Reynand yang sontak menatap kearah Nayla. Takut kalu-kalu gadis itu tidak suka dengan pembahasan ini.


Soal kehamilan? Bukan apa-apa jujur Nayla belum berpikir sampai kesitu saat ini, maksudnya dia belum terbiasa dengan pemahasan ini. pembahaan ini terlalu tiba-tiba untuknya.

__ADS_1


“Duh, nanti-nanti aja deh, Del.” Sahut Mami Miska, karena jujur dia dapat melihat raut bingung pada putrinya itu.


“Nanti, kapan? Mumpung si Beta lagi disini loh Mis. Jadi, nantinya waktu Nayla hamil dia sudah siap.” Tambah Mama Adel lagi.


“Betul itu te, Nayla harus tahu pengetahuan soal kehamilan dari sekarang.” Beta menaggapi. “Tapi, em, kalian berdua sudah dua bulan menikah, kan?” ia melirik Nayla dan Reynand dan bergantian. “Ini…. kalian berdua memang menunda, untuk punya anak?”


Dan, ya pertanyaan itu mampu mengalikan perhatian semua orang. Tak terkecuali Nayal dan Reynand yang memang merasa pertanyaan itu ditujukan untuk mereka.


“Nu-nunda?” Reynand meletakkan makanan yang belum smepat masuk kemulutnya.


“Iya, kalian menunda kehamilan dengan cara apa?”


Reynand tiba-tiba tersedak. Ia meminum air sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.” kita nunda pakai cara yang aman kok, mbak.” Cara yang paling sangat-sangat aman, sehingga tidak mungkin Nayla akan hamil, begitu pikirnya. “ Setidaknya sampai Nayla lulus sekolah.” Lanjutnya lagi, ia melirik sang istri yang sudah menatapanya penuh kebingungan.


“Oh, bagus lah kalau kamu mengerti. Tapi, benar kan, kamu pakai cara yang aman? Jangan pakai yang aneh-aneh lo Rey. Itu nanti dampaknya nggak bagus buat istri kamu.” Beta kembali me,berikan petuah.


“Iya, mbak. Nggak kok, cara yang aku pake udah yang paling aman. Amaaan banget malahan.” Ucapanya dramatisir, sangat-sangat aman sehingga tidak mungkin Nayla akan hamil.


“Iya, deh mbak percaya.” walaupun tampang seperto Reynand sangat sulit ia percayai


Saat Reynand hendak melanjutkan makannya lagi….OMG, Reynand menatap semua orang yang ada dimeja makan tersebut. Huh, semua mata sedang tertuju padanya. Seolah-olah banyak pertanyaan dikepala mereka. Tak, terkecuali Mama Adel dan Mami Miska yang menyorotinya antara percaya dan tidak. Terlebih lagi Nayla, lihat sedari tadi gadis itu mengernyti penuh kebingungan, dia pasti tidak paham kan tentang ucapannya tadi. Haha, mudah-mudahan saja tidak, Reynand sangat berharap Nayla terus polos seperti biasanya.


Namun, dalam hatinya dia meringis, nunda apaan? Menyentuhnya saja belum, maksudnya menyentuh yang itu, loh…. dalam hal konteks melakukan hubungan yang dapat membuat sang gadis menyimpan benihnya. Ah, sudahlah. Dia juga tidak tahu kapan mereka akan melakukan itu, kan.


Lagi-lagi Nayla hanya bisa bergeming.


Dia jadi berpikir, bagaimana kalau Reynand nanti benar-benar menyentuhnya. Sudah siapkah dia untuk itu. Konsekuensi sebagia orang yang sudah menikah. Huh, bukankah mereka harus saling mencintai sebelum melakukan itu. Seperti mami dan mendiang papinya dahulu?


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2