Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Alasan Menyusul


__ADS_3

****


Nayla berdiri memperhatikan teman-temannya yang berebut tempat duduk. Benar-benar membuat ia pusing. Tak lama ia pun menarik salah satu kursi dan duduk disana. Mengabaikan keduanya yang masih terus berdebat.


“Ya udah deh gue ngalah!” Suci duduk disamping Nayla dengan perasaan kesal. Sementara Tia tersenyum penuh kemenangan.


“Kita mau pesan apa?” Tia membaca buku menu.


“Terserah!” Rupanya Suci masih kesal terhadap Tia.


“Gue nggak ngomong sama Lo ya. Gue ngomong sama Nayla.” Sungut Tia.


“Lo berdua apaan si. Pusing gue tau denger kalian berdua ribut terus dari tadi.” Ucapan Nayla memecah pertengkaran kedua temannya. Memang diantara mereka hanya Nayla yang paling tidak suka dengan perdebatan.


“Ya udah maaf. Jadi mau pesan apa nih.” Tia mulai memelankan suaranya.


“Woi nggak ngajak-ngajak gue Lo pada.” Tiba-tiba Riko hadir diantara mereka. Membuat mereka mendadak kaget olehnya.


“Duh apaan si Lo. Bisa budek gue denger suara lo yang super kenceng itu.” Sungut Suci.


“Lo kenapa si kayaknya musuhin gue banget.” Riko menatap tajam kearah suci.


“Ci!” Mata Nayla menunjukkan protes atas sikap berlebihan suci, yang akhirnya membuat Suci terdiam.

__ADS_1


“Nay.” Riko duduk disebelah Nayla.


Suci yang tiba-tiba ingin menunjukkan sikap tidak suka akan Riko langsung terdiam oleh tatapan maut Nayla yang seolah-olah mengatakan padanya jangan berlebihan.


“Ya udah jadi mau pesan apa ni?” Tanya tia akhirnya.


Mereka pun akhrinya memesan makanan dan minuman sambil sesekali bersenda gurau. Riko tak henti-hentinya menjahili Nayla. Membuat gadis itu beberapa kali kesal karenanya. Namun Riko tak menghiraukannya. Ia terus menjahili Nayla sesuka hati. Seolah senang akan sikap kesal Nayla padanya.


“Rik apaan sih.” Nayla protes saat Riko tiba-tiba menjahilinya dengan seekor jangkrik yang memang sengaja disimpannya untuk menjahili Nayla.


Nayla terus ketakutan. Namun Riko tak bergeming ia terus menakut-nakuti Nayla dengan jangkrik itu.


“Ci tolongin gue.” Nayla bersembunyi dibalik Suci. Setelah beberapa saat ia pun berlari karena Riko terus menerornya dengan seekor jangkrik tersebut. Mereka pun akhirnya menjadi tontonan sebagian orang-orang dan sebagian lagi ada yang menghiraukan.


Bugh! Nayla tejatuh karena terus menghindari riko.


“Gara-gara Lo gue jadi jatuh kan.” Nayla bersungut-sungut memegangi lutunya.


“Maafin gue ya. Lutut lo sakit? Bisa jalan nggak? Sini biar gue gendong.” Riko duduk didepan Nayla. Berniat menggendongnya.


“Nggak usah apaan. Malu-maluin aja.” Sungut Nayla. Namun Riko tidak perduli. Ia malah mengangkat Nayla dipunggungnya dan menggendong gadis itu untuk kembali kemeja tempat mereka tadi.


“Rik lepasin nggak. Apaan sih pakai digendong segala. Gue masih bisa jalan.” Nayla menundukan wajahnya malu. Sementara Riko tidak mendengarkan protesnya. Sehingga tanpa mereka sadari, sedari tadi sepasang mata terus memperhatikan mereka dengan hati yang bergejolak.

__ADS_1


~


Sementara itu disisi lain. Kala makanan telah dihidangkan. Bahkan selezat apapun makanan tersebut. Tidak akan bisa tertelan jika hati sedang memanas.


“Rey.” Dion mengikuti arah pandang Reynand yang sedari tadi tak berkedip. Saat itu mereka sedang berada ditempat yang sama dengan Nayla dan teman-temannya. Hanya saja mereka berada didalam ruangan.


“Rey!” Reynand menoleh saat Dion agak meninggikan suaranya.


“Em.”


“Lo nggak apa-apa kan?” Dion sepertinya mengerti kalau perasaan Reynand sedang tidak bagus atas pemandangan yang dia lihat barusan.


Reynand hanya diam. Dia tidak menjawab sepatah kata pun pertanyaan Dion. Menandakan kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja.


“Jadi ini alasan lo tiba-tiba ngajak gue kesini?” Dion tersenyum menatap Reynand.


*


*


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2