
****
Ah, benar-benar menyesakkan. Nayla tidak percaya akan merasakan itu seharian ini. Sebenarnya dia ingin menjalankan ucapan Reynand untuk tidak mempercayai itu. Tapi seorang wanita cantik memberikan kejutan kepada suaminya dengan membawa bunga dan itu dilihat oleh banyak orang. Lalu bagaimana Nayla bisa....
Ya tuhan,
Dia harus bersikap biasa saja begitu? Mengabaikan seolah tidak ada apa-apa? Lalu menahan rasa tidak sukanya itu? Tolong beri tahu dia bagaimana cara melakukannya. Dia bukanlah manusia yang tidak punya hati, sehingga bisa tidak merasakan rasa yang tergores ini.
Nayla menengadahkan kepalanya keatas, sedari tadi ada sesuatu yang tidak tertahankan yang hampir keluar dari pelupuk matanya.
"Nay...." Suci memandang khawatir "Kita temenin ya sampai ada jemputan." Mengusap-usap bahu yang semakin merosot itu.
Lalu menatap kedua sahabatnya bergantian "Nggak usah Ci. Kalian berdua duluan aja."
"Yakin lo?!" Sambar Tia.
Dan Nayla pun mengangguk.
Lalu, beginilah sudah lebih satu jam ia terduduk di halte bus sekolah yang sudah sangat sepi itu. Duduk sendiri dengan sekelebat pikiran yang bergumul dikepalanya. Tadi ia sempat menghubungi Pak Tio untuk tidak menjemputnya dengan memberikan alasan yang cukup meyakinkan.
Lama ia pandangi deret nomor yang tertera diponselnya dengan tatapan nanar.
Nayla memang berpikir lama untuk melakukan sesuatu. Padahal terkadang hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit untuk dia lakukan. Ragu-ragu ia pun mulai menyentuh tanda hijau disana dan harap-harap cemas menunggu seseorang untuk menjawab panggilannya.
Tidak ada jawaban. Ia pun mulai gugup.
Disentuhnya lagi tanda hijau itu.
Dan, akhirnya pada dering ke empat seseorang menjawab panggilannya.
"Halo...."
Hening sesaat.
"Nay...."
Nayla ragu untuk mengatakannya.
"Nayla, ada apa?"
Seorang yang ada diseberang mulai terdengar khawatir dengan keheningan itu.
"Nay?!"
Akhirnya setelah tertahan beberapa saat, gadis itu pun menarik nafas lalu berusaha berucap "Jemput...."
"Jemput!? Kamu belum pulang kerumah?'
Lagi-lagi hening sesaat.
"Kenapa? Pak Tio gak jemput kamu, ya?"
"Jemput.... aku mau dijemput...." Perkataan itu berakhir dengan nada sendu.
"Kenapa Nay, ada apa? Bukannya pak Tio harusnya dari tadi sudah jemput kamu? Dia belum juga jemput?" Semakin khawatir.
"Aku mau dijemput sama abang...."
__ADS_1
"Oh, kamu kangen?" Terdengar Reynand terkekeh namun seperti dipaksakan. Mungkin karena merasa tidak enak.
Lagi-lagi keheningan terjadi diantara keduanya.
Nayla benar-benar menahan sesaknya. Ada banyak pertanyaan dikepalanya saat yang tidak mungkin ia utarakan melalui sambungan ini dan dia hanya ingin Reynand mengiyakan permintaannya.
"Nay...."
Lalu kalimat itu pun terdengar memohon "Jemput sekarang...."
Lalu Reynand menyahut dengan nada ragu "Sekarang?"
"Iya, sekarang...."
Lalu setelah helaan nafas itu.... "Abang, nggak bisa, lagi ada kerjaan. Em, maaf ya. Abang telponin Pak Tio buat jemput kamu mau?"
"Aku nggak mau dijemput sama Pak Tio...." Suara Nayla sudah terdengar putus asa dan tidak sabaran.
Lalu terdengar helaan nafas lagi.... "Kenapa Nayla, kan sama aja. Ini sudah sore, kamu harus pulang. Em? Pulang dijemput Pak Tio, oke. Abang bukannya gak mau jemput kamu. Kan, nanti malam ketemu." Kalimat itu terdengar sangat hati-hati, lebih tepatnya untuk menenangkan.
Namun rupanya itu tidak berhasil membuat gadis itu tenang, Nayla pun mendadak kesal. Dia rupanya tidak mendapat respon yang diharapkan.
Dan, kala ia hampir terisak.... "Aku maunya abang yang jemput.... kalau bukan abang yang datang buat jemput, aku gak mau pulang...." Dan panggilan tersebut segera ia putus secara sepihak.
Nayla tahu dia sudah egois dan memaksa. Dan ia sendiri juga tidak menyangka akan melakukan itu. Dia sadar dengan sifat buruknya ini, gampang cemas, gusar dan juga mudah kepikiran. Terkadang walau dia berusaha untuk mengendalikan pikirannya, tapi itu selalu sulit ia lakukan.
Namun itu tadi, Nayla tidak tau harus bagaimana lagi cara menghadapi perasaannya saat ini. Yang ia inginkan sekarang adalah Reynand datang untuk menjemputnya saat ini juga.
~
Diruanga studio itu, tempat mereka melaksanakan syuting. Mendadak perasaan Reynand tidak enak. Ia mengenggam ponselnya erat dengan perasaan khawatir. Lampu-lampu kilat pemotretan rupanya tidak mengalihkan perhatiannya. Jantungnya pun berdegab-degub tak menentu.
Mendadak dia menjadi bingung.
"Rey...."
"Reynand."
Suara Dion yang memanggilnya langsung menyadarkan.
"Lo gak apa-apa?" Tanya Dion khawatir.
Raut wajah cemas itu pun menyahut "Nayla minta jemput...."
"Sekarang?" Dion mengintip raut wajah Reynand penuh tanya.
Dan, Reynand pun mengangguk.
"Gue pergi ya, jemput dia dulu."
Dion mencoba mencegah "Tapi Rey, ini shoot yang terakhir."
"Nayla gak mau pulang kalau bukan gue yang jemput." Ucapnya lalu mulai melangkah meninggalkan studio.
Dion pun mengikuti langkah Reynand "Ini bentar lagi juga selesai, Rey. Sopir yang biasa nganterin Nayla?"
"Kan gue udah bilang, Nayla gak mau pulang kalau bukan gue yang jemput." Ujarnya sembari masih mencoba menghubungi Nayla kembali.
__ADS_1
"Ini bukan gara-gara masalah semalam, kan?" Dion menduga.
Reynand menghentikan langkah sejenak, ia memejamkan mata. Reynand tidak terlalu yakin, namun sepertinya benar, ia tidak perlu mencari tahu lagi. Salah satu permasalahannya pasti itu.
Padahal semalam ia sudah meminta Nayla untuk tidak gampang percaya , tapi mau bagaimana lagi mengingat sikap Nayla selama ini yang gampang sekali terbawa perasaan Reynand jadi tidak tenang.
"Mau kemana lo?" Seorang kru freelance yang bertugas sebagai potografer itu pun mendekat.
"Gue ada urusan." Sahut Reynand cepat.
Lalu sang potografer yang sudah kelihatan lelah itu pun kembali berucap "Rey, lo itu brand ambassador-nya. Aduh, jangan bikin ulah deh."
"Yon...." Reynand menatap Dion dengan sorot mata minta tolong.
Lalu Dion menoleh bingung "Apaan?" Rupanya sang sahabat tidak mengerti.
Dan, sampai akhirnya bos produksi ikut menghampiri "Rey cepetan bentar lagi pengambilan gambar yang terakhir nih, ganti kostum gih." Ujar laki-laki berusia matang itu.
Reynand benar-benar bingung. Disatu sisi dia merasa cemas disisi lain pekerjaannya ini tidak mungkin ia tinggalkan.
Sesaat orang-orang lengah. Ia pun mulai melangkah menuju pintu keluar.
Kembali ia menghubungi nomor Nayla, nyambung tapi tidak diangkat. Ia pun dengan cepat buru-buru keluar dari gedung itu.
"Rey...." Dion berusaha mengejar.
"Sori gue harus pergi." Reynand terus melangkah cepat sedikit berlari, sementara Dion mengikuti dibelakang.
Hingga akhirnya beberapa saat kemudian mereka pun sampai ditempat mobil yang terparkir.
Dion berhasil menahan sisi mobil Reynand yang terbuka "Rey...." Sang manager sudah terlihat frustasi. Karena ia yakin dia akan dapat masalah setelah ini.
Reynand menatap Dion dengan rasa bersalah "Sori, yon...." Lalu menutup pintu dan bergegas menghidupkan mesin mobil kemudian pergi secepat mungkin.
Akhirnya, Reynand pun melaju membelah ibu kota dikeramai jalanan dan itu tepat disaat jam pulang kerja. Macet, sesak, berisik dan berhimpitan.
Lalu diantara keadaan terjebak macet itu dia kembali mencoba untuk menghubungi sang istri berkali-kali. Lagi-lagi tersambung tapi tidak dijawab. Pesan yang ia kirim pun tidak dibalas. Reynand benar-benar was-was. Nayla kalau lagi ngambek bisa separah apa, sih?
Sial!!
Kesal,
Dia benar-benar terkurung, jalanan macet total. Ia lirik jam ditangannya, pukul lima sore dan langit pun sudah berubah.
Kapan kemacetan ini berakhir?
Ya, tuhan. Ia benar-benar cemas saat ini.
*
*
*
*
Hai....
__ADS_1
Happy Reading!
Like, vote, komen buat yang suka aja....