Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Apa Kamu Bahagia?


__ADS_3

****


Sinar matahari yang masuk melewati celah-celah gorden yang tidak tertutup rapat mengusik tidur Reynand. Perlahan tangannya bergerak menutupi matanya yang silau akan cahaya itu.


Sembari mengumpulkan kesadarannya ia dapat merasakan tangan kirinya terasa berat. Sosok yang masih terpejam pulas itu masih menjadikan lengannya bantalan sedari semalam.


Reynand tersenyum, ia pandangi wajah tenang itu dengan seksama. Nafasnya terdengar sangat teratur.


Menyibakkan anak rambut yang menganggu itu perlahan untuk melihat wajah teduh itu lebih jelas. Hingga Reynand dapat melihat kelopak mata Nayla perlahan mulai terbuka.


Perempuan itu mengerjap beberapa saat, berusaha mencoba menyempurnakan pengelihatannya. Samar-samar ia melihat senyum indah yang mengembang menyambut paginya.


Nayla tersipu, astaga dia masih malu. Tolong jangan anggap dia bisa biasa-biasa saja setelah apa yang mereka lakukan semalam.


"Pagi...." Reynand mengawali dialog pagi mereka.


"Em...." Jawabnya pada suara khas bangun tidur itu.


Reynand tahu Nayla tetaplah Nayla. Sikap pemalunya yang dominan. Memang siapa sih yang tidak gemas. Sikap Nayla seperti yang berhasil membuatnya semakin jatuh hati.


Namun, beberapa saat kemudian Nayla mengangkat kepalanya.


"Semalam pergi kemana?"


"Cuma cari angin."


"Pasti gara-gara omongan Mama soal.... Mami semalam, iya kan?" Tanya Nayla ragu-ragu.


Lalu gadis itu kembali merasa bersalah. "Maaf, gara-gara itu...."


"Mama benar, aku mungkin nggak sadar kalau sudah membuat kamu dan Mami kamu sakit hati."


Dan, Nayla menggeleng pelan. Namun ia menundukkan wajahnya enggan bersitatap dengan Reynand karena sebenarnya memang kenyataannya seperti itu. Kenyataannya Mami memang sakit hati oleh suaminya ini.


Reynand tersenyum tipis, ekspresi wajah Nayla tidak bisa menangkalnya. Biar bagaimana pun Nayla menyembunyikannya. Ia tahu kalau apa yang ia lontarkan tadi memang benar. Tanpa sadar dia memang telah membuat Nayla dan Maminya tersakiti.


Memeluk tubuh yang masih polos itu dengan erat. Dan, kulit mereka kembali bersentuhan. Reynand dapat merasakan sengatan itu semakin menjalar ditubuhnya.


Namun, sesuatu yang tak terduga tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Tanpa ragu ia pun melontarkan apa yang ada dikepalanya saat ini.


"Sayang...."


"Apa?" Nayla rupanya tak kalah berdesir dari Reynand. Ia juga merasakan itu. Namun sebisa mungkin ia mencoba untuk bersikap normal.


Reynand meneguk ludahnya sesaat. "Nayla, apa pernikahan ini membuat kamu merasa terbebani? Maksudnya aku sangat sadar kita berdua sama-sama masih muda dan lebih-lebih kamu juga masih, sekolah." Ya, Reynand memang harus mengatakan semua kenyataan itu.


Nayla termangu beberapa saat. Menatap sorot mata itu ia kembali menggeleng pelan. Mendengar Reynand menanyakan itu secara tiba-tiba. Wajahnya tiba-tiba berubah sendu.


Kenapa harus ditanya? Maksudnya kenapa Reynand harus membahas semua ini disaat dia mulai menerimanya.


Menyadari perubahan raut wajah itu ragu-ragu Reynand berucap kembali. "Aku cuma nggak mau kamu menyesal...."


"Nggak...." Potong Nayla pelan. Maksudnya Nayla tidak menyesal. Apa yang harus disesali? Semuanya sudah terjadi. Lagi pula Nayla sudah terlanjur teramat menyayangi sosok ini. Ia benar-benar tidak sanggup memikirkan jika Reynand hilang dari sisinya.

__ADS_1


Termangu sesaat, maka Reynand mulai melanjutkan ucapannya.


"Apalagi saat kita membahas tentang perkuliahan. Kamu terlihat senang saat itu. Aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan saat memulai pernikahan ini." lanjutnya diiringi dengan hembusan nafas yang menerpa puncak kepala Nayla.


"Nay...." Lagi-lagi Reynand menghembuskan nafas. Seolah-olah kegundahan itu terus datang dalam hatinya.


Hari terus berganti rasa ingin terus memiliki, menyayangi dan juga segala rasa itu terus tumbuh. Dan, Reynand hanya tidak ingin Nayla menjadi hancur nantinya.


"Aku takut kalau pernikahan ini ternyata telah membuat kamu mengubur harapan dan masa depan kamu."


Satu persatu pernyataan Reynand tiba-tiba membuat Nayla terenyuh. Setiap kata dari kalimat itu telah berhasil membuat hatinya tersentuh.


Nayla tidak menyangka kalau Reynand akan berpikir sampai kesana. Ia tidak menduga kalau Reynand akan memikirkan dirinya sampai sejauh ini.


"Nay, apa kamu bahagia?"


Pertanyaan Reynand tersebut mampu membuat mata Nayla berkaca-kaca dan hatinya menjadi sesak.


"Apa kamu bahagia saat ini...." Reynand melenguh dan terpejam, ia dapat merasakan tangan Nayla mulai terangkat menyusuri dadanya hingga menuju leher.


"Sayang.... panggil aku sayang untuk seterusnya."


Nayla membalas permintaan itu dengan binar yang penuh dengan perasaan. "Sayang...." ucapnya pelan.


Reynand lalu tersenyum.


"Lagi dong...."


Nayla kemudian menuruti permintaan itu lagi. "Sayang...."


"Udah ah." Ucap Nayla malu sendiri.


Lalu Reynand terkekeh mendengar itu.


Mungkin Nayla tidak terlalu pintar untuk membalas setiap curahan hati Reynand. Ia bukanlah sesorang yang pandai merangkai kata untuk mengungkapkan setiap apa yang ia rasa.


Namun perilaku itu Reynand dapat merasakannya. Seketika ia sudah berbalik dan Nayla berada diatas tubuhnya sementara ia ada dibawah. Sikap Nayla memang tidak pernah Reynand duga. Ia menerima pelukan erat yang melingkar dilehernya itu.


Dan itu mambuat membuat sesuatu itu semakin menegang.


"Nay...."


"Kamu...." Reynand tersengal.


Maka dengan segera ia balik tubuh itu hingga berada dibawahnya.


Tiba-tiba mata terpejam Reynand seperti menahan sesuatu. "Aku tadi ngajak kamu ngobrol...." suaranya tertahan.


"Terus?" Tanya gadis itu santai.


"Seharusnya kamu jawab.... Tapi kamu malah...." Ah, kurang ajar. Reynand benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Padahal ia sendiri yang bereaksi sedari tadi tapi malah mencoba menyalahkan sang istri.


Lalu tersenyum. "Apa sih, jawab yang mana?" Nayla sepertinya senang melihat gurat kesakitan itu.

__ADS_1


"Kamu.... dari semalam sengaja ya, Mancing-mancing." Reynand mengigit bibir kuat-kuat.


Sengaja?! Kok Nayla mulai kesal ya dituduh begitu.


Ia pun merengut. "Ya, udah kalau gitu aku mau mandi aja sekarang." Ucapnya sengaja.


Nayla segera meraih selimut lainnya yang terlipat rapi disisi ranjang. Dengan cepat ia lilitkan kain tipis itu untuk menutup tubuh polosnya.


Dan, saat gadis itu mulai beranjak hendak turun dari ranjang. Dengan cepat Reynand menahan pergelangannya.


"Apaan sih?" Tanya Nayla pura-pura tidak mengerti.


"Kamu tu tega ya, kebiasaan tau nggak. Emang kamu nggak ngerasain ya...." Sial!


"Kok aku terus yang disalahin, salah ya kalau tadi aku peluk. Padahal kan, yang selalu nggak sabaran itu siapa coba?" Sahutnya kesal. Lalu hendak beranjak lagi.


"Yaaang.... ih." Dan, Reynand semakin tidak rela untuk ditinggal. Ditinggal saat lagi sakit-sakitnya.


Apaan sih? Nayla tiba-tiba geli mendengarkan rengekan itu.


"Aku, mau mandi. Nanti kalau aku masih disini kamu salahin lagi." Sahutnya cemberut.


Maka laki-laki yang sedang dirundung sebuah keinginan itu mencoba menahan kembali. "Em.... bukan gitu. Nanti aja mandinya, aku masih mager." Reynand menepuk-nepuk samping tempat tidurnya.


"Yang mau mandi itu kan, aku. Bukan kamu."


"Iya, maksud aku, kamu nanti dulu mandinya."


"Nggak ah, kamu tuh suka nyalah-nyalahin kalau misalnya tiba-tiba....." Sudahlah Nayla malas sendiri menyebutnya. Dan, ia pun masih cemberut.


"Janji nggak lagi Nay, tadi aku cuma salah ngomong."


Dan dia pun mencibir. Salah ngomong katanya? Cih, mengelak terus.


Alasan. Reynand itu memang pandai membuat alasan.


"Nggak, aku nggak nyalahin kamu lagi deh." Lalu Reynand menarik tangan mulus yang sedang bersidekap itu. Hingga selimut yang menutupi bagian tertutup itu pun turun dan nampaklah sesuatu yang membuatnya semakin tidak bisa menahan diri.


Nayla terkesiap, kini ia sudah kembali pada dekapan itu.


"Yang...." Dan, Reynand mulai membenamkan wajahnya dileher mulus itu. Sesekali ia mengecupnya lembut.


Dan, Nayla menyahut. "Em...." Uh, ia merasakan geli dilehernya. Dan rangsangan itu pun mulai menjalar.


Saat mata mereka bertemu, Nayla rupanya dapat membaca guratan itu. Tuh, kan.


Memang dasar! Dia-nya yang mau tapi selalu dirinya yang disalahkan.


*


*


*

__ADS_1


*


Happy Reading.


__ADS_2