Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Aneh!


__ADS_3

****


Pagi harinya saat ia tengah bersiap-siap untuk berangkat. Akan tetapi Nayla tidak begitu yakin dengan apa yang ia rasakan sekarang. Kepalanya kembali terasa pusing dan ia juga tiba-tiba merasa mual. Dirinya menerka apa mungkin ini terjadi karena dia belum makan dari semalam.


Semalam rencana dan keinginan makan soto yang sangat ia inginkan gagal karena dirinya tiba-tiba bertemu dengan perempuan tidak tahu malu itu. Perempuan berbisa yang sangat tidak tahu diri.


Hah, kalau dipikir-pikir Airin itu benar-benar sangat mengesalkan. Wanita bedebah! Sialan! Bisa-bisanya wanita itu semalam membanggakan tentang hubungan khayalannya dengan suaminya.


Pasangan fenomenal, pasangan cinlok....


Cih, apaan? Kepedean!


Lalu mengenai dugaannya tentang akan datang bulan kemarin, sepertinya itu memang benar, tadi saat mandi ia melihat bercak darah ketika buang air kecil walaupun hanya sedikit.


Tersenyum, Nayla meletakkan kembali bungkus pembalutnya kedalam lemari. Ia kemudian melanjutkan memakai pakaiannya satu persatu. Merapikan penampilannya dengan sebaik mungkin sembari berdiri didepan cermin. Nayla sangat memperhatikan penampilannya dari ujung rambut sampai kaki. Lebih-lebih sekarang ia sudah bersuami, jadi hari lebih sering merawat diri dong. Biar suaminya itu makin hari makin kesemsem menempel kuat bagaikan lem tikus. Eh, memang suaminya itu tikus.


Terakhir ia harus membuat dirinya sewangi mungkin. Namun tiba-tiba saat ia akan menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya ia kembali merasakan mual. Sembari menutup hidung, cepat-cepat ia jauhkan parfum favoritnya itu jauh-jauh.


Rasa mual dan pusing itu bercampur menjadi satu. Nayla benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya.


"Kamu kenapa?" Begitulah Reynand menghampiri saat ia baru dari masuk dari luar kamar.


Tidak menggubris dengan masih menutup hidungnya Nayla bergegas membuang parfum tersebut ketempat sampah yang berada disudut kamar.


Reynand menatap benda yang terbuang itu dengan heran. "Nay, kenapa sih? Kok kamu buang, itu kan masih banyak isinya."


Menggeleng saat Reynand hendak memungutnya kembali sekalian melepas tangannya yang menutup hidung. "Aku nggak suka aromanya." Mengibas-ngibas tangannya didepan hidung.


Tidak jadi memungut benda yang sudah teronggok didalam sana Reynand menatap Nayla bingung. "Bukannya tiap hari kamu pakai parfum itu ya?" tanyanya menelisik.


Menggeleng tidak mengerti. "Parfumnya tiba-tiba bikin mual... hwek." Rasanya Nayla ingin memuntahkan isi dalam perutnya.


Ya, tuhan.... Nayla mengelus-elus perutnya yang rata. Ini dia kenapa sebenarnya? Kenapa sedari kemarin ada saja rasa tidak enak dari tubuhnya?


Mata tajam itu lalu membelalak khawatir. Menghampiri Nayla lalu ikut mengelus perut itu. "Nay, kamu kok tiba-tiba jadi begini?" Ya, selama ini mana pernah Reynand melihat Nayla seperti ini. Tidak suka aroma parfum? Itu parfum kesukaannya loh padahal. Parfum yang Reynand tahu sejak mereka menikah Nayla selalu memakainya.


Lagi-lagi Nayla menggeleng tidak mengerti. "Nggak tau, mungkin gara-gara belum makan tadi malam. Kayaknya aku kena maag." Terkanya pada keadaan sendiri. Ia menduga begitu karena dulu-dulu dia sering merasa mual saat maag menyerang akibat sering terlambat makan. Terlambat makan karena Mami yang biasanya selalu menyiapkan makanan menjadi sibuk bekerja sejak papinya meninggal. Jadilah sejak saat itu Nayla nekat belajar memasak sendiri untuk ia dan juga Romeo.


Reynand pun semakin menampakkan raut khawatir yang berlebihan mendengar keluhan istrinya. "Sakit Maag? Ya, udah kita kebawah, terus kamu langsung sarapan. Jangan dibiarin lama. Nanti keadaan kamu malah makin parah lagi. Sebentar lagi kan kamu ujian, jangan sampai kamu nggak bisa ikut gara-gara sakit."

__ADS_1


Nayla mengangguk sembari masih merasakan rasa mual dan pusing dikepalanya. Rasa mual yang dia pikir diakibatkan oleh parfum miliknya tadi. Entahlah indera penciumannya juga jadi lebih sensitif akhir-akhir ini.


Berada dimeja makan beberapa saat kemudian. Nayla kembali merasakan rasa mual yang tak tertahankan oleh aroma mengepul nasi goreng yang ada dihadapannya.


Tak lama Mama Adel meletakkan sepiring telur mata sapi yang baru selesai di goreng keatas meja. "Ayo makan Nay, Mama udah masakin nasi goreng seafood kesukaan kamu."


"Iya Ma." Tersenyum.


Merasa tidak enak dengan Mama Adel, perlahan Nayla pun menyendok nasi goreng itu. Lagi-lagi dia merasa mual saat aroma itu kembali menusuknya dan rasa itu terus berusaha dia tahan.


"Mau disuapin?" Tanya Reynand yang memang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik ragu Nayla.


Dengan cepat Nayla menggeleng. "Nggak usah aku makan sendiri."


Padahal dimeja makan itu cuma ada mereka. Mama Adel masih sibuk didapur, sementara kakek tadi pagi sudah buru-buru mengejar keberangkatan keluar negeri untuk urusan bisnisnya. Dia hanya berusaha untuk tahu diri saja sebenarnya, tahu diri untuk tidak mengumbar keromantisan sementara beberapa orang tengah sibuk didapur.


Ya tuhan, Nayla benar-benar tidak tahan dengan aromanya. Aroma udang dan cumi-cumi yang tercampur dengan nasi goreng itu benar-benar menusuk dihidung dan membuat rasa mual itu terus bergejolak.


"Nay...."


Tersadar, Nayla lalu menoleh.


"Aku suapin ya." Dengan cepat Reynand meraih piring yang sedang Nayla pegang. Menyendok nasi goreng tersebut lalu meletakkan telur ceplok diatasnya.


Menyendok nasi dipiring lalu menyodorkannya dimulut sang istri. "Aa..."


Nayla kembali menahan aroma itu sehingga membuat Reynand mengernyit bingung. "Aku nggak mau makan udangnya."


Karena memang sedang terburu-buru Reynand lalu menyingkirkan udang tersebut.


"Cumi-cuminya juga nggak mau."


Lah, Reynand bertambah bingung. "Tumben, biasanya kamu suka makan makanan laut begini." Menyingkiran potongan cumi tersebut kesisi piring.


Tidak ingin menjawab, Nayla langsung menerima suapan yang disodorkan Reynand. Maka dia pun mulai mengunyah makanan itu dengan hati-hati dan juga pelan.


Kembali menutup hidung saat Reynand menyodorkan potongan telur.


"Aku nggak mau kuning telurnya." Tangannya berusaha menahan sendok tersebut.

__ADS_1


Ha? Serius? Ini Nayla kenapa sih? Ia menolak semua makanan kesukaannya. Janggal, aneh, tidak mengerti, semuanya bercampur menjadi satu. Sejak tadi pagi Nayla selalu bersikap aneh.


Reynand lalu mengintip wajah yang tengah mengunyah itu sejenak. Apa ada yang salah? Nayla jadi begini bukan gara-gara dia dijambak oleh Airin tadi malam, kan?


"Sayang...."


"Em...." Nayla mengangkat kepalanya menatap Reynand.


"Kamu, hari ini kok aneh, ya?" Ucap Reynand hati-hati.


Nayla langsung melotot. "Aneh gimana?!"


Reynand tersentak oleh nada bicara yang langsung meninggi itu. Duh, telah dia salah bicara ya?


"Ih, aneh gimananya." Wajah yang masih mengunyah sedikit makanan itu mendadak melow.


Reynand gelagapan, mengerjapkan mata. "Enggak, maksudnya, tumben kamu tiba-tiba nolak makan seafood. Biasanya kan, kamu suka banget."


"Nggak tau." Sambarnya Nayla cepat-cepat. Dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba tidak suka semua makanan itu, bahkan mencium aromanya pun Nayla merasa mual.


Takut Nayla ngambek, maka Reynand tidak mau melanjutkan pembahasan yang sedang berlangsung. " Ya udah.... kamu lanjutin makannya." Lalu tersenyum lega karena mulut manis itu mau menerima suapannya.


Reynand masih memperhatikan Nayla dengan seksama. Kalau dipikir-pikir akhir-akhir ini Nayla memang mendadak jadi aneh. Istrinya itu jadi lebih cerewet, gampang mengeluh kelelahan, dan juga sering bolak balik kamar mandi untuk buang air kecil. Kemudian, dia juga melihat beberapa keanehan pagi ini.


Reynand benar-benar takut kalau istrinya ada masalah. Sepertinya dia mulai harus memperhatikan istrinya lebih sering lagi. Nayla sebentar lagi ujian dan dia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Reynand mengigit bibir kuat-kuat. Ada apa sih sebenarnya dengan Nayla?


Apa dia harus memeriksakan Nayla ke dokter?


*


*


*


*


Terimakasih untuk yang selalu mendukung dan menunggu cerita ini.


Happy Reading!

__ADS_1


__ADS_2