Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
S2 - Jenis Kelamin Bayi


__ADS_3

****


Mobil melaju menuju perjalanan ke rumah sakit. Nayla tak henti-hentinya tersenyum-senyum bahagia sembari mengelus perutnya yang buncit dengan lembut. Agaknya anak yang ada didalam kandungannya juga merasa senang karena akhirnya sang ayah mau menemani ibunya untuk melakukan pemeriksaan karena sedari tadi ia merasa gerakan-gerakan malaikat mungilnya sangat terasa dari dalam perut.


Calon Ayah muda itu juga sesekali tak henti-hentinya memandang sang istri yang terus terlihat berbunga-bunga oleh ulah tak terduganya tadi. Entahlah apa yang dipikirkan Reynand sehingga dia berniat mengerjai Nayla seperti tadi pagi. Cukup sekali saja, karena sebenarnya ia sungguh tidak tega melakukan itu terhadap wanita yang dicintainya.


Manja! Benar-benar kata yang tidak bisa ia lontarkan sebenarnya. Sudah seharusnya kan dia melakukan itu, ia sadar terkadang ia juga sering minta dimanjakan disaat-saat tertentu oleh Nayla.


Beberapa saat kemudian, Reynand langsung menggandeng tangan Nayla saat mereka mulai memasuki gedung rumah sakit. Tak puas hanya menggandeng laki-laki itu lantas merah pinggang istrinya untuk mengapitnya selama mereka berjalan.


Ia tahu cara pandang orang-orang saat melihatnya, terserahlah jika mereka nanti akan mengatakannya budak cinta. Biar saja dia merasa kalau dunia milik mereka berdua saat ini.


"Mereka liatin kita terus...." Bisik Nayla pada deretan perawat rumah sakit yang entah kenapa tiba-tiba berjejer disisi lorong.


"Biarin." Balas Reynand.


"Kita berlebihan gak sih." Nayla menatap telapak tangan Reynand yang menempel dipinggangnya.


"Enggak...." Reynand kemudian tersenyum. Laki-laki itu tetap tidak perduli pada pandangan orang lain. "Aku kan ngegandeng kamu. Kecuali aku ngegandeng perawat yang itu." tunjuknya pada sosok perawat yang tak berkedip menatap mereka, terang saja di notice oleh seorang Reynand perawat tersebut lantas mendadak serasa mimisan.


"Ih, gak usah ditunjuk juga...." ujar Nayla gemas.


Reynand tersenyum. Bumilnya cemburu ternyata.


Pada kenyataannya orang-orang dirumah sakit tersebut hanya merasa tersanjung oleh sosok kedua orang yang mengalihkan perhatian itu.


Mereka mungkin tidak menyangka seorang Reynand yang dianggap berwibawa saat terlihat dilayar kaca atau pun dihadapan para pejabat dan rekan-rekan bisnis beserta bawahannya selepas mewarisi jabatan sang kakek, rupanya adalah sosok yang terlihat sederhana serta juga seorang suami yang tidak malu memperlihatkan pada semua orang bahwa ia sangat mencintai istrinya.


°•°•


°•°•

__ADS_1


Reynand tengah menatap serius layar monitor yang terpampang dihadapannya. Sementara itu Beta tengah mengoleskan gel pelumas khusus dikulit perut Nayla yang tengah berbaring.


Sementara itu Nayla nampak gugup dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi itu terus ia rasakan.


"Sebentar ya bumil...." ujar Beta seraya tersenyum disela-sela proses tersebut.


"Gak sabar mbak mau lihat Reyana." sahut Reynand antusias.


Beta menatap penuh tanya. "Reyana? Nama anak kalian? Udah disiapin ya? Namanya lucu." wanita itu terus tersenyum.


"Tau nih mbak, jenis kelaminnya aja belum kelihatan. Tapi dedek-nya terus-terusan dipanggil Reyana. Kalau nanti anak kita laki-laki gimana? Dia bisa tersinggung loh kamu panggil Reyana." Nayla bersungut.


"Kalau nanti anak kita laki-laki, namanya aku ganti dong Nay." sahut Reynand pelan dengan mata fokus melihat kelayar monitor. "Mana mbak gambarnya kok belum ada?" Reynand tidak sabar.


"Sebentar. Sabar ya...." Dokter muda itu terus tersenyum ramah.


Beberapa saat kemudian Beta mulai menempelkan transduser kebagian kulit perut Nayla yang sudah diolesi pelumas berupa gel sebelumnya. Ia pun mulai menggerakkannya secara perlahan. Maka mulai nampak gambar yang sedari tadi tidak sabar mereka lihat, khususnya kedua calon orang tua itu, mereka tampak sangat antusias dan bahagia.


"Ih, kakinya kecil, lucu...." ujar Nayla refleks. "Kok nggak gerak mbak, padahal akhir-akhir ini aku ngerasa dia lebih aktif didalam perut?" tanya perempuan yang sedang diselimuti haru itu penasaran.


"Mungkin dia malu kita lihatin." Sahut Reynand. "Dia mirip kamu deh Nay kayaknya, pemalu." Tambahnya lagi.


Beta tersenyum sesaat memperhatikan kedua pasutri itu. Lucu! " Sebenarnya Bayi dapat aktif bergerak itu bisa tergantung dari kondisi lingkungan di sekitarnya saat ini." Beta mulai menjelaskan. "Saat ini kondisi bayi kalian sedang tenang. Dan disaat suasana tengah gaduh, seperti saat Nayla sedang makan, janin bisa terbangun akibat suara pergerakan usus ketika ada makanan yang masuk ke dalam usus ibu. Jadi intinya bayi kalian bisa bergerak disaat-saat tertentu, tidak tergantung dengan kondisi yang mbak jelaskan tadi."


Keduanya kemudian mangut paham oleh penjelasan itu. Dan, mereka pun kembali menatap layar monitor.


"Oh, iya mbak, lihat jenis kelaminnya gimana?" Tanya Reynand heboh.


Nayla yang tak kalah penasaran ikut menatap Beta penuh tanya.


Beta tahu kedua pasutri ini terlihat begitu penasaran. Karena merasa ada sesuatu yang perlu dijelaskan maka dokter cantik itu mendekati layar monitor. "Dilihat dari posisi bayi kalian saat ini...." ia kemudian menatap Reynand dan Nayla bergantian. "Maaf ya, sepertinya belum memungkinkan untuk melihat jenis kelaminnya." ujar Beta merasa tidak enak.

__ADS_1


"Kenapa? Kok bisa mbak?" Tanya Reynand kecewa.


Beta mulai menjelaskan kembali. "Posisi kedua kaki dedek bayinya menyilang di area kelamin. Jadi jenis kelaminnya belum bisa diketahui saat ini." Beta menunjuk gambar tersebut dimana posisi kedua kaki bayi tersebut memang menyilang dengan kedua tangan yang terlipat didepan.


Reynand mendesah. "Yah si adek pakai ditutupin segala." Celetuk Reynand. "Anak kita malu Nay sama orang tuanya sendiri...."


"Abang itu ada-ada aja deh...." Nayla terkekeh menatap suaminya. "Sabar nanti kita juga bakal tahu jenis kelaminnya dia. Kamu udah siapin kan, nama satu lagi, siapa tahu nanti anak kita laki-laki." Ia menatap layar monitor kembali seolah tidak puas.


Reynand mengangguk pelan. "Tapi nama Reyana bagus Nay." laki-laki itu bersikeras. "Kamu gak suka dengan nama Reyana?"


"Bukan gak suka, nama itu cocoknya untuk anak perempuan, abang." ujar Nayla penuh pengertian sembari matanya masih menatap gambar indah didepannya. Belahan jiwanya, benar-benar membuat hatinya tersentuh. Benar-benar sangat hormonal, hanya melihat gambarnya saja Nayla merasa sebahagia ini dan sangat-sangat terharu. Kepala, kaki, mata, hidung semuanya. Semuanya benar-benar mungil ia lihat, rasanya Nayla ingin cepat-cepat memeluknya dengan erat.


"Ya udah, nanti kalau dedek yang ini lahirnya laki-laki. Kita langsung bikin lagi ya yang perempuan, biar bisa dikasih nama Reyana, gimana?" Perkataan kali ini mampu mengalihkan padangan Nayla yang tengah fokus memperhatikan bayi mungil mereka dari layar monitor.


Ia memandang suaminya itu tak percaya. Ya tuhan, yang ini saja belum lahir sudah berencana untuk memiliki anak lagi. Nayla geleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan pikiran suaminya. Semoga saja Beta dan dua bidan disana tidak mendengar apa yang barusan Reynand katakan.


Reynand paham raut wajah itu "Becanda Nay...." Bisik Reynand lalu terkekeh pelan.


*


*


*


*


Buat yang masih setia nungguin up maaf ya, aku hari ini up-nya telat. Satu chapter dulu woke😘


Buat kalian yang semua aku mau promosi novel terbaru aku "Alfiya". Mampir ya, siapa tahu tetarik, suka dan di favoritin ❤️ deh.


Untuk novel yang ini, aku masih niat untuk terusin agak panjang karena masih banyak stok buat pasangan ini.

__ADS_1


Happy Reading!


__ADS_2