
****
Katakanlah Nayla memang tidak benar-benar mengerti apa maksud ucapan Reynand tadi. Dia sangat bingung harus bagaimana menyikapi sebenarnya.
Ia memejamkan mata, bagaimana bisa dia mengerti.
Tidak, mungkin bukan seperti itu. Hanya saja dia tidak siap menghadapi kegilaan Reynand yang mendadak seperti tadi.
"Nay, kamu gak apa-apa kan?"
Suara Mama Adel tiba-tiba menyentak lamunannya.
"Iya Ma." Sedikit gelagapan lalu melanjutkan makannya kembali.
"Beneran gak apa-apa?" Mama nelirik piring yang sedari tadi hanya digetok-getok pakai ujung sendok itu dengan makanan yang belum berkurang sedikit pun.
Lagi-lagi Nayla mengangguk. Lalu mulai menyendok makanan pelan.
"Kamu, baru selesai mandi."
Pertanyaan Mama Adel yang langung membuat Nayla menoleh kebelakang. Dilihatnya Reynand yang baru saja menurunin tangga dengan keadaan seperti baru selesai mandi. Sangat terlihat sekali dari rambutnya yang sangat basah.
Laki-laki itu tersenyum sumringlah lalu berjalan mendekat kearah mereka menuju meja makan.
Nayla, terpana. Reynand terlihat begitu segar dan mempesona. Mirip sekali dengan aktor siapa itu.... Eh, suaminya kan memang aktor.
Cup!
Nayla mengerjap saat kecupan mendadak itu mendarat dikeningnya.
Apa ini? Tidak biasanya Reynand menciumnya seperti ini, dimana saat itu ada Mama Adel dan juga kakek. Bukan apa-apa, perlakuan baru yang Reynand tunjukkan padanya, pasti akan membuat Nayla merasa aneh karena belum terbiasa. Makanya tadi pagi dia sangat terkejut saat mendengar permintaan yang menurutnya aneh dan nyeleneh dari suaminya itu.
Kemudian setelah memberikan kecupan yang berhasil membuat pipi sang istri merona merah, dengan santainya Reynand menarik kursi dan duduk disamping Nayla "Kok, belum dihabisin."
Oh, iya.
Lalu tersadar. Nayla pun kembali berbalik kemudian menatap sarapannya, jujur dia masih tidak percaya akan sikap Reynand barusan.
"Sini abang suapin biar cepet."
Suapin? Nayla melirik Mama Adel dan kakek. Bukannya tidak mau tapi, akan sangat memalukan jika mereka melihat ia makan disuapi. Dia kan bukan anak kecil. Bukan, dia takut Mama dan kakek akan geli melihatnya. Dunia ini kan, bukan milik mereka berdua yang mana mereka bebas melakukan apa pun dimana berada.
Nayla gelapan saat Reynand menarik piringnya
Saat suapan itu mampir didepan mulutnya, ia pun menatap Reynand dengan sorot mata tidak nyaman. Tidak nyaman karena takut nantinya akan jadi perhatian. Ya, memang akan jadi perhatian, sih.
Melihat sorot mata itu Reynand hanya menanggapi dengan senyuman.
"Nggak usah aku bisa makan sendiri...." Namun mendadak kata-kata tersebut tertelan saat Reynand menyendok makanan dan langsung menyuapkan ke mulutnya yang sedang terbuka.
Senyum jenaka Reynand pun kembali mengembang diwajah tampannya.
"Enak?"
Dan, Nayla masih terbengong.
Mulut yang masih menganga itu pun akhirnya mengatup, saat Reynand mendorong pelan dagunya keatas.
"Dikunyah dong sayang, terus ditelen, emang makanannya bisa melewati kerongkongan sendiri."
Eh,
Reynand ini kenapa sih? Sumpah ya, Nayla Merasa heran sendiri mendengar ucapan laki-laki itu barusan, tapi walaupun begitu perlahan ia mulai mengunyah makanannya tersebut dengan rasa penuh keheranan.
__ADS_1
"Kenapa ngelihatinnya gitu? Ganteng ya?"
Idih, astaga Reynand ini apa-apan sih. Tidak lihat dimeja makan itu ada siapa saja.
"Ini suami kamu sendiri, gak apa-apa puasin aja ngelihatinnya."
Ya tuhan,
"Gimana wangi gak sampohnya, tadi abang pakai lumayan banyak loh."
Nayla mengernyit. Terus apa hubungannya?
"Gara-gara kamu nih, abang jadi mandi pagi-pagi begini."
Nayla lantas melotot. Dia yang mandi kenapa dirinya yang disalahkan.
Lalu Nayla protes dengan mulut penuh itu "Kok gaea-gaea aku?"
"Telen dulu baru ngomong." kemudian membersihkan mulut Nayla yang sedikit berantakan karena makanan dengan pelan.
"Padahal itu tadi lagi turn on loh Nay. Sakit tau."
Turn on? Apanya?
Akhirnya setelah otaknya loading sesaat, Nayla pun paham maksudnya. Ia lalu menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Lalu Reynand kembali berucap santai "Nanti malam tanggung jawab ya."
Astaga! Ih,
Dan, greb!
Nayla langsung meremas paha Reynand dengan kuat, kesal. Benar-benar ya, memang dia tidak malu membahas hal tersebut disini. Walaupun Reynand berbisik pelan tapi tetap saja, bagaimana kalau perkataan itu didengar. Mereka tidak berdua loh di meja makan ini.
Bets! Nayla lantas menarik langsung tangannya, memukul disana pelan. Lalu ia tersipu malu.
"Kalau dia bangun lagi memang kamu mau tanggung jawab?"
Ha?
Semakin kesal, Nayla pun langsung berbalik arah.
"Kenapa Nay?" Mama menatap keduanya bingung.
Nayla langsung merubah raut wajahnya yang merengut itu. "Nggak apa-apa Ma."
"Ayo makan lagi?"
Menggelang atas suapan Reynand yang selanjutnya.
"Nay...." Mengintip wajah cemberut itu, lalu sadar itu akibat perbuatannya, Reynand kemudian mengelus pipi mulus pelan "Ngambek ya?"
Menurut anda?
"Kalian berdua kenapa?" Lagi-lagi Mama penasaran. Karena sedari tadi bisik-bisik menegangkan itu terdengar ditelinga walaupun Mama tidak tahu jelas mereka membicarakan apa.
"Gak usah pegan-pegang." Menepis tangan Reynand, tanpa mereka sadari mereka telah mengabaikan pertanyaan Mama.
"Tadi abang cuma bercanda...." Lalu menarik dagu itu menghadapnya.
"Ngselin...." Rengek Nayla pelan.
"Reynand...." Kali ini suara berat kakek yang menegur, dan lagi-lagi diabaikan.
__ADS_1
Sudah abaikan saja kakek dan Mama. Reynand pun mengintip wajah itu kembali "Bercanda oke, jangan ngambek."
Bodoh amat, Nayla tidak perduli. Dia tidak mau menatap wajah yang membuatnya kesal itu.
"Sayang...."
Ish, Nayla semakin memalingkan wajahnya. Tidak usah panggil-panggil sayang.
Dan, kakek menegur kembali "Reynand.. Nayla.." Lalu sedikit tersentak oleh pemandangan tidak terduga dihadapannya.
Cup! Cup!
Dua kecupan di kedua sisi pipi gadis merajuk itu.
Blush!
Lalu Reynand pun tersenyum kembali karena berhasil membuat gadisnya memerah.
"Jangan ngambek, ya." Menaik-turunkan alisnya.
"Aduh, Pa. Kita dicuekin." Mama Adel mengernyit geli melihat kelakuan putranya yang asal tidak tahu tempat. Memang didalam kamar masih belum puas apa.
Lalu kakek terkekeh "Baguslah...." geleng-geleng kepala. Baguslah, karena berarti sang cucu sudah menerima pernikahan ini dengan sepenuh hati. Ah, kakek pun jadi berbunga-bunga.
"Aku mau berangkat." Masih tidak mau menerima saat Reynand menyodorkan suapan itu.
Reynand menghela nafas, lalu.... " Ya udah kalau gak mau, biar abang yang habisin. Tuh, kurang tanggung jawab apa lagi abang sebagai suami."
Ih, sumpah ya.
Nayla mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Reynand ini kenapa sih? Dia benar-benar tidak habis pikir.
Lalu beberapa saat kemudian makanan dipiring itu habis dalam sekejap.
Glek! glek! Reynand pun dengan cepat menghabiskan segelas air untuk melancarkan laju makanan dikerongkongannya.
"Ayo berangkat." Lalu memapah tangan sang istri yang masih menatapnya melongo takjub.
"Reynand!"
Tanpa perduli panggilan sang kakek Reynand terus memapah Nayla keluar.
Lalu Mama yang memanggil "Rey, kakek mau bicara didengerin dong."
Akhirnya menghentikan langkah sejenak, Reynand pun menoleh "Nanti kek, mau nganterin istri tercinta dulu. Iya kan, sayang." Mengedipkan sebelah matanya yang kemudian ditanggapi dengan kerutan didahi oleh perempuan yang berstatus istrinya itu.
Nayla bukan tidak bersyukur diperlakukan seperti ini. Dalam hati sebenarnya dia suka. Walaupun Reynand terkadang menyebalkan, mengesalkan, mengagetkan dan juga seperti ini.
Sikap tidak terduganya itu terkadang yang membuat dia gemas sendiri. Asal jangan keseringan saja, takutnya dia nanti overdosis, kan tidak bagus.
*
*
*
*
Like, vote, komen!
Kemarin aku kambuh, jadi up-nya diundur. Karena jujur gak bagus up disaat imajinasi sedang melemah. Takut ceritanya malah ngalur-ngidul.
Happy Readingđź’‹
__ADS_1