Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Pijitin


__ADS_3

****


Saat itu setelah selesai makan malam. Kakek mengajak Reynand untuk berbicara diruang kerjanya. Reynand pun menuruti. Sepertinya ada hal penting yang ingin kakek bicarakan kepadanya.


“Kek.” Reynand masuk setelah dipersilahkan oleh kakeknya. Kemudian duduk berhadapan dengan kakeknya dimeja kerja.


“Jadi, tolong jelaskan Reynand.” Kakek mulai berbicara serius.


“Untuk sementara waktu aku ingin Nayla tinggal disini. Aku takut semakin sibuk dan nggak bisa ngejagain dia.”


“Kamu itu. Seharusnya dari awal menikah kalian berdua tinggak disini. Sekarang kamu tau kan bagaimana rasanya setelah sok-sokan ingin mengurusnya sendiri.”


Reynand terdiam sebentar. Ucapan kakek benar-benar tepat sasaran. Ya, dulu memang dia bersikeras untuk membawa Nayla keapartemen. Namun setelah banyak kejadian, apalagi disaat Nayla sakit dia benar-benar kewalahan.


“Iya aku tahu kek. Waktu itu aku terlalu menganggap remeh.”


Kakek menghela nafas panjang. Dia tau cucunya masih dimasa yang sok bisa segalanya. Ya seperti dirinya dulu dimasa muda.


“Jadi, kapan kamu akan menggantikan posisi kakek dan keluar dari pekerjaanmu saat ini?”


“Untuk itu saat ini aku belum bisa.”


Kakek terdiam, mau bagaimana lagi. Kalau dia larang nanti Reynand akan memberontak. Dia paham betul watak asli cucunya. Keras kepala sama seperti dirinya.


~


Selesai dari ruang kerja kakek Reynand berniat untuk kembali kekamar. Sepertinya dia merindukan seseorang. Namun saat dikamar yang dicari malah tidak ada batang hidungnya. Dia pun keluar kembali dan mencari diruang keluarga.


“Kenapa Reynand.” Mama Adel yang sedang bercengkama dengan Mami Miska menatapnya penuh tanya.


“Nggak apa-apa.” Segera berlalu. Dia tidak ingin mengatakan kalau dia sedang mencari Nayla. Bisa-bisa kedua ibu-ibu itu menggodanya karena kehilangan istri. Apalagi Mama Adel yang suka lepas control kalau berbicara.


Reynand pun memutuskan untuk keluar rumah karena sepertinya dia mendengar suara cekikian dari luar. Dia pun menuju taman. Dan benar saja disana ada Nayla dan Romeo yang tengah bercanda saling berebut omongan.


“Kak, kak, suami kakak tuh.” Romeo menepuk-nepuk bahu Nayla yang sedang tertawa. Nayla pun menoleh seketika.


Reynand tersenyum. Apa yang sedang dibicarakan oleh kakak beradik itu sampai-sampai tertawa cekikikan seperti itu.


“Lagi ngapain?” Reynand bergabung diantara mereka.


“Bang, bang Reynand. Abang bisa begini nggak?” Reynand menunjukkan kebolehannya melempar batu dari tempatnya berdiri samapai keujung kolam tanpa terjatuh diair.


“Yeay, yuhu hahaha.” Romeo kegirangan karena berhasil melempar batunya.


“Kalau kak Nayla payah. Tenaganya nggak kuat.” Tersenyum mengejek.


“Terus kamu bangga gitu?” mendelik Romeo.


“Iya dong. Itu tandanya aku hebat.” Menepuk dadanya bangga.


Reynand tertawa melihat kakak berdik itu. dia pun mengambil batu dan melemparkannya sangat jauh. Bahkan melebihi jarak Romeo.

__ADS_1


“Wih, bang Reynand hebat.” Romeo berbinar kagum.


Melihat hal tersebut nayla pun berniat hendak mencoba lagi melempar batu. Namun, sebelum melempar tangan Reynand sudah memegang tangannya.


“Sini biar abang bantu.” Memeposisikan diri dibelakang nayla. Pemandangan yang membuat Romeo greget dan salah tingkah.


“Kak aku masuk kedalam dulu ya.” Izin Romeo. Ya kali dia jadi racun nyamuk.


“Meo, tunggu nanti dulu.” Melepaskan diri dari pegangan Reynand.


“Biarin dia masuk. Kita berdua disini dulu.” Menahan Nayla yang hendak berlari. Setelah Romeo pergi dia pun menggunakan kesempatan itu. Perlahan dia memeluk pinggang Nayla dari belakang.


“Abang nanti ada yang lihat.” Mencoba melepaskan diri.


“Nggak ada siapa-siapa. Romeo juga sudah masuk kedalam.” Setelah itu meletakkan dagunya ditengkuk Nayla. Membuat gadis itu tiba-tiba terdiam dan bergidik.


Gadis itu segera menggoyangkan bahunya agar kepala Reynand menjauh.


“Jangan begini Abang.” Masih berusaha menjauhkan dagu Reynand yang masih kekeh terbenam ditengkuknya.


“Kenapa?” berbisik ditelinga Nayla membuat gadis itu semakin bergidik.


“Aku risih.”


“Risih?” mengangkat dagunya dari bahu Nayla.


“Iya!”


“Iya. Peluk aja nggak usah kayak tadi.”


Reynand akhirnya menurut. Dia pun melingkarkan tangannya diperut Nayla. Memeluk gadis itu dengan erat dari belakang. Mendingan daripada nggak sama sekali.


“Jangan pegang disitu.” Menepis tangan Reynand yang mulai naik keatas.


“Iya, iya nggak.” Reynand mengalah. Iya dia harus banyak mengalah. Daripada Nayla ngambek nantinya.


Akhirnya setelah perdebatan dengan Nayla tidak boleh pegang ini pegang itu, Reynand pun memutuskan untuk mengajak istrinya itu duduk dikursi taman. Dia membiarkan kepala Nayla terbaring dipangkuannya. Membelai-belai rambutnya tak lupa sesekali Nayla menepis tangannya yang mulai bergerak nakal melati Batasan versi Nayla.


“Abang sampai kapan kita tinggal dirumah kakek?” mendongakkan kepalanya menatap wajah Reynand yang juga sedang melihat kearahnya.


“Belum tahu sampai kapan. Mungkin agak lama.”


“Kenapa?”


“Untuk kedepannya abang mungkin akan lebih sibuk. Dan kamu harus ada yang menjaga jika abang pergi lebih lama.”


“Memang abang kemana?”


“Nggak kemana-mana.”


Nayla memanyunkan bibirnya. Tapi dia ingat sesuatu.

__ADS_1


“Em abang.”


“Iya.”


“Baju-baju aku, buku-buku sekolah kan masih diapartemen. Besok sekolah bagaimana?” Bertanya khawatir.


“Tadi abang sudah suruh orang untuk bawa barang-barang kamu kesini.”


Nayla mangut-mangut. Rupanya Reynand sudah memikirkan semuanya. Jadi dia tidak perlu khawatir sekarang.


“Mau kemana?”


“Mau kekamar, tidur. Besok kan sekolah.”


“Ya udah yuk.” Menarik tangan Nayla dan membawanya masuk kedalam.


Sesampainya didalam kamar mereka berdua pun diduk disisi ranjang. Saling bertatapan.


"Nayla kamu mau pijitin saya?"


Nayla membelalak. Pijitin?


Nayla pun beranjak dari duduknya dengan kebingungan. Jujur saja dia tidak tahu bagaimana caranya memijit.


"Apanya tang dipijit?" Tanyanya kaku.


Reynand tersenyum melihat raut wajah gadis itu. "Semuanya."


Ha? "Maksudnya?"


Reynand terkekeh. "Kamu kok polos banget sih Nay." cubitnya pada pipi mulus Nayla. Reynand jadi berpikir, bagaiman kalau mereka benar-benar berlaku layaknya suami istri.


"Kamu tau tentang malam pertama?" tanya Reynand lagi.


Mendengar soal malam pertama raut wajah lagi-lagi berubah memerah. "Tau, katanya malam pertama itu...." Nayla menggantung ucapannya.


"Apa?" Reynand menelisik.


Sakit! Nayla mengampit kedua belah pahanya ngeri sendiri.


Reynand tergelak saat itu juga melihat tingkah Nayla membuat gadis itu bertambah memerah seperti udang rebus yang siap dihidangkan dan diberi saus pedas. Ya tuhan, ternyata menanyai Nayla tentang ini benar-benar menggelitik dirinya.


*


*


*


*


Happy Reading!

__ADS_1


__ADS_2