
****
Nayla terbangun saat mereka tiba dirumah. Terakhir yang ia ingat tadi dia tertidur dipangkuan Reynand. Kenapa dia tidak dibangunkan sebelumnya?
Sudah lama dia tidak pulang kerumah ini. Entah kenapa dia jadi sedih. Seperti ada sesuatu yang terlepas dari hatinya. Ia kembali merasakan sesak. Tidak menyangka kalau dirinya benar-benar dipisah dengan Reynand.
"Ayo turun." Begitulah ucapan Mami saat itu.
"Romeo! Bantuin Mami bawa barang-barang kakak kamu." Teriak Mami pada putra bungsunya.
Sesaat kemudian sosok laki-laki remaja itu pun keluar dengan tatapan terkejut. Terkejut melihat sang kakak yang terlihat kusut tiba-tiba pulang kerumah.
"Kakak pulang sendiri? Bang Rey mana? Nggak ikut?" Begitulah pertanyaan polos yang keluar dari mulut Romeo.
Ditanya seperti itu Nayla tidak menjawab. Yang jelas dia tidak bisa menjelaskan apapun pada saat ini.
"Jangan banyak tanya. Kakak kamu itu masih capek. Bantuin Mami cepetan." Perintah Mami pada putranya.
Dengan masih terdapat banyak pertanyaan dikepalanya Romeo pun langsung bergegas menuruti Mami menurunkan barang-barang kakaknya.
Beberapa saat kemudian, dikamar inilah dulu Nayla sering berkutat dengan pikirannya. Kamar yang sudah ia tinggali selama beberapa tahun hidupnya dan kini dia kembali lagi kesini setelah ia tinggal sekian lama. Keadaan masih sama saat terakhir kali ia tinggalkan untuk pergi kerumah kakek pada hari itu. Hari sebelum pernikahannya dan Reynand.
Melow, iya. Nayla kembali terkenang akan rumah itu. Rumah dimana tempat ia tinggal beberapa bulan ini. Lagi-lagi hatinya sesak.
Ia menatap keluar jendela. Memandang langit malam dikejauhan sana. Waktu benar-benar cepat berlalu. Berlalu seiring dengan mengukir kisahnya yang tak terlupakan dirumah itu. Belum apa-apa Nayla sudah rindu sosoknya. Sosok yang kini selalu melekat dalam ingatannya.
"Sayang.... I love you."
"Peluk aku yan erat, aku kangen."
Bahkan suaranya pun masih terngiang-ngiang ditelinga. Untuk kali ini, kenapa Mami benar-benar kejam. Kenapa Mami membuat hidupnya terombang-ambing seperti ini? Setelah membuat dia menemukan seseorang yang menjadi keindahan dihidupnya lalu Mami dengan teganya memisahkan mereka dengan cara seperti ini.
Menangis lagi, iya akhir-akhir ini Nayla memang sangat gampang menangis.
~
Kamar apartemen itu dipenuh dengan tissue yang berserakan dilantai maupun diranjang. Sosoknya terlihat lelah karena terlalu lama menangis. Ia duduk diatas kasur dengan memeluk kaki yang menekuk.
Pandangan matanya yang nanar hanya tertuju pada kuku kakinya yang berwarna merah. Ia termenung sembari tangan satunya lagi menempelkan kain berisikan batu es dipipinya.
Hatinya begitu sakit menerima kenyataanya. Bahkan tamparan dipipinya itu tidak ada bandingannya dengan rasa sakit dipipinya saat ini.
Mengejar suami orang? Apanya, dia hanya mengejar orang yang dia cintai. Lalu dia salah?
Airin mengambil ponselnya. Ia pandangi video dan poto-poto yang ada disana. Lagi-lagi hatinya merasa sesak. Kenapa sosok itu sulit sekali ia gapai?
Dan, seiring dengan pikirannya yang masih berkelebat tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.
Airin beranjak untuk melihat siapa yang datang. Sesaat kemudian saat puntu terbuka keterkejutan tidak bisa ia elakkan ketika melihat sosok dihadapannya.
"Rey!"
Sosok dengan raut wajah serius itu perlahan mendekat. Segenap perasaan yang akan tercurah masih dia tahan saat melihat betapa buruknya kondisi gadis yang ada dihadapannya itu.
Menyadari arah pandang Reynand, Airin langsung memegangi pipinya yang lebam. "Oh, ini, tadi aku...."
"Tolong berhenti...." suara Reynand berucap datar.
"Aku nggak bis...."
__ADS_1
"Tolong berhenti Airin!!!!" Suara yang mendadak meninggi itu langsung menunjukkan amarah yang terpendam sedari tadi.
Airin terisak. "Rey...." ia sesenggukkan dengan suara yang semakin mengecil. "To-long jangan begini, kamu nya-kitin aku." ucapnya terputus-putus.
Lalu suara Reynand merendah. "Emang lo pikir, lo nggak nyakitin gue dengan tingkah lo selama ini."
"A-ku me-lakukan itu.." sesenggukan sejenak. "Ka-rena aku sa-yang ka-mu." Terisak "A-ku cin...."
Lalu ucapan gadis itu langsung disambar cepat. "Jangan sembarangan ngomong cinta didepan gue!!!!"
Deg! Airin kembali tersentak. Hatinya semakin patah.
"Kamu nggak ngerti Reynand!!!!" Akhirnya Airin berusaha teriak sekuat mungkin.
"Jangan paksa gue buat ngertiin elo! Gue mohon, gue udah muak!!!!"
"Rey!!!!"
"Kenapa lo tampar dia, ha?? Lo gila Airin!! Lo aneh!!"
"Aku kayak gini karena kamu."
"Berhenti bawa-bawa gue untuk kegilaan dalam hidup lo."
"Rey, tapi dulu kamu...."
"Jangan salah tanggap soal perilaku gue waktu itu. Gue ngelakuin hal itu karena gue cuma kasihan sama lo!" Reynand lalu bungkam. Nafasnya naik turun menggebu-gebu, bagaimana pun dia harus menyadarkan wanita yang ada dihadapannya ini. Sudah terlalu lama kesalahpahaman ini berlangsung.
"Masuk ke dalam kamar lo!!" Sentak Reynand cepat.
Airin mendadak gelagapan. "R-rey, kamu mau apa?" Takut, ia sangat takut melihat Reynand yang seperti itu. Mungkin kalau Reynand dalam keadaan tenang dia akan suka diajak masuk kedalam kamar.
Melihat Airin yang ketakutan Reynand menyunggingkan bibirnya.
"Lo bilang, lo mau gue, kan?" Reynand membuka gespernya dengan cepat.
"Rey, tapi nggak kayak gini."
Reynand lalu menurunkan resleting celananya. "Mau dari mana dulu? Lo suka gaya apa?" Tanyanya santai tanpa menggubris pertanyaan Airin.
"Rey!! Lo mau ngapain?! Jangan gini Rey. Lo lagi emosi." Airin memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Pas lagi emosi lebih enak. Lebih semangat." Lagi-lagi Reynand menyahut konyol. "Lo mau yang santai dulu apa langsung cepet?" Gertaknya lagi.
"Reynand!!" Airin teelihat ngos-ngosan. "Aku memang mau kamu. Tapi nggak gini caranya." Airin ketakutan.
Lalu Reynand menyunggingkan bibirnya dan kembali membenahi celananya.
Menggenggam kedua tangan Airin erat hingga Airin merasa kesakitan lalu Reynand langsung mendorong tubuh gadis itu dengan cepat hingga ia melangkah cepat mundur kebelakang.
Bugh! Gadis itu pun langsung terbaring dan menghempas dengan kuat
Airin semakin gelagapan, ia langsung mendudukan diri sesaat setelah ia menghempas dengan kuat diatas ranjang. Tubuhnya terasa sakit karena itu, mau bagaimanpun tadi ia juga mengalami kekerasan fisik.
Reynand menurunkan wajahnya, hingga sangat dekat dengan gadis. Ia dapat melihat dengan jelas pipi Airin yang memerah. Bekas tamparan! Hebat juga Mami mertuanya. Arhg, tapi gara-gara itu dia diremehkan.
Melihat Reynand dari bawah sana seketika Airin terpaku, memperhatikan wajah Reynand sedekat ini dia terlihat begitu senang. Dan, saat Reynand menatap matanya lalu terpaku lama Airin tanpa sadar memejamkan matanya. Mengharapkan sesuatu dalam pikirannya terjadi.
Tanpa Airin sadari mata Reynand tertuju pada layar handphone yang masih menyala. Reynand membuka beberapa file diponselnya dan menghapusnya dengan cepat. Sial, dia tidak tahu kalau Arin menyimpan video saat gadis itu memaksa menciumnya pada malam itu.
__ADS_1
"Kapan lo jadi diri sendiri Airin. Gue muak lihat tingkah lo yang begini." Ucapnya setelah file dari ponsel tersebut terhapus semua.
Mata Airin kembali terbuka oleh ucapan itu. Mendengar ucapan Reynand membuatnya merasa direndahkan.
"Jangan coba-coba ganggu hidup gue lagi, atau bukan cuma lo yang hancur, perusahaan bokap lo pun...." Reynand menggantung ucapannya sembari mengangkat tubuhnya dari atas gadis itu. Sepertinya memang tidak baik menyombongkan diri saat ini. "Kalau lo masih sayang sama Daddy lo. Tolong jaga sikap lo sama gue dan istri seterusnya."
Airin termangu, apa maksud Reynand menyebut perusahaan Daddynya?
"Rey.... maksud kamu apa?"
"Intinya lo ingat aja ucapan gue dan jangan banyak tingkah."
Reynand berlalu dari sana dan bergegas pergi.
"Rey...." Airin lansung memeluk Reynand erat. "Jangan tinggalin aku."
"Lon nggak tau malu banget sih Rin. Pergi lo sana!! Gue ini udah punya bini, paham!" Reynand langsung mendorong tubuh itu kuat.
Bugh!! Airin pun kembali menghempas dengan kuat diatas ranjang. Ah, tubuhnya benar-benar sakit.
"Kamu bodoh Reynand, kamu menikah diusia mudi dan mengubur cita-cita kamu. Apa istimewanya gadis itu hah? Dia bisa apa Rey, aku yakin dia akan nyusahin kamu. Dia masih kecil dan belum ada pengalaman."
"Lo nggak usah sok tau." Sambar Reynand.
"Aku cuma nggak nyangka aja kamu nikah sama gadis aneh kayak dia. Jangan-jangan kamu hamilin dia diluar nikah, iyakan!!" Teriak Airin lantang.
Menoleh, maka Reynand pun langsung melotot tajam.
Tak puas Airin kembali berucap. "Dia pasti perempuan murahan!!!! Kamu digodain kan sama dia? Aku kasihan sama kamu Rey. Tinggalin Rey!!!! Kamu berhak bahagia daripada terus bersama cewek jal*ng itu!!!!"
Murahan??!! jal*ng??!! Mendadak darah Reynand langsung mendidih. Istrinya yang bahkan keterlaluan polos itu dikatakan j*lang. Nayla yang dulunya bahkan tidak mengerti bagaimana caranya berhubungan suami istri sedikit pun dikatakan seperti itu.
"Akhh...." Airin merasakan lehernya tertekan kuat saat tiba-tiba Reynand mencekiknya. "Sa-kiiit Rey...." Airin terus memberontak. Tangannya mencoba melepas genggaman kuat tangan Reynand pada lehernya. "Rrrr-rey..." Airin tidak bisa bernafas.
Lama, Reynand menyoroti gadis yang sedang ia tekan itu lama. Ternyata menyadarkan Airin memang harus dengan kekerasan rupanya. Wanita ini benar-benar sakit jiwa. Reynand memejamkan mata setelah menekan leher itu lama. Sesuatu yang sangat Reynand tidak sukai adalah menyakiti seorang wanita. Tapi mau bagaimana lagi dia harus terpaksa melakukan ini.
Hatinya menolak tapi biarlah raganya yang bertindak. Sampai akhirnya dia pun melepaskannya dan mendorong dengan kuat sekaligus.
"Ah...." Airin segera meraup udara sebanyak mungkin saat Reynand melepaskan lehernya. Wajahnya merah padam menahan sesak. Ia terbatuk karena itu.
"Kalau begini cara kamu, aku bakalan sebarin video kita waktu itu." Ancam Airin kemudian masih ngos-ngosan, ada kilat amarah disana.
"Terserah!" Jawab Reynand datar.
"Aku bakal sebarin sekarang!!" Airin langsung meraih ponselnya diatas kasur. Melihat beberapa file disana. Terhapus? Semua filenya terhapus.
"Reynand!!!!"
Gadis itu terduduk pilu dilantai. Ia pun kembali menangis meratapi segala hal yang ia rasakan.
*
*
*
*
Happy Reading deh!!
__ADS_1