
****
Reynand masuk kedalam mobil. Matanya menatap Nayla menaruh curiga. Mengira-ngira kalau memang gadis itu yang mendorong Airin dengan pintu mobil. Dan, sepertinya memang iya. Lihat itu wajah pura-puranya. Reynand tidak habis pikir. Kenapa gadis ini semakin menjadi berani dan nakal?
Sementara itu Nayla bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia malah asik memainkan ponselnya. Ponselnya yang pernah diberikan oleh Reynand untuknya. Ternyata Ia pakai juga. Sambil sesekali sok berpoto selfi. Hal yang sebenarnya sangat jarang Ia lakukan. Ia pun menoleh kearah Reynand, sepertinya sikap pura-puranya malah membuat Reynand malah semakin ingin menudingnya.
“Abang mau selfi sama aku? Siapa tau kalau aku posting foto sama Abang bakalan banyak yang ngasih love.” Nayla mengembangkan senyumnya seolah tidak bersalah.
Reynand mengalihkan pandangannya. Menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya akan sikap gadis yang ada disampingnya itu.
Mobil pun akhirnya melaju setelah Dion menghidupkannya.
Tiba-tiba didalam perjalanan…. Kruyuk! Kruyuk! Nayla merasakan perutnya kembali berbunyi.
“Abang!”
“Emmm.”
“Laper.” Nayla memegangi perutnya.
“Hmmm….”
“Abang!” Nayla meninggikan suaranya. Membuat Reynand yang sedang menatap kedepan mendadak kaget.
“Kenapa?!"
"Lapar." Merengek.
Reynand menghembuskan nafas pelan. Ia masih penasaran akan sesuatu. Sepertinya Ia harus menanyakannya sekarang.
"Tapi jawab dulu pertanyaan saya.”
“pertanyaan apa?”
“Kenapa kamu dorong Airin pakai pintu mobil.” To the point tanpa basa-basi.
Nayla terdiam, Ia tau dirinya bersalah.
“A-Aku nggak sengaja.” Nayla menunduk karena berbohong. Reynand menelisik tidak percaya.
Kryuk… kruyuk!
“Abang laper. Aku belum makan dari pagi.” Nayla terlihat memohon. Perutnya terasa melilit.
Reynand masih terdiam memperhatikan raut wajah Nayla masih belum puas akan jawaban gadis itu sebelumnya. Tentang alasan mengapa Ia mendorong Airin.
“Abang.” Kini wajahnya terlihat lebih memohon. Perutnya sudah benar-benar lapar.
“Jawab dulu, kenapa tadi kamu dorong Airin?” masih kekeh dengan pertanyaannya sebelumnya.
“Aku nggak suka sama dia.”
Reynand terdiam Beberapa saat. Bertanya-tanya kenapa gadis ini bisa tidak menyukai orang yang sama sekali tidak Ia kenal.
“lain kali jangan diulangi.”
“I-iya.” menjawab sembari menahan sakit diperutnya.
“Memang dari kapan nggak makan.” Reynand mulai memberikan perhatian.
“Dari tadi pagi.” Menjawab lemas.
__ADS_1
“Dari tadi pagi!?”
“Iya.”
“Ya ampun Nayla. Kamu itu baru sembuh. Kenapa bisa nggak makan dari pagi.”
“Tadi nggak sempet makan. Soalnya buru-buru.”
“Disekolah kamu kan bisa jajan.”
Nayla terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan kalau disekolah tadi dia menghabiskan waktunya untuk tidur gara-gara tidak tidur semalaman.
Reynand mengehembuskan nafas kasar.
“Ya udah. Dion kita kerestoran xx.”
“Oke, siap bos.” Dion segera memutar mobil
Saat itu Reynand mengajak Nayla ke restoran bintang lima yang sering didatangi para konglomerar dan horang-horang kaya. Ia sengaja memilih Restoran tersebut agar lebih bebas. Mengingat dirinya adalah orang terkelnal. Jadi Ia tidak bisa makan disembarang tempat.
“Abang pesen nasi ya goreng biar cepet.”
“Hemm.”
“Apaan si Bang dari tadi ham hem ham mulu.”
Reynand tidak menjawab Ia sibuk melihat buku menu. Membuat niat semakin kesal.
“Saya pesen steak ya mbak.” Ucap Reynand kepada pelayan.
“Minumnya apa?” mbak-mbak pelayan kembali bertanya.
“Oh iya saya jus alpukat. Kamu mau minum apa?”
“Jadi jus alpukatnya dua ya.” Pelayan kembali mencatat pesanan.
Nayla sudah tidak tahan lagi. Ia sudah tidak sabar menunggu nasi gorengnya datang. Perutnya sudah minta untuk diisi.
Tak berapa lama yang ditunggu pun tiba. Sepiring nasi goreng dengan wangi yang sangat menggugah selera. Dengan segera Nayla langsung melahap nasi goreng tersebut. Namun, baru setengahnya entah kenapa Ia merasa sudah kenyang.
“Abang.”
“Emmm.”
“Aaaa.” Nayla menyodorkan sesendok nasi goreng kepada Reynand.
Reynand langsung membuka mulutnya. Menerima suapan dari Nayla. Gadis itu tersenyum karena Reynand menerima suapannya.
“Kakak nggak duduk sini.” Bertanya kepada Dion yang memilih duduk sendirian dimeja belakang mereka.
“Nggak. Takut ganggu.” Senyum nakal tak lupa Ia lemparkan kepada Reynand. Membuat wajah Reynand berubah datar seketika.
“Kenapa kamu panggil dia kakak?” Tanya Reynand seperti tidak suka.
“Terus panggil apa? mbak?” Menjawab cuek sambil menyendok makananya lagi.
“Iya masak dipanggil sayang.” Dion terkekeh geli. Membuat Reynand langsung melotot kearahnya.
“Abang, Aaaa.” Menyuapkan kembali nasi goreng kemulut Reynand. Laki-laki itu terlihat menolak memundurkan kepalanya.
“Ih makan nggak.”
__ADS_1
Reynand mengernyit.
“Kenapa si dari tadi maksa?” mencoba menjauhkan suapan dari Nayla.
Rupanya penolakan Reynand membuat Nayla sedikit tersinggung. Membuat raut wajahnya langsung berubah.
“Ya udah kalu nggak mau.” Nayla ngambek, kemudian meletakkan sendok tersebut kembali kedalam piring.
Reynand kembali mengernyit tidak mengerti akan sikap Nayla. Gadis ini ngambekkan rupanya.
“Kenapa makananya nggak dihabisin.” Memperhatikan nasi goreng yang belum dihabiskan Nayla.
“Nggak nafsu.”
“Katanya lapar? Dari tadi pagi katanya nggak makan. Kok sekarang malah nggak dihabisin?"
“Nggak tau. Udah nggak nafsu. Perutnya udah nggak bisa nerima.” Jawabnya bersungut-sungut.
Melihat hal tersebut Reynand langsung menyendok nasi goreng tersebut dan menyuapkannya kepada Nayla.
“Aaaaa, Buka Mulutnya.” Memaksa Nayla untuk makan.
“Nggak mau. Aku udah nggak nafsu.” Memalingkan wajah dari suapan Reynand.
Reynand menghela nafas. Tadi katanya belum makan dari pagi. Sekarang malah tidak nafsu. Maunya apa gadis ini?
“Nayla. Kalau kamu begini. kamu tinggal dirumah kakek saja ya.” Nada bicara Reynand sedikit mengancam.
Nayla tercekat. Ia langsung menggelengkan kepala tidak setuju.
Dia tidak mau tinggal dirumah bersama orang tua yang telah memaksanya untuk menikah diusia muda. Jujur saja Nayla masih tidak bisa menerima itu semua.
“Ya sudah kalau nggak mau tinggal dirumah Kakek, makanya kamu makan. Kalau kamu sakit lagi gimana? Saya nggak bisa ngurusin kamu setiap saat, pekerjaan saya banyak. Harusnya kamu bisa mengurus diri kamu sendiri.” Suara Reynand tiba-tiba meninggi membuat Nayla mendadak takut.
Pikiran Nayla mulai kemana-mana. Ia pun mulai mengira kalau selama ini Reynand mengurusnya karena terpaksa.
Rupanya dia salah telah menganggap Reynand merawatnya dengan tulus sewaktu dia sakit. Kenapa dia harus menikah dengan lelaki seperti ini?
“Ayo makan.” Masih mencoba menyuapi.
Menggeleng dan menjauh dari suapan Reynand. Laki-laki ini sudah membuatnya kesal.
“Kamu kenapa si Nay?”
“Nay.” Berusaha membujuk dan menyuapi.
“Aku mau makan sendiri. Nggak usah disuapin.” Langsung menarik sendok yang dipegang Reynand. Perkataan Reynand barusan entah kenapa membuatnya sedikit tersinggung.
“Kalau nggak mau ngurusin ya udah. Lagian aku nggak maksa.” Gumam-gumam sambil ngunyah.
“Kamu ngomong apa!?”
Nayla diam, enggan menjawab.
*
*
*
*
__ADS_1
*
*