
****
Reynand kembali keapartemen dengan terburu-buru. Bergegas Ia pun masuk kedalam kamar Nayla. Sepertinya Nayla sedang didalam kamar mandi. Mungkin lebih baik Ia keluar dan meletakkan kantong berisi pembalut itu keatas sofa. Ia takut akan melakukan hal yang sama seperti saat ia mengikat rambut Nayla tadi.
Tiba-tiba perlahan Nayla mulai membuka pintu kamar mandi. Dengan santainya gadis itu keluar hanya mengenakan handuk membuat Reynand mematung beberapa saat. Rupanya Nayla tidak menyadari kalau orang yang melihat dirinya itu sudah merasa panas dingin.
“I-ini……” Menyodorkan kantong berisi pembalut kepada Nayla. Kemudian berbalik hendak keluar kamar.
“Abang.”
Deg! Deg!
“Kenapa lagi sih manggil-manggil. Lo tu nggak pakai baju. Nanti gue bisa khilaf. Eh tapi dia lagi datang bulan."
“Iya.” Menyahut tanpa berbalik.
“Terimakasih. Maaf ngerepotin.”
“Iya sama-sama. Nggak usah minta maaf. Gue nggak ngerasa direpotin.” Kemudian berlalu meninggalkan Nayla.
Sementara itu didalam kamarnya Reynand terduduk diatas kasur. Ia masih berusaha mengendalikan debaran jantungnya. Hari ini Ia benar-benar seperti diuji. Memikirkan kenapa Nayla yang terlihat biasa saja memperlihatkan dirinya dalam keadaan hanya memakai handuk dihadapannya. Apa gadis itu tidak merasa malu dengan dirinya.
“Ya tuhan bisa mati gue lama-lama. Tu cewek biasa aja tanpa baju depan gue. Gue tau dia pakai handuk. Tapi gimana kalau gue nggak bisa ngendaliin diri…. ah Sudahlah.”
Drrt.… drrt….
Panggilan masuk diponselnya tiba-tiba membuyarkan lamunan Reynand.
“AIRIN”
“Halo. Rey kamu dimana? Acara Talk Show-nya 30 menit lagi mau mulai.”
“Gue nggak bisa dateng.”
“Ih kok gitu sih Rey. Kita kan mau promosiin film.”
“Ya Lo sendiri aja, gue lagi nggak bisa.”
“Kamu tu ya jahat banget. Kamu pasti lagi beduaan sama cewek kan? Sama cewek yang tadi pagi angkat telpon aku. Kamu tidur sama dia kan…..bla…bla…”
Reynand segera memutus panggilannya. Walaupun sudah beberapa kali Airin mengulangi panggilannya, tetapi tetap saja tidak Ia angkat. Jujur saja Ia pusing dengan cewek yang tipenya seperti Airin. Semaunya sendiri mengoceh-ngoceh tidak jelas. Namun, tunggu tadi pagi Airin nelpon dia. Reynand langsung mengecek riwayat panggilan masuk. Benar saja Airin menelponnya tadi. Berarti tadi yang mengangkat? Itu sudah pasti Nayla. Tapi kenapa cewek itu tidak mengatakan apa-apa padanya.
__ADS_1
Ya sudahlah untuk apa juga Ia memikirkannya. Sejenak Ia berpikir untuk kedapur. Tubuhnya mulai gemetar. Sedari semalam Ia belum makan, ditambah Ia juga sibuk mengurus Nayla yang sedang sakit. Sepertinya Ia sudah butuh asupan tenaga. Walaupun tidak bisa memasak, tapi setidaknya Ia bisa membuat sandwich dan segelas susu.
Namun tidak disangka rupanya Nayla sudah keluar dari kamar dan sedang ada didapur. Ia sudah berganti pakaian santai dengan kepala masih dililit handuk. Gadis itu terlihat ingin memasak.
“Kamu mau apa? Kamu harus istirahat.” Reynand mencoba menghentikan Nayla yang hendak memotong ayam dan sayuran.
“Aku mau bikin sop ayam.”
“Biar saya pesankan kalau kamu mau makan itu.”
“Tapi Abang, masak sendiri lebih enak, lebih seger.” Nayla masih mencoba memotong sayuran.
“Tapi kata dokter kamu harus istirahat. Kamu butuh pemulihan Nayla.”
“Tapi kan aku cuma masak. Bukan kerja yang berat-berat.” Nayla menatap Reynand dengan mata sendunya mencoba meyakinkan.
“Ya sudah kalau begitu. Tapi biarkan saya bantuin kamu.”
Nayla mengangguk setuju.
“Apa yang harus saya lakukan?”
“Abang potong sayuran aja.” Nayla menyerahkan pisau kepada Reynand. Cowok itu pun langsung meraih pisau tersebut untuk memotong sayuran.
Nayla pun memperlihat cara memotong kentang dan sayuran lainnya kepada Reynand agar laki-laki itu nantinya tidak bertanya lagi.
“Abang bentar.” Nayla mencoba membalik tubuh Renand menghadapnya. Membuat laki-laki itu memandangnya dengan heran.
“Abang coba nunduk.” Reynand pun menuruti perintah gadis itu. Ia menudukkan kepalanya. Rupanya Nayla hendak memakaikan celemek kepadanya.
“Biar baju Abang nggak kotor. Baju Abang kan warnanya putih.”
Nayla mengakhirinya dengan mengikatkan tali celemek dibelakang tubuh Reynand.
“Terimakasih.” Reynand merasa aneh, karena baru saja mendapat perlakuan yang tidak biasanya dari Nayla. Gadis pemalu itu kini berani menunjukkan sikap padanya. Entah kenapa Ia merasa Nayla terlihat begitu manis.
Potong-memotong sayur pun selesai. Saatnya tinggal memasukkan kedalam panci.
Namun tiba-tiba Nayla tibat-tiba terduduk. Kepalanya kembali terasa pusing dan ditambah perutnya yang juga terasa sakit akibat datang bulan.
Reynand segera memapah Nayla dan menuntun gadis itu untuk duduk dikursi.
__ADS_1
“Kan sudah saya bilang. Kamu masih butuh istirahat. Ya sudah kamu duduk saja biar saya yang lanjutkan.”
Nayla mengangukkan kepalanya. Sementara itu Reynand kembali lanjut memasak. Tentu saja Ia bisa, karena tahap terakhir sop tinggal memasukkan sayuran. Sementara tadi Nayla sudah mendidihkan air, memasukkan bumbu dan juga ayam.
Akhirnya sop ayam pun selesai dimasak. Reynand segera menyiapkan makanan. Sementara Nayla menunggu dimeja makan. Gadis itu terus memperhatikan gerak-gerik Reynand tanpa henti. Entah kenapa saat ini pandangan matanya selalu ingin tertuju kepada suaminya itu.
“Ayo makan.” Reynand menyerahkan makanan yang Ia ambilkan untuk Nayla.
“Terimakasih.” Nayla mulai menyendok sop ayam tersebut.
“Gimana enak?” Reynand bertanya penuh harap. Walaupun sebenarnya bukan Ia yang sepenuhnya memasak.
Nayla mengangguk. Ia sangat meyukainya, rasanya sangat enak dan segar.
“Ternyata Abang bisa masak sekarang.” Nayla mencoba memuji.
“Nggak kok, kan Abang cuma bantuin motong sayur.” Mencoba merendah, walaupun sebenarnya bangga.
“Tapi Abang yang lanjutin masak.” Masih tidak mau kalah.
Reynand akhirnya diam dan tersenyum. Sejak kapan gadis didepannya ini mulai cerewat. Padahal beberapa hari yang lalu gadis ini masih kikuk saat berbicara kepadanya.
“Abang nanti siang pergi syuting?”
“Hem.” Reynand mengangguk.
Raut wajah Nayla tiba-tiba berubah. Entah kenapa Ia merasa hampa saat Reynand bilang dia akan pergi.
“Kamu nggak apa-apa kan ditinggal sendirian.” Rupanya Reynand menyadari perubahan raut wajah Nayla.
Nayla menganggukkan kepalanya pelan. Walaupun sebenarnya Ia ingin agar Reynand menemaninya saat itu.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*