
****
Reynand memberikan kunci mobilnya pada security rumah. Kemudian bergegas ia segera masuk kedalam. Kepalanya benar-benar terasa pusing. Ia ingin segera sampai kedalam kamar.
Aneh! Dia merasa hari ini telah mengalami hari yang aneh! Persoalan Airin entah kenapa seolah selalu membuatnya seperti ini.
Ada apa dengan perempuan itu sebenarnya. Kenapa ia selalu mengusiknya seperti ini. Lama-lama ia bisa lelah.
Dan, beberapa saat kemudian dia telah sama dipintu kamar. Lalu....
Brak!
Gadis yang sedang selonjoran itu terkejut. Buku yang ia pegang pun hampir saja terjatuh.
"Ih, ngagetin." Nayla merasa jantungnya akan copot saat itu juga. Memang tidak bisa ya Reynand membuka pintu dengan pelan.
Berjalan dengan langkah gontai "Nay...." Terduduk disisi ranjang itu dengan tatapan seolah-olah sayu.
"Kenapa? Bisa kan buka pintunya pelan-pelan. Kalau aku jantungan gimana!" Nayla mengelus dadanya pelan. Wajahnya masih syok karena kaget.
Dan, Greb. Nayla mengerjap bingung. Laki-laki itu langsung menghambur memeluk. Buku yang ia pegang pun segera ia taruh diatas meja samping tempat tidur mereka.
"Peluk Nay...."
Reynand menaikan kakinya keatas ranjang. Lalu berbaring disamping Nayla dengan masih memeluk wanita itu erat.
"Mandi dulu." Tolaknya mendorong tubuh itu pelan.
"Nanti Nay, abang mau dipeluk sama kamu...."
Ih, Nayla mengernyit geli. Tumben Reynand bertingkah seperti ini.
"Abang, kenapa...." Nayla mulai mengelus rambut halus itu. Wangi khas sampohnya masih tercium, padahal sudah seharian.
"Capek...." Reynand merengek.
Baik, baik ada yang kelelahan rupanya. Perlahan Nayla mulai membalas pelukan tubuh itu dengan erat. Sepertinya ia dapat merasakan kalau tubuh yang lebih besar darinya itu memang sedang lelah.
"Yang erat peluknya...." Kali ini rengekannya terdengar berlebihan ditelinga Nayla
Idih,
Namun, Nayla masih menuruti permintaan itu. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada laki-laki yang sedang bertingkah seperti bayi, bayi besarnya yang sedang lelah.
Cup, cup, Sayang, sayang....
Ingin sekali Nayla mengatakan itu sambil mengelus-elus punggung Reynand. Tapi entah kenapa rasanya ia jadi geli sendiri. Maka dari itu Nayla hanya bisa tersenyum memikirkannya. Ish, apaan sih, dia ini.
Pasti aneh, kan kalau dia melakukannya.
"Abang...."
Nayla mencoba mengguncang tubuh Reynand. Namun tidak ada pergerakan. Didengarkannya nafas itu mulai teratur. Maka Nayla membiarkan Reynand tertidur sejenak dipelukannya. Kenapa dibiarkan sejenak? Karena Nayla harus membangunkannya untuk mandi setelah itu. Dia tidak ingin Reynand tertidur dengan masih memakai baju yang dipakai sedari tadi pagi.
Ia elus kepala itu pelan. Nayla tersenyum. Reynand benar-benar memilik rambut yang halus. Lalu ia menyentuh telinganya. Ia baru sadar kalau Reynand memiliki telinga yang terus memerah, itu mungkin karena kulitnya sangat putih.
Perlahan ia mulai menurunkan kepalanya. Awalnya hanya ingin mengendus wangi rambut itu. Namun, ia malah mengecup puncak kepala Reynand.
Jadi, ini yang Reynand rasakan saat menciumi puncak kepalnya. Apa karena wangi sampohnya? Atau karena, sayang.... Entah kenapa tiba-tiba Nayla jadi tersipu sendiri.
__ADS_1
Dasar gila!
Tapi, wajah Reynand yang sedang tidur begini memang enak dipandang. Sangat tenang dan indah....Berlebihan tidak sih, kalau ia mengatakan itu?
Tuh, kan dia tersipu kembali. Nayla tidak menyangka dia jadi gampang seperti ini saat bersama Reynand.
Tempat ia akhirnya menemukan kebahagiaan. Ia merasa kalau sekarang Reynand adalah hidupnya. Entah bagiamana jadinya jika ia tanpa laki-laki ini. Nayla tidak bisa membayangkannya. Rasanya ingin menangis, ia tidak ingin.... kehilangan lagi.
Ia kecup pipi itu pelan hingga akhirnya mata yang terpejam itu pun terbuka.
Reynand sedikit menggeliat, membuat Nayla seketika melonggarkan pelukannya.
"Abang tidurnya lama, ya... " Sangat terlihat wajah itu masih ngantuk.
Nayla menggeleng pelan. Kemudian mengelus pipi Reynand dengan jarinya. Sadar ada sentuhan lembut diwajahnya, Reynand lalu menyentuh tangan itu. Bersitatap lama dengan mata pemiliknya.
Nayla tersenyum. Ia menikmati bagaimana cara Reynand menatapnya. Ditatap sedalam itu membuat ia kembali tersipu. Ia tidak akan mengelak, karena memang seperti itu adanya.
Namun, seketika Nayla tersadar. Ia pun mendorong tubuh itu dari pelukannya.
"Mandi dulu...." ucapnya dengan mode galak.
"Malas, capek...." Merengek lagi sengaja ingin dimanja.
"Ih, aku gak mau ya tidur sama abang, kalau nggak mandi."
"Bentar, dikit lagi"
"Ih, sekarang. Nanti ketiduran lagi."
Seketika Reynand menjauh saat gadis itu kemudian menyentak tubuhnya pelan.
"Em..." Beringsut malas.
Beberapa saat kemudian, tubuh itu pun telah segar habis diguyur air. Setelah menggantung handuknya Reynand kembali menghanpiri Nayla dan duduk disis ranjang
Nayla langsung membuka mata saat ia rasa Reynand telah selesai mengganti pakaian. Bukan apa-apa, ia hanya belum terbiasa melihatnya.
"Mau makan?"
Tawaran Nayla yang membuat Reynand menggeleng pelan.
"Emang nggak laper?"
Kembali menggeleng.
"Mau tidur sambil dipeluk...." Kemudian merebahkan diri disamping sang istri. Ia mulai meraih tubuh itu kembali.
"Nay...." Rengeknya menyuruh Nayla berbaring. Hingga tanpa sadar Nayla sampai geli mendengarnya.
Akan tetapi, walau begitu sang istri pun nurut. Tubuh mungil itu kembali terkurung. Beradu kulit dengan kulit dingin yang baru keluar dari kamar mandi itu.
"Nay...." Ucap Reynand dengan mata terpejam.
"Em.."
"Jangan percaya berita yang gak jelas ya."
Nayla sontak mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Maksudnya?"
Lalu mata Reynand terbuka kembali "Abang gak mau kamu salah paham lagi...."
"Kenapa?" Tanyanya lembut.
"Pokoknya apa yang kamu lihat tentang abang di tv atau pun medsos jangan dipercaya ya...."
Nayla sontak mengernyit.
"Nay.... jawab."
Nayla memang tidak paham apa maksud Reynand. Namun tanpa sadar kepalanya mengangguk.
Dan, seketika.... "Em...." Tubuh Nayla sedikit memundur kebelakang saat Reynand tiba-tiba memijat dada sebelah kirinya pelan.
Reynand kembali menarik gadis itu mendekat. "Ini udah lebih dua hari Nay...."
Ha?
Nayla sangat sadar maksudnya.
"Tapi...."
Ucapannya terhenti saat tangan Reynand mulai bergerak nakal menyusup kedalam bajunya.
Sontak Nayla gelagapan.
"Lepas ya...."
Nayla hanya bisa bergeming gugup saat Reynand mulai menggerayang dipunggungnya dan berusaha meraih pengait itu.
Ia pun mulai mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan benar saja kain panjang dengan lebar hanya sekitar dua senti itu pun terpisah. Tidak hanya itu, dengan pelan Reynand pun melepas baju tidurnya. Menariknya hingga telepas sampai tubuh polosnya pun terpampang nyata. Nayla mendadak semakin gelagapan, ia jujur belum siap untuk ini.
Walaupun sudah pernah tapi....
Nayla semakin tidak bisa bernafas. Apalagi saat Reynand kembali menangkup disana tanpa adanya penghalang apapun. Menangkup dan memijat dengan sebelah tangan sementara sebelahnya lagi Reynand mulai mengulumnya pelan. Tubuhnya pun tiba-tiba menekuk.
"Ah...."
Dan, perlakuan itu mampu membuatnya mendesah pelan.
"Ab...." Mulutnya pun tiba-tiba terkunci. Reynand menutup lisannya dengan tiba-tiba membuat ia semakin tidak bisa bernafas.
Namun, entah kenapa Nayla merasa Reynand tidak seperti biasanya. Pagutan yang ia rasakan sangat lemah dan tidak bersemangat. Dan ia pun menyadari sesuatu saat kegiatan itu tiba-tiba terhenti....
Tertidur?!!!
*
*
*
*
Like, komen, vote!
__ADS_1
Pas ngetik ini mata ku sudah 5 watt. Maafkan jika terselip keanehan dan kekhilafan didalamnnya.
Happy Readingđź’‹