
****
Nayla sudah merasa sangat gerah. Dia ingin mandi saat ini. Suasana puncak memang dingin. Tapi dia tidak nyaman jika harus tidur dalam keadaan tidak bersih.
Dia kembali melihat-lihat baju dikoper tadi. Benar-benar memang ya si Reynand itu, mana mau dia memakai baju seperti ini.
Namun, saat Nayla kembali mengubek-ubek koper itu dia menemukan sebotol minuman bening yang terselip dibagian paling bawah koper.
Minuman yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Seiring dengan rasa penasarannya akan botol minuman itu ia tiba-tiba mendengar ponsel berdering diatas meja.
Ponsel Reynand!
Nayla meraih ponsel tersebut. Nomor tidak dikenal. Ragu-ragu dia mengangkat telepon dia kemudian menggeser tanda hijau disana.
“Halo, Rey!”
Nayla tersentak kaget, suara wanita, dan langsung membentak.
“Rey.” Suara itu melembut setelah tidak ada jawaban beberapa saat.
Hening sejenak kembali. Mulut Nayla tiba-tiba terkunci saat itu juga.
“Rey, kamu blokir nomor aku ya. Jahat ya kamu.”
Siapa? Mendadak suara tersebut membuat Nayla mematung.
“Rey, ini aku Airin. Tega ya kamu, habis ninggalin aku tadi malam. Terus kamu blokir nomor aku gitu.”
Entah kenapa tiba-tiba nafas Nayla tersengal.
“Rey, jawab dong. Kamu keterlaluan ninggalin aku disana sendiri. Kamu ninggalin makan malam romantis kita. Kamu bikin aku nangis.”
Bagai disambar petir, Nayla merasa telinganya berdenging dan pikirannya serasa kosong.
“Rey, hallo! Hallo!”
Nayla tidak menghiraukan lagi suara dari ponsel yang mengecil, saat ia menjauhkan dari telinganya tersebut.
Jadi, tadi malam itu Reynand pergi makan malam romantis dengan wanita yang dmenelepon tadi. Dan, wangi parfum yang ia cium dijas Reynand waktu itu. Apa punya si Airin ini? Kalau iya, berarti dia dibohongi oleh lelaki bedebah itu.
Sialan!
Menyesal dia menunggunya tadi malam. Ia kembali tersengal. Kenapa rasanya menyakitkan seperti ini? Jantungnya yang biasanya berdebar-debar itu kini merasakan denyut yang menyakitkan. Rasanya tidak rela mengetahui Reynand menemui wanita lain. Terlebih lagi Reynand rupanya berbohong, sakitnya seperti berkali-kali lipat.
Nayla kecewa, iya dia sangat kecewa. Rasanya dia ingin menangis saja.
Tes, tes, dan benar air matanya tiba-tiba menetes. Kenapa dia jadi lebay begini, sih. Memang tidak bisa ya bersikap biasa saja. Kenapa juga dia harus menangisinya. Tapi, sekuat ia menahan derai air matanya, tidak bisa, rasanya sakit sekali. Ia tidak bisa menahan rembesan air matanya yang terus keluar itu.
Nayla mulai terisak.
Ia ingin memblokir nomor si Airin itu. Tapi bagaimana caranya, ponsel Reynand di lock oleh laki-laki itu.
Kenapa juga harus banyak wanita disekitarnya? Iya, tau Reynand itu artis. Tapi, Nayla tidak menyukainya. Dia benci pekerjaan Reynand yang seperti itu.
Ditengah kegalauan dan isak tangisnya, mata sembab itu tiba-tiba tertuju pada sebotol minuman bening yang ia temukan didalam koper tadi.
Ia sontak meraih botol yang ia kira air mineral itu, haus. Dia mencoba membukanya, susah sekali. Hiks, dia tambah menangis. Mengesalkan. Kenapa sih, mau minum saja susah?
Glek!
Glek!
__ADS_1
Kok rasanya airnya aneh? Hwek!
Beberapa saat kemudian.
Reynand membuka pintu kamar. Didapatinya Nayla sedang terduduk ditepi ranjang sembari tertunduk memegangi kepalanya.
“Nay, kamu, belum mau mandi?” menghampiri gadis itu. Kemudian duduk disampingnya.
“Kamu?” Gadis itu mendongak menatap Reynand. Ia cegukan.
"Kamu, kenapa?"
“Kepala aku pusing.” Ucapnya, kemudian cegukan lagi.
Reynand mengernyit. Ini Nayla kenapa? Ia memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama. Matanya sembab dengan sisa-sisa air mata diwajahnya.
“Kamu habis nangis?" Reynand seketika khawatir. Ia perlahan menyentuh pundak Nayla.
"Nggak usah pegang-pegang." Gadis itu menepis tangannya. Membuat Reynand tersentak kaget.
"Kamu kenapa, Nay."
"Duh, nggak usah berisik. Dasar lelaki pembohong!" Gadis itu berenjak dari duduknya.
Nayla kenapa sih?
Reynand lantas berdiri. Seketika dia terkejut saat tiba-tiba terdengar dentingan botol yang tidak sengaja tersenggol oleh langkahnya. Saat, ia hendak memungut botol minuman itu Reynand membelalak. Ini kan, vodka yang dititpkan Aldi padanya.
Isinya berkurang!?
Astaga! Jangan-jangan....
“Nayla.”
“Kamu minum ini.” Menunjukkan botol minuman kepada gadis itu.
“Duh, apasih. Nggak usah pegang-pegang ya. Aku nggak suka dipegang-pegang sama kamu.” Nayla menepis tangan itu. Ia kembali cegukan.
Jadi, benar Nayla meminum ini? Aroma minuman beralkohol tersebut tercium jelas dari mulut gadis itu.
Sejujurnya dia sangat benci wanita yang sedang mabuk. Tapi, Nayla, gadis polos dan lugu itu meminumnya.
“Jangan kemana-mana, abang ambilin kamu air minum.”
Dengan susah payah dan sedikit memeberontak, Reynand menggiring Nayla dan membaringkannya kembali keatas ranjang.
Gadis itu tidak menghiraukan. Ia malah bangkit kemudian melompat-lompat kegirangan diatas ranjang. Reynand geleng-geleng kepala sebelum akhirnya keluar untuk mengambil air minum.
Beberapa saat kemudian Reynand kembali. Ia membawa segelas air dan ember, siapa tahu gadis itu muntah nantinya. Bisa-bisanya Nayla meminum barang tersebut. Salah dia juga, kenapa harus menaruhnya sembarangan didalam koper.
“Nay, nih minum.”
“Nggak mau, aku tadi punya minum. Mana? Kamu ambil ya.” Ia menunjuk-nunjuk Reynand seolah menuduh.
"Kamu itu tukang bohong, pasti banyak kan, cewek-cewek cantik yang kamu temui diluar sana?"
Reynand menepuk jidatnya, menghela nafas kasar. Nayla mulai meracau tidak jelas. Jangan lagi ia melihat Nayla seperti ini, gadis ini terlihat begitu aneh sekarang.
Dan tiba.... Bruk! Gadis itu jatuh dari ranjang.
Astaga!
Reynand menghela nafas. Ia kemudian memapah Nayla untuk dibaringkan kembali diatas ranjang.
__ADS_1
“Kamu tau nggak....” Lagi-lagi gadis itu berceloteh sembari Reynand menyelimutinya.
Ia menarik tangan Reynand, hingga laki-laki itu terduduk terhempas disisi ranjang.
“Aku... udah punya suami....” Gadis itu terkekeh geli diakhir ucapannya.
“Aneh nggak si, masak setiap dekat dia aku selalu....”
Cegukan lagi.
“Selalu apa?” entah kenapa tiba-tiba Reynand penasaran.
Gadis yang berbaring itu sontak menoleh menatap Reynand, ia kemudian bangkit, lalu perlahan mendekat. Menatapnya bertubrukan dengan mata tajam itu lama. Dan entah apa yang merasukinya, tangannya perlahan terangkat kemudian merasai dada lebar itu dengan lembut.
Reynand sontak mematung bingung. Sengatan aneh terus ia rasakan saat Nayla mulai mengelus-elus dadanya perlahan. Kemudian seiring dengan nafasnya yang mulai tidak teratur, gadis itu bersandar dan menempelkan telinga disana.
Deg!
Deg!
“Kamu, berdebar-debar," Nayla semakin menempelkan telinganya diruang tubuh hangat yang bergerak naik turun itu. "Aku.. juga, selalu berdebar-debar, setiap didekat seseorang.”
Didekat siapa?
Entah kenapa Reynand sungguh penasaran. Dengan jantung yang berdebar-debar ia menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut gadis itu selanjutnya.
"Aku...." Gadis itu mendongak. Setelah kemudian tangannya merayap, menyusuri kulit berlapis kaos itu, hingga ia melingkarkan tangannya dileher itu.
Tubuhnya ia tegakkan bertumpu pada lututnya diatas ranjang. Mensejajarkan pandangan mereka.
Gadis itu tersenyum aneh, sebelum akhirnya ia mendekatkan bibir mereka secara perlahan.
Reynand dapat merasakan sentuhan lembut itu dibibirnya. Mata indah yang ia tatap itu terpejam seiring dengan dengan bibir mereka yang semakin menyatu. Nayla benar-benar masih kaku dalam hal ini, sehingga membuat Reynand tidak sabaran dan akhirnya mengambil alih. Ia mulai menyusupkan indera pengecapnya kedalam rongga mulut yang masih tercium aroma alkohol itu. Mereka perlahan saling membelit didalam sana. Menikmati ciuman mereka dengan mesra.
Reynand menarik pinggang Nayla untuk merapatkan tubuh mereka dengan erat. Mengelus-elus punggung itu dengan tangan lainnya.
Salahkah?
Jika, ia melakukan ini pada gadis yang sedang dipengaruhi oleh minuman. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Perlahan Reynand mulai membaringkan tubuh mungil itu diatas ranjang. Menopang tubuhnya dengan sayu tangan. Sementara tangan satunya ia gunakan untuk membelai bagian bahu Nayla perlahan.
Ini gila.
Benar-benar gila, Reynand hanya mengikuti nalurinya saat ini.
Jadi, bisakah dia berharap kalau malam ini akan menjadi milik mereka berdua?
•
•
•
•
A : Masak sih anak SMA gak ngerti yang begituan? Padahal udah dijelasin dipelajaran biologi dari SMP cara ena-ena secara detail.
B : Authornya lebay! Berlebihan!
C : Authornya keterlaluan!
D : Anak SD 10 tahun aja udah bisa lebih dari cup-cupan thor, lebih pakarnya, masak Nayla gitu-gitu aja gak bisa sih?
__ADS_1
Aku : Lo mau nikmatin cerita apa ngebully sih maemunah 😑