Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Berpikir Jernih


__ADS_3

****


Akhirnya setelah beberapa saat termenung. Nayla beranjak, hendak mengganti seragamnya dengan baju biasa. Untuk apa juga kan Ia memakai seragam sekolah. toh hari ini juga libur karena banjir.


Sesaat Nayla bingung harus melakukan apa. Ia pun keluar kamar menuju dapur. Ia ingat tadi Ia hanya memasak nasi goreng dan juga telur ceplok. Apa dia masak saja begitu pikirnya.


Ia membongkar belanjaan yang dibawakan Mama Reynand beberapa hari yang lalu. Barang-barang itu hanya disusun seadanya dilemari sebelum ini. Sepertinya Ia akan membereskan dapur. Walaupun Reynand sudah memanggil cleaning service untuk membersihkan apartemen. Namun Nayla yang terbiasa dengan tugas bersih-bersih dirumahnya merasa gatal. Ia ingin menata ulang tata letak barang-barang yang ada didapur itu.


“Nggak sekolah hari ini?” Reynand tiba-tiba mengejutkan Nayla yang sedang menyusun barang-barang dapur. Rambutnya berantakan. Sepertinya baru bangun tidur. Ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Membuat tubuhnya yang bagus terlihat dengan jelas.


Reynand tersenyum, Ia menyadari rupanya gadis itu mudah sekali terkejut.


“Nggak. Soalnya banjir.” Mencoba menjawab seadaanya, walaupun dengan degupan jantung yang masih terasa keras akibat terkejut.


“Oh.” Reynand mangut-mangut.


“Abang nggak kerja hari ini?” gadis itu akhirnya mencoba berani untuk bertanya.


“Nggak lokasi syuting kebanjiran dan jalanan juga nggak bisa dilewati kan.” Tentu saja. Tadi Dion sudah memberitahunya lewat pesan kalu jalanan terputus dan juga lokasi syuting juga kebanjiran. Untuk sementara aktivitas mereka dihentikan.


Nayla mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi.


Reynand melewati Nayla. Membiarkan gadis itu kembali kepekerjaannya. Ia mengambil segelas air putih lalu meminumnya.


Sementara itu Nayla kembali membereskan barang-barang yang ada didapur. gadis itu agak grogi ketika Ia merasa Reynand memperhatikannya dari meja makan. Laki-laki itu sedang memakan nasi goreng buatannya. Sepertinya sangat lahap.


Reynand, Ia tersenyum. Sepertinya Ia mengetahui kalau gadis itu merasa risih dengannya. Setelah menghabiskan makanannya Ia pun mendekati Nayla. Membuat gadis itu entah kenapa semakin salah tingkah.


“Mau dibantuin?”

__ADS_1


Nayla menganggukkan kepalanya pelan. Ia tidak berani menolak.


“Emang dirumah sering beres-beres ya?"


Nayla mengangguk lagi.


“Nggak usah sungkan sama gue. Anggap aja gue teman Lo.” Reynand mencoba membuat Nayla bersikap santai terhadapnya.


“Iya.” Nayla benar-benar berharap Reynand segera pergi dari sana. Jujur saja Ia akan lebih nyaman jika laki-laki itu membiarkan bekerja sendiri.


Anggap teman? Memangnya bisa dengan status mereka saat itu. Rupanya Reynand terlalu santai menanggapi gadis itu.


Saat itu Nayla mencoba untuk meraih Teflon yang ada dilemari ditingkat paling atas. Tubuhnya yang mungil agak kesusah meraih benda tersebut. Tiba-tiba Ia dapat melihat tangan Reynand mencoba meraihnya. Membuat Nayla spontan menoleh kebelakang.


Mata Nayla membelalak. Leher laki-laki itu berada tepat didepan wajahnya saat dia mendongak keatas. Sangat mulus. Jakunnya menonjol dari balik kulitnya yang putih. Mendadak nafas Nayla tertahan. Ia tambah kaku seolah tak bernyawa saat Reynand menundukkan wajah melihat kearah nya. Laki-laki itu tersenyum. Ia cukup lama memandang wajah Nayla yang sedang kaku itu. Membuat gadis itu semakin tidak bisa bernafas dibuatnya.


Nayla tersadar. Ia langsung menyambar benda itu dari tangan Reynand. Dengan cepat Ia menghembuskan nafasnya saat laki-laki itu berlalu meninggalkan dirinya. Ia benar-benar merasa bersyukur.


“Ya tuhan.”


Nayla merasakan jantungnya. Benar-benar berdegup kencang.


Dengan tangan yang gemetar Ia kembali membereskan dapur. Apa itu tadi? Benar-benar membuat tubuhnya lemas dan seketika berkeringat dingin.


Sementara itu dari balik kamar Reynand terduduk. Ia termenung. Rupanya Ia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja laki-laki itu mampu menyembunyikan apa yang Ia rasakan.


Ia yang tadinya berusaha bersikap santai tiba-tiba merasa bingung atas pernikahan ini. Ia kembali menanyakan tentang keputusannya yang membawa Nayla untuk tingga berdua saja bersama dirinya.


Awalnya Ia kira keputusan ini sudah tepat. Berharap mereka berdua akan lebih bebas saat meninggalkan rumah Kakek.

__ADS_1


Perasaannya saat ini membuat Ia bertanya pada dirinya sendiri. Apa benar tidak akan terjadi apa-apa jika mereka akan terus tinggal bersama untuk kedepannya. Bagaimanpun gadis yang tinggal serumah dengannya saat ini adalah istrinya. Status mereka sangat kuat.


Seketika Ia ingan ucapan Dion beberapa waktu lalu.


“Dari ujung rambut sampai ujung kaki Lo berhak atas dia seutuhnya.”


“Punya bini cantik kok diajak tidur pisah.”


Reynand memjamkan matanya sejenak. menggelengkan kepala. Lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Gue mikir apa sih! Mending gue mandi sekarang. Udah gila kali gue ya.” Ia menepis pikiran yang baru saja hinggap dikepalanya.


Reynand beranjak dari duduknya. Mengambil handuk dan bergegas masuk kedalam kamar mandi. Merendam tubuhnya dengan air hangat. Mencoba membuat dirinya berpikir lebih jernih. Sebelummya perasaan seperti ini belum pernah hadir dalam hidupnya. Ia benar-benar butuh ketenangan. Namun, tentu saja dibalik itu Ia memang belum sempat mandi tadi malam.


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2