Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
S2 - Obrolan


__ADS_3

****


"Itu leher kamu kenapa?" Tanya Reynand yang kala itu tengah memperhatikan bagian leher Nayla yang terus berdenyut kencang.


Nayla melihat kebagian lehernya yang ditunjuk oleh Reynand. "Oh ini?"


Reynand mengangguk masih dengan tatapan heran.


"Awalnya aku juga heran, tapi kata Mami orang hamil memang begitu bagian bawah lehernya pasti denyutnya kelihat lebih jelas."


Reynand yang masih menatap penuh keheranan mengangguk pelan.


"Udah cepat selesain mandinya." Nayla lantas mengguyur Reynand dengan menggunakan air dari dalam bathub.


"Enak banget sih dimandiin." Laki-laki itu lantas tersenyum jenaka memperlihatkan deret giginya yang putih.


"Jangan kayak anak kecil deh, aku kira tadi udah selesai mandi. Eh taunya mainin sabun kayak anak kecil." Terang saja busa-busa sabun didalam kamar mandi itu berhamburan menyentuh lantai.


"Aku nungguin kamu Nay. Makin hari kok makin cerewet sih...." Reynand mencubit hidung bangir Nayla pelan.


"Iya soalnya tuntutan...."


"Kok tuntutan?" Reynand mengernyit.


"Kalau aku diam terus nanti malah kamu katain gak bisa ngomong lagi."


"Kok kamu ngomong gitu sih Nay."


"Gak apa-apa, dulu aku sering dikira gak bisa ngomong gara-gara terlalu kalem dan sibuk sendiri." Gadis itu terus ngedumel tiada henti. "Sekarang aku banyak ngomong malah dikatain cerewet, serba salah deh."


Reynand tersenyum menatap wanita yang tengah mengerlung rambut basah dihadapannya. "Jangan dengerin omongan orang, mereka taunya kamu dari luarnya aja."


"Kalau kamu?" Tanya Nayla balik.


"Aku tau semuanya, dari luar sampai kedalam...."


"Ih, pikirannya pasti jorok." Ledek Nayla.


"Pikiran jorok sama istri sendiri gak apa-apa, kan." Alis laki-laki itu naik turun dengan tatapan genit. "Nay...."


Nayla mengangkat wajahnya. "Em...."


"Awal aku datang sama kakek untuk melamar kamu, kamu ingat?" ujar Reynand spontan dan tiba-tiba.


Nayla mengangguk lalu menatap Reynand dengan intens sembari memainkan buih sabun dengan kedua tangannya. Sesekali wanita itu meniupnya hingga buih tersebut sampai diwajah Reynand.


Reynand mengerjap. "Dulu kamu lucu...." lirihnya pelan.


Mata gadis itu terbuka lebar. "Kok lucu?" tanyanya heran. Perasaan saat itu ia menangis tersedu-sedu dengan mata yang membengkak karena sangat tidak inginnya ada perjodohan itu.

__ADS_1


Reynand kemudian terkekeh pelan. "Kamu, pasti tertekan banget waktu itu." Reynand menelisk dengan seksama sembari menarik Nayla untuk berada dipelukannya. Ia mengecup bahu telanjang itu pelan. "Biar ngobrolnya lebih enak...." ujarnya pada Nayla yang sudah bersender di dadanya sementara ia sendiri bersender disisi bathtub.


"Kamu waktu itu gimana? Perasaannya waktu datang melamar...." Seingat Nayla ia belum pernah membahas ini bersama Reynand. Dan, entah kenapa sekarang ia malah jadi sangat penasaran tentang perasaan laki-laki itu saat pertama kali datang melamarnya bersama kakek.


"Bahagia...."


"Em?!" Nayla mendongak heran. "Jangan bohong! Waktu itu aja abang langsung ajak aku pindah ke apartemen dan kita pisah kamar, kan!"


Reynand memejamkan mata, laki-laki itu lalu menghela nafas pelan. "Waktu itu, aku cuma mau ngelindungin kamu sayang."


"Ngelindungin gimana?"


"Ngindungin kamu dari rasa nggak nyaman, baru satu hari aku sama kamu aku jadi paham kalau kita mempunyai satu kesamaan."


"Apa?"


"Kita sama-sama ingin memiliki ruang sendiri. Sama kayak aku yang butuh waktu buat nyesuain diri sama kamu, kamu juga begitu pastinya kan?"


"Em?" Nayla mengernyit tidak mengerti.


Reynand berdehem pelan. "Oh iya, soal cinta pertama aku...."


Mata Nayla membulat mendengarkan ucapan itu. Senyumnya mengembang sembari menunggu.


"Cinta pertama????" Nayla menunggu dengan tidak sabaran.


Reynand agak malu-malu mengatakannya. Entahlah ia tidak mengerti kenapa dirinya jadi seperti ABG begini. Ya ampun, mereka sudah berapa lama sih, menikah. Ayo dong Rey, masak kalah sama anak SD umur sepuluh tahun pada jaman sekarang. Mereka semua udah pakarnya loh, haha kata beberapa orang sih. Tidak tau benar tidaknya seperti itu. Tapi kata sebagian orang-orang jaman sekarang begitu.


"Kalau ngomong yang jelas dong, kok berbelit-belit gitu sih?" ujar Nayla lembut kembali tidak sabaran.


"Sabar dong Nay, semua itu butuh proses. Gak semua hal bisa langsung pada intinya. Kamu kayak penonton sinetron aja deh, gak sabaran banget..."


"Ih, kok bisa tau kalau penonton sinetron hobinya protes kayak gitu?"


"Gak sengaja baca komen pas aku penasaran nonton scene yang pemeran utamanya temen aku..." sahut Reynand.


Nayla mangut dan mengangguk paham. Baiklah dia akan menunggu kelanjutan ucapan suami tercintanya ini.


"Jadi lanjutin dong, pembahasan tentang cinta pertamanya tadi...." pinta Nayla dengan tubuhnya terus bersender didada telanjang Reynand. Ia mengedip-ngedipkan mata tidak sabaran.


"Kamu penasaran siapa cinta pertama aku?" Tanya Reynand dengan raut wajah penuh teka-teki.


"Iya dong.... siapa sih cinta pertama seorang Reynand?" ujarnya lembut sembari memasang raut wajah aneh.


"Malas ah, muka kamu nyebelin...." ujar Reynand.


Nayla merengut. "Oh gitu ya sekarang, kemarin-kemarin bilangnya aku separuh nyawa...." ledek Nayla. "Kamu itu separuh nyawaku, aku gak bisa sedetik pun jauh dari kamu...." Nayla terus mengikuti cara gombalan Reynand yang sering dilontarkan padanya. "Sekarang bilangnya muka aku nyebelin, huh, gak jelas...."


"Ah...." Nayla mendesah saat Reynand tiba-tiba memijat dadanya dengan sensual.

__ADS_1


"Ngomong apa sih sayang?" bisik Reynand dengan nafas berat yang menerpa ditelinga. Cup! perlahan-lahan ia mengecupi tengkuk dan bahu yang basah itu. "Ayo ulangi lagi, gimana ngeledeknya?" laki-laki itu lantas menarik dagu wanitanya hingga tatapan mereka saling bertemu, tersenyum beberapa saat Reynand pun mulai menurunkan ciuman bibirnya dengan penuh kelembutan.


"Emh...." Nayla mendorong Reynand hingga ciuman itu terlepas. "Jawab dulu, cinta pertama kamu siapa...."


"Nanti ya...."


Nayla merengut.


"Lanjut yuk...."


"Eh bentar-bentar...." ujar Nayla tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Tadi anak kita tiba-tiba gerak...."


"Masak sih?"


"Gimana rasanya?"


"Mau coba?"


"Jangan aneh deh Nay...." Sahut Reynand. "Gimana bisa aku nyobain, kalau bayinya ada didalam perut kamu."


"Kalau dia lahir kira-kira mirip siapa ya?"


"Mungkin mirip pak Tio...." canda Reynand dengan gaya santuy.


Nayla mencubit lengan suaminya kencang hingga laki-laki itu meringis samit. "Bercandaan kamu gak lucu ya...." Nayla melotot tajam. "Santai banget bilang kalau nanti waktu lahir anak kita mirip pak Tio, emang kamu mau, kalau lahir beneran mirip pak Tio."


Reynand menggeleng cepat lalu ia tertawa keras, sepertinya dia memang butuh hiburan saat ini. Lumayan bisa menghibur diri sendiri. Tapi, iya juga. Mudah-mudahan yang ia katakan barusan tidak terjadi.


"Maaf ya sayang, jangan ngambek, ayah tadi cuma bercanda...." Reynand mengelus perut Nayla pelan. Cup! "Serius cuma candaan dek, tolong ya nanti waktu lahir jangan mirip pak Tio...."


"Rasain, makanya ngomong jangan sembarangan ayah...." Nayla menekan ucapannya sembari menjewer telinga itu.


Reynad meringis memegangi telinganya. "Cuma bercanda Nay...." kilah Reynand. "Aw...."


Nayla geleng-geleng kepala. Sepertinya saat ini Reynand terlalu stres karena pekerjaan perusahaan. Biarlah jarang-jarang ia melihat Reynand tertawa sekeras ini, sangat lepas. Rupanya sesekali ngobrol begini bisa menaikkan mood suaminya seketika.


Sementara itu diluar. Pak Tio yang tengah memanaskan mesin mobil dipagi hari tiba-tiba terbatuk.


*


*


*


*

__ADS_1


Terimakasih untuk yang masih menyukai cerita ini walaupun ceritanya makin panjang seolah tak berujung.


Happy Reading!


__ADS_2