
****
Nayla meletakkan gelas teh ke atas meja disampingnya. Sementara itu Reynand masih menungguinya.
Nayla menatap Reynand dengan seksama yang juga menatapnya balik. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya diusia sekarang sorang lelaki berani mengganti bajunya. Ah, itu benar-benar memalukan. Apa benar laki-laki dihadapannya ini tidak melihat apa-apa? Apa itu bisa ia percaya?
Senyuman terpancar dari wajah Reynand. Sedari tadi ia terus menatap Nayla dengan intens. Kenapa dia baru sadar ya kalau Nayla terlihat menggemaskan.
“Abang kenapa melihat aku begitu?”
Reynand berdehem salah tingkah sendiri. Rupanya ia tidak sadar kalau terlalu menghayati memandangi sosok yang ada didepannya itu.
“Kenapa kamu bisa pingsan? Kamu nggak makan?” mengalihkan topik pembicaraan.
“Aku makan banyak kok hari ini.”
“Terus, kamu pingsan gara-gara apa?”
“Aku tadi syok.”
“Syok kenapa?”
“Syok gara-gara abang.”
“Kenapa kok gara-gara abang?”
“Wajah abang. Tadi abang nyeremin.” Nayla bersungut-sungut.
Reynand terdiam. Benar, ada apa dengannya tadi? Kenapa ia bisa begitu? Ia hampir tidak bisa mengendalikan diri didepan Nayla. Ini mungkin karena seharian ini ia melihat Nayla terus berinteraksi dengan teman laki-lakinya. Interaksi mereka bergitu intens. Dua tidak suka melihatnya.
“Permisi!”
Terdengar suara memanggil dari luar. Reynand beranjak dan segera membuka pintu.
“Permisi ini baju yang tadi anda minta.” Pelayan itu tersenyum ramah dan sangat sopan.
“Baiklah, terimakasih.” Reynad menerima baju tersebut.
Pelayan itu tersenyum. Kemudian membungkukkan badan dan segera berlalu.
__ADS_1
“Ini pakailah.” Menyerahkan baju tersebut kepada Nayla.
“Ini baju siapa? Ini bukan baju aku abang.” Nayla menunjukkan raut wajah protes.
“Pakai saja.”
“Tapi ini bajunya masih baru.”
“Abang memesan itu buat kamu.”
“Ya udah aku pakai. Tapi abang keluar dulu.”
“Kenapa harus keluar. Matiin saja lampunya.” Bercanda.
“Abang keluar dulu. Aku mau ganti baju!” Nayla mulai emosi.
Reynand pun akhirnya nurut. Ia pun keluar. Ia tidak bisa bercanda ataupun membantah saat ini. ia tahu Nayla sedang kesal padanya. Bagaimana pun Nayla lebih muda darinya. Ia harus banyak mengalah.
Jika Nayla kembali kehotel tempat ia menginap bersama teman-temannya. Berarti Nayla akan bertemu lagi dengan laki-laki itu. laki-laki yang telah berani menggendong Nayla. Laki-laki yang sama mengajak Nayla hujan-hujanan. Tapi mau bagaimana lagi. Semua orang memang tidak tahu dengan statu mereka yang sudah menikah. Dan, kalau dilihat-lihat laki-laki itu memang tidak buruk dari segi fisik. Bahkan jika laki-laki itu mau dan mempunyai bakat dia mungkin juga bisa menjadi aktor.
Mendadak Reynand menjadi khawatir. Selama ini dirinya terlalu santai. Ia hanya menganggap Nayla gadis polos biasa tanpa menyadari kalau gadis itu juga bisa diincar oleh orang lain. Dia benar-benar tidak berpikir sampai kesana. Ia merasa kecolongan. Hatinya menjadi gundah.
“Abang.” Nayla keluar, bajunya telah diganti.
“Iya. Sekarang antar aku balik. Aku mau ketemu sama teman-teman aku.”
“Yakin? Sekarang masih hujan deras.” Alasan mencoba menahan.
“Tapi nanti teman-teman aku nyariin.”
“Saya sudah hubungi guru kamu.”
“Ha? Kok bisa? Memang abang punya nomornya.”
“Ya sudah kita masuk dulu kedalam.” Reynand menarik Nayla lalu menutup pintu.
“Is abang. Abang bohong kan. Tau dari mana abang nomor hape guru aku.”
“Kamu nggak perlu tau.”
__ADS_1
“Tapi.”
“Nay.”
“Terus sekarang aku mau ngapain disini sama abang.”
“Kamu nggak suka sama saya disini.”
“Bukan gitu. Memang abang nggak punya kegiatan? Abang kan biasanya sibuk.”
“Lagi nggak ada jadwal.”
“Terus kenapa belum pulang?”
“Maksudnya?”
“Ya, memang abang nggak syuting. Abang kan sibuk.”
“Ya karena memang lagi nggak ada Nayla.”
“Bohong.”
“Kamu kenapa dari tadi nggak percayaan sama saya.”
Nayla enggan menjawab pertanyaan dari Reynand. Ia malah berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Nay.”
“Aku mau tidur. Jangan ganggu.” Nayla merubah posisinya membelakangi Reynand. Kenapa dia harus ada disini? Seharusnya dia bersama teman-temannya kan sekarang. dia harus menghubungi teman-temannya. Tapi ponselnya ada dihotel tempat mereka menginap.
Reynand memejamkan matanya. Entah kenapa ia merasa sedari tadi dirinya selalu diajak berdebat oleh Nayla. Sikap Nayla benar-benar berubah secara signifikan sejak gadis itu menikah dengannya. Dari seorang gadis pemalu, berubah menjadi cerewet, manja dan sekarang mereka malah berdebat seperti tidak mengerti satu sama lain. Ia mencoba berpikir, apa kesalahan ada pada dirinya. Tapi dibalik itu semua, ia kadang selalu lupa bahwa mereka sebenarnya adalah suami istri. Dimana tanggung jawab terbesar dalam hubungan ini ada pada dirinya.
*
*
*
*
__ADS_1
*
*