
****
Sesampainya dirumah kakek Reynand segera turun dari mobil. Dia mengambil tas ransel Nayla dikursi belakang. Kemudian membawa tas itu dipunggungnya. Ia pun beralih kembali kekursi depan tempat Nayla duduk. Gadis itu tertidur selama dalam perjalanan.
Reynand tidak ingin membangunkan tidur Nayla. Gadis itu sepertinya sangat kelelahan dengan kegiatannya hari ini. dengan segera dia pun mengangkat tubuh Nayla. Kemudian menggendongnya masuk kedalam rumah.
Seorang ART bernama mbok Yana mendekat saat Reynand memanggilnya. Dia menyuruh mbok Yana untuk mengambil ransel yang ada dipunggungnya.
“Nayla tidur.” Mama Reynand yang juga baru sampai dari luar negeri menghampiri.
“Iya.” Jawab Reynand singkat. Sambil terus membopong Nayla masuk.
“Duh kasihan. Anak mama pasti kelelahan.” Mengelus kepala Nayla sebelum Reynand membawanya kekamar.
Sesampainya dikamar, Reynand langsung membaringkan Nayla keatas kasur. Huh, ngos-ngosan juga dia rupanya.
Tak berapa lama terlihat Nayla menggeliat. Dia mengerjap-ngerjap sebelum akhirnya terduduk tiba-tiba. Rupanya dia terkejut dengan suasana baru itu. Dia memandangi Reynand yang ada duduk disampingnya.
“Sudah bangun?” Reynand mengembangkan senyum diwajahnya.
“Ini dimana?”
“Kita sudah dirumah kakek.”
Nayla beringsut turun dari ranjang. Dia keluar dari kamar sementara Reynand mengikutinya dibelakang. Perlahan dengan masih setengah sadar dia menuruni tangga. Kemudian entah kenapa dia duduk disalah satu anak tangga tersebut. Reynand geleng-geleng kepala. Apa Nayla masih didunia mimpi? Dia pun segera menghampiri istrinya itu.
“Abang.” Nayla berontak saat Reynand tiba-tiba menggendongnya.
“Siapa suruh duduk disini. Kalau masih ngantuk ayo tidur lagi. Biar abang temenin.”
“Nggak mau. Turunin!.”
Bukannya menurunkan Nayla. Reynand malah mendaratkan ciuman dipipi gadis itu bertubi-tubi. Gemas, itulah yang ada dalam pikiran Reynand saat ini.
“Abang apaan sih?” bersungut-sungut kesal. Ada apa dengan laki-laki itu sekarang? Kenapa sedari kemarin dihotel dia selalu menciuminya. Memang si Nayla juga pernah melakukan itu beberapa kali saat Reynand tidur. Tapi ini sangat berlebihan. Apalagi disaat mereka berdua sama-sama sadar.
“Eh, udah bangun sayang.” Mama hadir diantara mereka. Membuat Nayla segera melompat dari gendongan Reynand.
“Ma.” Nayla menyapa.
Mama segera mendekat dan memeluk Nayla erat. Kemudian menciumi kedua pipi gadis itu bergantian. Sepertinya dia mendapatkan banyak cinta saat ini. Mama orang kedua yang menciuminya setelah Reynand.
“Ayo kita kebawah.” Mama menarik tangan Nayla menuruni tangga. Meninggalkan Reynand yang kecewa karena Nayla dibawa pergi darinya.
__ADS_1
“Kakek mana Ma?” Nayla duduk menunggu dimeja makan. Sementara Mama sedang menyiapakna makanan untuknya.
“Kakek masih dikantor sayang.” Mami menghidangkan pudding untuk Nayla.
“Deddy nggak ikut Mama pulang?” Sebelum menyendok pudding masuk kedalam mulutnya.
“Daddy lagi sibuk sayang. Bagaimana pudingnya enak?”
Nayla mengangguk dnegan masih mengunyah pudding dimulutnya. Mama benar-benar perhatian. Andai saja disini ada Mami pasti dia akan merasa lebih senang.
Setelah selesai disuguhi pudding oleh Mama Reynand. Nayla kembali masuk kedalam kamar. Dilihatnya kamar kosong. Tidak ada Reynand didalam sana. Mungkin sebaiknya sekarang dia mandi. Bergegas masuk kekamar mandi.
Tak lama dia keluar lagi. Dia harus mengambil handuk. Dia ingat membawa handuk didalam ranselnya. Tapi, ransel tersebut tidak ada didalam kamar. Nayla pun keluar dari kamar. Diluar dia bertemu Mama.
“Ini Mama sudah siapkan baju-baju untuk kamu, semua yang kamu butuhkan ada disini.” Mama membuka lemari dan memperlihatkan isinya kepada Nayla.
“Iya Ma terimakasih, maaf Nayla jadi ngerepotin.”
“Tidak apa-apa sayang. Tadi Mama yang lupa memberitahu kamu. Kalau begitu Mama keluar dulu ya.” Mama Anjani pun keluar dari kamar.
Nayla segera mengambil handuk yang ada disana. Kemudian segera bergegas kembali masuk kedalam kamar mandi.
Suara guyuran air terdengar dari kamar mandi. Reynand mendudukan dirinya diatas kasur. Dia berbaring sejenak melepas penat. Tangan kirinya dia jadikan bantal, sementara tangan kanannya berada dikening. Dengan kaki yang masih menjuntai dilantai perlahan dia mulai terlelap.
Cklek Nayla keluar dari kamar mandi. Bersamaan dengan itu Reynand tergerak dari lelapnya. Dia pun duduk menatap Nayla.
“Abang ngapain masih duduk disitu?”
“Maksudnya?”
“Aku mau ganti baju.”
“Ya sudah, ganti aja.”
Nayla memberikan tatapan tajam kearah reynand.
“Kenapa?”
“Abang keluar dulu!”
Reynand menghela nafas. Kapan Nayla akan mengerti coba. Ganti baju saja disuruh keluar begini.
“Abang!”
__ADS_1
“Kenapa? Katanya disuruh keluar.” Reynand yang hendak membuka pintu berbalik.
“Ini nyangkut.” Nayla memegangi handuk yang menyangkut dianting sementara tangan satunya lagi memegangi handuk untuk menutupi dadanya.
“Lepasin tolong.”
Reynand pun mendekat. Dia pun mencoba untuk melepas anting yang menyangkut dihanduk.
“Sakit. Pelan-pelan.”
“Makanya diam dulu jangan gerak-gerak.”
Dengan hati-hati Reynand melpaskan handuk yang tersangkut ditelinga Nayla. Tapi, aroma tubuh itu. Nayla sangat wangi. Entah kenapa reynand jadi ingin menciumnya.
“Udah. Sekarang abang keluar lagi.” Usir Nayla. Dia pun membenahi handuknya.
Tidak ada pergerakan dari Reynand. Sekarang dia malah menatap Nayla lekat. Menyibakkan rambut gadis itu kebelakang.
“Abang mau ngapain si?” menepis tangan Reynand yang terus mencoba menyentuh area kepalanya.
“Tadi kenapa abang telepon nggak diangkat. Terus kenapa hapenye dimatikan.” Menggulung-gulung dan memainkan rambut Nayla dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menarik tubuh gadis itu untuk lebih menempel padanya.
Deg! Nayla terdiam.
“Kamu nggak suka?” Reynand berbisik ditelinga Nayla. Membuat gadis itu bergidik. Tanganya sudah tidak bisa dikondisikan. Mengelus, menelusuri setiap kulit Nayla yang terbuka.
“Abang geli!” Menyentak dan Mendorong tubuh Reynand darinya.
Reynand tak bergeming. Dia malah mengecup bibir Nayla pelan. Yang akhirnya membuat gadis itu terdiam mendadak.
Nayla memberikan tatapan risih pada Reynand.
“Kakaaaaaaaaaaaaaaaaaak.” Terdengar suara memanggil dari luar kamar.
“Kak Nayla.”
*
*
*
*
__ADS_1
*
*