
****
Pagi hari itu, berulang kali Nayla mencoba untuk membuka mata. Namun, entah kenapa rasanya sangat sulit. Beberapa kali ia tersadar dan tertidur kembali, seolah tubuhnya enggan untuk beranjak dari kasur yang empuk itu.
Samar-samar ia dapat melihat langkah kaki yang bolak-balik lewati sedari tadi, dan terkadang ia merasa sedeorang menghampirinya. Duduk ditepi ranjang, merasai keningnya. Dia juga merasakan sosok itu juga mengelus-elus kepalanya dengan lembut.
Hingga, beberapa saat kemudian, dia benar-benar mendapatkan kesadarannya. Perlahan dia pun bangkit untuk duduk.
Nayla dapat merasakan kepalanya terasa pusing. Sesekali dia terbatuk karena merasa tenggorokannya sangat kering.
Sesaat matanya mengericing karena pantulan cahaya matahari dari jendela yang menerpanya.
Disibakannya selimut yang menutupi tubuh mungilnya itu.
Eh,
Kok ada yang aneh!
Ini dia memakai baju siapa? Baju kaos berwarna hitam dan kebesaran. Sepertinya ia kenal.
Tapi, ia juga merasa ada yang janggal. Ia meraba-raba bagian dadanya yang terasa tidak seperti biasanya. Kemudian mencoba melihat bagian tubuh yang tertutup itu, melalui lubang kaos yang melingkar dilehernya.
Nayla mebelalak saat itu juga.
Dia, tidak memakai dalaman!?
Tunggu!
Apa yang terjadi? Dan, ini, kenapa dia bisa memakai baju Reynand?
Matanya mengerling-ngerling menerka apa yang terjadi tadi malam. Kemudian mata itu pun mengerjap-ngerjap saat ia mulai mengingat sesuatu.
Nayla tiba-tiba terkesiap, ia pun perlahan mulai mengingat sebagian kejadian yang dia alami tadi malam.
Me-memalukan....
"Kamu, udah bangun?"
Kepalanya sontak terangkat menatap sosok segar yang tengah tersenyum sambil membawa air minum itu.
Untuk beberapa saat Nayla tercengang dan merasa tercekat. Se-semalam dia, dia....
"Nay.... kamu mau minu....."
Nayla terpekik saat itu juga. Ia bergerak mundur menghindari Reynand yang mendekatinya. Deketika itu juga dia melompat turun dari ranjang, berlari kekamar mandi dan mengunci pintunya rapat
Jantung Nayla berdebar-debar sangat kencang. Beberapa kali dia menelan ludah karena saking gugupnya.
Ya tuhan, ingin sekali dia tenggelam kedasar laut atau terkubur kebumi paling dasar saat ini. Atau.... atau apapun asalkan dia menghilang saat itu juga. Astaga, apa yang telah ia lakukan semalam.
Ia terduduk dan menggigit kukunya, benar-benar tidak habis pikir. Ia benar-benar merasa sangat bodoh.
Bisa-bisanya tanpa rasa malu ia meracau tentang perasaanya terhadap laki-laki itu dan.. lebih parahnya lagi ia dengan sukarela bahkan menawarkan diri untuk....
"Nay, kamu nggak apa-apa?"
Nayla terkesiap, tidak! Dia tidak ingin menemui Reynand saat ini. Dia tidak punya muka untuk menemui laki-laki itu.
"Nayla...."
Aa, bisa tidak sih, Reynand mengabaikanya dan menganggapnya tidak ada untuk saat ini, atau pura-pura tidak mengenalnya saja begitu.
Malu!
Dia benar-benar malu, tolonglah. Kenapa sih, tadi malam dia bisa seperti itu.
Minuman.
__ADS_1
Minuman itu pasti penyebabnya, iya kan. Kenapa sih, dia tidak hati-hati.
Nayla mengutuk dirinya sendiri, menyesali perbuatannya yang sudah asal meminum sesuatu tanpa mencari terlebih dahulu.
"Ya, udah."
Hening!
"Em, abang keluar dulu ya."
Huh! Seketika Nayla bernafas lega untuk sesaat. Dan, disaat ia mendengar suara pintu kamar yang terbuka dia mulai bangkit dari duduknya, kemudian keluar dari kamar mandi setelah ia rasa pintu kamar telah ditutup. Reynand sudah keluar dari kamar.
Sedari tadi Reynand berusaha untuk tidak membahas masalah tadi malam kepada Nayla. Tidak perlu ditebak lagi kenapa gadis itu terus mencoba menghindarinya. Gadis itu pasti mengingat kejadian tadi malam. Kejadian yang hampir membawa mereka berdua menuju nirwana.
Seandainya hal itu terjadi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sikap Nayla saat ini. Mungkin saja bisa lebih parah dari sekarang.
"Nay.... makan yuk. Tapi kita makan berdua, soalnya yang lain sudah lebih dulu pulang." Reynand mencoba berbicara biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, Nayla tidak menjawab, ia masih pura-pura sibuk menyusun pakaian yang ada didalam koper. Entah sudah berapa kali dia menyusun baju-baju itu, hanya demi untuk mengabaikan Reynand.
"Nay..."
Saat Reynand berusaha mendekati gadis itu pun bangkit dan menjauh. Ia bergegas melangkah hendak keluar dari kamar. Dia benar-benar tidak ingin menatap Reynand saat itu.
Reynand menjadi frustasi. Dia tidak suka keadaan ini. Sampai kapan gadis itu akan mendiamkannya. Ia rasa permasalah ini harus diselesaikan saat ini juga.
"Nay, tunggu!"
Seketika langkah Nayla terhenti saat Reynand mencekal pergelangannya. Dia berusaha memberontak, tapi tidak bisa karena Reynand memegang pergelangannya dengan sangat kuat.
"Lepasin!" Teriak Nayla kencang. Kenapa sih, Reynand tidak mengerti. Apa laki-laki itu sengaja ingin membuatnya malu. Tolonglah, berikan dia waktu untuk ini semua.
"Aku lagi nggak mau diganggu." ucapnya memalingkan wajah dari Reynand.
Diganggu?
"Ayo, kita lupain kejadian tadi malam. Anggap kejadia itu nggak pernah terjadi."
Gadis yang sedang memberontak itu pun seketika terdiam seiring dengan Reynand melonggarkan pegangan pada pergelangannya.
Reynand memejamkan mata, setelah akhirnya dia membalik tubuh mungil itu untuk menghadapnya. Dilihatnya gadis yang sedang tertunduk dalam. Namun, saat ia menarik dagunya Nayla membuan muka dengan cepat.
"Nay...."
Tes, tes, Nayla tiba-tiba terisak.
"Kamu, nangis?" Reynand segera menunduk untuk melihat wajah cantik itu.
"Nayla...."
Perkataan Reynand terhenti saat tiba-tiba Nayla meraung. Ia semakin terisak-isak. Reynand sontak menarik tubuh itu kedalam pelukannya. Mengelus-elus pungungnya mencoba menenangkan.
"Nay, maaf. Seharusnya abang nggak maksa kamu. Jangan nangis, ya."
Bukannya mereda tangis itu malah semakin kencang.
Astaga, Reynand gelagapan. Bagaimana ini? Ini salahnya, seharusnya dia biarkan gadis itu untuk sendiri dulu tadi.
"Nay, maafin abang, ya." Mengecupi puncak kepala itu dengan lembut.
Akhirnya ditengah isak tangis itu Nayla pun mencoba berucap dengan suara putus-putus.
"Aku, malu."
Ia masih terisak.
"Tadi malam aku udah...."
__ADS_1
"Ssst, sudah nggak usah dibahas."
"Tapi, tapi...." Ucapnya sesenggukkan.
"Sudah, nggak usah diingat lagi."
"Nggak mau, abang pasti dengar semuanya." Ia semakin meraung. "Aku semalam udah minta yang aneh-aneh."
Aneh!
Aneh dari mananya? Itu adalah permintaan Nayla yang paling Reynand sukai. Ia serasa mendapat jackpot saat itu.
"Udah, ya. Jangan nangis lagi. Abang udah nggak ingat soal semalam."
"Bohong!" Nayla mencoba melepaskan diri dari pelukan Reynand. Berusaha untuk bersitatap dengan wajah itu.
"Abang pasti bohong, kan. Kenapa sih abang tu suka banget bohong."
"Nay...."
"Abang juga bohong soal, malam itu." Tambahnya cepat. Akhirnya Nayla mengeluarkan uneg-uneg dihatinya.
Reynand memejamkan mata seiring ia menghela nafas. Baiklah, pembahasannya mulai serius sekarang.
"Nayla, kamu salah paham."
"Salah paham gimana? Aku dengar sendiri dia bilang kalau malam itu kalian makan romantis berdua."
Kalian?
Reynand mulai merasa Nayla tidak menganggapnya sekarang.
"Dia bukan siapa-siapa, Nay."
"Bohong!"
Astaga!
Reynand bingung harus bagaimana.
"Abang pasti bohong, kan." Terisak sebelum melanjutkan ucapannya "Aku tahu, aku masih SMA, pasti abang menganggap aku belum ngerti apa-apa. Aku nggak seperti cewek-cewek cantik yang ada disekeliling abang selama ini." Terisak kembali.
Reynand termangu, Nayla akhirnya mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini dalam kondisi benar-benar sadar. Tidak seperti semalam saat gadis itu dipengaruhi minuman. Untuk beberapa saat dia membiarkan gadis itu mencurahkan isi hatinya. Membiarkan gadis itu terus menangis dipelukannya hingga beberapa saat kemudian tangisnya mulai mereda.
"Kamu nggak suka, abang dekat perempuan lain?" Tanya Reynand yang akhirnya membuat kepala Nayla terangkat.
Merasa memahami maksud dari perkataan Reynand ia langsung gelagapan dan salah tingkah.
"Jantung kamu, apa masih berdebar-debar saat ini?" Reynand mendekat menipiskan jarak diantara mereka.
Nayla mengerjap, ia menjauhkan diri dari tubuh Reynand kemudian perlahan mundur kebelakang.
Ia mendadak jadi ketakutan.
Kenapa, Reynand jadi, serius begitu?
•
•
•
•
A : Bertele-tele!
B : Membosankan, ena-enanya gak jadi terus.
__ADS_1
Aku : Jadi lo mau cari ena-enanya aja nih, gak mau nikmatin proses gitu 😑