
****
Saat itu Mami Miska yang tengah mengendarai mobil sehabis menghadiri sebuah acara kebetulan lewat didepan sekolah putrinya. Dan, begitulah dari arah tikungan sebelum lewat didepan sekolah itu, tepat sekali dia seperti melihat seseorang yang tengah diperdaya.
Namun saat semakin mendekat, mami merasa dia mirip seseorang. Perasaan mami pun jadi tidak enak. Apa mungkin itu Nayla?
Berhenti untuk memastikan benarkah gerangan anak SMA itu adalah putrinya, Mami Miska pun segera keluar dari mobilnya di keadaan jalanan yang tengah sepi tersebut.
Mendekat mengintip dari balik mobil. Mami Miska sontak terkejut melihat putrinya tiba-tiba ditampar dengan begitu kuat.
Jiwa keibuan untuk melindungi putrinya itu pun keluar. Darahnya mendidih seketika. Dengan cepat ia pun melangkah, tangannya spontan terangkat untuk balik menarik rambut gadis itu dengan sepenuh jiwa.
~
Hari mulai gelap saat itu, dimana Mami baru saja mengompres pipi Nayla dengan es batu untuk menghilangkan keram bercampur sakit dan perih yang masih terasa.
Sesaat kemudian Nayla dan Mami Miska segera melakukan perjalanan pulang menuju rumah. Rumah tempat Nayla tinggal untuk saat ini.
Dengan dada yang masih berdegup kencang Mami memperhatikan wajah mulus putrinya yang memerah. "Coba Mami lihat pipi kamu." Ujar Mami sembari menyetir. Sakit, Mami benar-benar sakit melihatnya. Rasanya ia ingin memberi pelajaran lebih kepada wanita itu tadi. Empat tamparan saja ia rasa kurang untuk membalas orang yang telah menyakiti putrinya.
"Mi...." Nayla mencoba berbicara, akh, kenapa membuka mulut rasanya perih. Nayla merasai rongga mulutnya. Yang sedikit sobek oleh tamparan tadi.
Lagi-lagi mama merasa ngilu melihatnya. "Kita kerumah kakek. Nanti diobati lagi disana."
Nayla duduk terdiam disamping Mami yang masih berusaha menahan emosinya. Terlihat jelas Mami belum puas memberi pelajaran kepada perempuan tidak tahu diri itu tadi. Berani-beraninya dia menyakiti putrinya. Dirinya saja bahkan tidak pernah melakukan hal seperti itu,untuk membentak pun Mami tidak pernah. Hanya cara bicaranya saja yang terkadang keras.
Mami menggeram kesal, namun ia terus berusaha mengatur perasaannya yang tak tertahankan. Sepertinya ia tahu kepada siapa dia harus memprotes hal ini. Lihatlah, Mami akan bertindak setelah secepatnya.
Begitulah, kini Nayla tengah duduk diruang tamu diantara maminya dan mama Adel yang sedang bersitatap serius penuh ketegangan. Kalau boleh memilih sebenarnya Nayla ingin segera kembali kekamar. Dia benar-benar merasa sangat lelah dan juga bekas tamparan itu masih terasa, namun ditahanannya keinginan itu karena merasa tidak enak.
"Bagaimana bisa?! Perempuan itu kenal Nayla?" Begitulah keterkejutan yang mama Adel lontarkan saat mendengarkan cerita mengejutkan dari Mami sembari memperhatikan wajah yang masih memerah itu sambil mengobatinya pelan-pelan. Mama Adel dapat melihat dengan jelas wajah Nayla yang memucat. Pasti Nayla trauma karena ini.
Mami Miska bersidekap sembari menyilangkan kakinya.
Tidak menggubris perkataan Mama Adel.
"Mana om?" Tanya Mami.
"Papa sedang ada urusan bisnis diluar negeri."
Mami Miska mendongak mengerti. "Aku mau bicara dengan Reynand."
"Reynand belum pulang...." Jelas mama Adel.
"Aku tunggu...."
"Mis...." Seperti paham tujuan mami Miska lalu Mama Adel menghela nafas.
Sementara itu Nayla benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa lelah ditubuhnya ditambah lagi kepalanya juga terasa pusing. Rasanya ia seperti demam. Maka dirinya pun segera kekamar setelah mendapatkan izin dari Mami dan Mama Adel.
Didalam kamar, Nayla telah selesai mandi dan memakai pakaiannya. Ia tidak lagi memakai pembalutnya. Ah, entahlah ia pikir dirinya tengah datang bulan namun ternyata bukan. Lalu yang tadi pagi itu darah apa?
__ADS_1
Termangu didepan lemari pakaian, ia masih tidak menyangka dengan apa yang dialami hari ini. Huh, jantungnya masih berdegub kencang mengingat itu. Entah kenapa tiba-tiba dia jadi merasa ketakutan. Bagaimana kalau Airin menjadi semakin nekat.
Ya tuhan, Nayla mendudukkan dirinya disisi ranjang. Kenapa hidupnya jadi seperti ini? Semuanya seperti terjadi dengan sangat cepat.
Lama termenung ia lalu ingat, maminya masih dibawah, maka perlahan dia beranjak untuk menemui. Dan, saat pintu kamar terbuka, sayup-sayup dia pun seperti mendengar keributan. Nayla penasaran dan segera menuruni tangga. Sejurus kemudian ia lihat Maminya tengah mencerca Reynand habis-habisan.
Astaga!
"Bagaimana bisa dia mengenal Nayla, Reynand? Dia bahkan sudah tahu tempat Nayla bersekolah."
Reynand yang berdiri berhadapan dengan Mami bungkam. Dia baru saja pulang dan langsung mendapat kabar mengejutkan.
"Mami benar-benar tidak habis pikir sama kamu, ya. Mami pikir kamu sudah menyelesaikan urusan dengan wanita itu." Mami Miska terus mengeluarkan uneg-unegnya.
Laki-laki yang terlihat lelah itu hanya mematung dengan raut wajah tak terbaca mendengar setiap cercaan Mami.
"Mami jadi takut Rey...." Mami menjeda sejenak. "Malam ini juga Mami akan bawa Nayla pulang...."
Mama Adel lau dengan cepat berdiri dari duduknya. "Miska...." Ya tuhan, kali ini mama Adel tahun Mami serius dengan apa yang ia ucapkan.
Lalu Reynand yang masih terkejut dengan apa yang ia dengar mencoba bersuara. "Mi...." Satu kata memohon itu sudah jelas menunjukkan rasa tidak setujunya.
Baiklah Reynand tahu ini masalah besar. Airin menyakiti Nayla dan menamparnya begitu cerita Mami. Lalu bagaimana Airin bisa menemui Nayla?
Lalu Reynand mendongak cemas. "Mi aku janji akan memberinya pelajaran." berusaha meyakinkan.
Mami Miska mendesah. "Reynand...." Tertunduk sejenak. "Kenapa tidak dari dulu kamu memberinya pelajaran...." Sesal Mami pada menantunya.
"Mami sekarang hanya punya anak-anak disisi Mami. Dulu Mami kehilangan papinya Nayla dan itu meninggalkan trauma yang besar...." Mami memejamkan mata dalam, entah kenapa tiba-tiba dia jadi mengatakan n itu.
Reynand mencelos seperti tahu rasa sakit yang diucapkan oleh Mami.
"Yang Mami lihat tadi mungkin hanya tamparan. Namun, siapa tahu kedepannya dia akan berbuat nekat. Mami takut Nayla kenapa-kenapa." jelas mami begitu khawatir.
Lalu Mami menatap menantunya itu dengan sorot yang tidak dapat dijelaskan, namun rasa kecewa itu terlihat sangat jelas disana.
"Nayla akan tetap Mami bawa pulang...."
Ingin berucap, tapi tiba-tiba lidah Reynand terasa kelu.
"Miska jangan seperti ini. Mereka sudah menikah. Tidak seharusnya kamu seperti ini. Keputusan ada pada mereka berdua." Mama Adel hanya melakukan apa yang ia bisa.
"Kamu lupa perjanjiannya del, sebelum Nayla benar-benar lulus maka aku masih berhak atas putriku sepenuhnya sekalipun dia sudah bersuami." Tegas Mama Adel dengan terus menatap wajah Reynand yang semakin pias. Biarlah dirinya terlihat egois untuk saat ini.
"Mami...." Begitulah suara lemah Nayla tiba-tiba memanggil dan menghampirinya.
"Sayang, pipi kamu masih merah." Sebenarnya Mami Miska sedari tadi ingin menangis melihat bekas tamparan yang masih memerah itu.
"Ayo beresin barang-barang kamu. Ikut Mami pulang ya. Mami janji kamu bakalan lebih tenang dirumah." Mami masih mengusap kedua sisi wajah putrinya.
"Tapi Mi...."
__ADS_1
Reynand memohon. "Mi tolong...."
Ucap Nayla dan Reynand berbarengan. Lalu keduanya saling menatap.
"Sayang...." Begitulah Reynand memanggil istrinya dengan gurat khawatir. Ia pun mendekat menatap wajah pucat dengan kedua sisinya yang memerah itu. Ashh, Airin benar-benar.... lihatlah memar bekas tamparan itu.
Dan saat Reynand hendak merengkuh Nayla erat, tubuh lemah itu segera ditarik darinya.
Memeluk Nayla erat. "Tolong jangan hentikan Mami, Reynand. Kamu tidak mendengarkan peringatan Mami sebelumnya. Jadi beginilah, Nayla harus Mami bawa pulang."
"Mi tolong jangan bawa Nayla pulang, dia istri aku."
"Dan, dia anak Mami." Sahut Mami mantap. Sepertinya Mami memang sengaja sedari tadi untuk menekan perasaan Reynand.
"Nay, ikut mami ya. Mami akan bantuin kamu beres-beres."
"Tapi Mami bilang aku harus jadi istri yang baik. Mami...." Nayla merasa tidak bisa meneruskan peekatannya. Perasaannya benar-benar tidak menentu saat ini. Tubuhnya lelah dan kepalanya pusing. Rasa-rasanya dia seperti akan pingsan saja. Bagaimana dia menahann keinginan mami kalau begini.
Mami menatap putrinya dengan nanar. Rupanya Nayla sudah terbelenggu rasa cinta akan suaminya. Tidak menyangka, Mami pun sebenarnya tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus melakukan ini demi kebaikannya juga.
"Mami, tetap pada keputusan awal. Kamu harus pulang. Ayo beresin barang-barang kamu." Menarik Nayla menuju kamar.
Reynand tahu mami tidak main-main sekarang, tidak ada nada gertakan disana. Bahkan ia rasa mami sudah tidak bisa dibujuk dengan cara apapun.
"Mi tolong jangan bawa Nayla pulang, aku..." Reynand meneguk ludahnya kelu. "Aku butuh dia disini." Ucap Reynand memohon, hanya cara itu yang ia bisa lakukan saat ini. Reynand mengepal tangannya kuat-kuat. Ia tiba-tiba jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Orang yang ia sayangi juga pernah meninggalkannya disaat itu.
"Mami tolong dengerin....."
Ucapan Nayla tersebut langsung disambar cepat oleh Mami. "Biar Mami yang urus masalah ini, sayang."
Reynand lalu menundukkan kepalanya. "Mi, aku mohon...." tubuhnya tiba-tiba berkeringat dan nafas tersengal. Kalau saja sosok itu bukan Maminya Nayla mungkin Reynand sudah merebut istrinya itu dari tadi.
Mama Adel merasa kasihan dengan putranya. Mendekati Mami Miska dan membujuk. "Mis, kita bicarakan dulu baik-baik...."
"Adel, kenapa kamu seperti nggak ngerti perasaan aku. Bukannya hal ini sudah sering dibicarakan. Jadi jangan menghalangi aku, biar bagaimana pun anak kamu harus mengerti, betapa perasaan ibu dari istrinya ini sangat tersakiti."
Mami kemudian bungkam mengabaikan dan terus melangkah. Seperti sulit dihentikan dan tidak perduli perasaan anak serta menantunya yang merasa gundah.
Tekadnya sudah bulat, yaitu memisahkan Nayla dan Reynand saat ini juga.
*
*
*
*
Maaf keun kalau masih ada kekurangan.
Happy Reading!
__ADS_1