Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Tabu


__ADS_3

****


Nayla menutup pintu kamar mandi dengan keras saking masih syok dengan apa yang Reynand lakukan kepadanya tadi. Dia melihat dirinya dicermin. Meraba-raba bagian tubuhnya yang tadi disentuh oleh Reynand. Belaian dan sentuhan yang diberikan Reynand masih terbayang-bayang dikepalanya.


Seumur hidupnya baru pertama kali ia mengalami hal ini.


Drrt…. Drrt….


Getaran dari ponsel Reynand. Nayla melirik meja. Dia pun segera mengambil ponsel tersebut.


*SUCI*


“Halo, a-ada yang mau saya sampaikan.” Suara diseberang terdengar gugup.


“Suci?”


“Maaf apa saya bisa berbicara dengan pemilik hape ini?” Rupanya Suci belum menyadari kalau yang berbicara dengannya saat ini adalah Nayla.


“Ci, ini gue Nayla.”


“Ha? Jadi lo sekarang lagi sama laki lo Nay?!”


“Iya. Gimana disana anak-anak pada heran nggak, gue nggak ada disana.”


“Nggak.Yang lain udah pada balik kekamar masing-masing. Sudah pada tidur mungkin habis kehujanan. Dan, kayaknya cuma gue aja yang khawatir sama Lo. Untungnya lo satu kamar sama gue. Kalau nggak, bisa ****** lo.” Suci nyerocos tanpa jeda.


“Iya, deh iya. Bu Tami nanyain gue nggak?”


“Untungnya bu Tami nggak nanyain lo. Sekarang lo cerita. kenapa lo bisa ada sama laki lo sekarang?”

__ADS_1


“Duh nanti aja gue cerita. Soalnya ceritanya panjang.”


“Ya lo ma. Gue penasaran nih.”


“Aduh, besok deh besok. Sekarang udah dulu ya. Besok pagi gue balik kesana.”


Tutt…. Nayla mengakhiri panggilan telpon. Huh, Nayla merasa lega setelah menerima telepon dari Suci. Untungnya Suci menyimpan nomor Reynand diponselnya. Sehingga dia dapat diandalkan disaat-saat seperti ini.


Reynand belum juga kembali kekamar. Kenapa ya? Nayla ingin memeriksanya diluar.


Saat itu diluar kamar. Reynand tengah terduduk termenung disofa. Ah, dia belum juga melupakan kejadian tadi. Kalau saja Nayla tidak menghentikan aksinya tadi entah apa yang akan terjadi pada mereka sekarang. mungkin saja mereka akan…. Reynand menggelengkan kepalanya. Pikirannya sedari tadi tidak jauh-jauh ingin melepaskan hasrat yang selalu ia tahan sejak lama ketika selalu berada didekat Nayla. Bagaimana ini? kalau begini terus dia bisa jadi gila. Dan juga menahan ini semua sangat menyakitkan baginya. Tapi, apa gadis itu mengerti apa yang dia inginkan. Kalau tidak, bisa saja dia melakukan kesalahan. Reynand kembali menghela nafas panjang dengan nafasnya yang sedari tadi sudah sangat berat.


Apa dia harus pushup. Sepertinya begitu. Setidaknya itu bisa menghilangkan rasa tegangnya sekarang. tubuhnya butuh banyak bergerak.


“Abang ngapain?”


“Saya sedang olahraga.”


“Olahraga?”


“Iya, akhir-akhir ini berat badan saya mulai naik.” Reynand berbohong.


Nayla memperhatikan tubuh Reynand yang mulai berkeringat dari atas sampai bawah. Perasaan tidak ada perubahan dari tubuh laki-laki itu. masih ideal seperti sebelumnya.


“Abang, aku mau tanya.”


Reynand terdiam sejenak. Wajahnya terlihat canggung karena hal yang dia lakukan pada Nayla tadi.


“Mau tanya apa?” menerka-nerka soal kejadian sebelumnya.

__ADS_1


“Sebenarnya, kita tadi...."


Apa? Apa? yang akan gadis ini tanyakan?


Nayla menunduk malu hendak menanyakan apa yang akan dia maksud.


"Nayla, kami tidak pernah pacaran bukan?"


Pertanyaan sepontan Reynand membuat Nayla mengangguk kaku. Dirinya memang tidak berpacaran. Alasan salah satunya adalah, dia memang jarang keluar rumah sejak sang ayah meninggal.


Reynand tersenyum benar saja, dia telah melakukan hal ini kepada seorang gadis polos.


"Ya, sudah sepertinya kamu belum siap ngelakuin itu."


"Ngelakuin apa?" tanya Nayla.


Reynand tersenyum. "Belum saatnya, ya sudah lebih baik kita tidur sekarang."


Dengan segera Reynand pun menggandeng tangan Nayla untuk masuk kedalam kamar.


*


*


*


*


Happy Reading. Maaf kalau kirang nyambung bab ini sudah direvisi wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2