
****
Turun dari mobil, Nayla berjalan menuju gerbang dengan hati yang cerah. Menoleh kebelakang sejenak ia lalu tersenyum dan menunggu mobil itu melaju pergi.
Baru berpisah sebentar sudah kangen. Nayla pun malu sendiri. Apaan sih?
"Masih waras ci."
"He em."
Kepala Nayla langsung terangkat saat tiba-tiba kedua sosok sahabatnya berdiri tepat didepannya.
Mereka rupanya sedang asik mengintip wajah Nayla yang tengah senyam senyum sendiri.
"Apaan sih? Gue masih waras ya." Nayla memalingkan wajah cemberut.
Tia mengernyit. "Habisnya lo senyum-senyum ga jelas." Gadis itu bersidekap heran.
"Paling juga gara-gara si babang." Sahut Suci.
Nayla mencibir, terserah dia dong. Suami, suaminya.
Sesaat kemudian tiba-tiba arah pandang Nayla menatap sosok jangkung yang melewati mereka.
"Riko!"
Riko menoleh mendengar seruan itu. Tersenyum tipis lantas dia pun segera berlalu dari sana. Meninggalkan Nayla yang masih diliputi tanda tanya.
"Lo mau ngomong sesuatu sama Riko?" Tanya Suci penasaran.
"Tau! Udah punya laki juga, jangan ganjen sama cowok lain Nay." Sewot Tia.
Nayla seketika menatap Tia kaget. Tia ini minta dicabein ya mulutnya.
"Yak, lo apaan sih. Aneh tau gak." Suci memprotes.
Menghela nafas sejenak karena masih kesal dengan ucapan Tia, Nayla mencoba memberitahukan yang sebenarnya.
Cerita itu pun selesai setelah beberapa saat mereka dikelas dan duduk ditempat masing-masing.
"Oh...." Itulah reaksi yang Tia sampai setelah Nayla menceritakan kejadian pada hari dimana Riko bertemu dengan Reynand.
Melihat reaksi itu Suci langsung menyenggol lengan Tia keras.
"Apaan sih, ci. Sakit tau." Tia mengelus-elus lengannya.
"Lagian lo tu." Suci berbicara pelan namun tegang.
"Lo berdua kenapa?" Tanya Nayla bingung. Bingung karena kedua sahabatnya itu terlihat tidak terlalu bereaksi mendengar ceritanya. Atau mungkin mereka memang mengetahui sesuatu.
Sementara Tia masih bersidekap congkak, Suci pun dengan hati-hati mula bercerita.
"Nay, sebenarnya....." Suci meneguk ludah gugup.
"Apa?" Nayla penasaran.
"Soal itu...." Huh, Suci bingung bagaimana cara mengatakannya.
"Lama banget lo Ci, tinggal ngomong apa susahnya." Tia tiba-tiba menyentak.
"Sabar kenapa sih, lo!" Suci pun tersulut kesal.
Nayla mendadak pusing. Berbalik sebal karena sang sahabat tak kunjung mengatakan intinya, maka ia pun mulai mengeluarkan buku untuk menyibukkan diri.
__ADS_1
"Nay, Nay.... dengerin dulu " Suci menahan.
Jengah Nayla mengembalikan buku-buku itu maka ia berbalik lagi ke belakang. "Mau ngomong apa sih sebenarnya?"
Suci menghela nafas. "Riko, dia udah lama tau kalau lo udah nikah."
Nayla mengerjap kaget, tidak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan.
Riko sudah lama tahu? Kapan?
Tidak menunggu Nayla bertanya lagi, kemudian Suci menjelaskan kembali. "Waktu study tour, Riko yang cerita kalau, dia ketemu Reynand waktu itu."
Apa tadi katanya?
Tunggu, Nayla masih bingung soal ini.
"Riko ketemu Reynand? Dimana?" Tanya Nayla tak percaya.
"Malam api unggun waktu itu, waktu dia bawa lo pergi pas hujan-hujan. Katanya kalian berdua sempat ribut dan dia lo tinggal pergi....." Suci meneruskan semua ceritanya sementara Nayla menyimak dengan hati tak menentu.
"Riko bilang ke gue, dia sempat ngikutin kalian di hotel. Riko bersikeras bawa lo balik ketempat hotel tempat kita menginap. Sampai akhirnya Reynand pun terpaksa ngasih tahu tentang kalian karena, dia soalnya ngelarang Riko untuk bawa lo dalam keadaan pingsan."
Nayla termangu ia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Jadi gara-gara itu akhirnya Riko menjauh. Seharusnya Riko cerita dan bertanya, bukan malah menjauh. Mendadak Nayla menjadi sebal dan kesal.
Tunggu, kenapa Reynand juga tidak bercerita? Kenapa sih dia seperti orang bodoh.
"Kenapa lo baru cerita?" Nayla meluapkan rasa kesalnya.
"Maafin kita Nay, Riko yang nyuruh kita buat ngerahasiain ini dari lo." Sahut Suci akhirnya.
"Ya tapi kenapa?" Nayla belum puas.
Tia yang masih bersidekap langsung berkacak pinggang.
Disentak begitu tentu saja Nayla terkejut. Tia ini kalau ngomong memang suka tidak disaring dulu omongannya. Berdiri dari kursi duduknya hingga terdengar suara berdecit, Nayla benar-benar sudah tidak tahan lagi.
"Lo itu kenapa sih ya? Selama ini gue diem terus ya sama tingkah lo ini. Gue ada salah sama lo!?" Tanya Nayla ngos-ngosan. "Emang gue nggak sadar apa, lo tu kayak nggak suka sama gue."
"Aduh lo berdua ini apaan sih?" Suci celingak-celinguk takut ada yang memperhatikan. Beruntungnya anak-anak dikelas itu sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Beruntung juga suasana kelas yang gaduh dan berisik membuat suara mereka tersamarkan oleh itu.
"Lo ada masalah apa sama gue, hah!?" Nayla semakin menantang Tia.
Tia lantas menoleh. Tersenyum sinis lalu dia berucap. "Enak ya jadi lo, udah cantik, pinter, banyak yang suka, terus udah nikah lagi sama orang kaya dan terkenal. Enak banget sih, hidup lo."
Ha?
Nayla mengernyit bingung, tidak mengerti kenapa Tia harus menyebutkan semua itu.
Tak kalah Suci yang jadi penengah pun mendadak memandang Tia dengan pandangan tak jauh beda.
Melihat semua orang menatapnya seperti itu Tia semakin memalingkan wajahnya. Bergegas ia pun keluar dari kelas tidak perduli kalau bel masuk sudah berbunyi.
Sepeninggal Tia maka Nayla dan Suci pun saling pandang tidak mengerti.
Ada apa dengan Tia sebenarnya?
~
"Rey...." Begitulah keluhan Dion saat baru memasuki rumah besar itu.
"Hem.... lo urus deh."
__ADS_1
"Lo jangan gini dong Rey, gue udah habis-habisan nih ditegur sama produser iklan itu. Lagian sih, lo cari masalah aja kerjaannya."
Lalu mendudukan dirinya disofa Reynand mengusap wajahnya pelan.
"Rey, woi. Lo nggak tanggung jawab amat sih."
Dion mendesah.
"Kontrak film, lo batalin, padahal lo itu beruntung nggak usah casting lagi buat dapetin peran itu, langsung ditawarin. Aktor-aktor lainnya berlomba-lomba Rey untuk bisa main di film ini."
Reynand masih terdiam, belum menggubris.
"Yon kayaknya untuk beberapa saat gue gak terima job dulu deh."
Bergening sesaaat. "Maksud lo?" Dion yang tengah mengusap wajah itu mengangkat kepalanya.
"Beberapa waktu kemudian gue mau vakum dulu, yon."
"Gak bisa! Rey...." Dion benar-benar pusing, ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Terus semua kontrak yang udah lo setujuin gimana?"
"Batalin. Bisa?"
"Lo tu...." Dion menjenggut rambutnya kasar.
"Gue bakalan kena masalah besar Rey, lo gak pernah mau ngurus semua itu, kan."
"Ya, udah yon, urus-urus tinggal urus." Jawab Reynand santai.
Dion memandang tak percaya. "Gampang banget lo ngomong ya Rey. Lo nggak mikirin gue apa." Tatap Dion tak mengerti.
"Gue butuh waktu untuk berpikir yon. Masalah denda nanti gue urus."
"Rey...."
"Gue punya alasan ngelakuin ini."
"Tapi Rey.... Job yang udah lo ambil banyak dan gimana cara ngebatalin itu semua."
Dion memejamkan mata tidak mengerti. "bukan cuma itu, gimana soal rencana lo? Lo nggak bisa ngelakuin itu kalau duit tabungan lo habis buat bayar semua denda ini."
Reynand mengerling kesana-kemari. "Itu biar gue pikirin nanti."
Dion terperangah tidak percaya.
ini serius?
Reynand yang biasanya sangat antusias dengan rencana masa depan dan cita-citanya kini berubah drastis. Maksudnya, Reynand tidak bersemangat seperti dulu saat membahas hal ini.
Maka Dion pun mulai menerka-nerka. Ada apa dengan Reynand?
"Apa, lo udah buat keputusan, untuk nerima tawaran kakek?"
*
*
*
*
Berikan cinta kalian untuk author dengan cara Like, vote, komen!
__ADS_1
Maafkan typo.
Happy Reading!