Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Nama


__ADS_3

****


Saat itu, Haritano yang tengah kebingungan karena pihak perusahaan Soeseno Prasaja yang sedari beberapa hari lalu tiba-tiba membatalkan semua kerjasama mereka mulai dari penarikan saham, pembatalan pemberian bantuan pada perusahaannya dan juga mengurungkan niat untuk memberikan sponsor untuk produksi film mereka, hal tersebut sungguh membuatnya kelimpungan.


Bahkan beberapa karyawan yang ia utus untuk menemui pihak Soeseno secara pribadi tidak digubris, alhasil para bawahannya kembali tanpa membuahkan hasil.


"Kenapa ini?!!!" Begitulah kerisauan yang Haritano lontarkan kepada para karyawannya yang ada dikantornya pribadinya saat itu.


"Apa masalahnya, bukankah selama ini semuanya baik-baik saja." Haritano mengusap wajah dan menjenggut rambut klimisnya frustasi.


Sang sekretaris wanita pun lalu angkat suara. "Kami juga tidak mengerti Pak, yang jelas pihak mereka menolak dengan keras kedatangan kami tanpa tahu jelas alasan pastinya." wanita cantik itu lalu menunduk kembali.


Namun akhirnya alasan pasti dari semua masalah yang ia alami saat ini akhirnya terungkap.


"Pak anda bisa melihat video ini."


Melihat cuplikan video dari laptop yang disodorkan sang sekertaris beberapa saat kemudian seketika itu juga wajah Haritano menjadi pias. Bagaimana? Bagaimana mungkin anak muda itu adalah, cucu dari Soeseno? Apa ini? Bagaimana mungkin dirinya tidak menyadari itu?


Dan, ditengah kebingungan itu pintu ruangan tiba-tiba diterobos paksa oleh sosok berwajah sembab yang terlihat sangat sayu.


"Daddy, aku mau Rey...." Sosok cantik itu terlihat memegang sebotol minuman ditangannya.


"Daddy mau kan, bantu aku lagi." Lalu cegukan.


Haritano yang tengah serius atas masalahnya hanya bisa membulatkan mata melihat tingkah putri semata wayangnya itu.


"Dad...." Airin mendekat menggelayuti sang ayah manja. "Bantu aku buat ngedapetin, R-rey.... dia nggak boleh bahagia sementara keadaan aku kayak gini."


Haritano yang mendengar itu menggoyangkan bahunya membuat sang putri terdorong menjauh. "Apa-apaan kamu Airin!! Kamu nggak ngerti kalau Daddy lagi pusing memikirkan perusahaan, apa kamu nggak lihat berita sekarang?! Kamu lihat, perusahaan Daddy jadi kacau!!??" Haritano benar-benar tidak habis pikir, penanam saham paling besar diperusahannya membatalkan kerjasama. Penopang lancarnya jalan perusahaan mereka selama ini tidak lagi menggubris mereka.


"Daddy jangan begitu dong aku...." cegukan. "Aku cuma mau Rey...."


Tingkah Airin benar-benar menyulut amarah Haritano. "Bawa anak ini keluar!!!!" perintah Haritano kepada bawahannya.


Saat dirinya hendak ditarik oleh bawahan sang Ayah, Airin lalu memberontak. "Jangan sentuh gue!!" Ia kemudian mendorong dua lelaki yang hendak menggiringnya. "Pergi!!"


Dua orang karyawan yang bingung harus melakukan apa hanya bisa menatap Haritano seolah seolah meminta titah selanjutnya.


"Tarik dia keluar!" Perintah Haritano lagi.


"Berenti!! Berani sentuh gue, gue lempar botol ini ke kepala lo semua." Airin mengacungkan botol minuman ditangannya.

__ADS_1


"Airin! Kamu benar-benar keterlaluan!!"


Airin lalu menatap sang ayah dengan senyum meledek. "Daddy yang keterlaluan!!!! selalu nggak bisa memenuhi apa yang aku mau." Airin lalu tersenyum sinis seolah meledek laki-laki pertama dihidupnya itu. Ia kemudian berjalan mendekati ayahnya. "Apa yang udah Daddy lakuin buat aku??!!" diam beberapa saat. "Kalau aku nggak bergerak, mungkin sekarang aku masih kayak burung yang dikurung dalam sangkar." Suara Airin merendah sedih. "Jadi sosok yang lemah dan...."


"Jangan bikin malu Airin!"


"Kalau aku bikin Daddy malu, salahin diri Daddy sendiri kenapa aku bisa begini!!!!"


Haritano bungkam dengan wajah memerah menahan amarah didadanya. Sementara dua orang karyawan den seorang sekertarisnya hanya bisa terdiam menunduk melihat pertengkaran meneganggkan ayah dan anak itu.


"Kenapa Daddy diam? Benarkan, seharusnya Daddy tau kenapa aku begini. Karena Daddy lebih sibuk dengan urusan Daddy daripada meluangkan waktu mengurus aku sejak Mommy meninggal." Lagi-lagi Airin tersenyum sinis. "Aku yakin Mommy meninggal juga gara-gara sakit hati sama Daddy, Iya kan?!!!"


PLAK!!


Airin terpejam sesaat, tamparan itu sangat panas. Terdiam beberapa waktu kemudian ia kemutar kembali kepalanya yang tertoleh karena tamparan itu. Dengan menahan sakit dihati ia tersenyum sinis.


"Mungkin memang lebih baik, aku kembali bersama keluarga Mommy diluar negeri. Percuma aku berusaha mengemis cinta pada sosok seperti anda wahai Haritano!!"


Brak!


Pintu ruangan tertutup kembali dengan sangat keras setelah Airin keluar dari ruangan itu.


Haritano merasakan denyut jantungnya yang begitu kencang, ia pandangi telapak tangannya yang masih merah setelah mengayunkannya dengan keras kepada buah hatinya. Ia menunduk sesaat, mencoba menyelami segala kejadian mengejutkan yang ia alami beberapa saat ini.


Dengan tatapan kebingungan laki-laki itu menerima sebuah surat perintah penahan akan dirnya. Wajah Haritano kembali menegang, dirinya dilaporkan oleh seseorang atas pemalsuan surat kontrak dan pemaksaan kerja kepada beberapa artis yang dinaungi manajemennya yang membuat ia harus bertanggung jawab penuh atas semua ini.


"Kami juga mencari putri anda atas laporan melakukan kekerasan terhadap seorang wanita dan juga putri ada terlibat dalam penyalahgunaan obat terlarang. Kami punya beberapa rekaman video cctv beserta barang bukti lainnya untuk kasus pertama. Dan untuk anda sendiri silahkan ikut kami sekarang."


Tamat, Haritano merasa riwayatnya benar-benar tamat. Ia memandangi karyawannya satu persatu seperti meminta pembelaan, namun beberapa orang tersebut hanya bisa menundukkan kepala kaku dalam suasana tersebut.


****


"Ada apa?" Tanya Nayla saat Reynand telah selesai melihat sebuah berita diponselnya dengan menampakkan raut wajah serius.


"Gimana perasaan kamu sekarang?" Ujar Reynand sembari menarik Nayla untuk duduk dipangkuannya.


Nayla belum menjawab pertanyaan itu, ia menatap Reynand lama untuk beberapa saat. Sementara Reynand mulai mengecupi lehernya pelan dengan tangan mengelus-elus perutnya.


"Kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan?"


"Mau laki-laki atau perempuan yang penting sehat."

__ADS_1


"Tapi kok aku mau anak perempuan ya, Nay."


"Hmm, jadi kalau yang lahir anak laki-laki abang nggak mau."


"Bukan, cuma kalau anak perempuan aku udah punya nama buat dia."


"Siapa namanya?"


Tdak menjawab pertanyaan sang istri kini Reynand malah menurunkan kaos longgar Nayla hingga bahu putih gadis itu terbuka olehnya. Laki-laki itu kemudian menenggelamkan wajahnya disana. Sesekali ia mengecupinya dengan pelan, hingga Nayla bergidik geli dibuatnya.


Dan, saat Reynand mulai membaringkan gadisnya diatas ranjang lagi-lagi Nayla mendorong tubuhnya.


"Jangan!"


"Kenapa?" protes Reynand.


Nayla kemudian beranjak dan mendudukan dirinya . "Lupa ya pesan mbak Beta, jangan dulu."


Reynand kemudian terkekeh oleh itu. "Nggak kok, aku cuma mau peluk kamu." ia lalu kembali merengkuh tubuh istrinya dengan erat.


"Nay disayang-sayang dong."


"Disayang-sayang gimana? Ini udah disayang." Nayla membalas pelukan ditubuh itu semakin erat untuk membuktikan rasa kasihnya terhadap suaminya itu.


"Kepalanya dielus-elus, Nay." Reynand kemudian menggiring tangan Nayla untuk berada dikepalanya.


Nayla pun akhirnya menuruti itu. Ia sebenarnya bingung sendiri semakin hari sikap manja Reynand semakin bertambah. Apa ini juga bawaan bayi?


"Oh, iya tadi kalau anak perempuan abang mau kasih nama siapa?"


Reynand mengangkat kepalanya tersenyum. "Reyana."


*


*


*


*


Hai, semuanya terimakasih banyak buat yang udah mendukung cerita ini selama ini. Terimakasih buat yang udah nyumbang vote, like dan menyemangati lewat komen.

__ADS_1


Maafkan jika ada kekurangan dalam segala hal.


Happy Reading!


__ADS_2