
****
Kepergian Nayla untuk melaksanankan study tour kebali tanpa sepengtahuannya benar-benar membuat Reynand tidak habis pikir. Bagaimana tidak gadis itu sedikit pun tidak memberinya kabar baik melalui telepon atau pun pesan. Dia pun juga sudah berkali-kali menghubungi Nayla namun tidak ada jawaban dari gadis itu.
Saat itu Reynand tengah duduk memperhatikan Romeo dengan seksama. Anak itu terlihat serius mengerjakan tugas sekolahnya ditemani dengan tayangan film laga di-TV. Ternyata membuat tugas sambil nonton TV ternyata masih bisa fokus juga, Reynand mangut-mangut.
“Mami biasanya pulang jam berapa?” Reynand mencoba berbasa-basi. Selama ini dia memang belum pernah sekali pun mengobrol dengan Romeo.
“Jam 9 malam.”
“Mami sudah tau kalau kakak kamu hari ini pergi?”
“Sudah, sebelum nikah sama abang kak Nayla sudah izin. Mungkin dari satu bulan yang lalu.”
“Satu bulan yang lalu!?”
“Iya.”
Kenapa Nayla tidak pernah cerita? Benar, gadis itu memang tidak menceritakan tentang sekolah kepadanya. Bukan salah Nayla juga tapi, dirinya juga tidak pernah bertanya apapun tentang sekolahnya kepada gadis itu.
“Kamu, sudah biasa sendirian dirumah?”
“Nggak, dulu waktu masih ada Kakak. Kakak yang selalu menemani aku.”
“Maaf ya gara-gara kakak kamu nikah sama saya. Kamu jadi sering sendirian dirumah.”
“Kalau aku nggak apa-apa tuh sendirian! Kecuali Kak Nayla, dia paling nggak bisa sendirian dirumah.”
“Maksudnya?”
Seketika Romeo menoleh dan langsung menatap tajam kearah Reynand. Menatap protes kepada kakak iparnya itu. Reynand pun menatap balik tak mengerti membuat Romeo menarik nafas panjang.
“Jangan-jangan Abang nggak pernah memperhatikan Kak Nayla.” Sorot mata Romeo terlihat menuding.
Maksudnya? Reynand kembali tidak mengerti. Dia bukannya tidak memperhatikan hanya saja dirinya terlalu sibuk bukan?
Romeo kembali nafas panjang. Ia menggeleng-gelengkan kepala, tidak menyangka kakak kesayangannya akan menikahi pria yang sama sekali tidak memberi perhatian sepenuhnya.
“Kak Nayla itu paling nggak bisa dirumah sendirian.”
“Kenapa?”
“Dia takut.”
“Takut?” Reynand menampakkan wajah bingung.
__ADS_1
“Duh gimana si. Katanya suami istri, tapi soal begituan aja Abang nggak ngerti.”
“Maksudnya. Saya nggak ngerti apa yang kamu katakana?”
“Jadi sejak papi meninggal Kak Nayla itu nggak bisa ditinggal sendirian dirumah. Kalau kakak ditinggal sendirian dirumah kakak bakalan histeris karena terlalu banyak memikirkan sesuatu dan akhirnya nggak bisa tidur.”
Reynand terdiam, Ia ingat tatkala Nayla sakit gadis itu tiba-tiba menangis dimalam hari. Jadi apa saat itu Nayla sedang histeris? Ah, dia benar-benar belum mengerti apa-apa tentang Nayla.
Reynand segera mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Nayla kembali. Apa gadis itu sudah sampai sekarang?
~
Saat itu, sesampainya dihotel tempat mereka menginap Nayla langsung ambruk. Merebahkan diri diatas kasur. Dia butuh tidur sekarang. Dirinya terlalu ngantuk untuk berkegiatan saat ini. padahal guru sudah mengisntruksikan untuk berkumpul dibawah setelah beristirahat sehenak.
“Nay, ayo.” Suci menarik tangan Nayla. Hendak mengajaknya untuk berkumpul.
“Ehhh.” Melenguh menolak ajakan Suci.
“Duh.” Suci terduduk diatas ranjang menatap Nayla geram. Gadis itu belum juga merasa puas dengan tidurnya. Padahal tadi selama dipesawat Ia tidak bangun sama sekali. Ya, tapi mau bagaimana lagi dia sangat mengerti keadaan Nayla yang seperti itu. Si tukang tidur.
Drrrrt…. Drrrrt….
Suci mencari suara ponsel yang bergetar itu. Suaranya seperti dari mini sling bag milik Nayla. Suci segera meraih mini sling bag yang berada diatas meja itu dan mengeluarkan ponsel dari sana.
Sebuah panggilan masuk. Suci pun berinisiatif untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Halo.”
“Halo kamu sudah sampai?”
Suci terdiam sejenak. sepertinya Ia tahu siapa si Abang ini. Dia seperti…. Suci ingat ini adalah suara Reynand.
“Em…. Anu Naylanya lagi tidur.”
“tidur?”
“Iya. Katanya semalam dia kurang tidur.”
“Tolong bangunkan bilang saya menelepon.”
“I-iya akan saya bangunkan. Tunggu sebentar.”
Suci pun dengan segera menghampiri Nayla kembali.
“Nay, nay bangun.” Menggoyang-goyangkan tubuh Nayla.
__ADS_1
“Aduh gue ngantuk. Lo pergi sendirian aja. Bilang sama guru gue lagi mabok udara atau apa kek.”
“Heh, ini laki lo nelpon.” Suci langsung menempelkan ponsel tersebut ke telinga Nayla sambil memeganginya.
“Halo.” Terdengar suara Reynand dari seberang.
“Em.” Menjawab dalam setengah kesadarannya.
“Nay kamu ngantuk banget ya.”
“Em.”
“Kok kamu nggak bilang kalau mau pergi study tour. Saya sampai khawatir nyariin kamu.”
“Heeeeem.” Mengeram panjang karena merasa terganggu.
“Nay….”
“Apa siii.” nayla mulai gusar karena tidurnya diganggu.
“Ya ampun Nay, ini abang lagi nanya. Jawab dong.” Protes namun nada bicaranya lembut.
“Entar aja nanyanya gue ngantuk.” Menepis hape asal dari telinganya dan tidur kembali memeluk guling.
Melihat hal tersebut Suci geleng-geleng kepala dan kembali berbicara dengan Reynand.
“Ha-halo. Maaf Nayla-nya bener-bener ngantuk.”
“Ya sudah. Kalau begitu nanti saya akan telepon dia kembali.”
Tut! Panggilan berakhir.
~
Reynand menarik nafas kasar. Sepertinya dia baru sadar dengan keadaan Nayla yang sering kekurangan tidur dimalam hari. Selama ini Ia tidak menyadarinya karena Ia kira Nayla memang sengaja untuk tidur lebih malam karena mengerjakan tugas. Ditambah lagi dirinya juga lebih sering pulang larut atau subuh sampai-sampai dirinya tidak bisa memperhatikan masalah sekecil itu.
Entah kenapa Ia merasa sedikit kecewa karena Nayla tidak senang menerima telepon darinya. Bahkan ia merasa kalau Nayla sangat terganggu saat dirinya mengajak berbicara. Padahal baru kemarin malam Nayla mulai berani untuk mendekatinya. Bahkan gadis itu tidak sungkan untuk bersikap manja dan memeluknya.
Ternyata sendirian diapartemen ini tanpa Nayla mulai membuat ia merasa kesepian. Dia jadi menyesal telah memarahi Nayla malam itu. Karena takut melakukan hal yang diluar duggan dirinya jadi tidak bisa mengendalikan diri. Untuk pertama kalinya dia malam itu dia terus memarahi Nayla.
*
*
*
__ADS_1
*