
****
Saat itu, didalam tidur nyenyaknya. Nayla seperti bermimpi. Ia bermimpi Mami sedang membelai rambutnya. Seperti yang sering dilakukan dirumah. Samar-samar Ia juga seperti mendengar Mami memanggil-manggil namanya. Tubuhnya merasa terguncang.
“Nay.”
“Nay.”
Nayla menggeliat. Ia sedikit membuka matanya. Samar-samar Ia seperti melihat Mami.
“Nay. Bangun.”
Tubuhnya semakin terguncang.
“Bangun nggak. Nayla.” Suara itu sedikit meninggi.
Nayla terduduk kaget. Ia seperti melihat Mami duduk dihadapannya. Membuat Ia mengucek-ngucek kedua matanya berkali-kali dan berkedip.
“Mami.”
“Iya. Ini Mami.”
Nayla semakin membelalakkan matanya. Benar itu Mami.
“sudah berapa lama kau tidur?”
“Nggak tau. Tadi tu Nayla lagi berbaring diatas kasur. Terus ketiduran."
“Itu mata kamu kenapa bengkak?”
Nayla terkesiap. Ia baru ingat. Tadi dia menangis cukup lama sebelum akhirnya tertidur.
“Kamu kenapa?”
Nayla menggelengkan kepala. Mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Jawab Mami. kenapa kamu nangis?” Mami berusaha mencoba berusaha menjauhkan tangan Nayla dari wajahnya.
“Kamu, jangan-jangan di apa-apain sama Reynand.” Mami mulai menduga-duga.
“Nggak, nggak bukan karena itu.”
“Terus kenapa?”
“Nayla nggak apa-apa Mi.”
“Nayla jangan bohong. Mami tau kamu pasti ada masalah iya kan?”
__ADS_1
“Kalau kamu nggak jawab Mami akan tanya sama Reynand.” Mami beranjak dari duduknya.
“Mi. Nayla mohon ini bukan gara-gara Bang Reynand.” Nayla mencoba menahan Mami. Membuat Mami duduk kembali.
“Kalau begitu jelaskan kamu kenapa?”
Akhirnya dengan sedikit berbohong. Nayla pun menejelaskan Ia menangis karena rindu. Ia rindu suasana rumah dan Mami beserta adiknya Romeo. Walaupun begitu Ia juga merasa bersalah. Ia tidak bisa menceritakan semuanya kepada Mami. Daripada Mami khawatir lebih baik Ia menutupi sebagian hal yang mengakibatkan rasa sedih dan tangisnya.
Mami terenyuh mendengar penjelasan Nayla kemudian memeluk putrinya itu erat. Anak gadisnya itu memang belum pernah berpisah dengannya sebelum ini. Selama 18 tahun mereka selalu bersama. Kini mereka tinggal terpisah karena Nayla sudah menikah diusia yang sangat muda. Entah mengapa rasa bersalah kembali timbul pada diri Mami.
“Maafkan Mami ya. Kamu jadi harus merasakan semua ini.” Mami membelai rambut Nayla.terlihat jelas perasaan bersalah pada diri Mami.
Nayla berusaha tersenyum. Dia jadi merasa bersalah membuat Mami merasa khawatir.
“Nggak apa-apa Mi. Nayla hanya belum terbiasa jauh dari Mami dan Romeo.” Menggenggam tangan Mami mencoba menenangkan.
Mami tersenyum. Ia kembali membelai rambut anak gadisnya itu.
“Oh Iya. Mami kok bisa kesini?” Nayla mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Ya bisa dong. Memang kenapa?”
“Mami naik apa?”
“Naik mobil.”
“Iya.”
“Ya ampun Mami kan lagi banjir.”
“Mami bisa kok melewatinya. Kamu tau kan Mami ini sudah dari dulu menerjang kerasnya kehidupan. Demi kamu banjir pun akan Mami lalui.” Mami mendramatisir ucapannya.
Nayla terharu dengan penjelasan Mami. Mami memang beda. Ia benar-benar wanita yang sangat kuat. Membuatnya benar-benar salut dan beruntung memiliki Mami.
Sementara itu diruang tamu. Reynand menunggu dengan was-was. Ia takut kalau Nayla mengadukan hal yang tidak-tidak kepada Mami. bagaimana kalau Mami tau kalau mereka tidur terpisah. Kalau Mami tau apakah Mami akan mengadukan dengan Kakek. Jangan sampai Kakek menyuruh mereka untuk tinggal dirumah. Pikiran reynand sudah melayang kemana-mana.
“Reynand.”
“Iya Mi.”
Reynand beranjak dari duduknya. Mami sudah keluar dari kamar bersama Nayla.
Namun raut wajahnya tiba-tiba berubah. Nayla gadis itu. Matanya merah dan sembab. Reynand jadi menduga-duga tentang apa yang mereka bicarakan didalam.
“Reynand Mami pulang dulu.”
“I-iya Mi.”
__ADS_1
Reynand merasa lega Mami terlihat tidak marah kepadanya. Sepertinya nayla tidak menceritakan kalau mereka tidur dikamar yang berbeda. Tapi melihat wajah Nayla yang sembab Ia masih penasaran tentang apa yang terjadi didalam kamar tadi.
“Sayang Mami pulang ya.” Mami kembali memeluk Nayla erat. Anak gadisnya itu membalas erat pelukannya.
“Reynand.”Mami beralih memeluk Reynand.
Sangat nyaman. Reynand dapat merasakan itu. pelukan Mami sangat nyaman. Sudah lama Ia tidak merasakan pelukan seorang Ibu. Selama ini Ia selalu menjauh saat Mama-nya ingin memeluk.
“Reynand Mami pulang ya. Kamu jaga Nayla baik-baik.”
“Iya Mi. Tentu saya akan menjaganya dengan baik.” Reynand mengangguk.
“Kamu sering-sering ajak dia ngobrol ya.”
Reynand tertegun. Entah kenapa Ia merasa Mami tau kalau dirinya jarang mengajak Nayla ngobrol.
“Dia ini orangnya pemalu. Apalagi kalau sama orang baru. Ingat kalian berdua itu sudah menikah. Mau tidak mau segala hal harus kalian bicarakan dari hati kehati.”
Jantung Reynand seperti tertancap. Ia merasa perkataan Mami memang ditujukan kepadanya.
“Apaan Mi udah.” Nayla mencoba mengehentikan. Ia takut kalau Reynand merasa tidak nyaman.
Mami melotot. Membuat Nayla semakin menahan Mami dengan ekspresi wajahnya.
“I-iya Mi.” Reynand mengangguk lagi.
“Ya udah kalau begitu Mami pulang dulu. Sudah sore. Nanti Romeo nyariin Mami. kalian baik-baik berdua.”
Sepulangnya Mami dari rumah. Mereka berdua terdiam.
Reynand medekati Nayla. Ia masih penasaran soal kenapa gadis itu menangis.
“Lo nggak apa-apa?”
Nayla tidak menjawab. Ia hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1