
****
Reynand yang tengah dipengaruhi obat bius karena tadi sang Om yakni dokter Ridwan kembali memeriksa jahitan pada lukanya lalu melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuhnya itu. Dimana kini membuatnya semakin terbaring lemah diranjang rumah sakit.
Ia sempat menolak tadi untuk melakukan pemeriksaan ulang tersebut, namun apa daya kakek adalah orang yang berpengaruh paling besar dalam hidupnya. Tentu saja dengan tubuh yang sedang tidak berdaya itu dia bisa apa, selain hanya bisa menuruti kehendak sang pemilik aura mengerikan itu.
Semua pasti tahu tidak ada ada yang bisa membantah dan menghalangi jika kakek sudah berkehendak dengan titahnya.
Dan, saat itu sekitar pukul 13:00, siang hari laki-laki itu telah mendapatkan kesadarannya kembali.
Dion yang saat itu tengah menjenguk hanya bisa termangu melihat keadaan Reynand yang begitu lemas tak berdaya, tidak seperti biasanya yang ia lihat. Reynand yang berkharisma dengan segala pesonanya.
Terduduk dikursi tepat dipinggir ranjang ruangan itu Dion mulai membuka suara.
"Sehat lo Rey?"
Mata sayu itu lalu melirik. "Menurut lo?" Reynand membenahi posisi berbaring sejenak. Dion membantu merubah posisi bantal disana, hingga Reynand bisa bersender dengan nyaman.
"Gue kira lo beberapa hari ini kemana?" Usapnya setelah membantu Reynand membenahi posisinya. "Pesan gak dibales, gue telpon nomor lo semua nggak aktif. Gue datengin dirumah, eh gue malah diusir sama pak security. Padahal kan tuh scurity biasanya juga welcome sama gue." Dion mendengus sejenak sebelum melanjutkan keluh kesahnya." Sakit hati tau nggak gue, Rey." lanjutnya lebay.
Reynand tidak menjawab keluhan itu, arah pandanganya lurus kedepan. Ia masih berusaha untuk menormalkan keadaannya saat ini. Ia merasa bahwa nyawanya belum terkumpul semua saat itu.
Dion paham dan berusaha mengerem mulutnya sejenak, mungkin karena sudah terlalu lama tidak melihat sosok ini, jadi dia terlalu bersemangat untuk membahas segala informasi yang sudah bersemayam dikepalanya. Memberikan waktu Reynand untuk menguasai dirinya sebentar dan Dion menunggu bersamaan keheningan.
"Jadi? Apa hal penting yang mau lo omongin?" Tanya Reynand akhirnya setelah kebisuan diantara mereka.
Menanggapi pertanyaan itu Dion langsung meraih map yang ia bawa, lalu setelah itu mengeluarkan selembar kertas dari sana.
Tangan Reynand yang terpasang selang infus meraih lembar putih yang disodorkan itu. Walau pun kepalanya masih terasa pusing rupanya ia masih bisa membaca rangkaian huruf-huruf itu dengan seksama.
Setelah selesai membaca surat itu Reynand menoleh kearah Dion. "Gue nggak pernah menyetujui ini." ujarnya heran dengan penuh keterkejutan.
Dion mengerti, lalu ia mengambil kertas itu kembali. Menarik nafas sejenak ia pun mulai menjelaskan semuanya.
"Pihak Manajemen, mereka berencana buat menahan lo disana. Maksudnya kontrak lo dengan mereka yang harusnya udah selesai dari beberapa hari yang lalu, tiba-tiba sudah diperpanjang tanpa sepengetahuan, bahkan tertulis disana bahwa lo menyetujui ini. Makanya beberapa hari ini gue berusaha untuk ngehubungin elo."
Reynand menyimak dengan seksama dan Dion lantas terus melanjutkan ucapannya.
"Sebelumnya lo nyuruh gue buat ngurus pengunduran diri lo dari sana, tapi mereka bersikeras dan bilang ke gue kalau lo sendiri yang ingin memperpanjang kontrak dengan mereka. Dan, mereka memberikan surat ini sebagai buktinya." jelas Dion lagi. "Jujur gue nggak percaya, nggak mungkin lo memutuskan untuk memperpanjang kontrak sementara gue nggak tau soal itu."
Mata Reynand tentu saja dengan jelas menunjukkan keanehan itu. Yang pasti baginya kontrak dengan pihak SBC entertainment sudah berakhir sejak beberapa hari yang lalu, sesuai dengan perjanjian yang mereka sepakati. Lalu apa ini? Kapan ia menyetujui kontrak itu? Kenapa bisa?
"Haritano atau Airin, gue yakin anak dan ayah itu ada dibalik semua ini." Tambah Dion kemudian. Tarikan nafasnya semakin memberat. "Mereka sempat ngancem gue, dan bilang akan nuntut lo, kalau akhirnya kita menghindar dari semua ini."
__ADS_1
Reynand mangut, sepertinya setelah ini dia benar-benar harus mengakhiri ini sesegera mungkin. "Baiklah, kalau itu cara mereka." Reynand tersenyum tipis penuh arti. Lihat saja nantinya bagaimana dia akan mengurus semua ini. "Ada cara yang lebih ampuh untuk memberi pelajaran kepada orang-orang licik macam mereka." ucapnya datar.
Dion termangu sesaat. "Maksudnya? Ini lo, beneran bakalan melepas semua ini? Karir lo didunia keartisan?"
Reynand mengangguk pelan dan terlihat yakin.
"Terus tentang cita-cita lo, dimana elo bilang bakalan membangun perusahaan sendiri dengan uang hasil jerih payah lo, perusahaan yang lo impikan akan lebih besar dari perusahaan kakek. Dimana menurut gue itu mungkin nggak akan mungkin terjadi dalam waktu cepat. Bagaimana dengan semua itu?" Tanya Dion menelisik.
Reynand tidak yakin sebenarnya dengan apa yang ia ucapkan saat itu. Yang pasti puncak dari semua itu adalah karena ia sangat tidak suka dengan tekanan yang ia dapat dari kakeknya. Menjadi anak yang orang tuanya bercerai lalu ia dipaksa sedari usia muda untuk belajar bagaimana mengelola perusahaan, membuatnya benar-benar tertekan. Jadilah pada saat itu ia membangkang, kabur dari rumah dan kemudian entah kenapa ia lalu menerima tawaran untuk menjadi seorang aktor.
Dion kemudian menghela nafas panjang. "Jadi, lo bener-bener bakal jadi pimpinan utama perusahaan kan, setelah ini?" Entah kenapa Dion tiba-tiba merasa haru saat mengucapkan itu. "Gue nggak nyangka, akhirnya lo setuju juga ngegantiin posisi kakek lo." Dion tersenyum bangga.
Reynand tersenyum dan mengangguk. "Em...." Kini ia berbalik menatap Dion dengan intens. "Makasih yon, lo udah mau nemenin gue selama ini."
"Seharusnya gue yang berterima kasih sama lo, kalau bukan karena lo. Mungkin gue nggak akan seperti ini sekarang, keadaan gue berubah karena lo, Rey."
"Gue nggak pernah merasa merubah keadaan lo." Sahut Reynand. "Lo sendiri yang berusaha membuat diri lo berubah."
Dion kemudian tertawa. "Biar bagaimana pun, gue mau berterima kasih Rey."
Sadar suasana sudah semakin larut Reynand kemudian mencetus. "Apaan sih lo, lebay tau. Jangan bikin aneh suasana, yon."
Dion lalu tergelak. "Yelah Rey, santai kali. Emang setelah ini lo nggak bakalan kangen sama gue?"
"Apaan sih, yon. Males banget gue kangen sama lo." Sambar Reynand cepat.
Reynand mengernyit. "Idih, geli yon, gue denger omongan lo."
Dion tergelak oleh itu. Huh, dia tidak menyangka. Akhirnya anak keras kepala ini nurut juga sama kakeknya.
Dan, ditengah suasana itu tiba-tiba ada sosok cantik dengan rambut panjang tergerai dengan sosok lelaki paruh baya yang membawakan koper besar hadir diantara mereka. Bak melihat bidadari Reynand dan Dion yang ada disana terperangah.
Reynand tersenyum memperhatikan sosok itu dengan seksama, entah kenapa melihat kehadiran pujaan hatinya membuat dirinya seperti mendapatkan energi kembali.
"Duh, cantik. Ini siapa sih?" Seru Dion tanpa sadar.
Reynand berdehem. "Istri gue, yon." ucapnya pelan menjawab seruan itu.
Dion pun tersadar. "Iya maaf, Rey." Lalu ia berpaling dan berbisik pada dirinya sendiri. "Lagian punya istri cantiknya kebangetan. Jangan salahin gue dong kalau tersihir sama pesonanya."
"Ngomong apa lo barusan?" Rupanya Reynand sedikit mendengarnya..
"Nggak, gue cuma bilang sama diri gue sendiri. Enak ya punya pasangan, ada yang memenuhi ruang hati yang kosong ini." Elak Dion lebay.
__ADS_1
Reynand tergelak. "Nikah yon makanya, nikah itu enak. Disayang-sayang, dipeluk-peluk, dibelai.
Biar nggak kesepian lo."
"A elah lo, Rey. Nggak usah diperjelas gitu kenapa. Bikin gue pengen aja lo."
Tak menggubris ucapan itu, Reynand malah senyam-senyum sembari menyambut sosok yang mendekat itu. "Sayang...." lirihnya serak.
"Huh...." Entah kenapa melihat sosok yang saling berpelukan itu membuat Dion menjadi gerah. "Duh, AC-nya padahal nyala. Tapi kok gue ngerasa panas gini ya." Sindirnya pada dua orang dihadapannya.
"Hai, Nayla." Sapanya setelah kedua orang itu melepas pelukan.
Nayla pun menoleh kearah Dion. "Hai!" Balasnya. "Kakak sehat?"
"Sehat banget, Nay." Sahut Dion.
"Nggak usah panggil dia dengan sebutan itu." Reynand menyahuti.
Dion mendengus. "Biarin kenapa sih Rey, masih untung Nayla manggil gue kakak. Nah, kalau dia manggil gue 'CINTAKU' atau lebih parah lagi misalnya 'SUAMIKU' entar loh malah ngamuk lagi."
Mendengar ucapan Dion barusan Reynand lantas melotot. "Lo, sengaja mancing gue?!"
"Ampun Rey, cuma becanda gue." Dion tergelak dengan keras.
"Mending lo pulang sekarang." Saran Reynand.
"I-iya, mending gue pulang, kan. Tenang aja Rey, gue paham kok. Selamat bersenang-senang." Lagi-lagi Dion terkekeh.
Beberapa saat kemudian Dion pun benar-benar pulang dan diikuti oleh Pak Tio setelahnya.
Dan, sekarang tinggal mereka berdua didalam ruangan rawat inap kelas president suites itu.
Jadi, apa yang akan mereka lakukan setelah ini?
*
*
*
*
Cuma bisa up satu dulu malam ini. Besok-besok aku usahakan lagi buat up lebih.
__ADS_1
Terimakasih buat yang selalu menantikan dan juga selalu mendukung cerita ini.
Happy Reading!