
****
Keesokan harinya, Nayla menuruni tangga dengan tidak bersemangat. Dia sudah siap berangkat kesekolah. Kepalanya pusing dan langkahnya gontai. Seperti biasa penyakitnya kambuh lagi.
Laki-laki itu benar-benar bedebah. Setelah membuang semua obat tidurnya. Dirinya dibiarkan tidur sendiri tadi malam. Parahnya lagi laki-laki itu sedang bersama wanita lain.
Mood-nya selalu berubah-ubah akhir-akhir ini, dan itu semua gara-gara laki-laki itu. Laki-laki yang meninggalkannya dalam keadaan bingung demi berduaan dengan wanita lain.
“Nay, wajah kamu kok lesu sayang.” Mama menghampiri Nayla sembari menyerahkan kotak bekalnya.
Nayla tidak menjawab, dia hanya membalas Mama dengan senyuman. Dia meraih kotak bekal yang Mama berikan.
“Pasti soal semalam ya, nggak usah dipikirin. Nanti biar Mama yang bicara sama Reynand. Kalau perlu Mama kan minta bantuan kakek untuk memberinya pelajaran.” Ujar Mama dengan galak sembari memegang bahu Nayla.
Gadis itu mengangguk dan kembali tersenyum.
Tak berapa lama yang sedang jadi perbincangan pun datang. Dengan rambut yang masih acak-acakan dan baju semalam dimana terakhir kali dia meninggalkan Nayla dikamar, Reynand terlihat memasuki rumah.
Huh! Nayla langsung membuang muka melihatnya. Rasanya malas sekali melihat wajah itu.
“Kamu mau berangkat sekolah?” Reynand menghampiri.
Apa?! Masih berani tanya-tanya setelah apa yang terjadi semalam? Jangan-jangan dia pura-pura apa yang dilakukannya semalam. Nayla kembali memalingkan wajah darinya. Berdecih tidak perduli.
Reynand mendadak heran. Dia merasa ada sesuatu yang janggal.
“Ma, aku berangkat ya.” Nayla langsung berlalu setelah memberi pelukan kepada Mama. Mengabaikan sesorang yang sedari tadi terus menatapnya itu.
“Nay….” Reynand mengikuti langkah Nayla.
Langkah Nayla terhenti, saat tiba-tiba langkahnya tersusul dan Reynand berdiri dihadapannya.
“Hei, kamu kok diam aja si?”
Tidak tahu diri sekali laki-laki ini. Ia pun melengos kembali mengabaikan Reynand. Benar-benar tidak tahu mau. dia sama sekali tidak merasa bersalah apa dengan perbuatannya semalam.
“Nay….” Reynand terus mengikuti langkah Nayla sampai keluar. Oke, dia mulai tidak mengerti ada apa dengan perempuan itu sekarang. Kenapa sikapnya jadi seperti ini? Apaka karena semalam? Kalau iya benar, itu memang salahnya. Dia memang khilaf. Tapi bukankah dia telah menghentikan aksinya. Dan memilih untuk tidur diapartemen tadi malam.
“Nayla kamu kenapa? Abang minta maaf soal semalam.”
Ucapan tersebut mampu menghentikan langkah Nayla yang hendak memasuki mobil. Dia pun berbalik, menatap Reynand dengan sorot yang sulit diartikan.
Jadi, apa laki-laki itu mengakui kalau dia memang berduaan dengan wanita tadi malam?
Apa yang akan dia katakan? Meminta maaf atau memeluknya dengan penuh penyesalan? Cih, (Ngarep)
Reynand menghela nafas sejenak sebelum akhirnya dia berbicara.
“Abang tau kamu belum siap…. melakukan itu semalam. Mungkin memang belum waktunya kita seperti itu.”
Ha?
Nayla mengerjap.
Melakukan apa?
“Kamu belum mengerti dan tidak seharusnya abang melakukan itu kepada kamu semal….” Perkataan Reynand terhenti, setelah dengan cepat Nayla berlari dan langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
Oke, Nayla mengerti sekarang arah pembicarannya. Dia melirik Pak Tio, takut kalau lelaki paruh baya itu mendengar. Astaga, kenapa pembahasannya malah kearah situ. Ya tuhan, bukan itu permasalahannya.
“Kenapa?” Ucapnya protes, setelah Nayla melepas bekapan pada mulutnya.
Namun tidak, Nayla malah menatapnya penuh rasa jengkel. Benar-benar tidak peka. Siapa juga yang mempermasalahkan soal itu. Ya tapi, dia memang memikirkan soal itu juga si sebenarnya. Intinya bukan itu pokok permasalahan terbesarnya. Hh, benar-benar membuat gusar.
Nayla pun kembali berlalu meninggalkan Reynand tanpa sepatah kata pun. Membuat Reynand bertambah bingung, sikap Nayla yang seperti ini adalah baru baginya.
Kenapa?
“Reynand.”
Suara Mama yang memanggilnya mengalihkan perhatian Reynand dari mobil yang perlahan melaju itu.
“Mama mau bicara sama kamu, ini soal tadi malam.”
Reynand dapat menangkap sorot mata keseriusan dari Mama. Tapi, soal tadi malam? Apa Nayla menceritakannya kepada Mama? Kenapa? Itu kan uruan mereka berdua. Kenapa Nayla malah menceritakannya kepada Mama. Apa gadis itu tidak merasa malu menceritakan masalah ranjang mereka.
Mama menghela nafas kasar sebelum akhirnya dia mendudukan dirinya disofa. Diikuti oleh Reynand yang duduk mengahadapnya.
“Mama tau, kamu masih marah sama Mama, dan tidak bisa melupakan masalah percerain Mama dan Papa.”
Reynand mengernyit. Ini Mama mau membahas masalah apa sebenarnya?
“Tapi walaupun begitu, sampai sekarang Mama ini masih orang tua kamu, Reynand. Jadi kalau kamu salah Mama masih punya kewajiban untuk mengingatkan kamu.”
Tunggu! Tunggu!
Reynand bertambah tidak mengerti apa maksudnya? Apa Mama menyalahkannya atas kejadiannya bersama Nayla semalam. Jadi Nayla benar-benar menceritakannya kepada Mama?
Salahnya dimana?
“Jadi Reynand, siapa wanita yang bersama kamu semalam?”
Eh? Wanita?
“Maksud Mama?” Dahi Reynand mengernyit, penuh keterkejutan.
“Wanita yang telah membuat kamu mengabaikan telepon dari Mama. Kamu sengaja kan, menonaktifkan ponsel kamu demi bisa berduaan dengan wanita itu. kamu menganggap Mama ini pengganggu hah!?”
Astaga, apa lagi ini. Reynand benar-benar tidak mengerti. Ia terlalu sulit memahami kalimat yang dilontarkan Mama.
“Reynand, kamu itu sudah punya istri, ingat! Tidak sepantasnya kamu berdua-duaan dengan wanita lain. Kamu tidak menjaga perasaannya Nayla apa?!”
Menjaga perasaan Nayla? Memangnya dirinya melakukan apa?
Otak Reynand masih berproses. Dia butuh waktu untuk mencerna arah pembicaraan Mama. Dia benar-benar bingung saat ini.
“Jadi apa kalian semalam melakukan hubungan intim?” Menghela nafas kasar sebelum melanjutkan ucapannya.
Ha?
“Apa susunya enak? Susu sebelah mana yang kamu pilih?”
Hubungan intim? Susu? Reynand mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
Dan sepersekian detik kemudian….
__ADS_1
Oke! Dia ingat sekarang. Sepertinya dia mulai mengerti apa permasalahannya.
Flashback On
“Sakit Rey….”Selena terus mengaduh. Rasanya benar-benar panas dan membengkak.
“Lagian lo si….” Reynand mendengus kesal sembari memijat jari jemari gadis itu.
“Kan elo yang tiba-tiba nutup pintu kulkas. Jadinya jari gue kejepit, kan.” Ujarnya masih meringis.
“Udah gue pijit. Paling besok sembuh.” Menghempas tangan mulus yang dia pegang itu, gadis itu pun memekik. Karena jujur saja pakaian minim Selena membuat dia jadi tidak fokus dan pikirannya pun jadi melayang kemana-mana.
“Duh, kasar banget si lo sama cewek.” Gadis itu merengek manja.
“Emang lo cewek?!” ucapnya ketus.
“Udah sana balik keapartemen lo.” Ya, lebih baik dia menyuruh Selena keluar dari apartemennya dari pada nanti dia tidak bisa berpikiran jernih.
“Lo mah jahat, masak gue diusir.”
Reynand meraih ponsel disamping tempat duduknya. Dia ingat tadi sedang menerima panggilan Mama Adel.
“Gue mau istirahat. Gue nggak mau diganggu.” Ujarnya lagi sembari memeriksa ponselnya.
Ah, ternyata ponselnya mati. Dia lupa mencharger ponselnya tadi.
“Kamar lo kan dua. Gimana kalau gue tidur disina aja.” Cewek itu masih meracau rupanya.
“Nggak! Keluar sana lo.”
"Galak amat si lo!"
Dengan raut wajah kesal Selena beranjak. Namun sebelum itu dia mengambil satu botol susu dan beberapa cemilan yang sengaja dia pinta dari Reynand. Terang saja gadis itu mengacak-ngacak isi kulkas Reynand tanpa izin tadi dan menjarah sebagian isinya.
“Ya udah, gue keluar. Makasih ya susu sama cemilannya.” Gadis itu melenggang pergi.
Reynand mengangguk tanpa menatapnya.
Flashback Off
Astaga, jadi Nayla bersikap seperti itu karena mendengar pembicaraannya dengan Selena tadi malam. Melalui sambungan telepon yang Mama speaker suaranya, pantas saja gadis itu mendengar. Baiklah, sepertinya dia harus segera meluruskan semua kesalahpahaman ini.
Reynand menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia hembuskan.
Satu lagi sifat Nayla yang dia ketahui sekarang. Gadis itu rupanya punya sifat yang lebih mengerikan, yakni cemburu. Jujur saja dia lebih suka Nayla menjadi galak, dia masih bisa sedikit menjinakkannya kalau soal itu.
Tapi, cemburu? Apa iya?
*
*
*
*
*
__ADS_1
*