
****
Reynand mendatangi kantor direktur utama SBC entertainment dengan malas-malasan. Entah kenapa dia sudah tidak tertarik lagi dengan semua ini. Tentang penawaran pembatalan gugatan yang ditukar makan malam dengan Airin. Dia benar-benar tidak ingin lagi mendatangi makan malam yang sangat tidak nyaman itu.
Ia merasa tidak nyambung dengan Airin. Gadis itu hanya mementingkan apa yang ia rasa saat mereka bersama malam itu. Tidak sadarkah dia bahwa Reynand hanya meladeninya asal karena merasa tidak enak.
Padahal kalau diingat-ingat. Airin dulu bukanlah wanita seperti itu. Dia tidak tahu apa penyebabnya kenapa gadis itu berubah sangat drastis.
"Rey...."
Suara lembut itu langsung menyambut kedatangannya.
Lalu memanggil lagi "Rey...."
Gadis itu langsung bergegas melangkah hendak menghampirinya, menyoroti dengan tatapan yang dalam. Hingga sontak hal itu tanpa sadar membuat Reynand langsung memundurkan langkahnya.
"Airin!" Haritano berseru. Mengisyaratkan putrinya itu untuk tidak melewati batas.
Mendengkus kesal, Airin menoleh kearah sang ayah dan menghela nafas kecewa.
"Apa yang bisa aku harapkan darin Daddy?" Gadis itu menatap sang ayah dengan sorot mata kesedihan.
Membuang pandangan sebentar Haritano menarik nafas panjang sebelum akhrinya berucap kembali "Lebih baik kamu keluar dulu!" perintahnya.
"Daddy...."
Haritano kembali menarik nafas lalu menghembuskannya pelan.
"Airin, cepatlah! Biar Daddy yang mencoba berbicara."
"Daddy nggak ngerti, aku mencin...."
"Airin!" Sentaknya keras, membuat putrinya itu langsung menggenang air mata. Ia menatap Reynand, dilihatnya laki-laki itu sedikit membuang muka darinya. Ia kembali menunduk, kecewa. Merasa semuanya tidak sesuai harapan. Kepedihan pun ia rasakan. Dengan cepat akhirnya dia pun keluar dari ruangan itu.
"Saya tahu Airin sudah membuat kehebohan."
Reynand menanggapi dengan wajah datar.
"Kelihatannya kamu merasa tidak nyaman."
"Tapi, seharusnya kamu tidak dirugikan, bukan?"
Reynand menegakkan kepala. Rahangnya tiba-tiba menegang. Dia memang tidak terlalu mengerti maksudnya, tapi dia yakin pasti laki-laki tua ini menganggapnya yang bukan-bukan. Seperti merendahkannya saja.
"Dia, putri saya satu-satunya...." Kemudian menjeda ucapannya, dia sedikit merunduk, matanya bergerak-gerak seolah ada sesuatu yang ia tahan. Hingga kemudian ia kembali menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya "Bukankah seharusnya kamu beruntung." Ia menatap Reynand nanar.
Lagi-lagi Reynand bergeming mendengarkan. Sorot matanya terus mencari-cari maksud ucapan orang yang ada dihadapannya itu. Sorot mata itu seperti sebuah harapan, Haritano jelas terlihat mengharapkan sesuatu darinya.
"Ah...." Haritano mendongak sembarang. "Maksud saya, ini tidak terlalu buruk. Kamu mempunyai eksistensi yang bagus."
"Kita akan sama-sama diuntungkan kalau bekerja sama." Haritano mulai menawarkan.
Reynand pun sedikit mengernyit tidak mengerti.
"Maksud saya.... jadi tolong bahagiakan Airin. Kamu bisa mencobanya pelan-pelan. Cari sesuatu dari anak saya, yang bisa membuat kamu, mencintainya."
Apa....
Jadi, Haritano memanggilnya kesini hanya untuk mengatakan itu.
~
Nayla menelepon Reynand berkali-kali. Namun, laki-laki itu tidak juga menjawab panggilannya. Sedari tadi dia sudah mondar-mandir menunggu. Ini sudah lewat 20 menit. Seharusnya laki-laki itu sudah menjemputnya.
Menunggu itu rupanya tidak enak. Nayla mulai kesal. Beberapa kali dia berdecak.
Dan disaat dia memutuskan untuk memesan taksi online, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam menghampiri dengan sekali klakson.
__ADS_1
Akhirnya datang juga, huh.
"Maaf ya abang telat jemputnya." Reynand mengembangkan senyuman saat Nayla memasuki mobil.
"Hm...." Menjawab kesal.
"Ngambek?" Intipnya pada wajah cemberut itu.
"Tau!" Jawabnya ketus.
"Kok kalau ngambek gini, jadi tambah sayang, ya."
Ah, wajah cemberut itu akhirnya merona. Ih, Reynand tu memang ya.
Tersenyum rayuannya berhasil, lalu Reynand menambahkan lagi. "Jadi, semakin sering ngambeknya, semakin besaaar rasa sayangnya."
Heh, Nayla akhirnya mencebik, ih apaan, lebay. Yang kali ini bukan rayuan lagi tapi udah lebay.
"Tapi sayang, kan?"
Ha? Seketika Nayla menoleh, kok Reynand bisa tahu, perasaan tadi dia ngomongnya dalam hati.
Melalui jalanan kota disore hari mungkin memang jarang mereka lakukan berdua. Bukan jarang tapi memang tidak pernah. Sehingga disuasana yang baru ini Nayla masih merasakan kecanggungan. Sesekali ia melirik Reynand. Terkadang lelaki itu yang sedang fokus menyetir itu menoleh dan tersenyum kearahnya.
Sungguh tidak disangka-sangka akhirnya hubungan mereka bisa seperti ini. Diam-diam Nayla tersenyum. Andaikan dulu dia bersikeras menolak perjodohan, mereka pasti tidak akan seperti ini, duduk berdua didalam mobil yang sama.
Ia melirik Reynand kembali, penasaran dengan perasaan laki-laki itu saat kakek akan menjodohkan mereka. Apaaaa, Reynand juga sempat menolak seperti dirinya?
Bisa saja iya, ingatkan saja dulu sehabis akad, Reynand mengajaknya untuk langsung pindah keapartemen dan tidur dikamar terpisah. Entah kenapa ia merasa sesak mengingat itu.
Tiba-tiba dia merasa takut. Apalagi mengingat tentang gosip Reynand dengan Airin masih belum hilang juga. Sakit, seharusnya dia adalah orang yang harus diketahui semua orang. Bukannya malah Airin.
Dia, tidak akan kehilangan laki-laki ini, kan?
"Kenapa?" Tanya Reynand seolah tahu tentang kegundahan Nayla.
Nayla tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala.
Seketika Nayla tersenyum dan merasakan kesejukan. Ia lalu memandang sosok itu dalam-dalam. Seolah ingin menyatakan ungkapan perasaannya yang tertahan, I love You.
Ah, Nayla memalingkan wajahnya, memandang keluar kaca mobil, kenapa susah sekali mengatakannya.
Lalu beberapa saat kemudian perhatiannya pun teralihkan.
"Mau itu." Tunjuk Nayla pada gerobak cilok yang hampir mereka lewati.
Reynand melihat keluar jendela kemudian tersenyum. Perlahan ia lalu mengulur laju mobilnya kemudian menepi.
"Yakin mau makan itu?"
Nayla mengangguk dengan mata memancarkan binarnya.
Lagi-lagi Reynand tersenyum. Baiklah, Reynand paham. Jajanan anak sekolah memang beda.
"Nggak usah turun." Ucap Reynand akhirnya.
Dengan sedikit menurunkan kaca mobil, laki-laki itu akhirnya memesan makanan tersebut.
"Mau berapa bungkus, mas?" Tanya penjual.
"Satu aja."
Setelah membayar harga Reynand lalu menyerahkan bungkusan tersebut pada sosok yang tidak sabaran itu.
"Abang mau?"
Reynand menatap bungkusan makanan itu. Saat ia membuka mulut hendak menolak. Tiba-tiba tatapan puppy eyes itu membuatnya ragu-ragu lalu mengangguk. Setelah itu ia membuka mulutnya saat Nayla mulai menyuapkan benda bulat nan kenyal itu padanya.
__ADS_1
"Gimana? Enak?"
Reynand kembali mengangguk dengan ragu-ragu, lalu sedikit mendesis. Wajahnya tiba-tiba terlihat memerah dan berkeringat.
"Abang kenapa?"
Reynand menggeleng dengan masih mengunyah makanan itu dengan sesekali mendesis. Matanya tiba-tiba melotot dan mengerjap.
"Abang nggak apa-apa kan?"
Laki-laki itu kembali menggeleng namun tiba-tiba- "Air Nay...." Reynand semakin terpejam, mulutnya masih mendesis lalu ia buka lebar-lebar menghembuskan hawa terbakar didalamnya.
"Nay, pedas...."
Ha?
Gadis itu mengerjap setelahnya sadar apa yang terjadi.
"Nay, ada air nggak?"
Masak sih pedas? Perasaan cabenya cuma sedikit. Ia lalu melirik gerobak makanan itu. Cilok mercon! Pantas saja.
"Nay, air...." Reynand sudah mengipas-ngipas mulut dengan tangannya.
Oh!
Nayla tersadar.
"I-Ya, udah, aku beliin susu dulu ya di minimarket seberang. Biar nanti rasa pedasnya cepat dinetralisir." Jelasnya khawatir.
"Lama Naay."
"Iya, abang.... tunggu mangkanya."
Namun, saat gadis itu hendak keluar dengan cepat Reynand mencekal tangannya. Sontak Nalya menoleh.
"Cium!"
Ha?
"Naay...." Reynand mulai tidak sabaran. Ia lalu menjenggut rambutnya dengan kasar, dia benar-benar sudah tidak tahan dengan rasa terbakar itu.
"Abang ngarang deh, kepedesan malah minta ciu...."
Akhirnya sebelum gadis itu selesai bicara dengan cepat Reynand menangkup wajah cantiknya, lalu meraup bibirnya dengan cepat. Mengulum dan menyesapnya dalam-dalam. Berusaha menstabilkan suhu rongga mulutnya. Hingga tanpa sadar akhirnya ciuman itu pun berubah menjadi penuh n*fsu.
"Emb...." Nayla mencoba melepaskan diri dari ciuman mendadak itu. Ia mendorong dan menepuk-nepuk dada Reynand dengan kuat.
"Pelan-pelan." Ucapnya dengan nafas memburu saat ciuman itu terlepas.
"Nggak tahan Nay.... pedas."
Nayla mendengkus kesal. Menatap sosok itu dalam-dalam. Apa iya, Reynand melakukan itu karena rasa pedas dimulutnya?
*
*
*
*
Hai!
Hari ini aku rada lesu. Jadi maafkan kalau episode kali ini agak gimana-gimana. Jadi nikmatin aja, ok.
Komen, ya. Plis.....
__ADS_1
Jangan lupa like, votenya.
Happy Readingđź’“