
****
Reynand menyentak pintu mobil dengan kuat. Bergegas ia turun, menutup pintu itu cepat, lalu melangkahkan kakinya dengan segera.
Benar-benar tidak tahu malu!
Apa yang dia lakukan?!
Sementara itu dua orang yang tidak sadar sedang mencuri perhatian itu, masih duduk dihalte bus. Tidak menyadari ada sosok yang tengah tersulut emosi karena meihat kedekatan mereka.
"Riko lo mau apa?" Nayla memundurkan wajahnya takut. Ini sangat dekat, bahkan ia dapat melihat dengan jelas bola mata Riko yang bulat.
Membenahi anak rambut yang terlihat menganggu dipelipis itu, Riko sadar dia sudah tidak tahu diri. Tapi, bagaimana pun dia rindu. Dia rindu menatap Nayla sedekat ini. Masih sama, Nayla tidak berubah. Cantik, dia masih secantik saat terakhir kali ia menatapnya sedekat ini.
Namun lagi-lagi hatinya tiba-tiba merasa kelu. Gugur sudah rencana yang sudah ia simpan sejak lama.
Ditatapnya lagi semburat itu.
Tapi, apa salah kalau ia mengharapkan sesuatu yang bukan miliknya. Pada akhirnya dia hanya menatap tanpa bisa menggapainya.
Namun saat tangan itu masih bergriliya pada wajah sosok cantik didepannya....
"Nay aku...."
"Gak Rik!!"
Greb! Seketika Riko tersentak saat tangannya tiba-tiba digenggam kuat dan cepat. Termangu sesaat lalu perlahan dia menoleh pada pemiliknya.
Dia??!!
Mendadak Riko pun terkejut.
"Mau ngapain lo!!??"
Seruan itu menyentak dan menakutkan. Sosok itu menatap Riko dengan sorot mata berkobar.
Riko pun lantas menarik tangannya yang sudah lancang itu, ia memalingkan raut wajah yang masih sangat terkejut. Sial!
Menoleh kearah Nayla, Reynand menatap gadisnya yang tengah melongo bingung. Bergantian dia tatap dua orang yang baru saja ia ciduk itu. Dadanya naik turun menggebu-gebu. Tidak ada yang tahu bahwa dia adalah orang yang tidak suka jika ada yang menganggu, baik menganggu dirinya atau.... sesuatu yang ia miliki.
Tak urung Riko, dadanya pun ikut naik turun. Keduanya pun saling memandang dengan cara yang sama. Seakan ada kilatan amarah disana. Seolah keduanya telah menganggu satu sama lain, saling menuduh merebut apa yang mereka miliki.
Namun beberapa saat kemudian, akhirnya Riko pun sadar, ia salah. Mata yang tadi menyala itu perlahan redup. Itu bukan tempatnya, ia tidak pantas memiliki rasa yang berkobar ini. Mundur satu langkah ia pun berbalik.
Tertunduk sesaat sebelum melanjutkan langkahnya. Sulit, sulit sekali sekali rasanya, mencoba ikhlas dan merelakan itu rupanya semenyakitkan ini.
Riko tersenyum lebar, mencoba untuk tegar dan tidak mengasihani diri sendiri. Namun, tidak bisa, ia bisa apa. Sekarang ini hatinya lah yang berbicara. Ia tidak bisa mengendalikannya. Hatinya terhunus sembilu. Sakit!
Tak ingin berlama-lama lantas ia pun bergegas menghidupkan mesin motornya, tertunduk beberapa saat kemudian berlalu.
Seiring dengan deru motor yang melaju itu Nayla pun tersadar. Apa ini? Tiba-tiba ada perasaan janggal yang menyusup dalam hatinya.
Riko langsung pergi saat melihat Reynand. Kenapa? Apa Riko mengenal Reynand? Maksudnya apa dia pernah bertemu secara langsung?Atau apa Riko tahu kalau Reynand adalah.... tapi itu tidak mungkin. Ia belum pernah menceritakan apa-apa kepada sahabatnya itu tentang siapa Reynand sebenarnya.
Berpaling dari sosok yang semakin menjauh itu Nayla lalu menatap Reynand.
Lalu Reynand berucap datar "Ayo kita pulang!"
Nayla tersentak, ia tidak pernah melihat raut wajah Reynand seserius ini. Bahkan suaminya itu tidak menatapnya sedikit pun.
Mengekori Reynand yang berjalan lebih dulu didepannya, Nayla masih memikirkan hal yang baru dilihatnya barusan.
__ADS_1
Reaksi Riko kenapa seperti itu? Kenapa Riko tidak menanyakan sesuatu padanya? Maksudnya.... Nayla benar-benar tidak mengerti.
Dan lagi, ia mengangkat kepalanya menatap Reynand. Mereka berdua, apa saling kenal, tunggu, tunggu, ia masih bingung soal ini.
Nayla membuka pintu mobil, dilihatnya Reynand duduk dengan mata menatap lurus kedepan. Wajahnya juga tegang.
Timbul perasaan kurang enak, namun perlahan ia pun duduk dikursi penumpang.
Matanya mengerjap-ngerjap, tiba-tiba ia merasa canggung. Ini Reynand kenapa ya?
Kenapa jadi dia yang menegang begini? Yang menyuruh Reynand untuk datang kesini padahal kan adalah dia. Tapi.... ia lirik lagi sosok disampingnya itu dengan seksama.
Nafasnya berhembus kasar namun Reynand mencoba menahan gejolak yang ada sekarang.
Menarik nafas Reynand pun bertanya "Ngapain dia tadi?"
Dia?
Oh,
Maksudnya Riko?
"Cuma ngajak ngobrol." Sahut Nayla pelan.
"Kalau dia deketin kamu lagi jangan mau."
Nayla terdiam sejenak. "Kita cuma temenan."
"Dia gak nganggap kamu temen."
Maksudnya?
Akhirnya Reynand pun menatap gadis itu walau masih dengan perasaan kesal yang tertahan.
Nayla semakin tidak mengerti.
"Tapi kita berdua sudah temenan lama.... kita sahabatan."
"Yakin, selama itu dia nganggap kamu sahabat."
"Abang ngomong apaan si?"
Nayla benar-benar tidak mengerti. Sedari bersama Riko tadi dia harus kebingungan memahami sendiri maksud dari perkataan lelaki itu saat berbicara dengannya. Dan, sekarang Reynand pun begitu, memang dia bisa paham dengan pembicaraan tebak-tebakan ini.
Akhirnya karena tidak juga menjawab Nayla kembali berbicara.
"Aku kenal Riko dengan baik...."
Reynand diam belum menjawab.
"Memang kenapa si aku gak boleh dekat-dekat dia?"
Reynand menoleh sejenak "Pokoknya kamu turutin aja apa yang abang bilang tadi...."
"Tapi kenapa, aku kenal Riko lama dari sebelum nikah sama abang...."
"Nayla, kalau kata abang gak boleh ya gak boleh."
"Abang tu gak jelas, giliran tadi malam aja abang berdua kan, sama dia."
"Airin maksudnya?" Sambar Reynand cepat.
__ADS_1
Nayla membuang muka. Tuh, nyadar.
Huh, Reynand menghela nafas.... "Nggak ada sayang.... semalam itu abang langsung pulang. Beneran, masak kamu nggak lihat sih waktunya. Setelah iklan abang langsung pulang kerumah, terus buru-buru kekamar nemuin kamu."
Nayla tidak langsung luluh dengan penjelasan itu. Ia masih merengut, ingatan akan Airin yang sumringah dengan membawa bunga ditangannya itu masih terbayang. Nayla sangat geram mengingatnya. Ekspresi wanita itu, gerak gerik tubuhnya kala menatap Reynand. Dia sangat tidak suka.
Sebal,
"Terus kenapa abang gak jauhin dia? Bisa kan menolak...."
Reynand memegang keningnya pusing. Bagimana dia harus menjelaskan.
"Tuh kan, gak bisa jawab...."
"Shht, udah gak usah dibahas lagi." Sambar Reynand cepat. Ia menaruh jari telunjuknya dibibir mungil itu.
"Tapi kalau nanti dia gitu lagi gimana? Kalau dia ngelakuin sesuatu yang lebih nekat lagi misalnya. Bisa aja kan abang pindah ke lain hati lagi." Jelasnya cemas.
Reynand rasanya ingin tertawa.
Pindah kelain hati? Dia, akan berpindah hati dengan Airin?
Astaga, Reynand tidak menyangka kalau Nayla akan berpikir sampai kesana. Setakut itu kah istrinya inj, sampai-sampai berpikir dia akan berpaling.
Ya ampun. Kok, dia jadi gemas ya.
"Nggak mungkin dong sayang, masak punya istri cantik gini berpaling."
Blush!
Nayla langsung memalingkan wajah. Ah, kok gampang sekali sih, dia tersipu.
"Nay...." Reynand membuka sealtbeltnya yang sempat ia pasang tadi. Lalu beranjak dan berpindah posisi duduk disisi kursi tempat Nayla duduk. Sempit memang, tapi dia suka akhirnya mereka bisa berdekatan.
Nayla lagi-lagi merengut "Sempit...."
Reynand tersenyum, lalu perlahan ia pun mengangkat gadis itu keatas pangkuannya. Nayla terkesiap, namun akhirnya tangan itu tidak bisa menolak untuk melingkari dileher sang pemangku.
"Kangen kamu...."
Uh, Nayla merinding mendengar bisikan itu. Apalagi saat Reynand mulai menggigit-gigit kecil telinganya.
Menarik pinggangnya erat hingga sangat rapat, Nayla ikut menggelayuti Reynand dengan erat.
Namun, beberapa saat kemudian tangan yang mulai menyusup kedalam celana pendek ketat dibalik rok itu pun terhenti karena tiba-tiba ditepis oleh pemiliknya.
Reynand menatap protes "Sayang...."
"Pulang dulu...."
Reynand paham, lagi-lagi ia tersenyum "Dirumah berarti lanjut ya...." Dan senyum laki-laki itu semakin mengembang saat rona malu-malu itu mengangguk setuju.
Cup! Berdecap. Dan, kecupan dikening pun ia daratkan lama disana.
*
*
*
*
__ADS_1
h