
****
Setelah selesai makan malam Nayla langsung kembali kedalam kamar. Sementara itu Reynand menemui kakek diruang kerjanya. Entah apa yang akan mereka bicarakan, Nayla tidak tahu. Dia tidak terlalu mengerti.
Dikeluarkan beberapa buku pelajaran sekolah dari rak buku khusus untuk buku pelajaran miliknya. Karena rak buku tersebut sangat besar Nayla bisa menyimpan beberapa barang lain disana. Jadi rak buku tersebut sengaja dipesan Mama Adel untuk Nayla katanya. Saat tahu Nayla akan tinggal dirumah ini, Mama Adel sangat antusias menyiapkan semua keperluannya.
Tapi, Nayla bingung sendiri. Kenapa Mama Adel belum kembali keluar negeri? Dan lagi pula Mama tidak pulang bersama deddy. Terkadang pertanyaan tersebut terbesit dikepalanya. Eh, kenapa dia jadi kepo begini. Sudahlah itu urusan orang tua.
Setelah perbincangannya dengan kakek Reynand kembali kedalam kamar. Dia ingin menyusul Nayla. Sepertinya dia berencana ingin mengganggu gadis itu. selama mereka pindah dirumah ini, dia jadi lebih banyak waktu bersama istrinya, istrinya yang tukang ngambek dan marah-marah.
Ah, istri. Seharusnya dia tidak perlu takut kan untuk melakukan beberapa hal yang ada dikepalanya saat ini. Seperti menggeryanginya mungkin (Hehe dasar bisikan iblis mulai mempengaruhinya).
Reynand menggaruk kepalanya kasar. Kenapa pikirannya selalu dipenuhi hal-hal kotor. Tolonglah malaikat, cegah dia melakukan hal yang mungkin akan membuat istrinya itu ngambek lagi. Dia sangat tau Nayla mudah sekali tersulut amarah, apalagi saat disentuh-sentuh olehnya.
Setelah menutup pintu kamar dengan pelan pandangan Reynand langsung tertuju kepada Nayla yang duduk dikursi meja belajar dengan posisi membelakanginya. Sepertinya sangat serius. Gadis itu sedang menulis sambil bergumam-gumam pelan.
Setelah lama memandangi tubuh itu dari belakang dia tidak tahan. Ingin sekali dirinya mendekap tubuh mungil itu dengan erat kedalam pelukannya.
“Lagi belajar apa?” membungkuk dari belakang melihat apa yang sedang dilakukan istrinya.
Nayla sedikit terkejut. Dia pun menoleh kebelakang. Bersitatap sangat dekat dengan wajah suaminya. Eh, suami! Terlihat sangat…. tampan.
“Abang.” Lirihnya pelan meneguk ludah. Deg! Deg! Tuh kan jantungnya berdebar-debar lagi. Dia mendadak gugup, mencoba mengatur nafas. Kemudian berusaha kembali fokus kebukunya lagi, mencoba membuang grogi yang terus menjadi.
Namun tidak bisa, debaran jantungnya makin kencang. keberadaan Reynand yang memperhatikannya begitu dekat dari belakang membuat dia jadi salah tingkah. Apalagi saat wajah laki-laki itu berada sangat dekat disamping wajahnya.
Reynand meletakan kedua tangannya disisi kursi yang diduduki Nayla. Terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan sang istri. Sesekali dia mengendus dipuncak kepala itu. wangi, dia jadi ketagihan menciumi rambut Nayla.
“Nayla.” Berbisik lembut ditelinga.
“I-iya.” Nayla merinding geli merasakan hembusan nafas Reynand. Bulu-bulunya seketika meremang.
“Tugasnya masih banyak ya.” Mengecup pundak yang masih terbungkus kain itu.
“I-ya masih banyak.” Duh, Nayla semakin merasa tidak karuan. Ingin rasanya dia menghilang saja dari bumi ini.
Nayla semakin merinding saat Reynand mulai menciumi tengkuknya yang polos, bibir Reynand terasa lembut menyusuri kulitnya.
__ADS_1
“Abang.” Menggoyangkan bahunya mencoba menjauhkan wajah suaminya. Tuh, kan mulai lagi. Hiks, dia kan mau mengerjakan tugas. Jangan diganggu dong.
Reynand mengambil kursi lainnya. Kemudian duduk dibelakang Nayla. Sepertinya dia mendapatkan posisinya tepat.
“Lama ya ngerjain tugasnya.” Tangannya mulai bergriliya mengelus-elus kedua lengan terbuka Nayla dari belakang, kulit yang halus.
“I-iya.” Nayla tiba-tiba terpejam. Mengepal kedua tangannya yang sedang memegang pena. Tangan suaminya benar-benar mulai tidak bisa dikondisikan.
“Nay, kamu sudah siap belum misalkan kita….” Perkataan Reynand terputus tiba-tiba.
“Si-siap apa?” suaranya tertekan dan gagap.
Siap bikin bayi. Eh, memang mereka sudah siap punya anak?
Duh, Nayla benar-benar gugup setengah mati. Tangan Reynand mulai menggerayang didepan perutnya, geli. Perlahan Namun pasti tangan itu pun menangkup dadanya. Ya tuhan, ini tidak bagus. Nayla meneguk ludahnya. Nafasnya mulai tidak karuan tat kala tangan itu mulai memijat pelan disana.
“A-abang.” Mencoba menurunkan tangan Reynand.
Reynand tidak bergeming tangannya masih asik bermain tubuh Nayla, disalah satu bagian favoritnya. Mulutnya pun tak luput berkelana, mengecupi dan menyusuri leher dan tengkuk putih mulus itu.
“Abang hh, duh, aku mau…. Buat tugashh.” Bicara benar-benar jadi tertekan dan tidak lancar. Dia mengigit bibirnya kuat. Entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Ya tuhan, Reynand malah semakin menggila. Nayla menggelengkan kepalanya. Tidak, dia harus mengerjakan tugas sekolahnya. Besok tugas itu harus dikumpul. Apa yang akan dipikirkan semua orang jika seorang Nayla tidak mengerjakan tugas dan dihukum membersihkan toilet sekolah, dengan alasan karena digerayangi oleh Reynand (translate : melayani suami). Tentu saja dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Abang!” Seketika itu juga Nayla langsung berdiri dari duduknya. Membentak, membuat Reynand tersentak seketika.
Reynand tersadar, niat yang awalnya hanya ingin menganggu Nayla malah jadi seperti ini. Dia benar-benar tidak tahan. Melihat tubuh Nayla sudah seperti magnet baginya. Entah kenapa dia selalu ingin menempel dan menyentuh tubuh itu.
“Jangan ganggu!” Wajah Nayla merengut. Namun, nafasnya masih nasik turun. Entah karena perbuatan Reynand barusan atau karena amarah.
“Maaf Nay, abang cuma….”
“Cuma apa!” gadis itu semakin galak.
Reynand hanya terdiam pasrah. Dia cuma tidak tahan. Ah, susah sekali membuat gadis itu mengerti.
“Kalau aku besok nggak ngumpulin tugas terus dihukum gimana? Terus kalau nilai aku turun gimana?” Nayla berkata menggebu-gebu tanpa jeda..
__ADS_1
“Abang minta maaf….” Lirihnya pura-pura menyesal. Dia kan memang pekerjaannya akting. Jadi wajar kan dalam hal ini dia pandai.
Kenapa jadi dia yang harus minta maaf untuk kesalahannya yang hanya ingin melakukan tugas seorang suami. Memberi nafkah batin, seperti itukan seharusnya (Ujar malaikat yang membenarkan kelakuannya).
Sok nafkah batin, Padahal itu hanya alasan untuk menyentuh Nayla (Begitu sahutan yang dikatakan setan dalam dirinya).
Tapi itu benarkan, seharusnya dia tidak salah dalam hal ini. Mereka sudah halal. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin Nayla belum paham.
“Nggak ada maaf! Pokoknya jangan ganggu aku lagi.” Nayla berbalik, menghempas duduk dengan kesal.
Reynand tertunduk lesu. Kalau begini terus dia bisa jadi gila. Bagaimana ini?
Setelah menggaruk rambutnya kasar Reynand pun bangkit dari duduknya. Kemudian berlalu menuju kekamar mandi.
Berulang-ulang Nayla memandang kearah pintu kamar mandi. Lama juga Reynand didalam sana. Apa yang sedang dia lakukan? Apa mungkin buang air akan selama itu?
Aneh!
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Nayla langsung memalingkan wajahnya tidak ingin bersitatap dengan Reynand. Huh! Dia benar-benar kesal, akibat perbuatan Reynand tadi dia jadi tidak fokus belajar.
Tadinya dia pikir Reynand akan langsung merebahkan diri diatas kasur. Tapi laki-laki itu malah berlalu keluar kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Nayla sedikit lega itu artinya Reynand tidak akan mengganggu lagi. Tapi, kenapa dia merasa bersalah ya. Seharusnya dia senang kan kegiatan belajarnya tidak terganggu. Sudahlah lebih baik dia lanjut lagi membuat tugas.
Sepi, entah kenapa tidak adanya gangguan Reynand membuat hatinya hampa. Kenapa dia jadi merasa rindu dengan sosok itu.
Rindu? Baru beberapa menit yang lalu mereka dalam satu ruangan yang sama. Dasar! Nayla berkilah memaki diri sendiri.
Susah sekali memahami pelajaran kali ini. Padahal biasanya dia bisa menjawab soal-soal dengan begitu mudahnya. Tiba-tiba dia jadi gusar. Tadi sewaktu Reynand menyentuhnya dia marah. Sekarang, laki-laki itu pergi dia seperti menginginkannya. Apa ini karena hormon datang bulan?
Sebal! Sebenarnya dia suka tidak si, dibelai oleh laki-laki itu?
Entahlah….
*
*
__ADS_1
*
*