
****
Kening Reynand terus mengkerut mendengarkan ceramah kakeknya didalam ruang kerja. Sudah berapa lama kakak berceramah? Dia ingin segera kembali kekamar. Sudah bosan rasanya mendengarkan perkataan kakek yang hanya itu-itu saja.
“Kamu ini susah sekali mengerti.” Kakek menghembuskan nafas kasar.
“Aku mengerti kek. Tapi coba sekali saja kakek juga berusaha untuk mengerti aku.” Lalu menghembus helaan nafasnya kasar. Reynand sudah sangat jengah. Kakek selalu saja menekan dirinya.
“Lalu kakek harus bagaimana? Memberikan posisi kepemimpinan perusahaan kepada orang lain?”
Eh?
Mendadak Reynand gelagapan, membuat kakek sontak tersenyum miring. Tentu saja dia tidak setuju jika kakek memberikan posisinya kepada orang lain. Enak saja, itu kan adalah haknya sebagi cucu tunggal soeseno Prsaja dan sebagai pewaris satu-satunya.
Duh, ditanya begini dia bingung sendiri dengan apa yang dia inginkan.
“Bukan begitu maksud aku kek, hanya saja sekarang aku belum bisa.” Tambahnya lagi. Sepertinya dia juga susah memberi pengertian kepada kakeknya.
“Lalu kapan kamu bisa? Sudah waktunya kamu belajar Reynand.”
“Nanti ada waktunya aku siap kek.” Tambahnya lagi.
Kakek menghela nafas. Cucunya ini benar-benar keras kepala.
“Sepertinya, kamu menyembunyikan sesuatu dari kakek. Apa ada hal lain yang sedang kamu lakukan?" Tatap kakek menelisik.
“Ng-gak. Aku masih fokus di entertainment.” Ucapnya mengalihkan pandangan, terang saja karena dia memang menyembunyikan sesuatu.
“Kakek hanya ingin kamu keluar dari pekerjaan kamu itu. kakek merasa itu tidak baik untuk hubungan kamu dan Nayla. Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan dia melihat kamu melakukan adegan-adegan seperti itu.”
Adegan-adegan seperti itu?
Reynand tertunduk diam. Memang adegan seperti apa yang dia lakukan. Seberani-beraninya dia menerima tawaran film, adegannya terparah paling cuma sebatas.... ciuman bibir. Mana dia tahu perasaan Nayla seperti apa. Lagi pula gadis itu tidak pernah bertanya apa pun tentang pekerjaannya. Dia merasa Nayla terlalu polos atau gadis itu belum mengerti tentang bagaimana seharusnya bersikap atas dirinya. Huh! Itu kan salah kakek sendiri menikahkannya dengan anak dibawah umur. Tunggu? Memang Nayla masih dibawah umur.
Padahal dia sangat suka menggerayanginya gadis itu.
“Dia tu belum bisa mikir kek?” Reynand beralasan.
“Belum bisa mikir bagaimana? Lama-lama dia akan mengerti Reynand!” Pungkas kakek menusuk tajam.
“Itu kan salah kakek.” Tandasnya lagi.
“Salah kakek?” Kakek mencoba memahami ucapan Reynand sebentar. “Oh, jadi kamu tidak suka dinikahkan dengan Nayla begitu!?”
__ADS_1
“Bu-bukan….” Duh, dia jadi salah bicara kan.
“Lalu….?!”
Reynand menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kakek benar-benar mengintimidasinya. Ingin dia segera keluar dari tempat ini.
“Reynand?” tatap kakek penuh tanya, menunggu jawaban.
“Udahlah kek aku mau balik kekamar, ngantuk.” Beranjak meninggalkan kakak.
“Reynad, kakek belum selesai bicara!”
Reynand tidak menghiraukan. Dia terus berlalu.
Kakek menatap jengah, menarik nafas panjang lalu menghembus kasar. Kenapa anak itu susah sekali diajak mengobrol lama. Susah sekali memang memahami pikiran anak muda jaman sekarang.
~
Reynand masuk kedalam kamar. Pandangan matanya langsung tertuju kepada Nayla yang sedang serius menatap layar ponsel. Ponsel yang dia berikan waktu itu untuk Nayla.
“Lagi nonton apa?” ujarnya seraya mendekat.
Nayla tidak merespon, dia masih tampak serius menatap layar ponselnya. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Reynand.
“Jangan ditonton.” Menyambar ponsel dari tangan sang istri. Sial, kenapa Nayla harus menonton film ini. Dia saja malu melihatnya. Kalau waktu dapat diputar kembali dia lebih memilih untuk tidak mengambil peran didalam sana. Huh! Dia sangat ingat betapa beraninya dia mengambil peran itu beberapa tahun yang lalu. Seharusnya dia meminta bantuan kakek untuk menghilangkannya. Tapi, ah sudahlah dia tau sendiri sifat kakek. Pasti ada timbal baliknya.
Dingin dan berkeringat! Reynand dapat merasakan itu dari tangan Nayla saat dia merampas ponsel tersebut.
Dilihatnya tubuh gadis itu meringkuk seperti menahan sesuatu yang berat. Tangannya pun mencengkram selimut dengan erat dengan tarikan nafas yang terdengar jelas. Seolah tertahan emosi besar didalam sana.
“Hm…. Sudah mau tidur?” tanyanya gugup. Gugup karena merasa Nayla telah melihat adegan memalukannya.
“Hem….” Menjawab malas. Hatinya masih sakit setelah apa yang dia lihat. Kenapa si laki-laki ini harus masuk kekamar sekarang. Membuat dadanya semakin sesak saja.
Reynand pun ikut berbaring diatas kasur. Berusaha masuk kedalam selimut yang sama dengan Nayla. Dimiringkan tubuhnya menghadap gadis itu.
Nayla dengan pelan menjauh tangan yang hendak melingkar diperutnya. Dia benar-benar tidak ingin disentuh sekarang.
Ia mengira dirinya akan kecewa saat tangan itu menjauh. Namun, ternyata tidak, tubuhnya benar-benar menolak sentuhan itu. Seolah tangan itu semakin mengalirkan rasa sakit pada dirinya.
“Kamu kenapa?” Reynand akhirnya mengusap-usap kepala Nayla pelan dengan lembut. Membuat gadis itu merasa disayang.
Disayang?
__ADS_1
“Kamu sakit?” ucapnya lagi masih mengusap kepala Nayla. Tak lama bibirnya pun menempel dikepala gadis itu.
“Kamu dingin.” Menyentuh kening Nayla yang berkeringat.
Duh, kenapa jadi begini sih. Niat awalnya kan dia ingin laki-laki itu menjauh. Tapi perlakuan Reynand yang sekarang membuatnya melemah.
“Nggak usah peluk-peluk.” Ucapnya pelan sembari menjauhkan tangan Reynand dari pinggannya.
“Kamu kenapa si Nay?”
Tidak menjawab, Naya malah semakin menjauhkan jaraknya dari Reynand. Sampai tubuhnya benar-benar berada dipinggir ranjang.
“Nay, nanti kamu jatuh.” Menarik tubuh Nayla mendekat.
“Abang kenapa sih.” Ucapnya pelan, kemudian memutar kembali tubuhnya yang sempat menghadap kearah Reynand. Menyebalkan, kenapa sih? Padahal hatinya sedang tidak enak. Sengaja ya ingin membuat perasannya terombang-ambing tak karuan.
Reynand mengernyit. Tidak biasanya Nayla seperti ini. dia tahu Nayla sering menolak saat disentuh. Tapi ini beda, biasanya gadis itu akan sedikti galak dan suka mengajaknya berdebat. Namun, hari ini Nayla lebih pendiam.
Apa jangan-jangan karena dia merampas ponsel saat dia menonton film barusan. Film yang menurut orang sangat romantis itu. Film yang menjadikannya pemeran utama pria terbaik kala itu. Tapi kenapa? Seharusnya bisakan merebut ponsel itu kembali dan merengek padanya. Tentu dia sangat suka mendengar Nayla merengek.
“Nay, kamu kenapa si? Kamu ada masalah? Hem?” mengelus punggung itu pelan. Ah, dia ingin sekali memeluknya.
“Nggak usah ganggu, aku mau tidur.” Menggoyangkan bahunya agar tangan Reynand menjauh.
Reynand menghela nafas pelan.
“Ya sudah kalau begitu, mungkin kamu lelah dan butuh istirahat.”Ucapnya pelan. Namun masih berharap Nayla dapat berbalik menghadapnya.
“Good night. Semoga mimpi indah.” Lirihnya pelan terdengar merdu. Tanpa dia sadari ucapannya itu menyentuh relung hati Nayla yang paling dalam. Rasanya ingi-in sekali gadis itu membalas ucapannya, jika saja dirinya sedang tidak terbawa perasaan yang terus menganggu sedari tadi.
Reynand benar-benar bingung. Aneh! Baru kali ini Nayla bersikap seperti itu selama mereka menikah.
Reynand memutar tubuhnya menghadap punggung yang sangat ingin direngkuhnya kedalam pelukan itu.
Reynand menghela nafas. Mereka sudah menikah. Harusnya Reynand mencamkan itu. Gadis ini miliknya kan? Seutuhnya dia miliki.
*
*
*
*
__ADS_1
*
*