Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Apa Yang Kita Lakukan Tadi?


__ADS_3

****


Reynand sudah merasa tubuhnya tidak merasa tegang lagi. Dia rasa tidak apa-apa kalau mereka tidur berdua sekarang. Tidak ada pikiran mesum lagi dalam pikirannya sekarang, hahaha pikiran mesum? Dia laki-laki yang normal bukan? Kini kepalanya malah dimasuki oleh pikiran-pikiran seputar pertanyaan Nayla tadi.


Dia merasa tidak bisa menjelaskan apa-apa untuk saat ini. Dia butuh waktu yang tepat. Reynand butuh merangkai kata yang bisa dicerna oleh Nayla, tentang bagaimana hubungan mereka selanjutnya. Jangan sampai Nayla salah menangkap apa yang akan dirinya jelaskan nantinya.


Reynand mengecupi bagian wajah Nayla yang sudah tertidur berkali-kali. Gadis itu lebih menggemaskan dikala tidur. Haruskah dia tidur juga sekarang? Sudah berapa jam dia berpikir? Sudah lupakan, sedari tadi dia hanya memikirkan cara untuk mengajari Nayla. Namun pada akhirnya dia merasa lebih baik membiarkan semua berjalan dengan sendirinya. Dirinya yakin lambat laun Nayla pasti akan mengerti. Reynand semakin mempererat pelukannya pada Nayla. Beberapa saat kemudian dia pun juga tertidur dengan sangat pulas.


Keesokan harinya, Nayla diantar oleh Reynand dengan menggunakan mobil yang entah milik siapa dia juga tidak tahu. Walaupun sebelumnya ada perdebatan antara mereka berdua karena Nayla bersikeras ingin naik taksi online. Nayla takut kalau dirinya pergi terlalu siang akan banyak teman-temannya yang curiga. Akhirnya perdebatan tersebut menemukan titik tengah dengan Nayla mau diantar oleh Reynand sebelum matahari meninggi.


Sesampainya didepan hotel tanpa sepatah kata Nayla langsung turun dari mobil. Meninggalkan Reynand yang terus menatapnya penuh kecemasan, kecemasan akan teman laki-laki Nayla yang sudah beberapa kali dia lihat selalu bersama Nayla. Apakah Nayla menyukai anak laki-laki itu? Melihat hal tersebut entah kenapa dia merasa tua. Anak-anak SMA punya keseruan tersendiri. Dan saat ini dirinya sudah melewati fase tersebut. Anak seusia Nayla tentunya masih butuh bersenang-senang. Tidak seperti dirinya yang sudah memikirkan tentang keseriusan dalam segala hal. Jadi, apakah dia harus membiarkannya? Membiarkan Nayla bermain-main dengan teman lelakinya itu.


Saat itu, dengan penuh hati-hati Nayla mengendap-endap. Beberapa teman sekolahnya tampak sedang lalu Lalang keluar kamar hotel. Nayla mencoba bersikap biasa saja. Seolah tidak ada apa-apa. Dia hanya tersenyum ketika beberapa temanya menyapa yang kebanyakan adalah anak laki-laki.


Brakk! Nayla membuka pintu kamar hotel tempatnya menginap dengan sangat kencang.


“Aduh lo ngagetin gue aja!.” Suci memegangi jantungnya yang berdegup kencang sementara bedak yang sedang dia pegang jatuh keatas meja.


“Aduh, sori deh sori.” Nayla menutup pintu kamar buru-buru.


“Lagian lo kalau masuk nggak ketok-ketok pintu dulu.” Suci mengambil bedaknya yang terjatuh dan bersungut-sungut.


“Aduh udah deh nggak usah ngedumel. Lo tau nggak gue kesini ngendap-ngendap kayak maling.” Lalu mendudukan tubuhnya diatas kasur ngos-ngosan.


Tak lama Nayla beranjak segera mengambil handuk hendak mandi.

__ADS_1


“Tunggu-tunggu.” Suci berdiri dari duduknya dengan rambut yang masih diroll.


“Ini bukan baju yang lo pakai semalam.” Suci mebolak-balik tubuh Nayla hingga gadis itu berputar-putar. Sifat keponya mulai keluar.


“Apaan si Ci. Udah ah gue mau mandi. Entar gue telat lagi.” Nayla mendorong Suci menjauh.


“Cerita dulu dong. Lo semalam ngapain aja sama Abang Reynand.” Sorot mata Suci menggoda.


Nayla mendorong Suci dengan kuat. Sifat kepo suci membuatnya kesal.


“Lo kepo banget sih.”


“Kalian nggak ngelakuin malam pertama kan?” pikiran mesum mulai berkeliaran dikepala Suci.


“Siapa yang malam pertama?” Tia tiba-tiba masuk tanpa diduga.


“Lo lagi birahi ya?” cetus Tia dengan memperhatikan wajah Suci.


“Eh Lo kali yang birahi! Lihat aja muka Lo udah kayak Miy*bi” sahut suci.


Nayla terdiam karena dintara para sahabatnya dirinyalah yang paling polos dengan pembahsan seperti itu. sementara Suci dan Tia terus berebut omongan dan kesempatan ini digunakan oleh Nayla untuk bergegas masuk kekamar mandi.


Saat itu Mereka sedang menikmati sarapan pagi dilantai bawah. Nayla dan kedua sahabatnya tengah duduk dimeja paling ujung. Katanya agar bisa menikmati makanan sambil memandang pemandangan di luar kaca.


“Eh, tumben si cecunguk nggak nongol?”

__ADS_1


“Cecunguk siapa maksud lo?” Tia menimpali Suci.


“Cecunguk yang sering ganggu Nayla.” Sahut Suci.


“Si Riko?” tebak Tia.


Suci mengangguk.


Nayla segera memutar bola matanya mencari-cari sosok Riko yang biasanya selalu menghampirinya. Ada apa dengan laki-laki itu? kenapa dia tidak menampakkan dirinya saat ini? semalam setelah suara halilintar yang menggelegar Nayla langsung berlari meninggalkannya. Dia ingat Riko ingin mengatakan Sesuatu, tapi apa? Dia harus menanyakannya jika bertemu.


Tak berapa lama sosok Riko terlihat menuruni tangga. Namun, tidak seperti biasanya Riko malah menghindar dari tatapan Nayla. Membuat gadis itu bingung dibuatnya.


“Nah itu dia si cecunguk. Idih dia lewat aja.” Suci memperhatikan Riko yang berlalu dari meja mereka tanpa melihat atau menyapa sedikit pun.


“Tuh anak kenapa ya?” tanya Suci penasaran.


Nayla menggeleng. Dia juga tidak mengerti kenapa Riko bersikap seperti itu. apa karena dia tinggalkan ditengah hujan tadi malam? Itukan bukan salahnya. Juga bukan masalah besar. Lagi pula siapa yang menyuruhnya untuk membawa Nayla berlari-lari ditengah hujan. Terserahlah, Nayla lebih baik melanjutkan makanya. Dari tadi perutnya sudah sangat lapar.


*


*


*


*

__ADS_1


l


__ADS_2