
****
Nayla menunggu di mobil sementara Reynand memesankan makanan yand dia inginkan. Sesekali ia melirik keluar jendela. Tersenyum melihat sang suami yang begitu sabar menunggu di luar sana.
Dia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia sangat ingin makan soto. Tapi rasanya memang karena hormon datang bulan, sih.
Tak berapa lama perhatiannya tiba-tiba teralihkan oleh sebuah mobil berwarna dominan merah terang, yang tiba-tiba berhenti tepat di depan mobil mereka.
Sesaat kemudian sosok pengendara mobil itu keluar dan berjalan mendekat. Memperhatikan dengan seksama untuk mengenali siapakah gerangan. Nayla terus menatap sosok wanita yang berjalan cepat itu hingga akhirnya berhenti tepat di samping pintu mobil tempat dia duduk.
Jgleg!
Pintu mobil di buka secara paksa.
Deg!
Mereka berdua tampak sama-sama terkejut.
Nayla mendadak kaku oleh sosok tersebut. D-dia, Airin!
Melihat Nayla tidak sama terkejutnya. Lalu Airin pun berucap. "Hai, aku nggak salah mobil bukan?" Tanya sembari melepas masker yang ia kenakan.
Airin melambai-lambaikan wajahnya di depan Nayla. "Halo, kok kamu bengong begitu sih?" Mata Airin membulat tersenyum menelisik.
"Ini benar, kan mobilnya Reynand?" Kemudian Airin mulai menduga-duga sosok yang sedang duduk di kursi penumpang itu. "Lo siapa?" Airin memperhatikan ke seluruhan penampilan Nayla. Sangat cantik!
"Hei." Airin kembali mencoba Nayla yang masih terkejut menatapanya. "Kamu pastinya kenal aku kan?" Maksud Airin, siapa sih yang tidak kenal dia di negara ini. Dia ini artis loh, artis yang beberapa kali membuat kehebohan karena ulahnya yang menjadikan dia memiliki skandal dengan Reynand.
Reynand yang adalah suaminya Nayla, dimana yang seharusnya dialah yang dikenal untuk bersanding dengan suaminya itu.
Lalu Airin semakin kepedean. "Kamu grogi, atau terlalu senang ketemu sama aku? Sampai-sampai kelihatan gugup begitu."
Tidak, Nayla tidak senang. Yang ia pikirkan kenapa wanita ini ada di hadapannya sekarang. Dengan beraninya dia membuka pintu mobil tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Nayla jadi berpikir. Apa Airin sering melakukan ini sebelumnya? Membuka pintu mobil Reynand dengan sesuka hatinya seperti saat ini.
Melihat Nayla yang masih bersikap seperti itu, Airin pun mulai curiga. Kenapa Nayla bisa bersikap setegang ini saat bertemu dengannya?
Masih berdiri di depan mobil tersebut, tersenyum penuh arti. Maka Airin mulai bersidekap congkak.
"Lo tau kan, gimana hubungan gue dengan Reynand. Ya, pasti lo tau lah. Secara pemberitaan tentang kita berdua itu seakan nggak ada habisnya. Pasangan fenomenal, pasangan cinlok." Selesai mengatakan itu Airin melihat raut wajah Nayla. Lalu dia pun tersenyum sinis. Entahlah tiba-tiba ia ingin menyombongkan diri didepan gadis ini.
Sementara Airin mengarang tentang bagaimana hubungannya dengan Reynand. Nayla mencoba meraih sisi pintu mobil untuk menutupnya. Intinya dia ingin mengusir Airin tidak secara lisan.
Benar-benar membuat hatinya panas. Pasangan fenomenal apanya? Jelas-jelas wanita itu yang selalu mengejar-ngejar Reynand selama ini.
"Eh, kok buru-buru amat sih." Menahan tangan Nayla yang hendak menutup pintu mobil. Sungguh Airin dapat melihat dengan jelas raut wajah tidak suka itu. Kenapa? Kenapa gadis cantik di hadapannya ini terlihat sangat tidak menyukainya?
Nayla menggeram semakin menampakkan raut tidak sukanya. Selain tidak malu diri rupanya wanita yang ada dihadapannya ini juga suka memaksakan kehendak. Sekarang ia mulai mengerti perasaan Reynand saat menghadapinya.
Memicing, mendongak sesaat masih sambil bersidekap maka Airin pun mulai mengorek informasi. "Lo ada hubungan apa sama Reynand?" Tanyanya kemudian.
__ADS_1
Membuka suara gugup Nayla pun memberanikan diri untuk berbicara. "Apa urusannya dengan anda mengenai hubungan saya dengan dia."
Cih, Airin mulai sebal. Berani-beraninya gadis ini menantangnya.
"Apa susahnya sih jawab, lo ada hubungan apa dengan Reynand?"
"Bisa nggak jangan berdiri disini. Saya mau menutup pintu mobil." Huh, mendadak Nayla jadi naik darah.
"Hei, berani ya kamu sama saya. Siapa sih kamu sebenarnya?" Airin langsung berkacak pinggang.
"Saya orang terpenting di hidup Reynand." Jawab Nayla menggebu-gebu.
Cih, Airin mendelik sinis. " Sok banget ya lo, anak masih bau kencur juga."
Apa katanya tadi bau kencur? Kalau dia bau kencur mana mau Reynand minta dikeloni tiap malam. Tidak tahu saja perempuan dihadapannya ini kelakukan Reynand dimalam hari saat bersamanya. Kalau saja wanita ini tahu bisa guling-guling nangis darah dia di tengah jalan.
"Iya deh tante, yang udah sangat dewasa. Bisa minggir dulu nggak, aku mau nutup pintu mobil nih. Nggak tau kenapa tiba-tiba aku sakit mata." Iya, Nayla sangat sakit mata melihat penampilan Airin dari atas sampai bawah yang berkilauan itu.
"Tante? Apa kamu bilang tadi? Hei!" Tersinggung dengan panggilan itu. Maka Airin langsung mendekat dan menarik rambut Nayla cepat.
Nayla meringis. "Awww...."
"Tadi kamu bilang saya tante." Airin semakin menarik rambut panjang itu dengan kuat.
"Sakit...." Nayla dapat merasakan kulit kepalannya terasa perih. Ia ingin membalas, namun tidak bisa karena Airin sudah mendominasi dirinya. Bahkan ketika dia mencoba melawan ia merasa Airin semakin menyakitinya.
"Ralat ucapan kamu tadi." Tidak hanya rambut Airin juga memegang wajah Nayla dengan jari-jarinya menekuk di kedua sisi wajah gadis itu.
"Berani-beraninya ya kamu bilang saya tante. Kamu tau perawatan saya ini mahal." Ia lalu menarik wajah itu mendekat. Termangu beberpa saat melihat wajah itu, cantik, benar-benar cantik. Hah, siapa sih gadis ini sebenarnya.
"Lo mau tau? Gue udah punya istri. Gue udah nikah."
Ingat perkataan itu, lalu dengan sengaja Airin mendorong Nayla dengan kuat. Sehingga gadis itu kembali meringis saat tubuhnya kemudian terbentur dashboard mobil.
Ingin membalas perlakuan itu namun tiba-tiba Nayla merasa lemas sekaligus pusing. Akhir-akhir ini dia memang gampang sekali kelelahan.
Airin memandang gadis itu penuh curiga. Tidak mungkin! Tidak mungkin gadis ini adalah, istrinya Reynand!!?? Haha, lucu! Ayo dong, tidak mungkin Reynand menikah dengan gadis ini.
Tapi melihat raut wajah tidak suka itu. Hah, tidak mungkin kan, orang yang baru pertama kali melihatnya langsung menampakkan raut wajah tidak suka seperti ini. Apa dia mungkin heaters?
Airin meneguk ludahnya pelan. "Siapa lo sebenarnya? Siapa!??" Airin akhirnya menbentak kuat. Ia mulai frustasi jika kenyataan itu benar. Kenyataan kalau Reynand benar-benar sudah beristri. Perasaannya mendadak menjadi tidak enak.
Nayla masih meringis. Entah kenapa tiba-tiba perutnya kembali terasa kram dan kepalanya juga semakin terasa sangat pusing dan berdenyut.
"Heh, nggak usah akting deh lo. Bukan artis juga. Jawab gue, siapa lo!!?? Dan, apa hubungan dengan Rey...." Dan, saat Airin kembali akan melanjutkan tindakkannya untuk menggapai perempuan dihadapannya. Tangan itu tiba-tiba digenggam erat dan sangat kuat.
"Airin!!!! Berhenti!!!"
Mendengar suara menggelegar itu membuat Airin mendadak takut.
"Mau ngapai lo?!!"
__ADS_1
"R-rey...."
"Lo apain dia?" Reynand semakin naik darah saat melihat Nayla meringis memegangi perutnya.
Airin tiba-tiba mendadak gugup. "Rey, tadi aku cuma...."
"Cuma apa!!!?" Melotot tajam lantas itu benar-benar berhasi membuat Airin mati ketakutan. "Nay, kamu di apain sama dia?" Tanya Reynand khawatir menatap sang istri.
Airin lalu bertanya sembari menahan sakit karena genggaman kuat Reynand di pergelangannya. "Rey, dia siapa kamu?"
Lalu tatapan itu menusuk tajam. "Lo apain dia gue tanya?!"
Tidak ada jawaban Reynand malah melihat Airin semakin gemetar.
"Pergi lo!!?" Reynand lalu menyentak tangan Airin kuat, sehingga berhasil membuat wanita itu menghempas lalu terduduk ditanah.
"Lo bener-bener nggak tau diri ya. Lo apain dia?!!!!" Lanjut ya merasa tidak puas.
Airin berusaha berdiri sembari meringis. "Rey aku...." Mencoba meraih tangan Reynand namun laki-laki itu menepisnya dengan kuat. "Reynand jangan begini...." Ia kini berusaha menahan bahu laki-laki itu.
Reynand menyentak bahunya kuat, sehingga gadis keras kepala itu kembali tersentak mundur.
Tidak perduli dan tidak mau tahu, meladeni Airin sama saja ia berbicara dengan batu. Setelah menutup pintu mobil di samping tempat duduk Nayla, Reynand lalu segera memutar untuk masuk ke dalam mobil.
"Rey...." Airin berusaha memanggil lirih.
Bodo amat! Reynand segera menutup pintu mobil dengan cepat.
"Nay, kamu nggak apa-apa?" Reynand ngos-ngosan dan merasa khawatir. Ia ikut menyentuh perut dan mengusap kepala perempuan itu pelan.
"Nay, tadi kamu diapain sama dia."
"Aku mau pulang...." Kemudian dia kembali meringis.
"Maaf ya tadi aku...."
"Aku mau pulang! Ngerti nggak." Nayla kembali merasakan perutnya seperti di tusuk. Ini dia kenapa sih sebenarnya?
Emosi, Nayla benar-benar emosi saat ini. Bertemunya dia dengan Airin membuat suasana hatinya semakin memburuk saja.
"Sayang...." Reynand berusaha membujuk.
"Ngerti nggak sih, kalau aku mau pulang!" ujarnya tanpa melihat sosok yang sudah sangat khawatir.
Tes, air mata itu lalu perlahan mengalir.
*
*
*
__ADS_1
*
Happy Reading!!!!