
****
“Lo kenapa uring-uringan gini si Rey.” Dion mengikuti Reynand yang melangkah cepat.
Gimana nggak uring-uringan coba. Sudah kepalang tanggung malah diganggu. Huh! Reynand mendengus kesal. Bahkan dia tadi hanya memberi kecupan kecil kepada Nayla saat dia baru saja mengantarnya sampai dirumah atas permintaan maaf.
“Lo ada masalah apa si sebenarnya?” tanya Dion lagi.
“Masalahnya itu ada di lo!" sungut Reynand.
Idih, Dion semakin bingung dengan tingkah Reynand barusan.
“Lo macam orang yang nggak dikasi jatah sama istrinya tau nggak.”
Reynand memalingkan wajahnya. Merasa tebakan Dion tepat sasaran. Bukan, dia bukan tidak diberi jatah. Tapi, gagal dia mendapatkan jatah. Itu semua karena laki-laki disampingnya ini, yang mengganggu ditengah-tengah aksi panasnya bersama Nayla.
Huh! Wajahnya memerah mengingat kejadian dimobil tadi. Padahal tadi itu kesempatan emasnya bersama Nayla.
“Jadi bener lo nggak dikasi jatah.”
“Apaan si lo?!” Reynand mengelak.
“Benerkan hahaha". Dion tergelak tak tertahankan.
Mata Reynand menunjukkan tatapan membunuh padanya.
"Nggak usah sok galak Rey. Muka lo merah woi.” Dion masih tertawa mengejek.
~
“Daddy. Bagaimana?” tanya Airin yang sedang duduk disofa ruang kerja direktur yaitu Haritano Admaja. Direktur perushaan SBC entertainment.
Terlihat pria paruh baya itu menghela nafas panjang. Sepertinya dia sangat pusing oleh tingkah putri semata wayangnya yang terus merengek sedari tadi.
“Kenapa kamu tidak bisa mengurus masalah mu sendiri Airin? Bukannya Daddy sudah membantu kamu untuk bisa beradu peran dengan laki-laki itu sebelum ini?” Laki-laki itu menatap jengah.
“Tapi Daddy. Sepertinya dia nggak suka sama aku.” Airin memelas.
“Ya sudah kalau dia tidak suka. Kamu bisa cari laki-laki lain.”
“Daddy aku nggak mau sama yang lain. Aku maunya cuma sama Reynand titik.” Airin merengek lagi.
Haritano kembali menghela nafas.
“Nanti daddy akan coba bicara sama dia.” Jawabnya terpaksa.
“Benar?” Mata gadis itu membulat memancarkan binarnya.
“Iya. Tapi, kalau cara ini tidak berhasil juga. Daddy tidak bisa membantu kamu lagi.”
Dengan cepat Airin memeluk erat sang ayah.
__ADS_1
“Terimakasih daddy. Aku mohon, tolong bantu aku untuk mendapatkannya.”
Haritano tidak menjawab. Dia hanya membalas pelukan erat putrinya itu.
“Permisi!”
Airin segera melepas pelukan dari sang ayah.
“Reynand?”
“Airin?”
Mata mereka beradu pandang. Dengan sorot yang berbeda. Satunya memandang dengan sorot mata yang berbinar, sedangkan Reynand dia menatap Airin dengan tatapan kaget tak percaya.
Tunggu mereka baru saja berpelukan. Apa hubungan Airin dengan direktur perusahaan yang menaunginya itu.
“Airin, kamu keluarlah dulu.” Perintah sang Ayah.
“Tapi daddy….”
Daddy? Seketika mata Reynand membelalak kaget.
“Airin, kamu ingin kan mendapatkan apa yang kamu inginkan.” Tambah sang ayah.
“I-iya, daddy aku keluar.” Melangkahkan kaki kemudian berhenti sebentar dihadapan Reynand.
“Rey.” Airin menatap Reynand sendu. Lama dia dan Reynand saling bersitatap.
“Airin.” Suara Haritano menyuruhnya keluar.
Tidak ada jawaban, rasa kaget Reynand belum hilang rupanya. Jadi mereka ayah dan anak? Reynand masih tidak percaya. Tapi, kalau dipikir-pikir mereka memang mempunyai nama belakang yang sama. Airin Admaja anak dari Haritano Admaja? Sepertinya dia memahami sesuatu sekarang.
“Kenapa kamu masih berdiri disitu silahkan duduk.” Haritano mempersilahkan.
Perlahan Reynand melangkah. Kemudian duduk dihadapan sang direktur.
Sekitar 30 menit kemudian. Reynand keluar dari ruangan tersebut dengan amarah yang tidak tertahan. Bisa-bisa Airin menggunakan kekuasaan ayahnya. Apa gadis itu sudah gila. Apa selama ini dia kurang terang-terangan menolaknya. Apa dia harus menggunakan kekerasan. Benar-benar menyebalkan.
“Rey.” Airin berdiri dari duduknya. Rupanya dia menunggu Reynand diluar.
Reynand tidak perduli dengan keberadaannya. Dia mencelos berlalu meninggalkan Airin dengan tatapan yang dingin. Hingga, membuat timbul banyak tanya pada diri gadis itu. Apa ayahnya berhasil? Tapi kenapa sikap Reynand seperti itu? Raut wajah Airin berubah was-was.
~
Malam harinya. Nayla menyisir rambutnya yang basah sehabis mandi didepan meja rias. Pikirannya tak karuan, ingatan akan hal yang dilakukannya dengan Reynand didalam mobil siang tadi masih terngiang dengan jelas. Kalau tadi tidak ada yang menelpon mungkin mereka sudah….
Nayla memejamkan matanya. Kenapa dia jadi malu sendiri jika mengingat hal itu.
Clek! Nayla dikagetkan oleh suara knok pintu yang diputar.
“Nay.” Reynand sudah pulang rupanya.
__ADS_1
“A-abang.” Nayla langsung memalingkan wajahnya. Entah kenapa dia merasa malu bersitatap dengan Reynand setelah kejadian tadi.
Reynand tersenyum. Perlahan dia melangkah kearah Nayla. Dalam hitungan detik bibirnya sudah mengecup kening sang istri dengan lembut. Nayla merasa nyaman, membuatnya kembali memejamkan matanya. Tapi, jangan lagi, jangan lagi seperti tadi. Nayla terus memohon dalam hatinya.
Namun tidak, Reynand malah memeluknya dengan sangat erat dan lama.
“Abang nggak bisa nafas.” Nayla menepuk-nepuk bahu Reynand.
“Abang mau peluk kamu sebentar. Boleh ya.” Iya, Reynand butuh pelukan saat ini. Dan Nayla adalah orang yang diinginkannya. Dia cukup lelah hari ini. apalagi soal Airin. Wanita itu benar-benar membuatnya pusing.
Nayla pun juga membalas pelukan Reynand dengan sangat erat. Sebenarnya dia sangt nyaman berada dipelukan Reynand. Namun sekarang sepertinya dia harus lebih hati-hati. Reynand bisa saja menerkamnya kapan saja. Seperti tadi, dipinggir jalan dekat sekolahnya. Nayla menggelengkan kepala, kenapa dia mengingat hal itu kembali.
“Kamu sudah makan malam?” tanya Reynand setelah melepas pelukannya.
“Belum.” Jawabnya pelan hampir tak terdengar.
“Makan bareng ya. Tapi abang mandi dulu.”
Nayla mengangguk tersenyum.
“Iya.”
Reynand pun bergegas mengambil handuknya dengan semangat. Langkahnya cepat hendak menuju kamar mandi. Namun, sebelum itu matanya tertuju pada bungkusan yang telah terbuka terletak diatas meja samping tempat tidur mereka. Semangatnya mendadak luntur karena itu berarti….
“Kamu datang bulan?” Tubuhnya berbalik, menatap Nayla.
“Iya.”
“Serius?” sorot mata tak percaya.
“He’em.”
“Datang bulan beneran?” masih tidak percaya rupanya.
“Beneran abang. Baru tadi sore aku dapatnya. Kenapa memang?” mengernyit kesal.
“Nggak apa-apa.” Reynand menghela nafas panjang.
Ya, gagal lagi deh.
Sorot mata Reynand berubah sayu. Dia pun melangkah kekamar mandi dengan langkah gontai dan tidak bersemangat.
Eh, kenapa? Nayla memandangnya heran.
*
*
*
*
__ADS_1
*
*