
****
Hati Nayla sedikit lega setelah Reynand menelponnya. Sebenarnya tadi siang Ia merasa kecewa, karena Reynand pergi secara mendadak. sehingga Ia lupa untuk membalas pesan lelaki itu.
Dengan hati berbunga-bunga Ia pun kembali melanjutkan kegiatannya bersama Suci didalam kamar, yaitu mengerjakan tugas sekolah.
“Eh, Nay Lo udah packing untuk lusa kita pergi study tour.” Suci bertanya disela-sela menulis dan mencontek hasil jerih payahnya Nayla.
“Udah lama, mungkin 1 bulan yang lalu. Cuma barang-barangnya masih dirumah gue.”
“Lah terus gimana, barangnya mau Lo ambil atau Lo packing lagi disini?”
“Gue malas packing lagi. Lagian waktu itu karena terlalu semangat barang-barang untuk berangkat udah dibeli semua. Nanti gue ambil aja kerumah.”
Hening sesaat. Mereka kembali menulis sambil mendengarkan lagu K-Pop yang lagi hits ditambah dengan suara goresan pena pada buku.
Oh my my my, oh my my my
I've waited all my life
Suci menari-nari mengikuti gerakan lagu.
“Eh, Nay suami Lo udah tau kita bakalan pergi?”
“Belum.”
“Lah Lo gimana si? Kenapa belum dikasih tau?”
“Nanti nunggu dia pulang, baru gue kasih tau.”
“Oh iya tadi gue lupa nanya. Emang kalian udah berapa lama si nikah?”
“Emmm, Sekitar 3 minggu yang lalu.”
__ADS_1
Suci pun mangut-mangut.
“Emm…. Eh iya gue mau nanya?” mendekati Nayla dengan wajah penasaran.
“Heem….” Masih serius mengerjakan tugas sekolahnya.
“Lo serius belum malam pertama sama suami Lo?” berbisik dengan serius.
Nayla segera menghentikan kegiatan menulisnya. Pertanyaan Suci yang terlalu ingin tahu tentang malam pertamanya membuat dirinya tertarik. Jujur Ia penasaran soal itu.
Pikirnya pun tiba-tiba tertuju pada Reynand. Lelaki itu, jangankan membahas tentang malam pertama. Membahas soal pernikahan saja Ia tidak pernah. Ia pun sampai sekarang tidak tahu laki-laki itu menganggap dirinya sebagai apa.
“Kalau sudah kenapa? Kalau belum kenapa?” Melempar pertanyaan balik kepada Suci.
“Kalau udah, gue penasaran, rasanya gimana sih? Soalnya ya gue denger-denger malam pertama itu rasanya sakiiiiiiiiit banget.” Suci bergidik. Wajahnya menunggu jawaban Nayla.
“Hah serius?” Nayla langsung ikut-ikutan bergidik. Menutupi bagian bawah tubuhnya, seolah-olah sedang merasa sakit.
Suci mengangguk.
“Ha? Pa-pakai pedang!?” Nayla menganga. Ia menelan ludahnya takut.
“Iya. Terus ya Nay, bahkan katanya ada yang sampai pingsan.”
Nayla seketika kaget.
“Iiiiii, serius?” Mata Nayla membulat seketika. Perkataan Suci semakin membuatnya ketakutan.
“Gue serius. Jadi lo sama Reynand beneran belum malam pertama?” Bertanya sekaligus merasa heran.
Nayla mengangguk dengan ekspresi takut.
“Yaaa. Padahal gue udah penasaran banget denger cerita malam pertama Lo.” Masih sempit mengerling nakal kepada sang sahabat.
__ADS_1
“Apaan. Udah nggak usah Lo bahas. Gue takut.” Nayla tak bisa menahan ekspresi wajahnya. Antara malu dan takut atas pembahasan malam pertama secara tiba-tiba.
“Nggak mungkinlah Lo takut. Secara Lo punya laki ganteng, terus artis lagi. Kalau gue jadi Lo, tanpa diminta pun gue bakal nyosor……”
“Nggak! Gue nggak mau.” Nayla makin bergidik, Ia memeluk tubuhnya sendiri. seketika pikirannya membayangkan apa yang baru saja dikatakan Suci. Bagaimana kalau Suci benar, bagaimana kalau malam pertama itu seperti ditusuk pedang dan bisa membuat pingsan. Itu benar-benar membuatnya takut. Membayangkannya saja Ia tidak sanggup.
~
Saat itu, sepertinya acara akan segera dimulai. Akan tetapi Reynand masih duduk bersantai ditempatnya. Sedangkan Selena masih menungguinya. Segelas mimuman yang dibawakan gadis itu belum sama seklai Ia sentuh.
“Lo nggak minum?” Selena meneguk minumannya dengan pandangan mata masih terus tertuju terhadap Reynand.
“Nanti gue bakalan minum kalau gue merasa haus.” Menatap Selena dengan jengah. Entah sampai kapan gadis itu akan duduk didekatnya.
Tak berapa lama Dion pun hadir diantara mereka. Melepaskan pandangan terhadap seorang wanita yang cukup Ia kenal. Seorang wanita pembuat masalah.
“Gue pergi dulu ya.” Selenan berdiri dari duduknya. Memberikan tatapan yang sama terhadap orang yang baru datang itu.
Reynand terlihat senang ternyata kehadiran Dion mampu menyihir Selena untuk menyingkir dari hadapannya.
“Ngapai tuh cewek?” Duduk disebelah Reynand.
Reynand mengangkat kedua bahunya, tak perduli.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*