Diam-diam Menikah Dengan Aktor

Diam-diam Menikah Dengan Aktor
Pembahasan yang Tidak Nyaman


__ADS_3

****


Jadi, setelah kemarin seharian hanya menghabiskan waktu berdua saja bagaikan pengantin baru. Pengantin baru yang telat memadu kasih, begitu. Dan, Reynand untungnya masih ingat pesan Mama Adel. Untuk menjeda sesi selanjutnya. Uh, benar-benar lelaki sejati.


Maka pagi itu Nayla memutuskan untuk berangkat sekolah. Tentunya hari ini dia tidak ingin lupa diri. Sudah cukup satu hari kemarin dia dan Reynand terciduk oleh Mama Adel. Tidak lagi deh, dia tidak ingin mengulanginya, kapok.


Tapi, sang suami yang tidak rela untuk ditinggal pergi, terus berusaha membujuk menambah hari liburnya. Dia bilang, katanya masih rindu. Rindu yang begitu berat.


Nayla tentunya tidak mau, sekalipun Reynand terus membujuk dengan sedikit merengek, lebay. Untuk kali ini dia akan bilang kalau Reynand itu ternyata lebay juga.


"Perginya dianter ya." Begitulah akhirnya penawaran Reynand setelah gadis itu selesai mandi. Yang Reynand herankan adalah kebiasaan Nayla tidak berubah. Yakni, kebiasaan mengganti pakaian dikamar mandi.


Tapi mau bagaimana lagi, Reynand juga tidak ingin memaksakan kehendak. Biarlah Nayla berubah pelan-pelan seiring berjalannya waktu. Jujur saja, dia selalu menikmati perubahan perempuan yang awalnya polos dan lugu itu hingga akhirnya mereka bisa sampai ketahap yang paling 'utama' waktu itu. Memperhatikan perubahan yang perlahan-lahan itu membuat dirinya merasa, gemas.


"Yuk...." ialah kata yang Reynand lontarkan setelah menemani Nayla sarapan pagi. Ia meraih tangan lembut itu dan menggandenganya seolah tidak ingin terpisahkan.


"Duh, kok Mama yang tersipu ya." Itulah kalimat yang dilontarkan Mama setelah melihat pemandangan manis itu.


Merasa tidak nyaman lalu kemudian Nayla berusaha melepas genggaman Reynand. "Nggak usah gandengan." bisiknya pelan.


Bukannya dilepas Reynand malah mengeratkan pegangan tangannya. "Nggak apa-apa, Mama cuma iseng aja."


Iiih, Reynand.


Kesal, Nayla sudah memasang wajah cemberut saja saat itu. Jelas saja ia malu karena ade kakek, Mama Adel, mbok yana dan asisten rumah tangga lainnya disana. Reynand memang tidak malu apa dengan mereka?


"Mereka manis ya, pa." Mami langsung tersenyum setelah melontarkan kata itu pada sang ayah.


Kakek melirik. "Mungkin takut hilang." Canda kakek yang diakhiri dengan gelak tawa.


Tuh, kan. Nayla jadi semakin sebal. Mereka berdua akhirnya jadi bulan-bulanan Mama Adel dan kakek. Apalagi Mama Adel yang sedari kemarin senang sekali menggodanya.


"Abang lepasin." Rengeknya, masih mencoba melepaskan genggaman Reynand saat mereka baru melangkah meninggalkan meja makan.


Ish, mendesis karena laki-laki itu malah semakin mengeratkan genggamannya.


"Abang!" Semakin merengek.


"Iya, sayang." Sahutnya dengan penekanan manis.


Buuh, dipanggil sayang begitu Nayla jadi salah tingkah lagi, kan. Mana bisa dia sebal kalau sudah begini. Duh, kok gampang banget sih, Nay.


Reynand menghentikan laju mobilnya agak jauh dari depan gerbang sekolah. Ia tidak akan melakukan itu kalau saja Nayla tidak bersikeras memaksanya. Tentu saja, alasannya gadis itu adalah tidak ingin ada yang curiga. Ia sebenarnya juga sangat tidak suka menurunkan Nayla tidak sampai tujuannya. Rasanya ia merasa bukan laki-laki sejati yang selalu siap siaga menjaga wanitanya.


Lagi-lagi, ia harus bagaimana, dari pada nantinya Nayla ngambek terus moodnya jelek, kan tidak bagus. Jadi lebih baik dia turuti apa maunya gadis itu. Kalau tidak bisa-bisa nantinya dia gagal untuk mendapatkan....

__ADS_1


Mendesah pelan Reynand memegangi tengkuknya. Uh, kok dia jadi malah mikir kesana.


"Nanti pulang jam berapa?" Tanyanya sebelum Nayla benar-benar keluar dari mobil.


Gadis itu pun mengangkat tiga jarinya.


"Abang jemput, ya?"


Nayla mengangguk. Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan kecanggungan sebelum keluar dari mobil. Ia hanya bisa berpaling keluar kaca saat Reynand terus menatapnya.


Kemudian, pandangan itu beralih saat tangan Reynand menarik lembut dagunya. Sorot mata itu tengah menatapnya dalam-dalam. Jari tangan itu mengelus dagunya dengan pelan. Kemudian perlahan berpindah menyentuh bibirnya lembut.


Rasa geli dibirnya itu pun berubah takala kini benda lembut yang menyentuhnya perlahan. Mengulum dengan penuh kelembutan. Tidak mendesak, namun ia membukanya perlahan. Membiarkan indera pengecap itu beradu didalam sana. Saling memaut dan bertukar oksigen.


Saking terhanyutnya mereka pun akhirnya saling mendekap satu sama lain. Perasaan saling menginginkan itu terus bertumbuh seolah tidak ada ujungnya.


Sementara pinggangnya ditarik erat untuk merapat, sang gadis pun melingkarkan tangannya keleher, menggelayuti sang penuntun kegiatan itu dengan mesra.


Mereka hampir lupa waktu, bunyi nyaring penanda waktu dari balik gerbang itu rupanya tidak terdengar dari balik kaca mobil. Hingga akhirnya mereka tersedar oleh pemandangan luar kaca, yakni orang-orang yang bergegas lari menuju gerbang.


Dengan segera kegiatan yang menguras kalori itu pun terhenti.


Nayla merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Turun dari mobil kemudian bergegas. Huh, berkeringat. Suhu tubuhnya benar-benar berubah drastis.


Pertanyaan Suci yang pertama ia lontarkan saat mereka baru saja duduk dikursi kantin. "Jadi, Nay, lo sakit apa?"


Nalya mendadak bingung. Jujur saja ia sulit untuk berkata bohong. Tadi dia melihat dipapan absen kalau dirinya ditulis sakit disana. Dia jadi penasaran siapa orang yang membuat izin itu untuknya. Kenapa coba dia diizinkan sakit? Memangnya dia kemarin sedang sakit?


Oh,


Menyadari sesuatu Nayla mendadak memerah. Tidak salah juga sebenarnya mereka menulis izin sakit untuknya.


Duh, kenapa sih, ingat itu terus.


"Iya, lo sakit apa sih, Nay?" Pertanyaan yang sama dari Tia.


Sembari berpikir.... "Oh, itu, gue.... shhh" Gadis itu tiba-tiba meringis. Ah, benar-benar. Nayla tidak menyangka rasanya masih sangat nyeri.


"Lo, kenapa sakit perut?" Tanya Suci khawatir.


"Atau, lagi datang bulan." Tia cepat menimpali.


Datang bulan? Rupanya mereka mengira begitu. Nayla mendadak gugup.


Lalu Suci menanggapi menoleh ke Tia. "Gak mungkinlah, seharusnya kan gue yang duluan bulan ini, habis gue baru lo Tia, terus deh si Nayla yang terakhir."

__ADS_1


"Eh, iya juga ya. Lo, kan selalu yang pertama. Perasaan si Nayla minggu lalu baru dapet. Masak iya dapet lagi. Seharusnya habis ini giliran lo, Ci." Sahut Tia lagi menjabarkan.


Nayla hanya bisa tertunduk. Duh, keduanya sahabatnya ini rupanya memperhatikan sampai sedetail itu.


Seketika, beruntunglah Nayla karena pada saat itu juga pesanan mereka pun sampai. Sehingga hal itu pun berhasil mengalihkan perhatian kedua sahabatnya. Huh, akhirnya, dia bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan super duper kepo itu.


"Eh, Nay. Em soal gosiiiip...." Tia agak ragu untuk mengungkapkan maksudnya, sampai akhirnya dia pun melanjutkan. "Suami lo dan Airin, em, itu.... gue lihat di sosial media, bener nggak sih kalau mereka itu...."


"Yak...." Suci memberikan isyarat untuk Tia agar tidak melanjutkan ucapannya. Ia melirik Nayla yang ia lihat langsung terdiam dan terlihat sedang menahan perasaan dalam-dalam.


"Maksudnya, gue cuma pengen tau.. apa lo kemarin izin sakit, karena masalah ini?" Rasa penasaran Tia rupanya berhasil mengabaikan air muka sang sahabat yang langsung berubah. Padahal dia dapat melihat dengan jelas Nayla tidak menyukai ini.


"Yak! Lo nggak berhak ikut campur." Suci berbisik tegas.


"Gue cuma penasaran." Sewot Tia akhirnya.


"Itu bukan urusan kita." Suci memberikan pengertian.


"Bukan urusan kita gimana, jelas-jelas itu jadi konsumsi publik karena mereka itu art...."


"Tia!" Sentak Suci akhirnya, membuat gadis kepo itu langsung terdiam.


Nayla mendengkus kesal. Walau bagaimanapun hatinya merasa tergores mendengarnya. Pembahasan ini benar-benar membuatnya tidak merasa nyaman.


Padahal beberapa hari ini dia sudah menghindar untuk melihat berita infotainment dan sosial media. Takut-takut kalau ia melihat berita itu.Tapi, lihat, si Tia ini malah membahas didepannnya.


Benar-benar mengesalkan.


Dia jadi berpikir, bagaimana kalau semua orang tahu saja tentang pernikahan mereka?!


*


*


*


*


*


*


Buat yang selalu menikmati terimakasih.


Happy Readingđź’“

__ADS_1


__ADS_2